Selasa, 14 Januari 2014

MEMAHAMI KAPITALISME BERSAMA ROBERT L. HEILBRONER (BAGIAN 1)




Sistem Kapitalisme = Sistem Yang Kekanak-Kanakan

Robert L. Heilbroner dalam buku yang ditulisnya “The Nature and Logic of Capitalism” yang kemudian diterjemahkan oleh LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) dan kemudian diterbitkan dengan judul “Hakikat dan Logika Kapitalisme” pada tahun 1991—dengan tebal halaman vi + 152, menggariskan bahwa ada perbedaan mendasar antara tradisi pencarian kekayaan antara sistem perupetian (baca: feodalisme) dan sistem kapitalisme. Dimana letak perbedaannya?

Di dalam sistem perupetian kekayaan dikumpulkan oleh aktor-aktor di dalam sistem tersebut semata-mata diarahkan untuk digunakan sebagai kemegahan, kemewahan, dan simbol kekuatan dan superioritas. Dari sini kemudian Heilbroner menarik garis pemahaman bahwa kekayaan, dalam sistem perupetian ini, langsung memenuhi tugasnya sebagai nilai pakai belaka--an sich, seperti halnya seseorang yang memakai pakaian necis, pakaian yang dikenakannya bukan hanya diorientasikan sebagai pembungkus tubuh tetapi untuk menunjukkan gaya hidup, kemewahan, dan status sosial. Hal ini berbeda halnya dengan sistem kapitalisme, di dalam sistem kapitalisme kekayaan tidak hanya diorientasikan untuk kemewahan (prestise) dan superioritas tetapi lebih dititik tekankan pada akumulasi kapital atau dengan kata lain kekayaan, dalam sistem kapitalisme, digunakan sebagai sarana untuk lebih memperbanyak kekayaan secara terus-menerus-tanpa henti (akumulasi). Jika si Borjuis memiliki uang Rp. 1 juta dia akan menanamkannya ke dalam bentuk modal untuk mendapatkan lebih banyak uang atau mendapatkan kembalian yang berlipat dari modal awal, Rp. 1 juta, yang ditanamnya. Misalnya dari Rp. 1 juta tersebut si Borjuis mendapatkan kembalian (keuntungan) Rp. 2 juta, maka dia akan menanamkannya kembali uang Rp. 2 juta itu sebagai modal untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar, misalnya dari Rp. 2 juta menjadi Rp. 3 juta, kemudian uang Rp. 3 juta ini akan ditanamkannya kembali sebagai modal untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak, dan begitu seterusnya.

Uniknya walau pun Heilbroner menandaskan bahwa dalam sistem kapitalisme kekayaan diorientasikan sebagai sarana untuk mengakumulasi kekayaan itu sendiri, Heilbroner menandaskan pula bahwa akumulasi kapital itu justru didorong oleh kepentingan untuk menunjukkan prestise dan alat membangun kekuasaan. Dalam hal ini rupa-rupanya Heilbroner hanya menambahkan saja unsur-unsur yang sudah ada di dalam sistem perupetian dengan unsur baru: “akumulasi kapital,” untuk menunjukkan perbedaan antara sistem perupetian dan kapitalisme. Dari sini dapatlah dipahami bahwa kapitalisme dalam pemikiran Heilbroner adalah berwatak feodalistik dengan wajah modern, unsur akumulasi primitf-lah yang memoles watak feodalistik menjadi modern.

Robert L. Heilbroner meminjam pemikiran dari Sigmund Freud untuk mencari akar dari tumbuhnya hasrat untuk menunjukkan prestise dan akumulasi kekuasaan. Menurut Heilbroner akar dari kemunculan watak prestise dan kekuasaan tersebut adalah ketidakdewasaan dalam hidup bermasyarakat atau dengan perkataan lain kemunculan prestise dan kekuasaan tersebut merupakan refleksi dari sifat dari anak-anak yang terus dibawa oleh aktornya hingga berumur dewasa. Menurut Freud prilaku manusia yang tampak di permukaan (baca: dalam kehidupan) nyata adalah hasil dari pertarungan dan kondisi saling mengakomodir yang terjadi di alam bawah sadar manusia, sedangkan hal ini kemunculannya dimulai semenjak manusia masih berumur sangat belia, bayi.

Perjalanan manusia dari bayi sampai dewasa, dalam pemikiran Freud, adalah perjalanan yang penuh dengan rintangan. Manusia secara hakiki adalah mahluk yang selalu ingin melampiaskan nafsunya untuk merengkuh kenikmatan, namun hal ini selalu saja dirintangi oleh berbagai larangan yang datang dari masyarakat di lingkungannya. Larangan tersebut termanifestasikan dalam bentuk berbagai norma hukum, kaidah, kesusilaan, sopan-santun, dan ajaran-ajaran yang berkarakter spiritual/religi/ke-agama-an. Walau pun manusia dalam merealisasikan libidonya (kepentingan untuk meraih kenikmatan) dirintangi oleh berbagai larangan dari masyarakat, manusia selalu berusaha untuk menjebol rintangan-rintangan tersebut. Namun usahanya dalam menjebol hal tersebut tidak dilakukannya secara “telanjang,” namun dibungkus dalam berbagai bentuk perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat.

Bagi Sigmund Freud manusia yang tidak dapat menjebol rintangan tersebut dengan cara yang “cantik” (diterima oleh masyarakat) adalah manusia yang masih di taraf kekanak-kanakan, dan manusia model ini dicirikan dengan perilakunya yang narsistik, gemar terhadap prestise, dan gila kekuasaan (megalomaniak). Inilah yang digunakan oleh Robert L. Heilbroner untuk merumuskan bahwa akar dari kemunculan prestise dan kekuasaan yang kemudian pencapaiannya dimanifestasikan dalam bentuk akumulasi kapital dalam sistem kapitalisme berasal dari sifat manusia yang masih kekanak-kanakan. Jadi, berangkat dari sini, maka dapatlah dipahami bahwa sistem kapitalisme sebenarnya merupakan penjelmaan dari tindakan manusia yang masih kekanak-kanakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar