Jumat, 30 Juni 2017

DIALEKTIKA MARXIS



DIALEKTIKA MARXIS
Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono
O c t o b e r  L i g h t  1 9 1 7


Apa itu Dialektika?
Kawan, apakah kau pernah terlibat dalam suatu perdebatan? Ketika kau terlibat dalam suatu perdebatan, entah disadari, entah tidak, kau sedang mempraktikkan dialektika. Dialektika adalah berdialog—dapat mauwujud dalam perdebatan atau bentuk lainnya. Pada saat kau berdialog atau berdebat, pada saat itu pula terdapat dua atau lebih orang yang terlibat. Masing-masing di antara orang yang terlibat, termasuk dirimu sendiri, memiliki pandangan, penilaian, dan analisis yang berbeda. Perbedaan-perbedaan itulah, yang menjadikan obyek yang didialogkan mengalami “pergerakan” dan “perubahan”. Obyek tidak statis atau diam, tetapi dia dipertahankan, dikritik, dan direvisi, sehingga akhir dari dialog membuat obyek mengalami perubahan. Walaupun, dalam berdebatan suatu obyek tidak tuntas pendefinisiannya, akhir yang tidak berakhir, namun masing-masing orang telah mengalami sudut pandang yang berbeda sebelum dia terlibat dalam dialog. Sudut pandang mereka berubah!

Dalam suatu dialog, misalnya satu orang berargumen kalau gelas yang ada dihadapannya berisi setengah air, dan itu artinya gelas itu setengah isi. Argumen itu, disambut oleh pihak lainnya. Sambutan itu, dengan tegas mengatakan kalau gelas itu bukan setengah isi, tetapi setengah kosong. Dalam ketegangan itu, dalam dialog itu, antarpihak yang terlibat terjadi “perseteruan” yang hebat. Satu orang merasionalkan argumen yang di sodorkannya, begitu pula dengan yang lainnya. Diakhir dialog mereka tetap tidak saling bersepakat, yang satu tidak sepakat kalau gelas itu setengah kosong, dan yang lain juga tidak sepakat kalau gelas itu setengah isi. Namun, mereka bersepakat kalau gelas itu setengah isi dan setengah kosong. Inilah hukum dialektika, ketika satu sintesis disodorkan, akan disambut dengan anti tesis. Dan, ketika terjadi pergulatan antara tesis dan anti tesis, maka itu akan memunculkan sintesis: Gelas setengah isi (tesis) berdialog dengan gelas setengah kosong (anti-tesis), akan memunculkan gelas setengah isi dan setengah kosong (sintesis).

Berangkat dari ulasanku di atas, tentunya kawan-kawan, dapat menarik kesimpulan, kesimpulan tentang apa itu yang dinamakan dengan dialektika? Iya, kawan, dialektika adalah proses terjadinya pergerakan dan perubahan, dan proses itu terjadi tidak linear atau lurus, lancar, melaju mulus seperti kendaraan yang berjalan di atas jalan tol. Proses itu, sarat dengan hambatan, rintangan, dan tentangan. Dan, sarat itulah, yang dalam ajaran Marxis, disebut dengan kontradiksi dan negasi.

Hukum-Hukum Dialektika
Hukum-hukum dialektika terdiri dari 3 poin. Pertama, kontradiksi. Kedua, negasi. Dan, yang Ketiga, perubahan dari kuantitas ke kualitas. Berikut ini, aku akan memberikan ulasannya satu persatu.

Kontradiksi adalah pertentangan antara satu sama lain.Misalnya, dalam contoh yang telah aku berikan di atas, pertentangan antara argumen setengah isi dan setengah kosong. Contoh lainnya, misalnya siang dan malam, terang dan gelap, kanan dan kiri, merah dan putih, dan lain sebagainya.

Walaupun terjadi pertentangan, antarpertentangan itu terjadi proses saling menyortir atau menseleksi. Proses inilah yang disebut dengan proses saling menegasi. Satu orang menolak gelas yang terisi air, tersebut di atas, adalah setengah kosong, namun penolakannya itu menjadi gugur ketika muncul argumen kalau gelas itu setengah isi dan kosong. Di satu sisi dia membuang argumen awalnya, namun melalui proses seleksi-menegasi, dia sekaligus meningkatkan atau membangun “isian” argumennya.

Argumen tentang setengah isi dan setengah kosong tersebut, sudah aku katakan di atas, kalau argumen itu adalah argumen yang belum selesai, akhir yang belum berakhir. Pertanyaannya, apakah hal itu bisa diakhiri? Jawabannya, di dunia ini tidak ada yang kekal, kecuali perubahan itu sendiri. Dengan kata lain, segala sesuatunya bergerak dan berubah tanpa akhir. Dan, itu artinya, hal itu tidak dapat diakhiri.

Gelas setengah isi dan kosong tersebut akan berubah menjadi gelas yang terisi penuh apabila terjadi proses perubahan kuantitas secara bertahap. Ketika gelas setengah isi dan kosong itu, di tambahi setetes air, apakah gelas itu sudah dikatakan penuh? Jawabannya, adalah belum. Dan, bagaimana jika ditetesi setetes lagi? Jawabannya, masih belum. Bagaimana, jika ditetesi terus hingga gelas itu penuh dengan air? Jawabannya, iya, gelas itu telah penuh, penuh dengan air. Nah, pada saat itulah, terjadi lompatan kuantitas ke kualitas. Gelas setengah isi dan kosong berubah menjadi gelas yang terisi penuh.

Berangkat dari terjadinya perubahan dari kuantitas ke kualitas itulah, maka kawan-kawan dapat melihat, bahwa hukum yang ke-3 dari dialektika adalah hukum yang mengkombinasikan antara evolusi (perubahan bertahap) dan revolusi (perubahan secara cepat dan mendadak). Dengan kata lain, evolusi dan revolusi adalah sepasang suami-istri yang akan melahirkan anak yang bernaman “pantha rei”—perubahan secara terus-menerus.

Dalam kehidupan sosial: Ketika kapitalisme mengalami krisis secara berulang dan terus-menerus, terjadi proses perubahan kuantitas. Ketika, teknologi (kekuatan produksi) yang direvolusionerkannya tidak bisa lagi ditoleransi oleh hubungan produksi, terjadi penindasan terhadap buruh, tani, dan kaum tertindas lainnya, kerusakan lingkungan karena akibat proses perevolusioneran alat produksi yang berorientasi pada akumulasi kapital, dan distribusi semakin tersentral pada kapitalis-kapitalis monopoli, pada saa itulah, gerakan sosial—proletariat—akan meletus, kaum kapitalis akan ditumbangkan. Penjarah akan dijarah! Terjadi lompatan perubahan dari kuantitas ke kualitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar