Kamis, 25 Mei 2017

MAKNA MENGHANCURKAN NEGARA [BORJUIS] MENURUT LENIN

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono


Keliru jika ada orang yang mengatakan kalau Karl Marx dan Friedrich Engels memiliki karakter pimikiran yang dogmatis dan statis. Pemikiran dan analisis mereka terhadap politik proletariat, dapat dilacak melalui tulisan-tulisan yang mereka telurkan, selalu berangkat dari realitas--materi yang bergerak di alam nyata, alam sosial. Dan, hal itu, mereka lakukan sebagai bentuk dari kesetiaan mereka terhadap cara berpikir yang bersifat dialektis dan materialis, cara berpikir yang merefleksikan tradisi revolusioner Marxian yang berpihak pada kepentingan kelas buruh. Lenin, di dalam buku yang ditulisnya, Negara dan Revolusi, menunjukkan kedinamisan dan kefleksibelan pemikiran dua intelektual Marxis Revolusioner itu. Menurut Lenin, "Pada tahun 1870 Marx dan Engels memberi peringatan kepada kaum buruh adalah tindakan bodoh apabila mereka berupaya menggulingkan kekuasaan borjuis. Namun, pada tahun 1871, ketika kaum buruh di Paris bergerak dan berhasil berkuasa--walau pun hanya sebentar--Marx dan Engels memberikan dukungan penuh terhadap insureksi itu, tindakan buruh yang berupaya menggulingkan kekuasaan borjuis" (Lihat: Lenin, Negara dan Revolusi, Fuspad: Forum Studi Perubahan dan Peradaban, Penerjemah: Sulang Sahun, Tanpa Nama Kota, 2001. Halaman: 56).

Di dalam tulisan ini, aku berupaya menjelaskan pokok-pokok pemaparan Lenin terhadap kedinamisan pemikiran Marx dan Engels tersebut. Pemaparan Lenin yang ditujukan untuk memberikan gambaran makna dari penghancuran negara, dan dengan apa negara diganti setelah dihancurkan.

Karl Marx dan Friedrich Engels, pada tahun 1848, menulis sebuah pamflet untuk Liga Komunis (Bund der Kommunisten). Di dalam tulisan itu, mereka mengatakan bahwa agar negara berpihak pada kelas buruh, maka negara, yang saat itu sedang dikangkangi oleh kaum borjuis, harus dihancurkan. Setelah dihancurkan, kelas buruh harus mengorganisasi dirinya sebagai kelas yang berkuasa. Titik. Tidak ada penjelasan konkret, bagaimana seharusnya proletar mengelola negara yang sudah ada di dalam genggaman tangannya.

Sebelum tahun 1848, sebelum meletusnya revolusi borjuis di Jerman dan Perancis, Marx dan Engels menggariskan bahwa untuk meraih kekuasaan, pertama-tama yang harus dilakukan oleh kelas buruh adalah berkolaborasi dengan kaum borjuis dalam menumbangkan kekuasaan feodal. Namun, setelah revolusi itu meletus, dan mereka menyaksikan terjadinya pengkhianatan dari kaum borjuis terhadap sekutunya kaum buruh, pada saat itu juga Marx dan Enggels merevisi pemikiran dan analisisnya. Mereka mengatakan, kelas buruh harus membangun kekuatan yang independen dan menolak untuk berkolaborasi dengan kelas borjuis. Berangkat dari sini, sejalan dengan wacana yang dilontarkan oleh ajaran Islam, bahwa ciri-ciri orang yang munafik adalah berbohong jika berjanji, berkhianat apabila dipercaya, dan ingkar ketika ditagih janjinya. Dan, semua ciri-ciri itu ada pada kelas borjuis. Dan, dengan begitu pula, tidak berlebihan apabila kelas borjuis dinilai sebagai kelas yang mengidap penyakit permanen yang bernama penyakit munafikun.

Marx dan Engels mewacanakan, keindependenan tersebut dapat menjadi kekuatan yang dahsyat, apabila diorganisasi secara profesional, internasional, dan militan, untuk menghancurkan negara borjuis, yang kemudian akan diikuti oleh berkuasanya kelas proletar, proletar yang menggenggam tampuk kekuasaan di negara yang dihancurkannya. Sebagaimana telah aku tunjukkan di muka, wacana itu dapat dibaca dalam tulisan mereka, Manifesto Partai Komunis.

Di dalam buku yang ditulisnya, Negara dan Revolusi, Lenin menerjemahkan istilah "penghancuran" tersebut dengan penggantian. Peghancuran, menurutnya, bermakna digantinya aparat-aparat birokrasi dan militer borjuis dengan kekuasaan kelas buruh dan buruh yang dipersenjatai. Dan, proses penggantian itupun, harus dilakukan secara demokratis, yakni melalui pemilihan umum (dengan catatan kaum borjuis dicoret dari pemilihan umum--baca: dampak logis diktator proletariat).

Ringkasnya, makna penghancuran negara [borjuis], menurut Lenin, adalah penggantian. Bukan penghancuran yang memiliki makna anarikistis! Dalam bahasa dialektika, "Aku menghancurkan, sekaligus membangun".

Setelah aparatur borjuis digantikan dengan aparatur proletariat, dan tentara borjuis digantikan dengan buruh yang bersenjata, untuk selanjutnya negara harus dikelola dengan pengelolaan seperti ini:
  1. Menghapus semua uang representasi, semua hak istimewa berupa uang bagi pejabat negara, menurunkan gaji pegawai negeri sampai ke tingkat "upah buruh".
  2. Semua pejabat, tanpa kecuali, harus berpihak pada kepentingan kaum pekerja, dan dapat diganti sewaktu-waktu, gaji mereka tidak lebih dari "upah buruh" (Tambahan dariku: Jadi, kalau pejabat negara mau kaya, ya, jangan jadi pejabat, tetapi kerja jadi buruh!)
Menarik untuk menggaris bawahi, bahwa di dalam negara borjuis penindasan terus dipelihara dengan berbagai upaya, baik melalui hegemoni maupun represi. Dan oleh karena itu, kediktatoran borjuis menandakan terjadinya pelanggengan itu. Berbeda halnya dengan negara proletar, dalam negara proletar, penindasan berupaya untuk dihapuskan. Caranya bagaimana? Jawabannya, melalui kediktatoran proletariat, kediktatoran yang harus di bangun secara mendunia, kediktatorian yang harus mengarahkan revolusi secara permanen. Revolusi yang mensyaratkan peralihan dari masyarakat sosialisme (masyarakat yang masih membutuhkan negara untuk menindas sisa-sisa penindasan) ke masyarakat komunis, nir-penindasan.

KAMUS:

Negara: Kelas yang terorganisasi yang memegang tampuk kekuasaan. Pegorganisasian itu, ditujukan untuk mengamankan kepentingannya, dan menindas kelas lain. Misalnya, negara kapitalis, berfungsi untuk melayani dan mengamankan kepentingannya, baik itu melalui berbagai kebijakan negara maupun aparatur represifnya. Begitu pula sebaliknya dengan negara proletariat. Negara proletariat, berfungsi untuk mengamankan kepentingan membangun negara proletar di seluruh dunia, menindas kaum borjuis, dan memberikan jalan bagi terciptanya masyarakat nir-penindasan, masyarakat komunis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar