Senin, 12 Juni 2017

CERITA FIKSI BERSAMBUNG: MARXISME UNTUK PEMULA (1)



Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono

 
Sebut saja namanya Emen. Pada masa kecilnya, Emen selalu heran pada satu hal tentang cara kerja dunia. Dia heran, mengapa orang-orang dewasa melakukan berbagai aktivitas hanya untuk mencari uang. Ya, hanya untuk uang. Sehingga, dia berkesimpulan bahwa tujuan hidup ini hanyalah mencari uang. Mereka mencari uang, untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang pokok. Tetapi, kalau memang benar begitu, mengapa kebutuhan dasar manusia yang paling pokok seperti makanan dan minuman di jual dengan harga yang murah, sedangkan barang-barang, yang katanya mewah, dijual dengan harga sangat mahal seperti cincin berlian yang melingkar di tangan Tante Linda, kalung emas yang melingkar di leher Joseph Adinegoro, celana dalam yang terbuat dari kain sutra yang dikenakan oleh Om Muhajir, dan peci bersulam perak yang sering dikenakan oleh Paman Rudi.

Anehnya lagi, orang-orang dewasa itu, sering menghambur-hamburkan uang hanya untuk membeli barang-barang yang tidak termasuk kebutuhan pokok dalam hidup mereka. Emen, dengan gaya seorang analis, menilai, sia-sia saja mereka bekerja mencari uang kalau hanya untuk dihambur-hamburkan. “Seandainya, aku sebuah negara aku akan memaksa orang-orang dewasa untuk mengeluarkan uang yang banyak untuk membeli bahan-bahan kebutuhan hidup yang pokok, dan uang sisanya silakan mereka gunakan untuk membeli barang-barang yang tidak pokok tetapi mereka inginkan”, begitu si Emen kecil berimajinasi.

Kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari hasil pengamatan Emen tersebut akhirnya mendapat jawaban ketika dia beranjak remaja, ketika dia bergaul dengan para intelektual Marxis.

Pada suatu hari, Emen berkunjung ke sebuah perpustakaan yang dikelola oleh seorang penulis dan pedagang buku-buku Marxis, sebut saja namanya Garda Proletariat Arkana. Di perpustakaan itu, ada sebuah rak yang khusus mengoleksi buku-buku komunis. Rak itu dinamai oleh pengelolanya dengan nama “Pustaka Marxis”. Dari rak buku itu, Emen mengambil salah satu buku berukuran mungil, dan kemudian membacanya sambil duduk dengan nyaman di meja baca. Buku itu, berjudul “Komoditas”. Buku itu, ditulis oleh seorang aktivitis perburuhan, Saktya Restu Baskara.

Di dalam buku tersebut, Saktya Restu Baskara menjelaskan bahwa pada hakikatnya berbagai kebutuhan hidup manusia, entah yang berasal dari perutnya, entah yang berasal dari kesukaan atau keinginannya, tidak ada bedanya. Pembedaan diantara keduanya, adalah kesesatan dalam berpikir. Yang harus dipahami dari kandungan komoditas yang diproduksi oleh tenaga kerja manusia adalah kemanfaatannya. Dan, karena kemanfaatannya itulah, maka berbagai komoditas memiliki nilai guna.

Lebih jauh, buku berwarna merah, dan bergambar Karl Marx, Friedrich Engels, Lenin, dan Trotsky di sampul buku tersebut menjelaskan bahwa nilai guna menjadi nyata apabila komoditas dipakai atau dikonsumsi. Selain itu, komoditas sebenarnya media yang dapat digunakan untuk menyimpan nilai tukar.

Informasi yang mencerahkan bagi Emen, dari buku yang dibacanya tersebut adalah penjelasan tentang esensi apa yang terkandung di dalam setiap bentuk komoditas. Di dalam buku itu, dijelaskan bahwa semua bentuk komoditas (barang dagangan) yang dapat dengan mudah ditemui di berbagai pusat perbelanjaan mengandung hasil kerja manusia. Ringkasnya, hasil kerja manusia tersimpan di dalam berbagai bentuk komoditas.

Namun begitu, curahan kerja manusia di dalam suatu karya atau benda, baru bisa disebut sebagai komoditas apabila karya atau benda itu memiliki manfaat atau berguna bagi hidup manusia. Apabila itu tidak ada, maka hasil curahan kerja manusia itu gagal atau tidak dapat disebut sebagai komoditas.

Pada saat Emen sedang serius-seriusnya membaca buku berwarna merah itu, ada seorang gadis cantik yang masuk ke dalam perpustakaan, mendatangi rak buku Pustaka Marxis, mengambil sebuah buku, duduk tepat di depan Emen, membuka buku itu, dan kemudian membacanya dengan khidmat.

BERSAMBUNG ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar