Rabu, 24 Mei 2017

KETEGANGAN ANTARA KEKUATAN PRODUKSI DAN HUBUNGAN PRODUKSI

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono


“Sejarah semua masyarakat adalah sejarah perjuangan kelas,” begitu kata Karl Marx dan Friedrich Engels di dalam sebuah buku yang mereka tulis, Manifesto Partai Komunis (ditulis pada tahun 1848). Di kalangan kaum Marxis, lontaran dari kedua nabi kaum proletar itu, biasanya langsung diterjemahkan ke dalam bentuk pertentangan kelas yang terjadi dari masa ke masa, pertentangan antara tuan budak dan budak (pada masa perbudakan), tuan tanah-feodal dan petani hamba (pada masa feodalisme), kaum pemilik modal dan raja serta bangsawan (pada masa peralihan dari feodalisme ke kapitalisme), majikan dan buruh (pada masa kapitalisme), dan negara kelas pekerja dan sisa-sisa kaum borjuis (pada masa peralihan dari kapitalisme ke masyarakat komunis).

Dalam sejarahnya, pertentangan-pertentangan kelas dari masa ke masa itu memang seperti itu adanya. Hal yang akan aku berikan ulasannya di sini adalah latar belakang atau kekuatan apa yang mendorong terjadinya pertentangan-pertentangan itu?

Di dalam setiap masa, antara manusia satu dan manusia lainnya saling terhubung melalui dua “benang”, yakni kekuatan produksi dan hubungan produksi. Melalui itu, manusia dapat memproduksi berbagai kebutuhan hidup untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Dengan pacul, misalnya, petani dapat mencetak sawah, dan membagikan hasil panenannya kepada setiap orang yang membutuhkannya, dan dengan mesin-mesin di pabrik, kaum buruh dapat memproduksi barang-barang manufaktur, yang kemudian dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan hidup manusia. Dengan begitu, kekuatan dan hubungan produksi dalam kehidupan manusia adalah dua “benang” yang memungkinkan manusia dapat memproduksi kebutuhan hidup demi mempertahankan kelangsungan hidup.

Dalam kenyataannya, jalinan antara kekuatan dan hubungan produksi tersebut, tidak terjalin dalam damai dan harmonis, tetapi diliputi oleh ketegangan dari masa ke masa. Dengan kata lain, dari masa ke masa terjadi ketegangan antara kekuatan produksi dan hubungan produksi. Ketegangan inilah, dalam perspektifku, yang mendorong terjadinya perjuangan atau pertarungan antarkelas dari masa ke masa yang menjadi penggerak terjadinya perkembangan atau perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat.

Ada satu kondisi yang menciptakan terjadinya ketegangan tersebut, yakni kepemilikan pribadi atau individual terhadap alat-alat produksi. Ketika alat produksi dimiliki secara pribadi, maka kekuatan produksi (alat produksi dan tenaga kerja manusia) dikendalikan oleh segelintir individu dan kondisi seperti itu menyebabkan jalinan yang eksploitatif yang kemudian melahirkan hubungan antara pemilik budak dan budak, tuan tanah dan petani hamba, serta majikan dan buruh. Selain itu, kondisi seperti itu, menciptakan hubungan produksi (kepemilikan alat produksi dan distribusi) yang mengarahkan antara kelas satu dan yang lainnya saling berhadap-hadapan yang mensituasikan mereka dalam pertentangan. Dan, pertentangan itu semakin tajam ketika kekuatan produksi semakin berkembang, bersamaan dengan hubungan produksi yang [statis] tidak menopang perkembangan itu.

Pada masa manusia berada dalam cengkraman sistem kapitalisme, alat-alat produksi dari waktu ke waktu semakin berkembang, yang menuntut kelas kapitalis menciptakan buruh-buruh terampil dengan jumlah yang sedikit dan upah yang rendah. Bersamaan dengan itu, semakin banyak kapitalis yang bangkrut karena terjadinya upaya-upaya pencaplokan yang bersifat imperialistik dari para pemilik modal besar yang memonopoli perdagangan dan bergandengan tangan dengan bank-bank, semakin membludaknya pengangguran, dan semakin tidak terdistribusikannya hasil-hasil produksi secara merata. Ketidak merataan itu, ditunjukkan oleh kenyataan bahwa hanya sedikit orang saja yang memiliki uang yang cukup yang dapat menikmati hasil-hasil produksi.

Dari situ, terlihat terjadinya ketegangan antara kekuatan produksi dan hubungan produksi. Alat-alat produksi yang semakin canggih, buruh yang semakin sedikit dibutuhkan, dan upah yang rendah bersitegang dengan tuntutan agar hasil produksi dapat didistribusikan secara merata yang hal itu hanya dapat dilakukan jika alat produksi tidak dimiliki secara pribadi, tetapi dimiliki secara kolektif. Hubungan produksi yang kapitalistik harus diubah menjadi hubungan produksi yang bersifat komunistik.

Ketegangan itu, kemudian mendorong meletusnya atau terjadinya pertarungan antarkelas, karena tidak mungkin kelas kapitalis menyerahkan begitu saja dengan ikhlas, tanpa perlawanan, alat-alat produksi yang mereka kuasai kepada kaum buruh untuk dimiliki dan digunakan secara kolektif untuk memproduksi kebutuhan hidup bersama.

Ketegangan tersebut, tidak saja terjadi di masa kapitalisme, tetapi juga terjadi di masa komune primitif, perbudakan, dan feodalisme. Pada masa komune primitif, ditandai dengan terjadinya peralihan penguasaan kekuatan produksi dari kolektif ke individu, pada masa perbudakan dan feodalisme dari individu ke individu, dan pada masa kapitalisme dan sosialisme dari individu ke kolektif.

KAMUS:

Kekuatan Produksi: Penguasaan terhadap alat-alat produksi, seperti perkakas-perkakas kerja dan mesin-mesin pabrik. Tidak hanya itu, istilah itu juga merujuk pada penguasaan terhadap tenaga kerja manusia (tuan budak menguasai budaknya, tuan tanah menguasai tanah dan petani hamba, tuan kapitalis menguasai alat-alat produksi dan buruh yang dipekerjakannya).

Hubungan Produksi: Hubungan kepemilikan. Hubungan itu, terdiri dari dua bentuk, yakni kepemilikan orang banyak/kolektif terhadap alat-alat produksi, dan kepemilikan inidividu terhadap alat-alat produksi. Selain itu, istilah itu juga merujuk pada distribusi terhadap hasil-hasil produksi. Ketika alat produksi dimiliki secara kolektif, distribusi dapat dilakukan dengan merata, namun apabila alat produksi dimiliki secara individu, distribusi hanya dilakukan terbatas, karena barang-barang hasil produksi yang didistribusikan ditujukan untuk kepentingan individu bukan untuk kepentingan kolektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar