Jumat, 12 Juli 2013

HUBUNGAN ANTARA AGAMA, NEGARA DAN MARXISME

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono


Sebagian orang menganggap bahwa ajaran Marxis mengajak orang untuk memusuhi agama. Anggapan ini keliru, dan aku melihat hal ini dilakukan oleh pihak-pihak terkait untuk mendeskreditkan ajaran Marxis.


Yang dikritik oleh Marxis bukanlah ajaran agama, tetapi orang-orang yang menjalankan agama itu sendiri. Ketika orang yang mengaku-aku menganut ajaran agama namun dalam praktiknya dia melakukan penindasan terhadap sesama, ketika itulah Marxis akan tampil menghujat dan memerangi mereka. Tetapi ketika dengan ajaran agama orang yang menganutnya justru bangkit melawan penindasan, maka Marxis akan memberikan dukungan penuh kepada pihak yang terkait dan berjuang berjibaku bersama mereka.


Perkataan Marx yang pernah merumuskan bahwa "agama adalah candu" bukan dalam pengertian Marxis memusuhi agama tetapi lebih diorientasikan pada si oknumnya. Ketika penganut agama, dengan dalih agama yang dianutnya, tunduk-patuh tertindas, sebenarnya pada saat itulah orang yang bersangkutan sedang mengkonsumsi candu, sehingga karena dia sedang mengkonsumsi candu, maka konsekuensinya adalah "orang yang tersimpuh di bawah kaki penindasan tanpa perlawan, bahkan justru mengamini tindakan pertindasan tersebut," sedang berada pada ilusi. Dia merasa akan mendapatkan surga apabila sabar, nrimo terhadap penindasan dan berharap mendapatkan surga setelah kematian, sedangkan surga yang diharapkan itu sebenarnya penghibur diri semata dari kondisinya yang tertindas. Lumpuhnya tanpa perlawan orang model seperti inilah yang disebut oleh ajaran Marx orang yang sedang terjebak pada kondisi "AGAMA ADALAH CANDU."


Terus lebih celakanya lagi nih, orang yang terperosok dalam ranah halusinasi yang berorientasi pada "agama adalah candu" dimanfaatkan benar-benar oleh negara untuk melakukan penjinakan masyarakat agar patuh terhadap berbagai kebijakan negara--yang sudah tentu kebijakan dari negara yang bersistem kapitalisme tidak lebih dari kristalisasi kepentingan kapitalis/para pemilik modal. Meminjam istilah miliknya Antonio Gramsci, kondisi inilah yang dinamakan beroperasinya hegemoni dari negara [penindas/kapitalis] terhadap masyarakat, terutama dan terutama adalah masyarakat kelas pekerja.


kondisi masyarakat yang sedang terperosok dalam kondisi "agama adalah candu" yang kemudian diikuti oleh ulah negara yang memanfaatkannya inilah yang pada gilirannya menggiring massa rakyat untuk memunculkan dan membangun KESADARAN PALSU.


Jadi, berangkatan dari apa yang telah aku bacotkan tersebut dapat ditarik garis pemahaman bahwa ada kaitannya antara agama dan negara. Kondisi yang seperti inilah yang diistilahkan oleh Karl Marx sebagai kondisi terbangunnya hubungan yang harmonis antara infra struktur dan supra struktur. Tugas dari kaum Marxis ini adalah menceraikan hubungan yang harmonis ini, membuka lebar-lebar kesadaran

kritis kaum beragama dan kemudian berpihak dan bersama-sama melakukan gerakan melakukan perlawanan terhadap penindasan dari rezim kapitalisme. Kata Tan Malaka, Pan-Islamisme bersinergi dengan gerakan Marxis yang berjuang untuk menciptakan dunia yang lebih baik, dunia yang memanusiakan manusia.


Yogyakarta-Wirobrajan, Sabtu (Malam Minggu) 6 Juli 2013


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar