Rabu, 15 Januari 2014

RADEN AJENG KARTINI MENOLAK UNTUK TUNDUK DAN TERTINDAS



Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono
--Yogyakarta Rabu 15 Januari 2014--

Kecerdasan pikiran penduduk bumi putera tiada akan maju dengan pesatnya, apabila kaum perempuan itu ketinggalan dalam usaha tersebut. Perempuan jadi pembawa peradaban (Surat R.A. Kartini Kepada Estele Zechandelaar di Negeri Belanda, 9 Januari 1901)



Raden Ajeng Kartini
Sumber Gambar: Tashadi, Drs., R.A. Kartini, Penerbit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1982/1983.

Setiap 21 April atau setiap satu tahun satu kali rakyat Indonesia selalu memperingati hari Kartini dengan berbagai kegiatan dari kegiatan yang bersifat kerumahtanggaan seperti memasak, merenda atau membatik sampai dengan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan intelektuan seperti diskusi atau seminar dengan tema terkait dengan eksistensi perempuan di Indonesia.
Berbagai kegiatan yang ditujukan untuk memperingati hari Kartini tersebut, secara historis, sebenarnya merupakan tindak lanjut untuk mengukuhkan disematkannya status kepahlawanan Nasional kepada Raden Ajeng Kartini oleh Presiden Republik Indonesia yang Pertama, Soekarno, pada 2 Mei 1964 di Jakarta. Secara yuridis-formal keputusan untuk menjadikan Raden Ajeng Kartini sebagai pahlawan kemerdekaan Nasional dirumuskan di dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964.
Diangkatnya Raden Ajeng Kartini sebagai pahlawan Nasional, sebenarnya merupakan tanda bahwa Raden Ajeng Kartini adalah sosok perempuan yang telah memberikan jasa besar bagi terbangunnya proses menuju Indonesia merdeka. Bagaimana kiprah Raden Ajeng Kartini dan kontribusi apa saja yang diberikannya dalam usaha-usaha memerdekaan Indonesia? di dalam buku ini penulis akan berusaha untuk mengulasnya.
Sesuai dengan misi dalam penulisan naskah buku ini, penulis akan lebih menitik beratkan ulasan perjalanan kehidupan seorang Raden Ajeng Kartini pada sisi human interest-nya ketimbang yang lainnya.

Kondisi Material Pembentuk Kepribadian Seorang Trinil
Seorang Nabi Sosialisme, Karl Marx, pernah mengatakan bahwa yang menentukan atau membangun kepribadian manusia adalah kondisi sosial manusia. Kondisi sosial yang dimaksud oleh Karl Marx tersebut, menurut penulis, tidak hanya kondisi dalam arti cara manusia berproduksi saja, tetapi juga termasuk berbagai kejadian, peristiwa, dan pengalaman yang ditemui dalam perjalanan hidup orang (manusia) yang bersangkutan. Nah, berbagai kejadian, peristiwa, dan pengalaman hidup dalam perjalanan hidup manusia inilah yang dinamakan dengan kondisi material.
Seperti manusia yang lainnya, Raden Ajeng Kartini (selanjutnya disebut R.A. Kartini), sikap dan kepribadiannya dibentuk oleh kondisi material di dalam lingkungan keluarga dan masyarakat tempat tinggalnya.  Kiprah dari sosok seorang R.A. Kartini, jika penulis amati, merupakan hasil dari proses dialektis dalam perjalanan hidupnya sebagai manusia. Dalam sub-bab ini penulis akan mengajak pembaca untuk “mengintip” kondisi material apa saja yang telah membentuk sikap dan kepribadian seorang R.A. Kartini? Berikut ini adalah ulasannya.
Dari nama depan yang disandang oleh Kartini, Raden Ajeng, sudah menunjukkan bahwa Kartini adalah sosok manusia yang berasal dari kelas menengah (bangsawan) atau dalam tradisi bahasa Jawa disebut dengan priyayi/keluarga ningrat. Yah, R.A. Kartini adalah seorang perempuan yang berasal dari keturunan keluarga ningrat. Kakeknya, paman-pamannya, dan Ayahnya sendiri adalah Bupati. Pejabat Bupati, pada zaman penjajahan Belanda di Indonesia, hanya dapat diduduki oleh kelas menengah pribumi. Kelas menengah pribumi ini dalam prakteknya terbagi menjadi dua, yakni kelas menengah pribumi yang hanya mementingkan perutnya sendiri dan kelas menengah pribumi budiman yang dalam menjalankan jabatannya menyisakan adanya keperdulian terhadap keadaan rakyatnya. Keluarga R.A. Kartini, dalam sejarahnya, menempati kategori yang ke-2 (dua), yakni kelas menengah budiman.
Pada waktu itu, sekitar tahun 1890-an, di Demak terjadi bencana kelaparan karena disebabkan oleh terjadinya gagal panen. Dan peristiwa gagal panen ini pun disebabkan oleh tidak terurusnya ladang-ladang dan persawahan penduduk setempat, karena sebagian besar waktu dihabiskan oleh penduduk setempat bukan untuk mengurus ladang-ladang dan area persawahannya sendiri tetapi lebih menyibukan diri untuk mengurus perekebunan-perkebunan milik orang-orang Belanda. Kondisi gagal panen dan kelaparan tersebut, saat itu, oleh seorang Bupati Demak, Pangeran Aria Tjondronegoro, dirasakan sangat memprihatinkan. Atas keprihatinannya itulah, kemudian Pangeran Aria Tjondronegoro berusaha untuk mencari solusi terhadap permasalahan gagal panen dan wabah kelaparan tersebut.
Setelah berpikir dan menimbang-nimbang solusi apa yang tepat terhadap permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakat Demak tersebut. Pangeran Aria Tjondronegoro sada betul bahwa penyebab dari peramasalahan tersebut adalah disebabkan oleh ulah bangsa Belanda yang telah mengeksploitas masyarakat dengan membabi-buta. Artinya, karena akar permasalahannya itu ada pada Belanda, yang pada saat itu sedang menjajah Indonesia, maka solusi yang tepat sebenarnya adalah melakukan perlawanan dalam bentuk pemberontakan. Namun demikian, apabila pemberontakan itu dia lakukan hal itu akan mengancam kedudukannya sebagai Bupati, Bangsawan-Feodal yang memiliki kehormatan di tengah-tengah lingkungan sosial masyarakatnya. Pangeran Aria Tjondronegoro tidak mau mengambil solusi yang senekat itu. Bagi Pangeran Aria Tjondronegoro harus dicari solusi yang lain, selain solusi dalam bentuk memberontak. Berangkat dari sinilah, kemudian Pangeran Aria Tjondronegoro berpikir dan berpikir untuk menemukan solusi terhadap permasalahan tersebut.
Akhirnya setelah berhari-hari Pangeran Aria Tjondronegoro berpikir, ditemukanlah solusi yang “aman” bagi kedudukannya sebagai Bupati, solusi terhadap permasalahan yang sedang dihadapinya itu. Berangkat dari solusi yang ditemukannya itu, maka Pangeran Aria Tjondronegoro pun segera mengumpulkan dan menuliskan (mendokumentasikan) berbagai kejadian yang ada hubungannya dengan peristiwa gagal panen dan kelaparan massal di daerah kekuasaannya, Demak. Setelah terdokumentasikan secara komprehensif dan sistematis, tindakan selanjutnya yang dilakukan oleh Pangeran Aria Tjondronegoro adalah menyampaikan dokumentasi tersebut kepada pemerintah jajahan Belanda, berikut rasa keprihatinannya dan saran-sarannya kepada pemerintah jajahan Belanda.
Usaha-usaha dari Pangeran Aria Tjondronegoro tersebut, akhirnya membuahkan hasil. Dalam waktu yang singkat dia berhasil meringankan penderitaan dan beban rakyat Demak karena peristiwa gagal panen dan kelaparan massal tersebut.
Berangkat dari keberhasilannya dalam mencari solusi melalui berpikir itulah kemudian Pangeran Aria Tjondronegoro pun menarik garis pemahaman bahwa betapa sangat pentingnya tradisi berpikir. Terbukti, tradisi berpikir adalah alat yang ampuh untuk melahirkan sebuah solusi terhadap permasalahan yang tengah dihadapi oleh manusia. Dari sini, Pangeran Aria Tjondronegoro pun, memperluas jangkauan pandangannya berkaitan dengan tradisi berpikir. Dalam pandangannya yang diperluas tersebut, Pangeran Aria Tjondronegoro, berkesimpulan bahwa segala permasalahan yang dihadapi oleh manusia akan dapat ditemukan solusinya apabila manusia dapat berpikir dengan baik. Nah, untuk dapat berpikir dengan baik itulah manusia membutuhkan ilmu dan ilmu itu bisa didapatkan dengan cara orang sudi untuk menjalani proses pendidikan dalam menjalani kehidupannya.
Betapa pentingnya berpikir dan proses pendidikan dalam hidup manusia, dalam pandangan Pangeran Aria Tjondronegoro, sehingga seluruh keluarganya selalu didorong untuk meng-“gandrungi” (sangat menyukai/maniak) tradisi berpikir dan merengkuh ilmu melalui proses pendidikan. Karena dorongan dari Pangeran Aria Tjondronegoro tersebutlah, pada gilirannya, keluarga besarnya secara turun-temurun mewarisi tradisi berpikir dan merengkuh ilmu melalui proses pendidikan.
Pengeran Aria Tjondronegoro ini adalah kakek dari R.A. Kartini. Berikut ini penulis tunjukkan skema silsilah keluarga Kartini dimulai dari Pangeran Aria Tjondronegoro sampai R.A. Kartini.


Dari skema silsilah keluarga R.A. Kartini tersebut dapatlah dilihat bahwa sebenarnya R.A. Kartini adalah anak seorang selir bernama, Ngasirah. Selir dalam tradisi Jawa adalah istri ke-2 (dua) atau istri madu dari istri pertama yang dimiliki oleh seorang laki-laki bangsawan. Walau pun hanya anak dari seorang selir, R.A. Kartini, sama seperti halnya anak-anak dari Raden Mas Adipati Sosroningrat (Bupati Jepara) lainnya, dia selalu didorong oleh Ayahnya untuk memiliki minat terhadap ilmu pengetahuan agar R.A. Kartini dapat mewarisi tradisi berpikir dalam menyeselaian suatu permasalahan sebagaimana yang diinginkan oleh kakeknya, Pangeran Aria Tjondronegoro.
Seperti balita (anak di bawah usia lima tahun) pada umumnya, R.A. Kartini adalah seorang anak yang memiliki rasa ingin tahu yang besar. Hal ini ditunjukkan dari prilakunya, yang oleh sebagian orang dianggap nakal, yang sering mengutak-atik sesuatu hingga sesuatu itu rusak, misalnya menarik-narik pengait alas kaki (sandal) milik Ayahnya hingga putus hanya ingin mengetahui apa jadinya apabila pengait alas kaki itu ditarik sedemikian rupa atau aksinya yang lincah berlari-lari ke sana-kesini hanya untuk mengetahui seberapa cepat dia bisa berlari. Satu hal yang menarik, dari masa kecil R.A. Kartini adalah seringnya dia berulah memprovokasi adik-adiknya untuk melakukan sesuatu, misalnya bermain lumpur di sawah atau memanjat pohon.
Tingkah polah masa kecil R.A. Kartini tersebut, Bagi Ayahnya, Raden Mas Adipati Sosroningrat, bukan merupakan sebentuk kenakalan, akan tetapi hal itu merupakan pertanda bahwa anak perempuannya, R.A. Kartini, adalah seorang anak yang memiliki rasa ingin tahu yang besar. Lebih jauh lagi, Raden Mas Adipati Sosroningrat juga menilai bahwa di dalam kepribadian seorang bocah yang bernama R.A. Kartini tersebut telah terlihat adanya potensi kepemimpinan dan hal itu ditunjukkan oleh R.A. Kartini dalam bentuk kemampuannya dalam memprovokasi adik-adiknya. Berangkat dari penilainya tersebut, maka Raden Mas Adipati Sosroningrat, tidak pernah memarahi R.A. Kartini karena tingkah polahnya tersebut, justru dia berusaha untuk mendorong R.A. Kartini untuk mengetahui banyak hal dimasa kecilnya, sehingga dengan mengetahui banyak hal, diharapkan, R.A. Kartini dapat menggali berbagai pengetahuan yang ada dilingkungan sekitarnya. Karena sangat lincahnya R.A. Kartini di masa kecilnya, maka dia diberi nama panggilan oleh Ayahnya dengan nama panggilan, “Trinil.” Trinil adalah nama dari seekor burung yang gerakannya lincah dan gesit.
Untuk merangsang bangkitnya kecerdasan si Trinil, Ayahnya pun, sebelum R.A. Kartini memasuki usia sekolah, pernah mendatangkan guru ke rumahnya untuk mengajari anaknya ilmu pengetahuan. Guru yang dipanggil ke rumah untuk mengajar R.A. Kartini ini sering kali marah-marah karena R.A. Kartini banyak bertanya kepada gurunya tersebut. Kanapa gurunya marah-marah? Karena gurunya tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering disodorkan oleh R.A. Kartini (Tashadi, Drs., 33:1982/1983).
Ketika Kartini telah memasuki usia sekolah, Ayahnya pun, langsung mendaftarkan R.A. Kartini pada sebuah Lembaga Pendidikan. Pada saat itu, tidak lazim apabila anak perempuan di sekolahkan, karena yang berhak mendapatkan pendidikan di sekolah hanyalah anak laki-laki dan oleh karena itulah, ketika Raden Mas Adipati Sosroningrat mendapatkan celaan dan cemoohan dari bangsawan-bangsawan lainnya karena menyekolahkan anak perempuannya, R.A. Kartini. Sebenarnya yang didaftarkan untuk bersekolah tidak hanya R.A. Kartini saja, saudara-saudara perempuan R.A. Kartini yang telah memasuki usia sekolah pun di sekolahkan oleh Ayahnya. Inilah pikiran maju Ayahnya, yang berusaha “menabrak” tradisi mainstream yang sedang berlaku pada waktu itu. Walaupun, sebagaimana nanti dapat pembaca saksikan, keberanian Raden Mas Adipati Sosroningrat dalam “menabrak” tradisi ini hanya dilakukan setengah-setengah, hal ini sudah merupakan hal yang cukup untuk memantik semangat anak-anaknya, khususnya anak-anak perempuannya, untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk berpikir dalam menghadapi suatu permasalahan.

Masa-masa Perburuan Ilmu Pengetahuan
Pada saat R.A. Kartini bersekolah di sebuah lembaga pendidikan yang dikelola oleh pemerintahan penjajah Belanda, R.A. Kartini sangat menikmati masa-masa itu. Di tempat bersekolahnyalah, selain R.A. Kartini bisa berkenalan dan berteman dengan siapa saja, R.A. Kartini pun dapat melakukan perburuan terhadap berbagai ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh guru-gurunya di Sekolah. Di tempat R.A. Kartini sekolah memang didapati adanya perempuan-perempuan yang bersekolah, namun demikian perempuan-perempuan yang bersekolah itu bukanlah perempuan-perempuan bumi putera (rakyat Indonesia) tetapi merupakan perempuan-perempuan dari negeri Belanda. Jadi, mayoritas perempuan yang bersekolah tersebut adalah noni-noni Belanda.
Pada suatu hari, ketika R.A. Kartini sedang asyik bermain dengan teman-temannya di halaman sekolah, R.A. Kartini melihat ada salah satu temannya, yang bernama Letsy, tidak ikut bergabung dan bermain mereka, tetapi Letsy malah sibuk membaca buku, menekuni kalimat demi kalimat tulisan yang berbaris rapi dalam paragrap-paragrap di sebuah buku yang dibacanya. Demi melihat peristiwa itu, R.A. Kartini pun mendekati Letsy dan kemudian mengajak Letsy untuk bergabung dan bermain bersama. Tetapi apa respon Letsy ketika diajak bermain oleh temannya, R.A. Kartini? Letsy menolak ajakan dari R.A. Kartini tersebut, dan berkata, “Ni, aku sedang memfokuskan diriku dengan pelajaran-pelajaran yang telah diberikan di sekolah ini. Jadi, aku tidak bisa ikut bergabung dengan teman-teman untuk bermain. Aku berusaha untuk menguasainya pelajarani-pelajran ini Ni, agar aku dapat meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi apabila kelak aku lulus dari lembaga pendidikan ini.” Letsy diam untuk sesaat, dan kemudian bertanya kepada R.A. Kartini, “O iya, Ni, setelah lulus dari lembaga pendidikan di sini kamu mau meneruskan ke mana?” Mendapatkan jawaban seperti itu, R.A. Kartini hanya terdiam tidak bisa menjawab. Mengapa R.A. Kartini tidak bisa menjawab? Karena di dalam tradisi Jawa, pada saat itu, selain perempuan tidak lazim bersekolah, seandainya pun apabila perempuan tetap bisa bersekolah, maka anak perempuan tidak boleh bersekolah tinggi-tinggi. Pada saat perempuan menginjak usia 12 tahun si perempuan harus berhenti bersekolah dan kemudian menjalankan masa-masa pemingitan (dikurung di dalam rumah) hingga saat ada seorang laki-laki datang untuk melamarnya menjadi seorang istri.
Pertanyaan dari Letsy tersebut selalu terngiang-ngiang di dalam benak R.A. Kartini dan dia pun selalu memikirkan pertanyaan dari Letsy, temannya tersebut. Kemana pun R.A. Kartini pergi pertanyaan itu selalu di bawa-bawa oleh R.A. Kartini. Berangkat dari pertanyaan dari Letsy tersebut, akhirnya R.A. Kartini memunculkan pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Diantara pertanyaan-pertanyaan dalam R.A. Kartini tersebut adalah mengapa perempuan Jawa tidak boleh mengenyam pendidikan? apabila perempuan Jawa dapat bersekolah, mengapa dia tidak boleh besekolah lebih tinggi dari sekolah kelas dua? mengapa perempuan Jawa harus digiring masuk ke dalam rumah pada usia 12 tahun untuk menjalani masa-masa pemingitan? mengapa, mengapa, dan mengapa?!
Demi untuk mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dalam diri R.A. Kartini tersebut, dia pun kemudian mulai mengumpulkan berbagai buku-buku, artikel, dan berbagai tulisan dalam bentuk apa pun untuk dipelajarinya. R.A. Kartini, pada saat itu, bak orang yang kesetanan, dia lahap semua berbagai bahan bacaan tanpa mengenal tempat dan waktu. Dimana pun dia berada dan dalam waktu apa pun R.A. Kartini selalu membaca. Dari hasil proses pencariannya tersebut, akhirnya R.A. Kartini pun dapat menjawab pertanyaan yang diajukan di dalam dirinya tersebut. R.A. Kartini berkesimpulan bahwa, pada saat itu, perempuan-perempuan Jawa tengah terperangkap dalam perangkap yang sedang dipasang oleh struktur kebudayaan yang menindas kaum perempuan, kebudayaan tersebut tidak lain adalah budaya patriakhi. Di dalam budaya patriakhi, memang perempuan diposisikan hanya sebagai palayan buat laki-laki, perempuan dianggap bodoh dan harus menuruti apa pun yang diperintahkan oleh laki-laki. Dari sini pula R.A. Kartini berkesimpulan bahwa kebodohan kaum perempuan, pada saat itu, bukan karena kodrat perempuan tetapi karena hal itu disebabkan oleh budaya yang mencegah kaum perempuan untuk dapat memperoleh atau mengakses pendidikan yang sejajar dengan kaum laki-laki.
R.A. Kartini merasakah adanya kontradiksi (pertentangan) antara apa yang telah dipelajarinya dengan dunia kenyataan, dia melihat dan sangat merasakah betapa masyarakat Jawa telah berprilaku tidak adil terhadap kaum perempuan. Dan hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, harus ada usaha-usaha untuk merubahnya. Tapi bagaimana cara merubahnya? Ikuti terus kisah hidup R.A. Kartini dalam sub-bab selanjutnya, di dalam naskah buku ini.

Perjuangan Melawan Penindasan Terhadap Kaum Perempuan
Menginjak usianya yang ke 12 (dua belas) tahun oleh Ayahnya, Raden Mas Adipati Sosroningrat, Kartini dikeluarkan dari lembaga pendidikan tempat R.A. Kartini memburu ilmu pengetahun. Alasan dari dikeluarkannya R.A. Kartini tidak lain adalah ketundukan dari Raden Mas Adipati Sosroningrat pada tradisi kaum bangsawan pada waktu itu yang mengamanatkan bahwa anak perempuan yang telah menginjak usia 12 (dua belas tahun) harus menjalani proses pemingitan hingga ada seorang laki-laki bangsawan lainnya datang dan melamarnya. Atas tindakan dari Ayahnya tersebut, R.A. Kartini sempat meprotesnya, R.A. Kartini berkata kepada Ayahnya bahwa dirinya berkeinginan kuat untuk tetap berada di sekolah dan menjalani proses belajar hingga dia lulus dan setelah lulus pun R.A. Kartini bermaksud untuk melanjutkan sekolahnya ke negeri Belanda. Apa respon dari Ayahnya mendengar perkataan dari R.A. Kartini tersebut? Ayahnya berkata bahwa dia tidak berani untuk melanggar terlalu jauh tradisi para bangsawan. Ayahnya ketakutan apabila dia terlalu jauh melanggar adat-istiadat hal itu akan merontokkan reputasinya sebagai seorang Bupati Jepara.
Tidak ingin bertengkar dengan Ayahnya dan membuat Ayahnya kecewa terhadap dirinya (karena menganggap R.A. Kartini telah begitu jauh melanggar adat yakni melawan orang tua), R.A. Kartini pun—untuk sementara—takluk dan menuruti kemauan dari Ayahnya tersebut, keinginan dari seorang Ayah untuk mengurung anak perempuannya di dalam rumah.
Walau pun R.A. Kartini berada di dalam pingitan, bukan berarti semangat untuk memburu ilmu pengetahuan pada diri R.A. Kartini lenyap begitu saja. Justru karena di dalam pingitan lah semangat R.A. Kartini untuk belajar semakin menggebu-gebu. R.A. Kartini, demi untuk memenuhi hasratnya tersebut, kemudian meminta kepada Ayahnya untuk membelikan buku-buku yang sesuai dengan minatnya dan kemudian membaca buku-buku yang telah dibelikan Ayahnya tersebut. Tidak hanya membaca buku-buku yang dibelikan oleh Ayahnya, R.A. Kartini pun berusaha mendapatkan buku-buku dari teman-temannya yang telah bersekolah di negeri Belanda dengan cara berkirim-kiriman surat. Dari rutinitas berkirim-kiriman surat itulah kemudian R.A. Kartini mendapatkan kiriman banyak buku untuk dilahap oleh R.A. Kartini.
Dari buku-buku yang dibacanya tersebut R.A. Kartini dari hari ke hari daya kritisnya semakin berkembang. Hingga tiba saatnya dia mengkritisi kehidupan yang dijalankannya sehari-hari. Dia heran, mengapa orang yang lebih muda harus hormat dan patuh secara membuta kepada orang yang lebih tua, tidak perduli orang yang lebih tua itu prilakunya buruk atau tidak. Bukankah manusia diciptakan sama atau sederajat? Mengapa hal ini bisa terjadi. Dilingkungan keluarganya pun R.A. Kartini sangat merasakan fenomena semacam ini, misalnya orang yang lebih muda harus hormat dan tunduk kepada orang yang lebih tua (adik dengan kakaknya) dan hal ini diwujudkan dalam bentuk-bentuk prilaku, sebagai berikut ini:
1.      Orang yang lebih muda apabila ingin mendekati orang yang lebih tua harus merangkak dan kemudian menyembah sebelum berbicara dengan orang yang lebih tua.
2.      Apabila orang yang lebih muda berbicara dengan orang yang lebih tua, orang yang lebih muda harus menundukkan kepalanya dan tidak boleh menatap mata orang yang lebih tua ketika terlibat dalam perbincangan.
3.      Orang yang lebih muda harus menuruti apa pun perkataan atau perintah dari orang yang lebih tua tanpa protes atau bertanya-tanya.
4.      Apabila ada orang yang lebih tua sedang melintas (lewat) di depan orang yang lebih muda, jika orang yang lebih muda itu sedang duduk dikursi, maka orang yang lebih muda harus segera turun dan kemudian duduk di lantai.
Untuk melakukan budaya yang telah kolot tersebut apa yang dilakukan oleh R.A. Kartini? Di satu sisi R.A. Kartini menjalani apa yang telah menjadi kebiasaan masyarakatnya, artinya dia sebagai orang yang merasa yang lebih muda melakukan aturan-aturan yang telah penulis sebutkan ke dalam empat point tersebut ketika berkontak dengan orang-orang yang lebih tua darinya. Namun di sisi lain, apabila dia kebetulan berposisi lebih tua dari orang yang sedang berkontak, berbagai peraturan-peraturan tersebut dilanggar semua oleh R.A. Kartini. Dia tidak mau disembah-sembah, dia mau orang yang lebih muda darinya apabila sedang berbincang dengan dirinya orang yang lebih muda tersebut dapat menatap kedua matanya yang bersahabat, jika ada orang yang lebih muda merangkak-rangkak mendekatinya R.A. Kartini langsung mendekatinya dan marah kepada orang tersebut karena memperlakukan dirinya seperti itu sambil menegaskan bahwa manusia didunia ini diciptakan sama dan sederajat, tidak ada orang yang lebih tinggi dan yang lebih rendah. Yang membedakan antara orang satu dengan yang lainnya. Menurut R.A. Kartini hanyalah tingkat moralitasnya dan seberapa jauh dia mau belajar selebihnya manusia adalah sama.
Dalam ananlisis R.A. Kartini budaya-budaya seperti ini harus segera dirombak jika manusia ingin menjadikan dirinya sebagai manusia bukan sebagai budak bagi sesamanya, karena perbudakaan merupakan satu bentuk dari penistaan kemanusiaan manusia. Lebih jauh lagi, R.A. Kartini menganalisis, bahwa apabila budaya non-produksif seperti ini tidak dilenyapkan hal itu sebenarnya menguntungkan para penjajah asing (Belanda). Kepatuhan adalah hal yang selalu dicari oleh penjajah, agar dalam melakukan aksi pemerasan kepada penduduk pribumi pihak penjajah dapat melakukannya dengan mudah tanpa adanya perlawanan dari pihak yang diperas.
Perlawanan R.A. Kartini terhadap budaya yang menindas ini, tidak berhenti sampai di sini, R.A. Kartini pun sering mengirimkan surat kepada pemerintah jajahan Belanda untuk mengetuk hati atau mempengaruhi orang-orang Belanda untuk memberikan kesejahteraan bagi penduduk pribumi dan memberikan kesempatan bagi semua penduduk pribum, tanpa diskriminasi, tidak memandang dia bangsawan atau bukan, tidak memandang dia dari mana untuk dapat bersekolah atau memiliki kesempatan untuk mengakses dunia pendidikan.
Tidak saja menulis berbagai surat kepada pemerintahan Belanda, R.A. Kartini juga selalu menulis dan mengirim surat kepada teman-temannya, dia bercerita kepada teman-temannya tentang bagaimana pandangan dan analisisnya terhadap lingkungan masyarakatnya dan apa saja keinginan dan cita-cita R.A. Kartini terhadap perbaikan nasib masyarakat dilingkungannya.
Selain kritik R.A. Kartini terhadap budaya hormat dan patuh buta tersebut, yang dalam bahasa Pramoedya Ananta Toer diistilahkan dengan jawanisme yang mengarah kepada terbentuknya fasisme jawa, R.A. Kartini juga gencar mengkritik kondisi kehidupan perempuan Jawa yang terampas hak-haknya oleh budaya Patriakhi, budaya yang mengagungkan laki-laki dan merendahkan kaum perempuan.
Gagasan R.A. Kartini terhadap kondisi kaum perempuan Jawa adalah membebaskan perempuan Jawa dari kebodohan, karena dengan terbebasnya kaum perempuan dari kebodohan, hal itu bisa menjadikan kaum perempuan terhindar dari sikap kaum laki-laki yang merendahkan dirinya. Tidak itu saja, dalam pandangan R.A. Kartini, kaum perempuan yang terbebas dari kebodohan merupakan modal yang paling utama untuk membangun peradaban manusia lebih baik. Karena menurut R.A. Kartini, perempuan bertanggung jawab untuk mengasuh anak-anak yang dilahirkannya atau yang dibimbingnya. Nah, agar anak-anak yang diasuh dan dibimbingnya tersebut kelak, diharapkan, menjadi anak yang cerdas dan pandai, maka hal itu tergantung dari bagaimana cara seorang perempuan mengasuh dan membesarkannya. Perempuan yang terbebas dari kebodohan, sudah pasti, akan dapat membekali anaknya dengan ilmu dimana ilmu tersebut diperoleh oleh si anak dari pangasuhnya atau Ibu (perempuan) yang membimbing dan membesarkannya.
R.A. Kartini dalam surat yang dikirimnya untuk temannya di negeri Belanda, Estele Zechandelaar, pada 9 Januari 1901, pernah berkata bahwa “Kecerdasan pikiran penduduk bumi putera tiada akan maju dengan pesatnya, apabila kaum perempuan itu ketinggalan dalam usaha tersebut. Perempuan jadi pembawa peradaban.” Dari isi surat tersebut, dapatlah ditarik garis pemahaman, betapa R.A. Kartini sangat perduli terhadap pembebasan kaum perempuan Indonesia dari belenggu kebodohan.
Tindakan konkret yang dilakukan oleh Kartini untuk membebasakan kaum perempuan dari kebodohan adalah dengan cara medirikan sekolah-sekolah yang diperuntukan khusus untuk gadis-gadis dan dia sendirilah yang menjadi tenaga pengajarnya atau guru. Dan sekolah yang didirikan oleh R.A. Kartini tersebut tidak dipungut bayaran/biaya atau gratis.

Menyumbat Karier R.A. Kartini
Walau pun R.A. Kartini dilarang oleh Ayahnya sendiri untuk dapat meneruskan sekolahnya dan kemudian melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, teman-teman korenpondesinya di luar negeri (negeri Belanda) selalu memberikan dorongan kepada R.A. Kartini agar R.A. Kartini dapat melanjutkan sekolahnya di negeri Belanda. Teman-temannya tersebut menyarankan R.A. Kartini mengajukan beasiswa ke negeri Belanda, agar dia dapat bersekolah di negeri Belanda. Atas dorongan dan saran dari teman-temannya tersebut, kemudian R.A. Kartini mengajukan surah permohonan pemberian beasiswa untuk kepentingan dapat bersekolah di negeri Belanda. Permohonan beasiswa dari R.A. Kartini pun diterima oleh pemerintah negeri Belanda. Namun sayang sekali, R.A. Kartini mendapat hambatan dari ketidak setujuan Ayahnya. Selain Ayahnya ada pihak dari pemerintahan jajahan Belanda yang berusaha dengan pengaruhnya, menghalang-halangi R.A. Kartini untuk dapat bersekolah ke negeri Belanda.
Pihak dari pemerintahan jajahan Belanda ini adalah Tuan dan Nyonya Abendanon, yang mengaku-aku sebagai sahabat R.A. Kartini. Tuan dan Nyonya ini mengatakan pada R.A. Kartini agar mengurungkan niatnya, karena jika R.A. Kartini tidak mengurungkan niatnya, maka usaha-usaha perjuangan R.A. Kartini selama ini untuk mengangkat kaum perempuan dari kebodohan akan sia-sia karena tidak ada lagi yang akan megajari dan menjadi suri tauladan mereka. Argumen yang diutarakan oleh Tuan dan Nyonya Abendanon ini sebenarnya mengada-ada karena R.A. Kartini pada waktu itu sudah memiliki kader-kader yang siap untuk menggantikan posisi Kartini. Entah apa yang ada dipikiran R.A. Kartini, dia pun akhirnya surut dan membatalkan dirinya untuk bersekolah di negeri Belanda, dan beasiswa itu diberikannya kepada teman laki-lakinya, Agus Salim.
Setelah R.A. Kartini mengurungkan niatnya untuk bersekolah di negeri Belanda, bukan berarti semangat R.A. Kartini pupus untuk melanjutkan sekolahnya. Untuk itulah R.A. Kartini mengajukan permohonan untuk dapat diterima bersekolah di Batavia (Jakarta). Atas permohonan dari R.A. Kartini tersebut, maka diterimalah permohonan tersebut oleh sebuah lembaga pendidikan yang berada di Batavia. Namun, lagi-lagi R.A. Kartini mendapatkan hambatan. Kali ini hambatannya berasal dari Ayahnya. Ayahnya ketika itu memberitahukan kepada R.A. Kartini bahwa ada seorang laki-laki (Bupati dari Rembang), Bupati dari Rembang itu bernama Raden Adipati Djojodiningrat, berstatus duda beranak 6 (enam), yang melamar R.A. Kartini.
Atas desakan dari Ayahnya tersebut, R.A. Kartini pun akhirnya mau dinikahkan oleh Bupati Rembang tersebut tapi dengan syarat. Syarat yang diajukan oleh Kartini adalah calon suaminya tersebut bersedia tidak menghalang-halanginya dalam aktivitasnya sebagai guru yang mengajar dalam sekolah-sekolah yang didirikannya dan bila perlu suaminya tersebut membantu aktivitasnya. Akhirnya, persyaratan yang diajukan oleh Kartini pun diterima oleh Bupati Rembang tersebut, dan menikahlah mereka. Dan ketika mereka tertutuplah karier R.A. Kartini dalam hal melanjutkan pendidikannya.
Ketika R.A. Kartini diboyong oleh suaminya ke Rembang, di Rembang R.A. Kartini mendirikan sekolah-sekolah gadis dan dia aktif mengajar di sana. Karena murid yang bersekolah di lembaga pendidikan yang didirikannya itu semakin banyak, maka dipekerjakanlah oleh R.A. Kartini kader-kader yang siap menggantikan posisi R.A. Kartini sebagai tenaga pengajar kapan pun R.A. Kartini mau.
Dalam perkembangannya, jejak R.A. Kartini dalam mendirikan “sekolah gadis” di Jepara dan Rembang, membawa pengaruh terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia, pada saat itu. Sejak saat itu berdirilah secara berturut-turut sekolah kepandaian putri atau gadis di Batavia (Jakarta), Madiun, Semarang, Bogor, Malang, Cirebon, Surabaya, dan Surakarta (Tashadi, Drs., 80:1982/1983).
Dari pernikahan antara R.A. Kartini dengan seorang duda beranak enam, Bupati Rembang, Raden Adipati Djojodiningrat, tersebut pada akhir usia ke-24 (dua puluh empat) R.A. Kartini pun hamil. Dan pada usianya yang ke-25 (dua puluh lima) Kartini melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Raden Mas Soesalit. Namun, ketika R.A. Kartini melahirkan anaknya tersebut, ketika anaknya telah keluar dari rahimnya melalui saluran untuk melahirkan secara normal (vagina), secara misterius R.A. Kartini meninggal dunia. Tepat pada 17 September 1904, R.A. Kartini menghembuskan nafasnya yang terakhir.

DAFTAR PUSTAKA

Tashadi, Drs., R.A. Kartini, Penerbit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Jakarta, 1982/1983.

4 komentar:

  1. pak izin sedot materi untuk tugas bahasa indonesia
    terima kasih sangat membantu

    BalasHapus
  2. Selalu bisa mengenang jasa akan pahlawan emansipasi wanita

    BalasHapus
  3. Tulisannya sangat menginspirasi, apa ini resensi dari buku tersebut? Trima kash sebelumnya

    BalasHapus
  4. Tokoh yang sangat menginspirasi saya dalam menjalani hidup. Melalui buku-buku karyanya saya merasa mendapatkan keberanian.

    BalasHapus