Kamis, 22 Agustus 2013

BERAGAMA TANPA BERTUHAN

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono

“Aku Beragama tetapi tidak bertuhan. Mengapa aku tidak bertuhan? Karena ide tentang Tuhan akan memandulkan keberagamaanku. Atas keyakinanku ini orang sering mengatakan kalau aku adalah seorang ateis. Jika—ateis—itu adalah jabatan yang tepat untukku, biarlah orang berkata seperti itu.” (Ismantoro Dwi Yuwono, 22 Agustus 2013).

“Jika Tuhan memang maha pencipta dan maha kuat, dapatkah Tuhan menciptakan sebuah batu besar yang dia sendiri tidak kuat untuk mengangkatnya?!”

Persetubuhan Antara Dunia Perdukunan dan Moral Manusia

Edward Evans-Pritchard, seorang Antropolog dari Inggris, menyanggah kalau asal-usul agama berasal dari ketidakrasionalan (keabsurditasan) di zaman masyarakat primitif dan dianggap sebagai fenomena yang lahir dari kebingungan masyarakat primitif dalam manafsirkan fenomena alam. Untuk membuktikan argumentasinya Evans-Pritchard menunjukkan kerasional dalam agama primitif dari masyarakat tribal-suku Azande di Afrika Timur. Sama seperti halnya di Jawa Timur-Indonesia yang mengenal santet, di Afrika Timur suku Azande pun mengenal adanya santet (tenung/ilmu hitam untuk mencelakai orang). Di dalam suku Azande istilah santet ini, menurut Evans-Pritchard, sebenarnya digunakan untuk mensimbolisasi terdapatnya racun di dalam tubuh manusia yang berasal dari luar, baik itu yang berasal dari makanan maupun yang berasal dari pola hidup yang tidak sehat. Racun ini pun dapat dibagi dua cara masuknya ke dalam tubuh manusia, yang pertama racun masuk karena kelakukan orang yang bersangkutan, dan yang kedua karena adanya usaha dari pihak lain untuk meracun orang yang bersangkutan dengan berbagai motif dan latar belakang (bisa dendam, karena permusuhan atau kecemburuan). Bagaimana agar racun (baca: santet/tenung) agar tidak masuk ke dalam tubuh manusia? Evans-Pritchard menegaskan bahwa manusia harus hidup dengan mengembangkan etika dan moralitas dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga dengan etika dan moralitas inilah manusia akan terhindar dari santet/tenung. Singkatnya, ketika orang antara satu sama lain saling mengasihi dan mencintai tidak mungkin mereka saling mencelakai, justru mereka akan saling melindungi dan menyelamatkan antar satu sama lain.[1]

Dari pemikiran yang dilontarkan oleh Evans-Pritchard tersebut terlihat bahwa dia berusaha untuk merasioalisasi akar dari kemunculan agama adalah tindakan yang rasional, sedangkan campurtangan yang bersifat gaib (keabsurditasannya) berasal dari usaha kaum agamawan untuk mensimbolisasi fakta-fisik dari fenomena alam. Yang menjadi pertanyaan dari pemikiran Evans-Pritchard ini adalah: mengapa mereka harus mensimbolisasikannya tidak menjelaskannya secara gamblang agar mudah dimengerti? Evans-Pritchard tidak menjawab terhadap pertanyaan ini. Evans-Pritchard rupa-rupanya terperangkap dalam kebingungan terhadap fakta-konkret bahwa hal tersebut bukan saja bentuk dari simbolisasi tetapi juga terjalin berangkaian dengan campur aduk kepercayaan terhadap hal-hal yang bersifat gaib dan tidak bisa dijelaskan secara rasional.

Penulis sepakat dengan pemikiran Evans-Pritchard bahwa di dalam tubuh agama terdapat rasionalitas dan mengandung akumulasi etika dan moralitas manusia untuk membangun masyarakat yang tunduk pada nilai-nilai kemanusiaan. Namun, bagi penulis, kerasional itu dapat disetujui sepanjang kerasionalan itu memang bisa diterima oleh akal sehat dan etika/moralitas secara real dapat dijadikan sebagai alat untuk memanusiakan manusia, di luar itu semua dimana terjadi pencampuran antara hal-hal yang tidak rasional, gaib, etika/moralitas dan akal sehat adalah tindakan mempersekutukan/persetubuhan antara dunia perdukunan dan moralitas manusia.

Metode Dunia Perdukunan Dalam Menegakkan Etika/Moralitas Masyarakat

Persetubuhan antara dunia perdukunan dan etika/moralitas manusia dalam tradisi agama-agama manusia berasal-usul dari kemarahan kelompok orang-orang berhati baik terhadap orang-orang yang sulit diatur dan dalam menjalankan hidupnya hanya selalu berorientasi pada tindakan “jahat” demi merengkuh kenikmatan duniawi semata. Untuk memerangi orang-orang yang sulit diatur tersebut dan kemudian mengembalikannya ke jalan yang benar dan lurus, maka sekelompok orang-orang baik ini mengeluarkan “ajian pamungkas”—metode terakhir dan mematikan, dengan cara mengeluarkan iming-iming [surga] dan ancaman yang menakutkan (horor) yang berasal dari supra duniawi: Tuhan.

Dalam analisis Bertand Russell terhadap eksistensi agama manusia dipaparkan bahwa ternyata agama-agama manusia itu bisa tegak dan banyak penganutnya karena dia dibangun dengan fondasi berupa ancaman. Dengan ancamanlah kemudian diharapkan orang akan merasa merinding-takut. Dan dalam keadaan merinding-takut seperti inilah kemudian menusia digiring untuk mematuhi ajaran-ajaran etika/moral kemanusiaan dalam hidup bermasyarakat.[2] Metode mengancam untuk menimbulkan rasa takut yang digunakan untuk menegakkan etika/moralitas ini, jika ditilik dari penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Daniel Goleman,[3] rupa-rupanya hal ini dilakukan dengan memanfaatkan emosi berupa rasa takut yang sudah terpasang di dalam otak—sistem limbik manusia secara genetik yang diturunkan dari perkembangan evolusi semenjak manusia masih menjadi binatang hingga pada hari ini, saat manusia secara organik-biologis berkembang menjadi komplek. Rasa takut ini, dalam perkembangan evolusi mahluk hidup digunakan untuk menyelamatkan generasi berikutnya sehingga dengan hal ini dia mampu untuk terus berevolusi. Berangkat dari hasil penelitian dari Daniel Goleman tersebut, maka dapatlah dipahami bahwa metode mengancam dalam tradisi agama manusia tersebut adalah metode yang cerdik (kalau tidak ingin dikatakan akal-akalan) dalam menyusupkan ide tentang Tuhan ke dalam tubuh agama. Dan dari sini terlihat secara “paripurna” telah dilakukannya pewacanaan bahwa Tuhan telah menciptakan agama, padahal sebaliknya agama lah—sebagai hasil dari akumulasi etika/moralitas manusia—yang menciptakan Tuhan.

Selain dengan metode mengancam, metode lainnya yang digunakan oleh agama untuk menegakkan etika/moralitas manusia dalam kehidupan bermasyarakat adalah dengan cara memberikan iming-iming. Melalui iming-iming inilah kemudian Tuhan dipersonalisasikan sebagai sosok yang maha baik, maha mengasihi, dan maha mencintai. Dan karena kebaikan hatinya seperti inilah kemudian Tuhan didongengkan sebagai zat yang akan memberikan surga bagi siapa pun yang melakukan perbuatan baik dengan mematuhi/taat dan menjalani (ikhtiar) etika/moral yang telah digariskan dalam ajaran agama.

Kontradiksi Ide Tentang Tuhan

Penggunaan metode mengancam [neraka] dan memberikan iming-iming [surga] (stick and carrot) yang memposisikan Tuhan sebagai hakimnya ternyata jika direnungkan di dalam tubuh tentang ide Tuhan telah terjadi kontradiksi yang membingungkan. Di dalam ajaran-ajaran agama manusia Tuhan dipersonifikasikan sebagai zat yang maha pengasih, penyayang dan mencintai. Personifikasi terhadap sosok Tuhan ini, sudah tentu, menyeret kesadaran manusia untuk meyakini bahwa eksistensi tuhan adalah puncak dari moralitas dan cinta. Namun, yang sangat membingungkan adalah jika Tuhan adalah puncak dari moralitas dan cinta mengapa Tuhan digambarkan sebagai sosok yang pemarah dan pendendam.[4] Sifatnya yang pemarah dan pendendam ini sangat terasa sekali dalam berbagai peringatan (warning!) yang didengung-dengungkan dalam berbagai ajaran agama. Di dalam berbagai peringatan ditegaskan bahwa Tuhan akan sangat tersinggung dan marah apabila umatnya tidak mematuhi ajaran-ajaran etika/moral yang digariskan dalam agama, dan manifestasi dari ketersinggungan dan kemarahannya ini kemudian dia jelmakan dalam bentuk dosa. Ya, dosa dalam tradisi agama-agama manusia dianggap sebagai balasan Tuhak kepada manusia yang tidak taat. Sekali lagi penulis tegaskan bahwa kontradiksi ini sangat membingungkan karena jika memang Tuhan itu adalah puncak dari moralitas dan cinta mengapa dia begitu mudah tersinggung dan pemarah?!

Selain mudah tersinggung dan pemarah, kontradiksi lainnya yang membingungkan adalah, Tuhan juga digambarkan—baik secara tersirat maupun tidak—sebagai sosok yang pendendam. Dan sifatnya ini ditunjukkan dalam bentuk neraka. Neraka akan diberikan kepada Tuhan kepada manusia yang tidak bertobat atas dosa-dosa yang telah dilakukannya itu, tapi sebelum menjelang kematiannya manusia bertobat dan tidak melakukan dosa lagi, maka dia akan diampuni <<< Terlihat di sini metode mengancam dan iming-iming (memberi ampunan) muncul kembali. Dan ini muncul secara berulang-ulang di dalam ajaran agama yang disusupi oleh roh bernama Tuhan.

Kembali ke Esensi dan Tinggalkan Tuhan!

Ide tentang Tuhan yang bersifat kontradiktif tersebut, ternyata dalam kehidupan bermasyarakat sangat berbahaya karena hal itu akan menyeret orang yang mempercayai adanya Tuhan menumbuhkan kepribadian yang mengasihi sesamanya dengan syarat pamrih dan mengembangkan kepribadian brutal nir-kemanusiaan. Di satu sisi orang meyakini bahwa hidup yang ideal adalah hidup yang harmonis, saling mengasihi dan mencintai tetapi dengan syarat bahwa obyek dari cinta-kasihnya tersebut harus tunduk pada ajaran Tuhan, jika tidak mereka akan menghancurkan dan bahwa membinasakan obyek cinta-kasih itu (silahkan ingat kembali peristiwa-peristiwa peledakan bom di berbagai tempat di Indonesia dan prilaku FPI (Front Pembela Islam) yang bertindak sebagai representasi sebagai Tuhan yang mudah tersinggung, pemerah, dan pendendam).

Feuerbach mengatakan bahwa bukan Tuhan yang berada di belakang kesadaran manusia tapi sebaliknya kesadaran manusia yang berada di belakang mencuatnya keberadaan Tuhan. Dalam pemikiran Feuerbach Tuhan tidak lain adalah proyeksi atau cerminan dari hasil kinerja pikiran manusia.[5] Dari apa yang diargumentasikan oleh Feuerbach tersebut, maka dapatlah ditarik garis pemahaman bahwa untuk memahami etika/moralitas manusia secara utuh, maka orang harus membuang ide tentang Tuhan dan menggantikannya dengan sifat manusia itu sendiri yang penuh dengan cinta-kasih yang rasional, tidak tersinggungan, tidak pemarah, dan tidak pendendam. Dan dari sinilah, maka akhirnya orang bisa kembali merenungi pemikiran Feuerbacah bahwa Manusia bisa membebaskan dirinya dari ketertindasan dan kebodohan tersebut, menurut Feuerbach, hanya bisa dilakukannya dengan cara membongkar keberadaan Tuhan, mencungkilnya keluar kemudian menghancurkannya. Ketika Tuhan dihancurkan bukan berarti ajaran-ajaran tentang keadilan, etika/moralitas dan segala bentuk nilai-nilai kemanusiaan juga ikut dihancurkan, menurut Feuerbach, hal itu harus tetap dipelihara dan dikembalikan untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Tuhan dihancurkan dan agama diubah menjadi studi antropologi.[6]

Yogyakarta—pasca nyaris 2 minggu setelah Idul Fitri, 22 Agustus 2013
Isman

[1] Lihat: Edward Evans-Pritchard dalam Daniel L. Pals, “Seven Theories of Religion: Tujuh Teori Agama Paling Komprehensif,” Ircisod, Yogyakarta, 2011. Halaman 290-296.
[2] Bertand Russell, “Bertuhan Tanpa Agama,” Resist Book, Yogyakarta, 2006.
[3] Daniel Goleman, “Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional): Mengapa EI lebih penting dari IQ?” Gramedia, Jakarta, 2002.
[4] Bertand Russell, Op.cit.
[5] Feuerbach dalam Ismantoro Dwi Yuwono, “Kritik Feuerbach Terhadap Keberadaan Tuhan,” Situs Tikus Merah.
[6] Feuerbach, Ibid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar