Rabu, 30 Januari 2013

DAS KAPITAL


DAS KAPITAL--Sebuah Wacana Ekonomi-Politik ala Pemikiran Karl Marx (Bagian 1)
Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono
--Pembelajar Ilmu Marxis--

Di share untuk siapa saja yang sudi membacanya. Dan tulisan ini tidak ada copy right-nya, silahkan mengcopy paste untuk disimpan untuk diri sendiri, kepentingan diri sendiri, atau di sebarluaskan demi untuk kepentingan bersama...

"DARI HATI KE HATI KITA SANDINGKAN GEMA PEMBEBASAN, DAN PEKIK PERLAWANAN DALAM SATU TARIKAN NAFAS..!!!!!"

KOMODITI

Untuk megawali ulasan tentang das kapital perlu kiranya untuk memahami pengertian komoditi karena komiditi adalah titik sentral dari ulasan Marx tentang bekerjanya kapital di tangan para kapitalis. Dalam pandangan Marx komoditi adalah segala sesuatu (biasanya berupa barang dan jasa) yang diproduksi oleh manusia untuk diperjual belikan. Jika seorang tukang kayu pergi ke hutan kemudian menebang kayu, dan kayu yang ditebangnya tersebut kemudian dijadikan sebagai bahan dasar untuk membuat sebuah meja makan, dan dengan pengetahuan dan keterampilannya dibuatlah sebuah meja makan oleh si tukang kayu tersebut, misalnya. Ketika meja makan tersebut telah selesai dibuatnya dan apabila meja makan yang dibuatnya tersebut tidak dia gunakan untuk kepentingannya sendiri atau keluarganya tetapi untuk kepentingan dijual-belikan, maka meja makan tersebut adalah sebuah komoditi. Jadi, status untuk dijual-belikan itulah yang memberikan identitas sebagai komoditi kepada sebuah meja makan yang dibuat oleh si tukang kayu tersebut.

Satu contoh lagi, misalnya ada seorang petani yang mengolah sawahnya untuk ditanami padi. Setelah padi yang dia tanam tersebut telah menguning dan dipanennya. Padi yang dipanen oleh petani tersebut apabila dikonsumsinya sendiri bukanlah komoditi. Namun, jika padi yang dipanennya tersebut kemudian diperjual-belikan, maka pada saat itulah padi yang dipanennya itu menyandang identitas sebagai komoditi.

Setelah di ulas tentang apa itu yang dinamakan dengan komoditi, selanjutnya tulisan ini akan bergerak pada ulasan tentang hal-hal yang dikandung dalam sebuah komoditi. Ada dua hal yang dikandung oleh sebuah komoditi, yakni kandungan nilai pakai dan nilai tukar. Apa itu nilai pakai dan nilai tukar? Berikut ini akan diulas mengenai apa yang dimaksud dengan nilai pakai dan nilai tukar.

NILAI PAKAI

Jika seseorang memakai sepatu sebagai alas kakinya, pertanyaannya adalah mengapa orang tersebut memakai sepatu itu? Karena sepatu yang dipakai oleh orang tersebut berfungsi sebagai alas kaki, menyelimuti kakinya dari debu, kotoran, air atau hawa dingin/panas. Mari disodorkan pertanyaan kepada orang tersebut? Bagaimana apabila sepatu yang dipakai oleh orang tersebut tidak memenuhi fungsi kegunaannya tersebut, misalnya sepatu itu sempit dan tidak muat ketika dikenakan oleh kaki orang tersebut? Tentunya orang tersebut akan menjawab bahwa dia tidak akan memakai sepatu tersebut karena ukurannya yang tidak sesuai dengan telapak kakinya. Berangkat dari sini, sekarang mari mengulas apa yang dinamakan dengan nilai pakai. Nilai pakai sesungguhnya tercermin dari fungsi dari sepatu tersebut dan fungsi tersebut dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan orang tersebut. Jadi, nilai pakai dapat didefinisikan sebagai komoditi yang berguna bagi si pengkonsumsinya. Jika suatu komoditi (dalam hal ini sepatu) apabila tidak berguna bagi si pengkonsumsinya, maka komoditi tersebut nilai pakainya sedang “ditidurkan.”

Nilai pakai dalam perealisasiannya dapat diklasifikasikan menjadi dua bentuk, yakni nilai pakai relatif dan nilai pakai universal. Nilai pakai relatif adalah komoditi yang berguna bagi orang-orang tertentu saja. Misalnya, sepatu atau baju bayi yang hanya berguna bagi bayi saja atau sebuah celana dengan ukuran tertentu yang hanya berguna bagi orang-orang yang memiliki ukuran lingkar pinggul tertentu saja. Sedangkan nilai pakai universal adalah komoditi yang berguna bagi siapa saja, misalnya sebuah komputer, note book yang digunakan untuk menggunakan menulis naskah ini, atau kendaraan bermotor. Inti pemahaman dari nilai pakai terletak pada berguna tidaknya sebuah komoditi yang diproduksi oleh manusia. Jika sebuah komoditi tidak berguna, maka komoditi tersebut tidak dapat disebut sebagai komoditi yang mengandung nilai pakai. Namun, jika komoditi tersebut berguna untuk memenuhi kebutuhan manusia, maka komoditi tersebut adalah komoditi yang mengandung nilai pakai. Jadi, nilai pakai ada pada kebergunaan suatu komoditi.

Suatu komoditi, sebagaimana telah penulis sebutkan, selain mengandung nilai pakai, komoditi juga mengandung nilai tukar? Apa yang dimaksud dengan nilai tukar tersebut? Dalam ulasan berikut penulis berusaha untuk mengulas mengenai pengertian atau pemahaman tentang nilai tukar.

NILAI TUKAR

Menurut Marx nilai tukar yang terkandung dalam sebuah komoditi akan tercermin ketika terjadi perjumpaan dengan komoditi lainnya. Kedua komoditi yang saling berjumpa tidak hanya sebagai syarat untuk menemukan cermin nilai tukar, tetapi juga digunakan untuk dilakukannya penyetaraan komoditi. Dua pasang sepatu, misalnya, nilai tukarnya terkandung di dalam sebuah jas ketika antara sepatu dan jas dipertemukan atau saling berjumpa. Demikian pula sebaliknya, sebuah jas, nilai tukarnya, tercermin dalam dua pasang sepatu.



Jika seseorang ingin mendapatkan sebuah jas, maka orang yang bersangkutan harus memiliki dua pasang sepatu untuk mendapatkan sebuah jas yang diinginkannya. Demikian juga halnya, apabila ada seseorang yang menginginkan dua pasang sepatu, maka orang yang bersangkutan harus memiliki sebuah jas untuk ditukarkan pada dua pasang sepatu. Berangkat dari sini, penulis sebenarnya hanya ingin menyampaikan kepada pembaca, bahwa nilai tukar yang terkandung di dalam sebuah komoditi harus memiliki kemampuan untuk menukarkan dirinya dengan komoditi lainnya. Selain harus memiliki kemampuan tersebut, syarat lainnya adalah komoditi yang bersangkutan harus memiliki nilai pakai yang berbeda dengan nilai pakai dengan komoditi lainnya. Sepatu, misalnya, nilai pakainya berbeda dengan nilai pakai sebuah jas. Apabila sepatu nilai pakainya terletak pada kegunaannya sebagai alas kaki, maka sebuah jas nilai pakainya terletak pada kegunaannya untuk membungkus tubuh. Jadi, ada perbedaan nilai pakai antara sepatu dan jas. Pertanyaannya, mengapa secara kuantitas, ada perbedaan antara pertukaran antara sepatu dan jas? Maksudnya, mengapa dua sepasang sepatu hanya bisa ditukarkan oleh sebuah jas? Mengapa tidak satu sepasang sepatu dan satu buah jas saja yang berlaku dalam pertukaran diantara dua komoditi yang saling berjumpa tersebut? Berikut ini penulis akan berusaha untuk dijawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sebuah komoditi di dalam dirinya selain dapat dilihat wujudnya secara ragawi (misalnya dilihat—secara ragawi—sebagai sebuah sepatu, jas, tas, atau sebuah buku bacaan), di dalam ragawi komoditi tersebut, sebagaimana telah penulis ulas, juga mengandung dua nilai, yakni nilai pakai dan nilai tukar. Yang harus dicatat, berangkat dari sini, apapun bentuk dan kandungan nilai yang ada dalam komoditi tersebut, komoditi tersebut bisa ada dan dapat dinikmati kegunaannya bagi manusia karena diproduksi oleh manusia. Orang yang memproduksi komoditi ini dinamakan dengan pekerja. Artinya, komoditi bisa ada karena adanya curahan kerja dari pekerja. Tanpa adanya curahan kerja dari pekerja, komoditi tidak akan pernah ada dan dapat dinikmati oleh manusia. Contoh konkretnya seperti ini, sebagaimana telah penulis sebutkan di muka, bahwa untuk membuat sebuah meja makan si pembuatnya (baca: pekerja) harus memiliki sebuah batang kayu terlebih dahulu sebagai bahan baku untuk dibuat sebuah meja makan. Tidak hanya memiliki sebuah batang kayu, orang tersebut juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk memproduksi/mengerjakan batang kayu itu menjadi sebuah meja makan. Proses memproduksi/mengerjakan inilah yang dinamakan dengan curahan kerja. Tanpa adanya curahan kerja dari orang tersebut, sebatang kayu hanya akan teronggok menjadi batang kayu, batang kayu tersebut tidak akan pernah menjadi sebuah meja makan, walaupun orang memohon kepada Tuhan agar batang kayu tersebut dapat berubah dengan sendirinya menjadi sebuah meja makan, “sim salabim, cling!” tidak akan pernah batang kayu itu akan menjadi sebuah meja makan, bahkan kalau didiamkan saja bertahun-tahun, bisa jadi, batangan kayu tersebut menjadi lapuk dan kualitasnya menurun. Jadi, curahan kerja adalah syarat mutlak atau harus ada pada sebuah keberadaan komoditi.

Dalam memproduksi komoditi, durasi curahan kerja antara satu komoditi dan komoditi lainnya tidak sama atau berlain-lainan, tergantung tingkat kesulitan atau kerumitan dari sebuah proses produksi sebuah komoditi. Misalnya, sepasang sepatu proses produksinya memakan waktu selama 1 hari sedangkan sebuah jas proses produksinya memakan waktu selama 2 hari. Sebuah jam tangan, misalnya, proses produksinya memakan 2 hari sedangkan sebuah pakaian batik proses produksinya memakan waktu 4 hari. Nah, perbedaan durasi atau jangka waktu antara komoditi satu dengan yang lainnya inilah yang membuat komoditi memiliki nilai tukar yang berbeda-beda antara satu sama lain apabila mereka saling dipertukarkan. Misalnya, karena proses produksi sepasang sepatu memakan waktu 1 hari sedangkan sebuah jas dalam proses produksinya memakan waktu 2 hari, maka ketika mereka dipertukarkan 2 pasang sepatu hanya dapat ditukarkan oleh 1 buah jas. Di sinilah letak rahasia dari perbedaan nilai tukar antara komoditi satu dengan komoditi lainnya. Artinya perbedaan nilai tukar antar komoditi mencerminkan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh pekerja untuk mencurahkan kerjanya dalam memproses sebuah komoditi. Dari sini, mungkin, ada sebuah pertanyaan yang mencuat seperti ini: “bagaimana apabila ada pekerja yang hanya bermalas-malasan dalam bekerja, sehingga jangka waktunya itu menjadi melar atau panjang, apakah komoditi yang diproduksinya tersebut, karena lama jangka waktu memproduksinya, nilai tukarnya menjadi naik dari nilai tukar normalnya?” Marx dalam buku yang ditulisnya, “Das Kapital Jilid I,” mengatakan bahwa pekerja yang pemalas, yang meproduk komoditinya lebih lama tersebut, akan menghasilkan nilai tukar yang normal seperti komoditi sejenis yang tidak dibuatnya. Mengapa? Karena hitungan durasi curahan kerja yang dimaksud Marx adalah durasi curahan kerja secara sosial. Jadi, Marx menggunakan standar sosial untuk menentukan durasi curahan kerja tersebut. Marx tidak perduli bahwa seorang pekerja itu pemalas atau rajin karena standar durasi curahan kerja secara sosiallah yang dipakai untuk menyetarakan antara nilai tukar komoditi satu dengan yang lainnya ketika komoditi saling dipertukarkan.

KERJA KONKRET, BERGUNA DAN KERJA ABSTRAK

Jika seorang pemahat patung melihat sebongkah batu yang teronggok dihadapannya, apa yang dilihat oleh si pemahat tersebut? Pemahat tersebut melihat adanya suatu potensi di dalam sebongkah batu tersebut. Si pemahat tersebut akan melihat sebongkah batu tersebut sebagai potensi untuk dibentuk sebuah patung. Penglihatan si tukang pemahat patung ini berbeda halnya dengan seorang ahli bangunan. Ahli bangunan tidak melihat sebongkah batu tersebut sebagai potensi untuk dibuat sebuah patung, akan tetapi ahli bangunan ini akan melihat potensi sebongkah batu tersebut sebagai fondasi sebuah bangunan atau, bisa jadi, sebagai dinding dari sebuah bangunan.

Potensi dapat didefinisikan sebagai kandungan bentuk pada suatu obyek. Kandungan bentuk dari suatu obyek ini akan mejadi bentuk yang konkret apabila ada proses produksi terhadap obyek tersebut, yang tentu saja melibatkan curahan kerja dari orang yang mengerjakannya (misalnya pemahat yang membuat batu itu berubah menjadi patung, atau si ahli bangunan yang mengubah sebongkah batu tersebut menjadi serpihan-serpihan dan dari serpihan tersebut si ahli bangunan ini menyusun dan menjadikannya sebuah dinding bangunan yang estetis). Proses produksi yang melibatkan curahan kerja di dalam obyek berupa batu tersebut inilah yang dinamakan dengan kerja konkret. Kerja konkret secara ringkas dapat dicontohkan: tukang jahit menjahit bahan baju dan jadilah baju, seorang tukang patung memahat sebongkah batu dan jadilah patung, seorang koki memasak daging sapi dan jadilah rendang, atau seorang petani menggarap sawah dan jadilah beras. Atau lebih ringkasnya lagi, kerja konkret, dapat dicontohkan seperti ini: tukang jahit menjahit, tukang patung memahat, seorang koki memasak, dan seorang petani memaculi sawah.

Manusia melakukan kerja kokret sudah tentu didasari oleh suatu tujuan. Apa tujuan dari kerja konkret yang dilakukan oleh manusia? Tujuan dari kerja kokret tidak lain adalah menciptakan kebergunaan. Produk akhir dari hasil kerja konkret itu—sudah tentu bertujuan untuk memberikan manfaat atau kegunaan bagi si penggunanya. Misalnya, hasil dari pertanian berguna untuk mencukupi kebutuhan makan si pengguna atau si pengkonsumsinya atau hasil kerja si tukang kayu yang menghasilkan sebuah pintu yang berguna sebagai pintu rumah atau sebuah bangunan. Jadi, aktivitas kerja yang dilakukan manusia terdiri dari dua kualitas, yakni kerja konkret dan kerja berguna. Kerja konkret dan kerja berguna ini merupakan syarat mutlak bagi terciptanya sebuah komoditi.

Telah penulis sebutkan bahwa di dalam sebuah komoditi terkandung dua nilai, yakni nilai pakai dan nilai tukar. Untuk memunculkan nilai yang disebutkan terakhir tersebut ada syarat yang harus dipenuhi oleh komoditi, yakni mempertemukan antara komiditi satu dengan komoditi lainnya. Dari pertemuan antar komoditi inilah kemudian antar komoditi tersebut dapat saling mencerminkan nilai tukarnya masing-masing. Ketika antar komiditi ini saling mencerminkan nilai tukar antara satu sama lain, maka berlakulah hukum penyetaraan. Misalnya, dua pasang sepatu—ketika ditukarkan—memiliki kesetaraan dengan satu buah jaket atau sepuluh buah kendaraan bermotor roda dua setara dengan satu buah mobil sedan. Menurut seorang filsuf dari zaman Yunani Kuno, Aristoteles, kesetaraan antara komoditi satu dengan yang lainnya ketika saling ditukarkan sesungguhnya antara komiditi tersebut tidak dapat dikatakan setara karena apabila dilihat dari proses memproduksinya antara komoditi satu dengan komoditi lainnya, secara kualitas, sangat jelas berbeda. Kerja konkret dan kerja berguna yang dicurahkan ke dalam komoditi-komoditi yang saling dipertemukan tersebut sangatlah berbeda, misalnya kerja konkret dan kerja berguna petani berbeda dengan kerja konkret dan kerja berguna dari seorang tukang kayu. Dan berangkat dari perbedaan inilah yang menjadikan komoditi tidak mungkin disetarakan nilai tukarnya apabila mereka saling dipertemukan antara satu dengan yang lainnya (Aristoteles dalam David Smith dan Phil Evans, 2004). Marx mengakui atas ketidak setaraan antar komoditi yang saling dipertemukan tersebut, namun demikian Marx tetap mengakui adanya kesetaraan antar komoditi yang saling dipertemukan dan dipertukaran tersebut, akan tetapi walaupun Marx mengakui adanya kesetaraa tersebut, Marx sepakat dengan Aristoteles bahwa kesetaraan tidak dapat ditemui dari kerja konkret dan kerja berguna yang tercurah dari sebuah komoditi. Menurut Marx kesetaraan itu terletak dari kesepakatan sosial dari masyarakat. Berangkat dari kesepakatan sosial yang menyetarakan nilai tukar antara komoditi satu dengan komoditi yang lainnya, maka Marx mengatakan bahwa kerja yang tercurah—untuk menilai kesetaraan itu—bukanlah kerja konkret atau pun kerja berguna, akan tetapi kerja abstrak. Yah, inilah yang dimaksud dengan kerja abstrak oleh Karl Marx, curahan kerja yang hasil akhirnya menciptakan nilai tukar komoditi satu dengan komoditi lainnya dimana nilai tukar ini disepakati secara sosial setara.

NILAI RELATIF

Sebelum diulas mengenai kerja konkret, kerja berguna dan kerja abstrak penulis telah mengulas tentang pengertian tentang apa yang dinamakan dengan nilai lebih dan nilai tukar. Dalam ulasan berikutnya, penulis berusaha untuk menjabarkan tentang pengertian nilai relatif yang terkandung dalam sebuah komoditi.

Nilai relatif muncul di dalam dunia pertukaran antar komoditi. Ketika antar komoditi saling dipertukarkan, sebagaimana telah penulis sebutkan, seketika itulah antar komoditi satu dengan komoditi yang lainnya saling mencerminkan nilai tukarnya masing-masing. Misalnya, ketika komoditi berupa jaket dipertemukan dengan komoditi berupa satu unit komputer untuk dipertukarkan, maka jaket akan mencerminkan nilai tukar satu unit komputer, demikian pula sebaliknya. Hanya dengan 50 buah jaketlah orang bisa menukarkannya dengan satu unit komputer, dan jika orang ingin memiliki 50 jaket, maka orang tersebut harus menukarkannya dengan satu unit komputer. Jadi, satu unit komputer mencerminkan 50 buah jaket, sedangkan 50 jaket mencerminkan satu unit komputer. Di dalam dunia pertukaran antar komoditi, ternyata, komoditi berupa satu unit komputer ini tidak hanya dapat mencerminkan komoditi berupa jaket saja. Satu unit komputer dapat mencerminkan berbagai komoditi selain jaket, misalya, dia juga bisa mencerminkan nilai tukar sebuah sepeda, televisi, meja makan, jam dinding, atau alat musik berupa gitar. Untuk lebih jelasnya berikut ini penulis tunjukkan dalam bentuk skema:



Kemampuan 1 unit komputer, sebagaimana penulis tunjukan dalam bentuk skema tersebut, untuk mencerminkan berbagai nilai tukar komoditi, menurut Karl Marx, hal inilah yang dinamakan dengan nilai relatif. Atau dengan kata lain, menurut penulis, dapatlah dikatakan sebagai nilai patokan atau kiblat dari semua komoditi.

Nilai relatif atau pengkiblatan dari berbagai komoditi kepada satu bentuk komoditi ini, dalam perkembangannya, menderivasikan (menurunkan/mewariskan) interaksi pertukaran antara komoditi satu dengan yang lainnya, selain interaksi pertukaran antara 1 unit komputer dengan berbagai komoditi tersebut. Jika orang ingin memiliki 2 buah sepeda, maka dia harus memiliki 50 buah jaket sebagai alat tukarnya (2 buah sepeda >> 50 buah jaket). Jika orang ingin memiliki 3 buah gitar, maka dia harus memiliki 24 jam dinding (3 buah gitar >> 24 buah jam dinding) sebagai nilai tukarnya, dan begitu seterusnya, dimana pertukaran antar komoditi tersebut nilai tukarnya berkiblat kepada 1 unit komputer.

Nilai relatif, yang sebenarnya merupakan pencerminan dari curahan kerja abstrak oleh pekerja pada masing-masing komoditi tersebut, yang mewujud dalam bentuk satu komoditi (1 unit komputer) sebagai patokan atau kiblat, dalam perkembangannya, nilai relatif ini digantikan dengan emas. Yah, emas, sampai dengan saat ini, dijadikan sebagai nilai relatif terhadap berbagai interaksi nilai tukar berbagai komoditi, yang pada saat ini--berbagai komoditi tersebut--digantikan oleh simbol (tanda) berupa uang. Atau dengan kata lain emas disepakati secara sosial sebagai nilai relatif yang menjadi patokan atau kiblat dari berbagai nilai tukar yang pada saat ini menubuh dalam bentuk uang sebagai pengganti komoditi. Untuk lebih jelasnya, berikut ini penulis tunjukan hal ini dalam bentuk skema, sebagai berikut ini:



FETISISME

Fetisisme adalah mitos atau khayalan. Di dalam dunia pertukaran antar komoditi fetisisme ini muncul dari kalangan ilmuwan-ekonom borjuis. Menurut ekonom borjuis komoditi sebagai kekuatan alat tukar terhadap komoditi lainnya, kekuatannya tersebut muncul dengan sendirinya. Dan karena dia muncul secara spontan dengan sendirinya, maka kemunculannya tersebut diamini oleh manusia dan kemudiaan, akhirnya, nilai tukar yang terkandung dalam komoditi tersebut disepakati secara sosial. Para ekonom borjuis tidak melihat adanya curahan kerja dari pekerja yang memproduksi komoditi yang kemudian mendorong berbagai nilai yang dikandung oleh komoditi tersebut. Anggapan dari para ekonom borjuis yang menganggap bahwa nilai tukar yang terkandung di dalam komoditi terlepas dari curahan kerja para pekerja tersebut, oleh Karl Marx diistilahkan dengan para ekonom vulgar yang terperangkap dalam kesadaran fetisisme.

Sebagaimana telah berusaha penulis ulas sebelumnya, bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam komoditi, seperti nilai pakai, nilai tukar, dan nilai relatif kemunculannya di dorong oleh aktivitas para pekerja yang mencurahkan kerjanya pada suatu obyek (alam) demi untuk terciptanya atau terproduksinya sebuah komoditi. Jadi, tidak benar apabila nilai-nilai yang terkandung di dalam komoditi tersebut muncul dengan sendirinya. Para ekonom borjuis, dengan mengatakan seperti itu, seakan-akan ingin menyampaikan bahwa nilai tukar yang terkandung di dalam komoditi itu adalah roh yang ditiupkan oleh Tuhan ke dalam tubuh-ragawi komoditi. Suatu prilaku yang sangat menggelikan.

DAS KAPITAL (BAGIAN 2)

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono (Isman)
--Peminat dan Pembelajar Ilmu Sosialis-Marxis--

“DARI HATI KE HATI KITA SANDINGKAN GEMA PEMBEBASAN, DAN PEKIK PERLAWANAN DALAM SATU TARIKAN NAFAS...!!!”

A. MANUSIA DAN KERJA

“Orang hidup harus makan, yang dimakan haruslah hasil dari kerja orang yang memakannya, kalau tidak kerja tidak makan, dan kalau tidak makan pasti mampus!” rentetan kalimat tersebut merefleksikan betapa antara makan (baca: memenuhi kebutuhan hidup) dan kerja (aksi mengubah alam untuk kepentingan memenuhi kebutuhan hidup) merupakan dua hal yang saling berhubungan sangat erat dan tidak terpisahkan antara satu sama lain. Jadi, intinya orang yang bekerjalah yang berhak untuk menikmati hasil kerjanya. Bagaimana halnya apabila orang mau menikmati/memakan hasil kerja orang lain, tetapi dia sendiri tidak bekerja? Wah, ini namanya perampokan! Orang-orang model kayak gini, dalam literatur Marxist, adalah orang-orang yang tergolong manusia yang ga beres, orang yang doyan menindas orang lain dengan cara menghisap hasil kerja orang lain. Inilah drakula sesungguhnya dalam dunia manusia. Dan keberadaan mereka secara nyata di dalam kehidupan manusia adalah bukti bahwa drakula tidak hanya sekedar mitos, tetapi merupakan kenyataan yang sangat nyata—Awas! ada hantu “Drakula,” ditengah-tengah kehidupan Anda, hantu Kapitalisme...!!!—



Ulasan dalam tulisan ini akan menjelujuri bagaimana mungkin orang yang tidak bekerja dapat menikmati hasil kerja orang lain, dan justru orang yang bekerja tidak dapat menikmati hasil kerjanya, terasing (teralienasi) dari hasil kerjanya sendiri, dan teralienasi dengan sesamanya. Oke Mas-Bro dan Mbak-Miss, penulis akan memulai mengulasnya dengan terlebih dahulu memaparkan tentang hubungan antara manusia dan kerja.

Mari kita sodorkan bersama sebuah pertanyaan seperti ini, “mengapa manusia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan binatang tidak?” Penulis akan menjawab pertanyaan ini dengan rentetan kalimat sebagai berikut: Walau pun antara binatang dan manusia memiliki jurang perbedaan yang sangat lebar-menganga, namun ada hal yang sama antara binatang dan manusia, yakni sama-sama membutuhkan makan. Namun demikian, walau pun binatang dan manusia sama-sama membutuhkan makan, ada perbedaan antara binatang dan manusia dalam cara memenuhi kebutuhan hidupnya. Dimana letak perbedaannya tersebut? Perbedaannya terletak di sini: Jika binatang membutuhkan makan, maka alam telah menyediakannya secara instan, binatang tinggal merenggutnya dari alam. Misalnya, apabila sekawanan kerbau liar membutuhkan rumput untuk dimakannya, kawanan tersebut tinggal mendatangi padang rumput dan kemudian memakannya bersama-sama, alam telah menyediakannya. Misalnya lagi, apabila ada segerombolan burung pipit yang membutuhkan makanan, gerombolan burung pipit itu tinggal mendatangi area tetumbuhan padi dan kemudian memakan biji-bijian yang ditumbuhkan oleh tetumbuhan padi tersebut, alam telah menyediakannya. Satu lagi contoh, apabila ada seekor lebah yang membutuhkan makanan (madu), dia tinggal mencari bunga-bunga yang sedang mekar [dengan warna yang sangat luar biasa indahnya ketika di pandangi oleh biji mata manusia pencinta keindahan, dan kemudian setelah si kumbang menemukan bunga-bunga itu] kemudian dia akan menghisap madunya, alam telah menyediakannya secara instan. Bagaimana dengan manusia? Ketika manusia membutuhkan sesuatu untuk dikonsumsinya, alam memang menyediakan berbagai hal yang dibutuhkan oleh manusia, namun alam tidak menyediakannya secara instan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia harus mengambil bahan mentah yang disediakan oleh alam, mengolahnya sesuai dengan kebutuhannya dan kemudian setelah itu mengkonsumsinya. Proses pengolahan dari bahan mentah yang disediakan oleh alam tersebut menjadi bahan yang siap untuk dikonsumsi manusia inilah yang dinamakan dengan kerja. Dan hal inilah yang membedakan antara binatang dan manusia: Jika binatang tidak perlu kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan manusia mutlak harus bekerja.

Ketika manusia bekerja sebenarnya manusia mengambil bentuknya yang alami dari alam dan kemudian mengubahnya menurut citra yang ada di dalam batok kepala (otak/kecerdasan) si manusia yang mengubahnya, misalnya jika pembaca adalah seorang pembuat meja, pembaca akan mengambil kayu dari alam (dari hutan misalnya) dan dari kayu tersebutlah pembaca akan membuat meja, ketika pembaca sedang memproses kayu tersebut menjadi sebuah meja seketika itulah sesungguhnya pembaca sedang mengubah sesuatu yang alami menjadi sesuatu yang sesuai dengan citra yang ada dalam pikiran pembaca. Sama seperti halnya penulis ketika sedang menuliskan naskah (note ala facebook) ini untuk pembaca, sebelum menuliskan naskah ini penulis telah mempelajari literatur-literatur yang berkaitan dengan tema naskah ini (baca: merenggut hal yang alami dari alam), setelah penulis mengolah berbagai bahan bacaan (literatur) di dalam batok kepala penulis, baru kemudian penulis menuangkannya ke dalam bentuk tulisan yang saat ini sedang dinikmati oleh pembaca. Berangkat dari sini dapatlah dikatakan bahwa proses kreatif adalah inti dari aktivitas kerja manusia. Tanpa kreativitas tidak ada apa pun yang dapat dikerjakan oleh manusia.

Secara umum orang menyepakati bahwa manusia memiliki kebutuhan hidup yang beragam atau sangat banyak sekali. Dan oleh karena itulah, maka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia tidak hanya memerlukan satu produk dari hasil kerja manusia tetapi manusia membutuhkan banyak produk hasil kerja manusia-manusia lainnya. Dan berangkat dari sinilah, maka manusia hanya dapat hidup dengan manusia lainnya apabila dia ingin memenuhi segala bentuk kebutuhan hidupnya. Sementara itu, secara psikologis, orang akan senang sekali apabila hasil kerjanya dinikmati oleh orang lain, begitu juga sebaliknya. Dan seandainya saja sistem kemasyarakat-manusia mengizinkan, orang akan lebih senang memberikan hasil kerjanya untuk dinikmati orang lain tanpa pamrih—tanpa imbalan apapun, kecuali cinta. Seorang tukang pembuat meja butuh makan, dan hal ini dipenuhi oleh seorang petani, seorang petani butuh meja dan hal ini dipenuhi oleh orang yang membuat meja, seorang tukang pembuat meja dan petani membutuhkan buku untuk dibacanya—agar lebih terampil dan pikirannya lebih kritis—maka dipenuhilah kebutuhan mereka oleh seorang penulis, dan seorang penulis membutuhkan meja dan makan, kebutuhan penulis ini dipenuhi oleh si pembuat meja dan petani, pembuat meja, petani, dan penulis membutuhkan panci untuk memasak, maka kebutuhan ini dipenuhi oleh si pembuat panci, si pembuat panci membutuhkan meja, makanan, dan bahan bacaan, maka dipenuhilah kebutuhan dari si tukang panci ini oleh si pembuat meja, petani, dan penulis.... untuk seterusnya silahkan pembaca mencari contoh-contoh konkret lanjutannya J

Telah penulis bacotkan di muka bahwa kebutuhan hidup manusia, dalam perkembangannya tidak hanya banyak sekalee, tetapi juga beragam. Nah, dari berbagai keragaman inilah kemudian melahirkan berbagai bentuk kreativitas manusia. Bahkan dapat dikatakan bahwa keberagaman kreativitas manusia itu telah melahirkan bangunan peradaban manusia sampai dengan saat ini.

Berangkat dari apa yang penulis sampaikan tersebut, maka tidak berlebihanlah kiranya apabila dikatakan bahwa peradaban manusia sampai dengan saat ini sebenarnya merupakan bangunan dari hasil kerja dari generasi-generasi sebelumnya (sawah-sawah yang menghampar luas, bangunan-bangunan peninggalan zaman dahulu, dan berbagai peninggalan hasil kerja lainnya dari generasi-generasi sebelumnya), dimana orang yang satu berdiri di atas pundak yang lain, dan yang lain berdiri di atas pundak yang lainnya lagi, dan begitu seterusnya. Penulis tekankan sekali lagi, pada fitrahnya manusia adalah mahluk sosial yang hanya dapat hidup secara kolektif bukan “partikel bebas” yang hidup terisolasi dari lingkungan sosialnya sebagaimana diwacanakan oleh ideologi kapitalisme-individualis yang mengagungkan bahkan mendewakan kerakusan individu untuk memburu nafsu hedonisnya.

Sekedar catatan, Adam Smith, seorang Bapak kapitalis dunia, dalam teorinya menggariskan bahwa manusia pada hakekat adalah rakus (baca: lebih mementingkan dirinya sendiri ketimbang kepentingan orang lain), dan karena kerakusannya inilah, maka terjadilah peristiwa manusia satu dengan manusia lainnya saling bersaing untuk saling mendapatkan sesuatu yang dibutuhkan untuk menghidupi instink kerakusannya. Namun demikian, menurut Adam Smith, justru karena terjadinya persaingan tersebut antara pihak satu dengan pihak lainnya akan saling mengendalikan kerakusannya, karena apabila ada salah satu pihak saja yang tidak bisa mengendalikan nafsu rakusnya, maka akan hancur berkeping-kepinglah dia. Oke, untuk lebih jelasnya persaingan yang menyeret orang untuk mengendalikan kerakusannya dapat penulis contohkan secara konkret seperti ini: “si kapitalis demi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya merumuskan prinsip TANAM MODAL SEKECIL MUNGKIN, SIKAT (RAUP/DAPATKAN) KEUNTUNGAN SEBESAR MUNGKIN. Berangkat dari prinsip inilah kemudian si kapitalis akan menjual produk (komoditi) dari buruh yang dipekerjakannya dengan harga yang seenak udelnya sendiri (walau pun udel itu ga enak, yang enak itu sesuatu yang ada di bawah udel—ga hanya enak tapi sedap, nikmat dunia yang tiada tara he..he..he...) atau semau-maunya. Atau dengan kata lain si kapitalis akan menjual komoditi tersebut dengan harga yang semahal-mahalnya. Untuk menjual komoditi dengan harga yang semahal-mahalnya ini bisa saja terjadi apabila si kapitalis memonopoli penjualan komoditi tertentu, tetapi dia tidak akan melakukan hal ini apabila ada pesaing lainnya yang menjual produk yang sama, artinya terjadi persaingan dalam aksi jual-beli di ranah pasar. Kenapa si kapitalis tidak bisa menjualnya dengan harga semahal-mahalnya? Jawabannya, karena apabila si kapitalis menjualnya dengan harga semahal-mahalnya, maka komoditi yang dijualnya tersebut tidak akan ada yang membelinya atau tidak laku. Loh kenapa koq bisa begitu? Karena pesaingnya menjual komoditi tersebut dengan harga yang lebih murah untuk menjatuhkan lawannya, dengan sambil tetap melakukan akumulasi kapital! Di sinilah kita dapat melihat KONTRADIKSI dalam pemasaran komoditi di ranah pasar kapitalis, di satu sisi si kapitalis ingin menjual harga semahal-mahalnya, namun di sisi lainnya dia tidak bisa melakukannya, karena kalau dia melakukannya dia akan bangkrut, gulung tikar, atau dihantam tanpa ampun oleh buasnya persaingan pasar. Kontradiksi yang terjadi di ranah pasar inilah, yang kemudian oleh Adam Smith diasumsikan sebagai sesuatu yang dapat menggiring orang untuk mengendalikan diri dari kerakusan, yang menurut Adam Smith, adalah fitrah sesungguhnya dari kepribadian manusia-individu.

Berangkat dari apa yang dibacotkan oleh Adam Smith tersebut, maka dapatlah ditarik garis perbedaan antara ideologi kapitalisme dan sosialisme. Jika kapitalisme berasumsi bahwa manusia itu sebenarnya individualis dan rakus, maka sosialisme secara tegas menolak hal itu. Dalam ideologi sosialisme secara tegas mengatakan bahwa manusia itu pada dasarnya memiliki empati untuk saling berbagi, bekerjasama, saling mengasihi antara satu sama lain, dan berusaha saling menumbuhan rasa solideritas yang kuat antar sesama tanpa diskriminasi. Cinta sejati adalah fondasi dari terbangunnya ideologi sosialisme.

Dengan tegas penulis berstatement bahwa kerja-kerja yang dilakukan oleh manusia sebenarnya mengandung elemen-elemen dari karekter dasar ideologi sosialisme, yakni semangat berbagi, kerjasama, saling mengasihi dan saling menumbuhkan rasa solideritas antar manusia satu dengan manusia lain. Namun, dalam tulisan ini akan pembaca saksikan betapa elemen-eleman ini dirusak oleh bekerjanya sistem kapitalisme yang mengagungkan bahkan mendewakan kerakusan individu sebagaimana yang telah penulis kemukakan.

Setelah penulis mengulas tentang hubungan manusia dengan kerja, ulasan berikutnya akan bergerak pada pemaparan tentang perampokan nilai lebih yang dilakukan oleh kelas kapitalis terhadap orang-orang yang dipekerjakannya sebagai buruh-buruh mereka.

B. MEKANISME PENGHISAPAN NILAI LEBIH

1. Rumusan K-K (Komoditi-Komoditi), K-U-K (Komoditi-Uang-Komoditi), dan U-K-U+ (Uang-Komoditi-Uang + Keuntungan/Profit)

Telah penulis sebutkan di muka bahwa dalam menjalani kehidupannya manusia membutuhkan berbagai produk, dan untuk kepentingan inilah maka antara manusia satu dengan manusia lainnya saling menukarkan hasil kerjanya antara satu sama lain. Misalnya seorang petani yang membutuhkan meja akan menukarkan hasil kerjanya, berupa padi, dengan sebuah meja dengan seorang pembuat meja. Hal ini dapat dirumuskan sebagai berikut: K-K (Komoditi ditukar dengan Komoditi = padi ditukar dengan meja).

Dalam perkembangan selanjutnya (pembaca dapat menyimak kembali tulisan penulis dengan judul Das Kapital—Bagian 1—yang penulis publikasikan via akun facebook milik penulis—ismanfilsafat@yahoo.co.id atau search melalui media facebook: Ismantoro Dwi Yuwono—yang mengulas tentang nilai tukar universal) pertukaran antar komoditi secara langsung tersebut tidaklah praktis, dan untuk mempraktiskan terjadinya tukar-menukar komoditi tersebut maka terciptalah uang. Uang adalah nilai universal yang berfungsi untuk ditukarkan dengan berbagai komoditi. Dan dengan uang inilah kemudian rumusan tukar-menukar barang/komoditi secara langsung mengalami pergeseran, orang ketika melepaskan komoditinya tidak lagi untuk mendapatkan komoditi, tetapi untuk mendapatkan uang demi untuk mendapatkan komoditi. K-U-K (Komoditi-Uang-Komoditi). Hal ini dapat dicontohkan secara konkret seperti ini: Ketika Kevin menjual padi, si kevin dari padi yang dijualnya tersebut mendapatkan uang sebagai alat pembayarannya sebesar Rp. 100 ribu. Dan dengan uang sebesar Rp. 100 ribu inilah kemudian dibelanjakan oleh Kevin untuk membeli sebuah meja seharga Rp. 100 ribu. Jadi, rumusan ini sebenarnya ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa “orang menjual untuk membeli dan orang yang membeli adalah orang yang telah menjual hasil kerjanya.”

Di tangan kapitalis, rumusan-rumusan tersebut mengalami perubahan. Perubahan tersebut terletak di sini: Ketika kapitalis atau si kantong uang membeli suatu komoditi, komoditi yang dibelinya tersebut tidak untuk dikonsumsinya sendiri tetapi dia gunakan untuk dijual kembali untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya si kantong uang membeli sebuah meja, seharga Rp. 100 ribu. Si kantong uang itu setelah membali meja tersebut kemudian dia menjualnya kembali kepada konsumen sebesar Rp. 150 ribu atau kalau bisa Rp. 200 ribu, ada sebesar 50%-100% keuntungan yang diperoleh oleh si kantong uang tersebut. Dan keuntungan yang diperoleh oleh si kantong uang itulah yang dinamakan dengan nilai lebih. Berangkat dari sini, maka dapatlah dipaparkan rumusan dari mekanisme jual-beli tersebut seperti ini: U-K-U+  (uang dibelikan komoditi, dan ketika komoditi tersebut dijual kembali, maka akan menghasilkan uang yang lebih besar nilainya dibandingkan dengan nilai uang sebelumnya).

Sekarang mari disodorkan pertanyaan, darimanakah sebenarnya asal dari nilai lebih tersebut? Apakah hal itu menyembul ke permukaan dengan sendirinya (fetisisme) tanpa ada sebab dan musababnya? Jika pembaca mengikuti ulasan penulis tentang fetisisme dalam tulisan Das Kapital (bagian 1), pembaca akan menemukan ulasan penulis bahwa komoditi yang memiliki kemampuan untuk memunculkan nilai lebih tersebut adalah komoditi yang tidak lepas dari curahan kerja manusia, yang dalam sistem kapitalisme hal itu dikerjakan oleh para buruh. Terus bagaimanakan ceritanya buruh dapat menciptakan nilai lebih? Berikut ini penulis akan berusaha untuk mengulasnya.

2. Kapital Konstan, Kapital Variabel dan Proses Penghisapan

Keberadaan komoditi tidak ada dengan sendirinya, sebagaimana telah berulang kali penulis bacotkan bahwa komoditi sebenarnya merupakan penampakan dari hasil kerja manusia. Ditangan kapitalis pekerja (buruh) tidak lagi menjadi seorang pekerja yang mandiri yang bekerja atas prakarsanya sendiri, menurut kemampuan dan keahliannya dalam menciptakan sebuah komoditi, akan tetapi pekerja diubah hanya sebagai komoditi, modal atau kapital yang karenanya dia harus rela diperbudak oleh majikannya atau sang kapitalis. Tidak saja dipisahkan dari hasil kerjanya, para buruh, dalam sistem kapitalisme, juga tercerabut dengan hubungan antar sesamanya. Hubungan antar manusia tidak lagi didasarkan oleh hubungan yang merefleksikan kebersamaan, kerjasama, kasih sayang dan cinta, serta solideritas tetapi hubungan yang tercipta adalah hubungan persaingan untuk saling menjatuhkan dan saling menghisap.

Untuk menjual komoditi, sudah tentu komoditi yang akan dijual oleh kapitalis itu terlebih dahulu harus ada dan tercipta. Untuk menciptakan komoditi inilah kemudian kapitalis memberdayakan uang yang dimilikinya dengan cara membelanjakannya untuk kepentingan penciptaan komoditi. Uang yang dimiliki oleh kapitalis dan kemudian dibelanjakannya untuk menciptakan komoditi inilah yang dinamakan dengan modal (selanjutnya disebut kapital). Kapital dalam pengoperasiannya dapat dibedakan menjadi dua bentuk, yakni kapital konstan dan kapital variabel. Kapital konstan adalah kapital tetap yang dalam pengoperasionalannya harus melibatkan curahan kerja dari buruh yang dipekerjakan oleh si kapitalis. Secara konkret kapital konstan ini tidak lain adalah alat-alat produksi seperti mesin produksi, pabrik, atau robot, pacul, pemahat patung atau kayu, alat pembajak sawah, bangunan, mesin cetak, mesin uap, note book/lap top untuk menulis naskah ini, mesin cuci, mesin penggiling, dan lain-lain.... dan sebagainya. Sedangkan kapital variabel adalah kapital yang memberikan curahan kerja sebagai syarat untuk dapat beroperasinya alat produksi dan menghasilkan nilai lebih, kapital variabel ini secara konkret tidak lain adalah para buruh yang dipekerjakan oleh majikan.

Untuk menciptakan komoditi si kapitalis harus membeli komoditi lainnya berupa alat-alat produksi atau alat kerja (kapital konstan) dari pihak (kapitalis) lain. Ketika kapital konstan ini telah dimiliki oleh si kapitalis, misalnya berupa alat-alat produksi untuk sarana pembuatan meja, maka tindakan selanjutnya yang dilakukan oleh si kapitalis adalah membeli (baca: mempekerjakan) orang-orang yang mau bekerja untuknya. Orang-orang yang sudi untuk bekerja untuk kepentingannya inilah yang dinamakan denga buruh. Untuk apa kapitalis mempekerjakan para buruh? Yang pasti tidak untuk dikentuti tetapi untuk menciptakan komoditi untuk dijual kembali oleh si kapitalis.

Sekarang mari kita berhitung: Misalnya, kapital yang ditanamkan oleh si kapitalis untuk menciptakan komoditi adalah Rp. 1 juta. Kemana larinya uang Rp. 1 juta ini?  Begini misalnya, untuk membeli alat produksi (kapital konstan) dan bahan baku si kapitalis harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 500 ribu, untuk membayar pajak kepada negara Rp. 300 ribu, dan untuk membayar buruh yang dipekerjakannya (kapital variabel) adalah Rp. 200 ribu (pembayaran kepada buruh sebesar Rp. 200 ribu ini dicicil setiap bulannya).  Alokasi dari penanaman modal tersebut diandaikan saja habis sebesar Rp. 1 juta.

Setelah uang Rp. 1 juta yang ditanamkan oleh si kapitalis itu telah habis dialokasikan untuk dibayarkan untuk pengadaan kapital konstan, kapital variabel, dan pajak negara tersebut tentunya si kapitalis menginginkan keuntungan (profit) dari kapital yang sudah ditanamkannya tersebut. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah: Dari mana profit itu dapat diperoleh oleh si kapitalis? Ikuti terus ulasan dari penulis tentang Das Kapital-nya Karl Marx ini, karena berikut ini penulis akan membeberkannya kepada pembaca.

Misalnya, dihadapan buruh telah tersedia segelondongan kayu yang siap untuk diubah menjadi meja kayu. Dengan pengetahuan, keahlian dan keterampilan yang dimilikinya kemudian buruh tersebut berhasil mengubah kayu gelondongan tersebut menjadi berlusin-lusin meja. Ketika meja (komoditi) ini telah diciptakan oleh buruh, hal yang terjadi kemudian adalah meja yang telah diciptakan oleh buruh tersebut bukanlah milik si buruh, tetapi milik majikan yang mengerjakannya, buruh hanya berhak mendapatkan upah yang telah ditetapkan oleh si majikan dan disepakati olehnya.

Lusinan meja yang telah diciptakan oleh curahan kerja buruh tersebut, misalnya kemudian dipasarkan (dijual) oleh majikan ke pihak konsumen. Dan hasil dari penjualan lusinan meja tersebut si kapitalis berhasil menjual seharga Rp. 1 juta 800 ribu (Rp. 1.800.000). Dari sini kemana kemudian uang hasil penjualan itu akan dialokasikan? Rp. 1 juta masuk ke kantong kapitalis sebagai modal kembali, sedangkan Rp. 800 ribu masuk ke kantong kapitalis sebagai profit atau keuntungan miliknya yang kemudian akan ditanamkannya kembali sebagai modal awal, demi untuk mengakumulai (menumpuk) keuntungan yang lebih banyak dan lebih banyak.... dan terus lebih banyak. Penumpukan kapital dan keuntungan inilah yang dinamakan dengan akumulasi kapital.

Coba perhatikan berapa upah buruh yang diberikan oleh majikan demi untuk terciptanya komoditi berupa meja tersebut? Hanya Rp. 200 ribu, saudara-saudara! Artinya ada perampasan nilai lebih sebesar Rp. 800 ribu dari majikan kepada buruh. Majikan/kapitalis berdalih dia berhak untuk Rp. 800 ribu itu untuk kepentingannya sendiri, karena dialah si pemilik alat produksi, dan dia juga yang telah membeli si buruh dengan kesepakatan yang fair. Jadi, kata si kapitalis, tidak ada masalah kan?! Tidak ada masalah, KEPALA-LU BEJAT!!!!!! Jelas ini merupakan mekanisme penghisapan nilai lebih dari pihak yang kuat (pemilik alat produksi) terhadap pihak yang lemah (pihak yang tidak memiliki alat produksi). Rezim hak milik terhadap alat produksi adalah penyebab dari mekanisme penindasan ini. Untuk melindungi mekanisme penindasan ini, kapitalis pun tidak segan-segan untuk membayar tukang pukulnya (baca: negara) untuk menindas perlawanan yang dilakukan oleh para buruh yang berkesadaran kritis. Tidak hanya memanfaatkan negara sebagai alat penindas, bahkan kapitalis pun akan menggunakan negara untuk melayani kepentingannya, baik dalam bentuk regulasi (pembuatan kebijakan publik) maupun dalam bentuk deregulasi (tindakan tanpa campur tangan negara terhadap beroperasinya para kapitalis di ranah pasar).

Dalam mekanisme penindasan ala kapitalisme, pekerja atau buruh tidak saja dipisahkan dari hasil kerjanya (komoditi) tetapi secara otomatis buruh dipisahkan pula dari sesama manusia. Hasil kerjanya tidak lagi merupakan cerminan dari realisasi dari kebutuhan untuk saling berbagi, bekerjasama, saling mengasihi, dan saling menumbuhkan rasa solideritas akan tetapi hanya sebagai seonggok komoditi tanpa empati-kemanusiaan yang bahkan dia sendiri tidak memilikinya. Buruh bekerja bukan semata-mata untuk kemanusiaan manusia, tetapi buruh bekerja demi untuk mendapatkan upah, buruh bekerja bukan semata-mata untuk membangun beradaban nilai-nilai kemanusiaan tetapi semata-mata agar dia bisa bertahan hidup, tidak kelaparan dan mampus, bahkan demi untuk medapatkan pekerjaan sebagai buruh dia sanggup untuk menikam saudara, kawan, dan sahabatnya sendiri. Tidak hanya sanggup untuk menikam, bahkan membunuh pun akan dijalaninya. Astaga!!!!

3. Penghisapan Melalui Perpanjangan Waktu Kerja Perlu

Sebagaimana telah penulis paparkan dalam Das Kapital (Bagian 1) ketika terjadi perjumpaan antara komoditi satu dengan komoditi lainnya, maka dari perjumpaan tersebut antara komoditi satu dengan komoditi lainnya saling mencerminkan kuantitas nilai tukar, misalnya bila celana dalam bertemu dengan jam tangan: celana dalam akan mencerminkan nilai tukar jam tangan, dan begitu pula sebaliknya. Peristiwa saling mencerminkan ini sesungguhnya merupakan peristiwa saling mengukur waktu kerja perlu sekaligus waktu kerja secara sosial (baca: nilai sosial) antar komoditi, misalnya jika orang ingin memiliki sebuah jam tangan, maka orang yang bersangkutan harus memiliki 2 lusin (24 buah) celana dalam, begitu pula sebaliknya, jika orang ingin memiliki 24 buah celana dalam, maka orang tersebut harus memiliki 1 buah jam tangan untuk ditukarkan dengan 24 buah celana dalam. Lalu yang menjadi pertanyaan, sebagaimana telah penulis jawab di dalam Das Kapital (Bagian 1), adalah: apa yang menjadi ukuran untuk membedakan secara kuantitatif antara nilai tukar komoditi satu dengan komoditi lainnya? Jawabannya adalah, curahan durasi waktu kerja!

Curahan durasi waktu kerja menjawab pertanyaan, mengapa 1 buah jam tangan hanya bisa ditukarkan dengan 24 buah celana dalam? Karena 1 buah jam tangan durasi waktu kerjanya lebih lama ketimbang membuat 1 buah celana dalam (cawet). Misalnya, jika 1 buah jam membutuhkan waktu 24 jam dalam proses pembuatannya, maka 1 buah celana dalam hanya memakan waktu selama 1 jam dalam proses pembuatannya. Jadi, perbandingan antara durasi waktu kerja inilah yang menjadi ukuran kuantitatif nilai tukar antar komoditi yang saling berjumpa.

Setelah penulis memaparkan durasi waktu kerja untuk mengukur nilai tukar antar komoditi yang saling berjumpa, selanjutnya penulis akan bergerak lebih jauh untuk mengulas tentang waktu kerja perlu untuk meproduksi sebuah komoditi yang kemudian akan dikaitkan dengan mekanisme perpanjangan waktu kerja perlu dalam mekanisme penghisapan.

Waktu kerja perlu adalah durasi waktu kerja yang dibutuhkan oleh seorang pekerja untuk memproduk sebuah komoditi. Misalnya, seorang buruh membutuhkan waktu 1 jam untuk memproduk 1 buah celana dalam, dan dalam satu jam ini nilai tukar 1 buah celana dalam tersebut apabila dijual atau dipasarkan seharga Rp. 50 ribu. Jadi, untuk memperoleh Rp. 50 ribu si buruh memerlukan waktu 1 jam, dan diandaikan saja dengan uang sebesar Rp. 50 ribu tersebut si buruh sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan makannya dalam satu hari. Tapi harus diingat si buruh tidak bekerja secara mandiri, dia bekerja untuk majikannya, dan dia pun posisinya bukan sebagai manusia dihadapan majikannya, tetapi hanyalah seonggok komoditi (kapital variabel) yang dipekerjakan demi untuk dapat menciptakan nilai lebih yang dipersembahkan kepada majikannya. Dan oleh karena itulah, waktu kerja perlu si buruh dalam meproduksi 1 buah celana dalam tidak cukup hanya 1 jam, tetapi diperpanjang hingga berjam-jam, dengan hitungan 1 jam waktu kerja dialokasikan untuk dibayarkan kepada buruh (agar buruh tidak kelaparan, badannya sehat karena makan-makanan yang bergizi, dan selain itu pula dapat memberikan nafkah kepada keluarganya agar dia bisa terus bereproduksi (kawin) untuk menciptakan regenerasi buruh) dan berjam-jam durasi waktu kerja perlu selebihnya masuk ke kantong uang milik si kapitalis. Misalnya, yang seharusnya buruh hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk mendapatkan uang Rp. 50 ribu, karena dia bekerja dengan si kapitalis, maka waktu kerjanya diperpanjang selama 24 jam untuk mendapatkan uang sebesar Rp. 50 ribu. Artinya, ada sebesar Rp. 1.150.000 (satu juta seratus lima puluh ribu rupiah) nilai lebih yang dihisap (dirampok) oleh kapitalis terhadap buruh yang dipekerjakannya, dengan perhitungan sebagai berikut: Rp. 50.000 X 24 jam = Rp. 1.200.000. Nominal Rp. 1.200.000 ini adalah nilai tukar total yang diciptakan oleh buruh sebelum dikurangi Rp. 50 ribu untuk dibayarkan kepada buruh, jika sudah dibayarkan kepada buruh, maka selisih (nilai lebih) yang dikantongi/dihisap oleh si kapitalis adalah Rp. 1.150.000 (Rp. 1.200.000 – Rp. 50.000 = Rp. 1.150.000). Yups, inilah penghisapan melalui perpanjangan waktu kerja perlu yang dilakukan oleh si kapitalis kepada buruh yang dipekerjakannya.

Sebagaimana pula sudah penulis paparkan di muka di dalam ranah persaingan pasar para kapitalis berlomba-lomba untuk memasarkan produknya dengan murah agar komoditi yang dipasarkannya terjual atau diserbu oleh konsumen dengan hebohnya, karena apabila dia tidak menjualnya dengan harga murah-meriah, maka dia akan tersaingi oleh kapitalis lain yang menjual komoditinya lebih murah. Namun demikian, walau pun di kapitalis menjual komoditinya lebih murah dari kapitalis lainnya, sudah tentu donk si kapitalis tidak mau apabila keuntungan yang diraupnya akan berkurang, akumulasi modal harus terus dilakukan dengan cara merampok nilai lebih yang diciptakan oleh buruh. Karena ingin tetap untung dengan harga penjualan harga komoditi semurah mungkin, maka yang terjadi kemudian adalah, pertama, dikuranginya upah buruh, dan kedua semakin diperpanjangnya waktu kerja perlu, tidak hanya 24 jam tapi lebih dari itu, kalau bisa 24 jam X 4 = 96 jam. Inilah watak rakus dari sistem kapitalisme yang diamini oleh seorang Adam Smith.



Selama hak milik atas alat produksi dikuasai oleh para kapitalis, selama itu pula akan selalu terjadi penghisapan (penindasan) dari para kapitalis-rakus kepada para buruh. Para buruh harus membangun kesadarannya untuk melakukan perlawanan terhadap sistem yang menindas, merenggut negara dari para kapitalis dan kemudian meletakan di bawah kekuasaan para buruh (proletariat). Negara proletariat (diktator proletariat) adalah negara transisi yang akan menggiring kepada dimilikinya secara kolektif alat-alat produksi, bukan untuk kesejahteraan per-individu, tetapi untuk kesejahteraan bersama. Para buruh diseluruh dunia, gabungkanlah kekuatan kesadaran kritis kalian, cungkil sistem kapitalis yang menindas ke permukaan, dan hancurkan!

C. KONTRADIKSI DI DALAM TUBUH KOMODITI

Salah satu watak dari akumulasi kapital adalah keberlanjutan. Agar kapitalis tetap eksis dalam melakukan akumulasi kapital, kapitalis harus berpikir agar komoditi yang dijualnya di pasar terus mengalami permintaan dan untuk itulah salah satu cara yang dilakukan oleh kapitalis adalah membuat komoditi yang diciptakan oleh buruh dengan mutu yang rendah. Karena jika komoditi bermutu rendah, maka si konsumen tidak akan awet dalam mengkonsumsi komoditi yang dia belinya dari si kapitalis. Nah, karena tidak awet, maka si konsumen akan membuang komoditi yang sudah tidak bisa dikonsumsinya lagi tersebut, tidak dikonsumsi karena mungkin karena sudah rusak atau mungkin juga sudah mengalami kelambatan dalam pengoperasionalannya sehingga harus diganti, setelah membuang komoditi yang telah tidak dapat digunakannya lagi, maka si konsumen pun akan membeli kembali komoditi serupa kepada si kapitalis. Dan dengan demikian, maka terjadilah keberlanjutan akumulasi kapital yang sudah tentu menguntungkan dan menggunungkan kantong uang si kapitalis.

Namun demikian, apabila komoditi diciptakan dengan mutu yang rendah, ancaman yang segera dihadapi oleh si kapitalis adalah ditinggalkan oleh konsumennya karena ada kapitalis lain—yang modalnya lebih besar—yang menawarkan komoditi yang sama dengan mutu yang lebih baik. Dan jika hal ini terjadi, maka si kapitalis yang bermodal kecil pun harus meningkatkan mutu komoditinya, namun dengan resiko rugi. Dan kerugian inilah yang kemudian memberikan kesempatan kepada kapitalis yang bermodal besar untuk menghancurkan kapitalis bermodal kecil dan setelah itu akan tampil memonopoli pasar. Ketika sang kapitalis pemenang telah berhasil tampil memonopoli pasar, maka tindakan yang dilakukan selanjutnya adalah menghancurkan komoditinya sendiri yang bermutu baik dan kemudian menciptakan komoditi yang bermutu rendah demi untuk melakukan akumulasi kapital untuk kepentingan si kapitalis pemenang itu sendiri. Inilah rimba persaingan antar kapitalis yang bengis, dimana yang paling kuatlah yang memiliki kesempatan untuk tampil ke muka memasarkan komoditi-komoditi yang diciptakan oleh para buruh yang hidup dalam ketertindasan.

Kontradiksi komoditi tidak hanya terjadi di rimba persaingan pasar, tetapi juga terjadi di jantung mekanisme penghisapan hasil curahan kerja buruh upahan dalam bentuk “di satu sisi si kapitalis menginginkan keuntungan yang sebesar-besarnya, namun di sisi lainnya para buruh menginginkan upah setinggi-tingginya sesuai dengan curahan kerja yang telah diberikannya kepada komoditi yang berada di tangan kapitalis.” Kontradiksi ini dapat terjadi di bawah permukaan, tetapi dapat pula mencuat ke permukaan. Ketika kontradiksi terjadi di bawah permukaan, pada saat itu sebenarnya buruh kesadarannya sedang terhegemoni, tidak sadar bahwa dia sedang ditindas, namun walau pun tidak sadar secara fisik perlawan-perlawanan terhadap penindasan itu bisa diamati dengan prilaku para buruh yang, misalnya, bosan dalam bekerja, merasa stres dalam bekerja, ngerumpi/menggosipkan prilaku si Boss yang menjengkelkan, rasa gembira yang meluap-luap ketika jam istirahat dan jam pulang sudah tiba, dan berbagai bentuk prilaku lainnya. Meminjam pemikiran dari seorang psikoanalisis, Sigmund Freud, walau pun orang terlihat tenang, namun di alam bawah sadarnya terjadi gejolak yang ditampakkannya dalam prilaku-prilaku yang tidak disadarinya dimana prilaku tersebut tidak ditampakkan sebagai prilaku terang-terangan melawan si penindas. Selain prilaku perlawanan dapat terjadi di bawah permukaan, sebagaimana telah penulis sebutkan, prilaku perlawanan ini dapat mencuat ke permukaan ketika kesadaran kritis para buruh telah terbentuk, perlawanan-perlawanan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, namun hal yang sering tampak dari perlawan terang-terangan ini adalah seperti mogok kerja, demonstrasi menuntut kenaikan upah, menolak sistem kerja kontrak (outsourching) atau pembentukan serikat-serikat buruh demi untuk mengkritisi kebijakan perusahaan-kapitalis.

...dan Karl Marx-Frederich Engels pun berkata dalam manifesto komunis: Kaum buruh sedunia, bersatulah!
--Diposting melalui media online Facebook di Yogyakarta, pada Senin 19 November 2012--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar