Rabu, 31 Mei 2017

AKTIVIS DAN KEDISIPLINAN TERHADAP WAKTU (2)



Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono

"Ketika tiba waktunya menembak, tembaklah! Keterlambatan dalam menembak akan menyebabkan kau binasa, karena musuh akan menembakmu lebih dulu"
Isman, Kamis 1 Juni 2017, Pukul 1:02 Wib.


Kedisiplinan terhadap waktu identik dengan perilaku menghargai orang lain. Disiplin artinya patuh terhadap aturan main yang telah disepakati bersama. Ketika orang patuh pada aturan main, artinya dia menghargai orang lain, orang yang telah membuat kesepakatan dengannya. Dengan menghargai orang lain, orang lain akan percaya padanya. Dan, dengan terbangunnya hubungan kepercayaan antaraktivis serta antara aktivis dan massa rakyat, hal itu akan memberikan jalan bagi terbangunnya kekuataan yang kokoh dalam perjuangan melawan penindasan, menumbangkan sistem kapitalisme yang sangat berengsek.

Kedisiplinan terhadap waktu mencerminkan perilaku aktivis yang menghargai waktu. Setiap jam yang berlalu, bagi aktivis yang memiliki disiplin, harus merupakan tanda bahwa dia tengah menjalankan agenda-agenda yang telah direncanakan sebelumnya, sesederhana apa pun agenda itu. Agenda-agenda yang terencana, yang tidak dapat dilepaskan dengan alokasi waktu yang terencana pula, menunjukkan kalau aktivis yang bersangkutan serius dalam berjuang. Dengan begitu, keseriusan dalam berjuang ditandai dengan kedisiplinan terhadap waktu, penghargaan terhadap waktu.

Kedisiplinan terhadap waktu tersebut, memainkan peranan yang sangat signifikan (penting/berarti) ketika aktivis berinteraksi dengan massa rakyat. Misalnya, untuk mengorganisasi buruh aktivis harus pandai-pandai membaca pada jam-jam berapa buruh memiliki waktu luang, waktu di luar jam kerjanya. Ketidak pandaian dalam melakukan pembacaan itu, akan membuat aktivis ditinggalkan oleh buruh-buruh yang akan diorganisasirnya karena dinilai tidak tanggap terhadap jam-jam produktif mereka. Misalnya lagi, ketika aktivis datang tepat waktu pada suatu pertemuan yang telah diagendakan menunjukkan bahwa dia menghargai jam-jam produktif orang-orang yang hadir dalam pertemuan tersebut. Keterlambatan hadir, menandakan bahwa dia tidak menghargai waktu, ketidakseriusan, dan lebih parahnya lagi, dia sebenarnya telah menyita waktu produktif orang-orang yang ada di dalam pertemuan. Dengan seringnya aktivis terlambat hadir dalam suatu agenda pertemuan, menunjukkan kalau dia orang yang egois yang tidak pernah berpikir kalau, bisa saja, diantara orang-orang yang hadir dalam pertemuan telah bersusah payah menyisihkan waktunya demi pertemuan, dan dengan keterlambatan itu dia sebenarnya telah melakukan tindakan kurang ajar terhadap orang yang sudah bersusah payah itu. Terlebih lagi, karena keterlambatan itu, agenda menjadi dibatalkan. Sungguh perilaku yang lebih dari kurang ajar! Berangkat dari situ, maka tidak berlebihan kiranya apabila dikatakan aktivis-aktivis yang tidak berdisiplin dengan waktu, sebenarnya adalah sampah dalam organisasi, musuh bagi rakyat.

Kedisiplinan aktivis terhadap waktu seperti sekrup yang terpasang di sebuah mesin yang sedang berjalan, semakin berdisiplin semakin terpasang dengan kuatlah sekrup itu. Konkretnya, semakin berdisiplin aktivis terhadap waktu akan semakin kuatlah terbangunnya kepercayaan antaraktivis serta antara aktivis dan massa rakyat.

Dalam tradisi dialektika Marxis, waktu memainkan peranan yang menentukan dalam gerak perubahan. Melalui waktu, kuantitas akan terakumulasi secara evolusioner, dan kemudian berubah dan melompat menjadi kualitas. Aktivis yang memiliki komitmen dan konsisten terhadap kedisiplinan terhadap waktu secara bertahap akan menjadi sosok pejuang yang cermat dalam menyusun strategi perjuangan, tepat dalam memprediksi situasi, dan memiliki kekuatan pukul yang bertenaga dalam proses penumbangan sistem yang menindas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar