Kamis, 22 Juni 2017

AKSI MASSA DALAM ULASAN ERNEST MANDEL



Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono

Sejarah mengulang dirinya sendiri.
Yang pertama sebagai tragedi, dan yang kedua sebagai lelucon (Karl Marx)


Tulisan pendek ini akan mengulas aksi massa sebagaimana yang diulas oleh Ernest Mandel—seorang Trotskyis dari Belgia—dalam buku yang ditulisnya, “Teori Organisasi Leninis.” Dalam tulisan ini akan penulis paparkan perspektif Ernest Mandel dalam memahami aksi massa, dan apa yang ditawarkan oleh Ernest Mandel agar aksi massa dapat memenangkan perubahan sosial ke arah sosialisme-komunis.

Paparan pemikiran Ernest Mandel tentang aksi massa ini semoga dapat dijadikan salah satu referensi bagi kawan-kawan pergerakan untuk membangun gerakan proletar yang lebih berperspektif Marxis revolusioner. Selain dari itu, harapan dari penulis, semoga tulisan ini dapat membuka perdebatan tentang perspektif pembangunan gerakan revolusioner. Dari perdebatan itu, diharapkan pula, dapat tereksplorasi perspektif mana yang lebih jitu untuk di terapkan dalam membangun gerakan Marxis yang sungguh berpihak kepada kemenangan kaum buruh. 

Identifikasi Bentuk-Bentuk Massa
Ernest Mandel dalam tulisannya melakukan pemetaan terhadap massa ke dalam tiga bentuk. Bentuk pertama, adalah kelas pekerja itu sendiri, yang disebutnya dengan istilah Massa Buruh. Bentuk kedua, adalah lapisan pekerja yang sudah terlibat jauh dalam perjuangan sporadis (kadangkala-kadang-kadang: kadang berjuang-kadang tidak) dan telah mencapai tingkat pertama organisasi. Bentuk kedua ini oleh Ersnest Mandel di sebut dengan istilah Buruh Pelopor. Bentuk terakhir, atau ketiga, adalah inti sel revolusioner atau Partai Pelopor Revolusioner. Bentuk yang terakhir ini, menurut Mandel, terdiri dari kaum buruh dan intelektual yang berpartisipasi di dalam kegiatan revolusioner, dan di dalam bentuk ketiga inilah para personilnya dididik dengan disiplin yang ketat dengan ajaran-ajaran Marxisme-Revolusioner.[1] Bukan ajaran-ajaran absurd, Marxisme-Revisionisme atau ajaran-ajaran filsafat idealisme yang hanya “berdansa ca-ca” di dalam otak, ajaran-ajaran yang secara prinsipil mengubur ajaran perjuangan kelas!
Agar lebih simple dalam memahami identifikasi bentuk-bentuk massa dalam pemetaan Ernest Mandel tersebut, berikut ini penulis tunjukkan skema identifikasi tersebut.





Ketiga bentuk massa tersebut, menurut Ernest Mandel, para personilnya memiliki tingkat kesadaran yang berbeda-beda, dimana Massa Buruh diletakkan pada posisi kesadaran yang paling rendah. Namun, terlepas dari tinggi-rendahnya kesadaran ke-3 massa tersebut, kesadaran yang dimiliki oleh ke-3 massa tersebut genealogi atau asal-usulnya tidak bisa dilepaskan dari pelajaran yang mereka peroleh dari aksi massa. Dengan demikian, aksi massa adalah maha guru bagi pemunculan kesadaran di tiap-tiap bentuk massa.
Di dalam tulisannya Mandel menunjukkan, bahwa proses pemunculan kesadaran massa berlainan antara satu bentuk massa dan bentuk massa lainnya. Kesadaran yang diperoleh oleh Massa Buruh berasal langsung dari pengalamannya waktu mereka melakukan aksi massa, sedangkan kesadaran yang diperoleh Buruh Pelopor diperolehnya dari pengalaman-pengalamannya dari aksi massa yang telah mereka lakukan secara sporadis. Dan, kesadaran yang diperoleh oleh partai pelopor diperolehnya dari aktivitas mereka mempelajari sosialisme imiah atau ajaran-ajaran Marxisme-Revolusioner. Tidak hanya itu saja, Partai Pelopor Revolusioner pun dalam membangun kesadarannya tidak dapat dilepaskan dari pelajaran dari aksi-aksi massa dari Massa Buruh dan Buruh Pelopor. Kemunculan kesadaran massa ini dapat diilustrasikan dalam bentuk skema, sebagai berikut ini:


Dari skema tersebut terlihat, bahwa Partai Pelopor Revolusioner (inti sel revolusioner)  menempati posisi sebagai massa yang memiliki kesadaran lebih maju ketimbang dari bentuk massa yang lainnya. Perbedaan tingkat kesadaran ini, sebagaimana ditunjukkan dalam skema, disebabkan atau didorong oleh latar belakang dari aksi massa yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya: Aksi Massa Buruh dan Buruh Pelopor, walaupun sama-sama didorong oleh pengalaman dalam melakukan aksi, namun pengalaman Buruh Pelopor lebih banyak, karena Buruh Pelopor lebih sering melakukan aksi massa. Hal ini berbeda halnya dengan Partai Pelopor Revolusioner, massa dalam bentuk ini melakukan aksi didorong karena kesadaran yang mereka miliki, yang mereka hasilkan dari proses mempelajari ajaran-ajaran Marxisme-Revolusioner.
Dari skema tersebut juga bisa dilihat, bahwa aksi massa adalah kekuatan utama untuk mendorong munculnya kesadaran, dimana Massa Buruh adalah massa yang paling “terprovokasi” memetik pelajaran dari aksi massa yang mereka lakukan. Dan, dari pelajarannya inilah kemudian Massa Buruh memunculkan kesadarannya. Skema berikut ini menunjukkan hal tersebut:


Jika Massa Buruh adalah pihak yang paling “terprovokasi” oleh aksi massa yang mereka lakukan, maka  Buruh Pelopor adalah pihak yang juga “terprovokasi,” namun “provokasi” tidak datang hanya dari satu aksi akan tetapi datang dari berbagai pengalaman aksi-aksi massa sporadis. Dengan kata lain, aksi massa sporadislah yang memainkan peran “memprovokasi” mereka untuk memunculkan kesadaran berkelas dan berlawan. Bagaimana dengan Partai Pelopor Revolusioner (inti sel revolusioner)? Munculnya kesadaran dari Partai Pelopor Revolusioner berasal dari kristalisasi pengalaman-pengalaman perlawanan buruh dan konstruksi sosialisme ilmiah. Kristalisasi dan sosialisme inilah yang “memprovokasi” munculnya kesadaran para personil yang tergabung dalam Partai Pelopor Revolusioner.

Sifat Perjuangan Aksi Massa
Untuk mewacanakan bagaimana membangun interaksi antar bentuk-bentuk massa yang merupakan sel-sel revolusioner; antara Partai Pelopor Revolusioner dan Massa Buruh, dan antara Partai Pelopor Revolusioner dan Buruh Pelopor, dan antara Massa Buruh dan Buruh Pelopor dalam tulisannya Ernest Mandel menunjukkan terlebih dahulu sifat-sifat dari masing-masing bentuk perjuangan massa.
Dalam perspektif Marxisme-Revolusioner kekuasaan negara tidak bisa dibongkar secara bertahap (secara reformis), seperti halnya membongkar tembok dengan cara mengambil batu-bata yang menyusunnya satu demi satu.[1] Oleh karena itu pembongkaran kekuasaan yang menindas harus dilakukan secara revolusioner. Perjuangan Marxisme sejati adalah perjuangan anti-reformasi dan kompromi. Tan Malaka—seorang Marxis dari Indonesia—pernah mengatakan, “berkompromi dengan penindas, sama saja berkompromi dengan bajingan yang merampok rumah kita sendiri, dan lebih celakanya lagi kompromi itu tidak dilakukan di luar rumah tetapi dilakukan di dalam rumah kita sendiri.”
Demikian pula yang diwacanakan oleh Ernest Mandel di dalam bukunya tersebut. Mandel mewacanakan aksi massa yang dilakukan oleh Partai Pelopor Revolusioner berada dalam konteks membongkar kekuasaan secara revolusioner, bukan dalam konteks reformis atau kompromis. Partai Pelopor Revolusioner dalam melakukan aksinya harus memegang satu komitmen, yakni: “Moralitas tertinggi dari gerakan revolusioner adalah menumbangkan sifat kebinatangan kapitalisme.” Jika itu yang menjadi komitmen Partai Pelopor Revolusioner, bagaimana halnya dengan komitmen massa yang lainnya? Jawabannya, dapat diselisik dari masing-masing sifat perjuangan aksi massa itu sendiri.
Aksi massa yang dilakukan oleh Massa Buruh bersifat spontan. Kemunculan spontanitas aksi massa ini didorong oleh tujuan-tujuan yang bersifat ekonomis, seperti misalnya aksi massa menuntut kenaikan upah, pengurangan jam kerja, penghapusan buruh kontrak (outsourcing) atau perbaikan kesejahteraan buruh lainnya. Tujuan-tujuan dari aksi massa yang bersifat spontan ini, oleh Ernest Mandel, dikategorikan sebagai perjuangan kelas proletar dasar.[2]  Namun, walau pun masih bersifat mendasar, menurut Ernest Mandel, hal ini adalah embrio bagi terbentuknya serikat buruh. Dan, melalui aksi spontan inilah Massa Buruh belajar dengan cepat tentang pentingnya mengorganisir perlawanan, dan berangkat dari sinilah kemudian Massa Buruh memunculkan kesadaran berkelasnya. Pelajaran yang lain, yang dapat dipetik oleh Massa Buruh dari aksi massa spontan ini adalah, Massa Buruh sadar, bahwa kapitalis dapat dilawan. Belenggu hegemoni kapitalis, pada saat terjadinya aksi massa spontan, diretas oleh Massa Buruh.
Walau pun Massa Buruh, melalui pengalaman dalam melakukan aksi massa, memunculkan kesadaran. Namun, aksi massa yang dilakukan oleh Massa Buruh hanya akan berhenti pada saat tuntutan-tuntutan yang digaungkan dalam perjuangan kelas proletar dasar direspon oleh pihak yang berkuasa. Respon dari pihak yang berkuasa bisa dalam bentuk memenuhi tuntutan-tuntutan Massa Buruh, namun dapat juga dalam bentuk represi (misalnya: penghentian paksa dan brutal oleh aparat—watch dog!). Setelah pihak yang berkuasa merespon tuntutan itu, suasana pun kembali tenang-damai, dan Massa Buruh kembali dalam kehidupannya sehari-hari, yang diistilahkan oleh Ernest Mandel, kembali pada perjuangan eksistensi. Walau pun ada pihak Massa Buruh yang ingin terus berjuang, jika niatnya itu hanya didasari oleh spontanitas, niat itu hanya akan berhenti pada niat saja. Karena, hal itu disebabkan dari sifat dari kespontanitasan itu sendiri, yakni gerakan yang tidak direncanakan atau dipersiapkan oleh otoritas pusat (sel inti revolusioner). Dengan demikian, aksi massa spontan adalah aksi yang lepas dari “pengaruh politik dari sel inti revolusioner.
Sifat dari perjuangan Massa Buruh ini berbeda dengan sifat dari perjuangan Buruh Pelopor. Buruh Pelopor tidak akan berhenti berjuang (berperang melawan penindas) apabila tuntutan-tuntutan yang mereka tunjukkan di “depan hidung pihak yang berkuasa” telah direspon oleh penguasa. Dalam keadaan tenang-damai Buruh Pelopor terus “berperang” dalam bentuk penerbitan koran, mengorganisir group-group pendidikan buruh, dan meningkatkan kesadaran yang bahan bakunya diambil dari pelajaran aksi-aksi massa yang secara sporadis mereka lakukan. Namun demikian, walau pun, Buruh Pelopor tetap berperang dalam masa tenang-damai, karena kesadaran yang diperoleh dari pengalaman aksi-aksi massa mereka bersifat empiris dan pragmatis (bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan—sifatnya sementara).
Walau pun sifat empiris dan pragmatis ini memperkaya aksi Massa Buruh Pelopor dalam batas tertentu, namun karena Buruh Pelopor (buruh maju) dalam melakukan aksi massa tidak didorong oleh kesadaran yang dibangun dari teori Marxisme-Revolusioner, gerakan mereka akan mundur dengan teratur, dan akhirnya tenggelem dalam “perjuangan eksistensi” seperti halnya yang terjadi pada Massa Buruh. Atau jika pun gerakan Buruh Pelopor ini tetap eksis, gerakan ini tidak kebal dari tendensi-tendensi kompromistis dengan kekuasaan dan reformis.
Berbeda halnya dengan Massa Buruh dan Buruh Pelopor yang dalam melakukan aksi massa tidak dikawal oleh teori Marxisme-Revolusioner, gerakan-aksi massa dari Partai Pelopor Revolusioner didorong oleh komitmen untuk memverifikasi teori Marxisme-Revolusioner ke dalam praktek. Gerakan ini sesungguhnya adalah gerakan yang merealisasikan perkataan Lenin di dalam tulisannya “What is To Be Done?” bahwa tanpa teori revolusi, tidak akan pernah ada gerakan revolusioner. Selain itu, Karl Marx dan Lenin pun pernah berkata, “suatu teori sejati” yang dipisahkan dari praktek adalah absurditas seperti halnya “praktek revolusioner yang tidak di dasari oleh teori ilmiah.”
Selain sifat perjuangannya yang berkomitmen untuk mengaplikasikan teori ke ranah praksis, Partai Pelopor Revolusioner juga memiliki sifat mendasar lainnya, yakni terus-menerus dibangun secara militan. Selain itu Partai Revolusioner Pelopor juga memiliki tugas-tugas merealisasikan tradisi bolshevisme, yakni: kemandirian kelas dan anti-kolaborasi, memperjuangkan Marxisme-Revolusioner dan menolak revisionisme, dan memperjuangkan kemenangan buruh hingga tingkatan revolusi sosialis dan menolak reformasi.
Menurut Alan Woods, Partai Pelopor Revolusioner, ketika sedang tidak melancarkan aksi massa atau tidak mendeteksi adanya kondisi-kondisi revolusioner, sel inti revolusioner ini, berkonsentrasi pada kerja-kerja mengembangkan kader-kader Marxis secara perlahan-lahan, dengan menekankan teori dan organisasi, secara cermat membangun sumber daya mereka dan membangun hubungan dengan massa.[3]

Interaksi Antar Sel
Untuk memenangkan buruh hingga tingkat pembangunan sosialisme-komunis, Ernest Mandel mewacanakan, ke-3 bentuk gerakan massa tersebut harus saling terkoneksi antara satu sama lain, agar diantara mereka dapat saling berinteraksi untuk menyatukan kekuataan menumbangkan sifat kebinatangan kapitalisme.
Dari apa yang dilontarkan oleh Ernest Mandel tersebut, menyeruak pertanyaan, bagaimana caranya mengkoneksikan antara sel revolusioner yang satu dengan yang lainnya agar kekuataan diantara mereka tersatukan? Berikut ini adalah jawaban dari Ernest Mandel.
Ernest Mandel mewacanakan, sel inti revolusioner dalam melakukan aksi massa harus berangkat dari teori Marxisme-Revolusioner. Verifikasi atau penerapan teori ke dalam praktek yang dimaksud Mandel tersebut sebenarnya tidak hanya dimaksudkan pada teori yang hanya bersandar pada ajaran-ajaran yang dirumuskan oleh tokoh-tokoh Marxis, seperti Karl Marx, Friedrich Engels, Lenin, maupun Leon Trotsky, tanpa dikaitkan dengan konteks kondisi buruh yang sedang eksis. Tidak seperti itu! Yang dimaksud oleh Mandel adalah teori Marxisme-Revolusioner yang diterapkan harus direfleksikan dengan kondisi buruh yang sedang eksis—namun bukan, meminjam istilah yang digunakan Mahendra K., dalam artian membuntut kesadaran massa.[4] Tidak berhenti sampai di sini. Partai Pelopor Revolusioner membutuhkan dukungan yang masif—secara kuantitatif—dari massa buruh untuk menumbangkan sifat kebinatangan kapitalisme. Untuk kepentingan inilah, maka Partai Pelopor Revolusioner harus mengkoneksikan dirinya dengan massa buruh dan buruh pelopor, agar apabila kedua bentuk gerakan massa ini melakukan aksi massa, gerakan yang mereka lakukan terpimpin. Dengan kata lain, aksi massa kaum proletar harus berada di bawah pimpinan Partai Pelopor Revolusioner untuk tujuan memenangkan kaum proletar pada revolusi sosialisme-komunis.
Namun, Ernest Mandel mencatat, Partai Pelopor Revolusioner, tidak bisa langsung mengadakan kontak dengan massa buruh. Untuk mengadakan kontak dengan massa buruh, Partai Pelopor Revolusioner harus menggunakan perantara. Siapa perantara itu? Perantara yang dimaksud oleh Ernest Mandel, tidak lain adalah Buruh Maju atau Buruh Pelopor. Melalui cara ini, menurut Ernest Mandel, Partai Pelopor Revolusioner dapat membentuk kesadaran Massa Buruh dan Buruh Pelopor pada kesadaran Marxisme-Revolusioner yang militan dan teoritis. “Fungsi Partai Pelopor Revolusioner,” begitu kata Ernest Mandel, “adalah mengembangkan kesadaran revolusioner bagi pelopor kelas pekerja (Buruh Pelopor-pen.). Pembangunan Partai Pelopor Revolusioner adalah proses penyatuan revolusi sosialis dengan pengalaman mayoritas buruh maju yang sudah diperoleh dalam perjuangan.”[5]
Pertanyaan yang menggelitik dapat diajukan di sini, mengapa Partai Pelopor Revolusioner tidak bisa langsung mengadakan kontak dengan massa buruh? Jawabannya, karena sifat cair dari massa buruh itu sendiri. Selain itu, ketiadaan pengalaman aksi-aksi massa yang bersifat sporadis akan menghambat terjalinnya kontak antara Partai Pelopor Revolusioner dan Massa secara langsung. Melalui Buruh Pelopor, Buruh Massa yang militan dan konsisten dalam perjuangan akan direkrut dan kemudian dididik secara disiplin dengan teori-teori Marxisme-Revolusioner yang membumi. Jadi, dapat dikatakan, selain berperan sebagai perantara, Buruh Pelopor, memiliki peran sebagai agen propaganda, agitasi, dan perekrut (baca: saringan) massa buruh.

Kepemimpinan Buruh Hari Ini [Dalam Konteks Indonesia]
Sifat perjuangan gerakan buruh di Indonesia dapat dideteksi, diantaranya, melalui aksi massa mogok nasional pada 2014. Berikut ini penulis kutipkan tulisan dari Mahendra K. (Anggota KPO PRP) dalam Koran Arah Juang Edisi Ke-4:

Mogok nasional pertama di tahun 2012 menandai kebangkitan gerakan buruh pasca terbebas dari Rejim Militer Soeharto tahun 1998... Mogok nasional pertama kemudian berhasil melibatkan hampir seluruh gerakan buruh utama dari berbagai macam organisasi... “

Aksi Massa dalam bentuk mogok nasional tersebut, tentu saja, membangkitkan rasa optimis terhadap kebangkitan gerakan buruh di Indonesia  dalam melawan rezim kapitalisme di Indonesia, walau pun aksi massa itu baru sebatas gerakan yang bersifat ekonomisme atau dalam bahasa Ernest Mandel baru sebatas perjuangan kelas proletar dasar.
Namun, rasa optimis itu, dalam perjalanannya dirontokkan oleh tindakan-tindakan elite-elite gerakan yang berkarakter Menshevisme, diantaranya; mengubah aksi massa revolusioner menjadi aksi massa yang kompromis dan kolaboratif, yang ditandai dengan sikap elite gerakan yang memberikan dukungan (kolaborasi) dengan kaum borjuis nasional—elite borjuis yang pada saat itu bernafsu ingin berkuasa.
Gerakan buruh, melalui tindakan para elite yang bersifat Menshevikist ini, dalam perspektif Marxisme-Revolusioner jelas mengalami kemunduran, bersifat reformis dan kolaboratif kelas. Hal ini lebih diperparah lagi oleh racun revisionisme dari intelektual-intelektual “kiri” kita yang di “sebarkan ke udara” dan dihirup oleh massa buruh dan buruh pelopor Indonesia, dimana para revisionist ini dalam teori-teori mereka yang tampak gagah dan hebat berusaha untuk mengubur perjuangan kelas.
Mahendra K., dalam tulisannya di Koran Arah Juang Edisi Ke-4, mengidentifikasi, salah satu hal yang semakin memperparah mundurnya gerakan buruh di Indonesia adalah sikap revisionistik dari elite-elite gerakan yang membuntut kesadaran massa. Sikap membuntut ini, celakanya lagi, digunakan sebagai dalih oleh elite gerakan, untuk membenarkan diri ketika mereka gagal dalam memperjuangkan kepentingan massa, dengan dalih: “Enggak apa-apa salah asalkan salah bersama rakyat atau massa.”
Sikap membuntut kesadaran tersebut, dalam konteks gerakan Leninis sebagaimana yang diulas oleh Ernest Mandel di muka, jelas merupakan pantulan dari gerakan massa buruh dan buruh pelopor yang belum mengalami intervensi dari Partai Pelopor Revolusioner yang gerakkannya berbasis pada Marxisme-Revolusioner. Kenapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya, karena, di Indonesia, belum ada Partai Pelopor Revolusioner yang memainkan peran kepemimpinan yang mengadopsi tradisi Bolshevisme. Walau pun ada tendensi ke arah kepeloporan revolusioner, gerakan ini belum kuat. Belum kuat karena belum berinkarnasi menjadi Partai Pelopor Revolusioner, partai pelopor revolusioner yang setia dan militan dalam memenangkan gerakan buruh ke arah pembangunan sosialisme-komunis—yang membebaskan buruh dari belenggu perbudakan sistem kapitalisme. Sikap elite gerakan yang membuntut ini, dalam kepustakaan Bolshevisme, melawan tradisi gerakan Marxis yang mengemban-tugas membongkar kesadaran palsu yang mencengkram massa.
Dengan lugas Ernest Mandel di dalam bukunya menulis, “ideologi dominan setiap masyarakat adalah ideologi kelas penguasa, dalam arti kelas penguasa mengendalikan alat-alat produksi ideologis yang dimiliki oleh masyarakat (ajaran-ajaran religi, sekolah, berbagai pendidikan, media massa cetak dan elektronika, kebudayaan, moral, dan lain sebagainya) dan menggunakan alat-alat produksi ideologi itu untuk kepentingan kelasnya sendiri (kelas kapitalis-pen.).”[6] Berangkat dari lontaran Ernest Mandel ini, maka dapatlah dipahami, bahwa sikap membuntut kesadaran massa yang dilakukan oleh elite-elite kiri kita, pada hakekatnya, bentuk lain dari sikap mengubur tugas gerakan kiri untuk membongkar kepalsuan ideologi, menunjukkan kepada massa, dan memimpin massa ke arah kemenangan sosialisme.



ENDNOTE

[1] Ernest Mandel, “Teori Organisasi Leninis,” Judul Asli: The Leninist Theory of Organisation, Penerjemah: Opet Metamorfosa, Pena Hikmah, Tanpa Nama Kota dan Tahun Terbitan. Halaman: 10-11. 
[2] Ernest Mandel, “Teori Organisasi Leninis,” Ibid. Halaman: 16.
[3] Alan Woods, “Bolshevisme: Jalan Menuju Revolusi (Jilid 1),” Judul Asli: Bolshevism: The Road to Revolution, Penerjemah: Ted Sprague, Percikan Api, Yogyakarta, 2015. Halaman:170.
[4] Mahendra K, “Berani Menjadi Pelopor,” dalam Koran Arah Juang, Edisi Ke-4 Januari-Februari 2015
[5] Ernest Mandel, “Teori Organisasi Leninis,” Op.Cit. Halaman: 41.
[6] Ernest Mandel, “Teori Organisasi Leninis,” Op.Cit. Halaman: 41.





 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar