Kamis, 22 Juni 2017

KEBERADAAN MANUSIA DALAM ANALISIS MATERIALISME DIALEKTIKA

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono 
--Ditulis 2 Hari Menjelang Idul Fitri 1438 H--

Penting untuk di catat: Karl Marx dan Friedrich Engels muncul dari lingkungan budaya borjuis kecil. Marx adalah anak seorang praktisi hukum di Prusia, dan Friedrich Engels sendiri berasal dari keluarga borjuis. Ayah Marx adalah seorang intelektual borjuis, dan Ayah Engels adalah Boss dari sebuah pabrik tekstil.

Dan, karena mereka berasal dari lingkungan borjuis kecil, tentu saja, mereka dibesarkan bukan dalam budaya proletariat. Sekali lagi, bukan! Mereka, amit-amit, dibesarkan di tengah-tengah budaya borjuis.

Pertanyaannya, mengapa kemudian mereka menjadi dua orang revolusioner yang membela atau berpihak kepada kepentingan proletariat?

Mari kita periksa, kawan.

Marxisme mengajarkan kepada kita, bukan kesadaran manusia yang menentukan kondisi sosialnya. Namun, sebaliknya, kondisi sosiallah yang menentukan kesadarannya.
Ajaran Marxis tersebut, harus dihubungkan dengan ajaran-ajaran Marxis lainnya, tidak bisa orang langsung menarik kesimpulan hanya dari barisan-barisan kalimat itu saja. Jika, orang hanya menarik kesimpulan dari kalimat-kalimat itu, maka, bisa jadi, kesimpulannya adalah seperti ini: "Itu artinya, setiap orang tidak memiliki kemandirian dalam membentuk dirinya sendiri. Karena apa? Jawabannya, karena kesadarannya, keradaannya, dan kepribadiannya ditentukan atau dibentuk oleh kondisi sosial yang telah terwarisi sebelumnya. Dan, dengan begitu, keberadaan setiap orang dibelenggu oleh kondisi sosialnya".

Kesimpulan tersebut, adalah kesimpulan yang mengikuti alur berpikir Logika Formal! Jika, premis minor adalah A, dan premis mayor adalah B, maka konklusi (kesimpulannya) adalah AB. Jika, kondisi sosial menentukan kesadaran manusia, maka kesadaran manusia tidak dapat keluar dari kondisi sosial yang ada. Jika, Marx dan Engels dibesarkan di lingkungan borjuis, maka mereka adalah orang-orang borjuis. Dengan begitu, Marx dan Engels memiliki pikiran, kebribadian, dan psikologi borjuis, jika mereka memiliki kepribadian yang revolusioner dan jauh dari sifat borjuistik, berarti mereka termasuk orang-orang yang memiliki kepribadian yang menyimpang--kalau tidak ingin dikatakan gila atau gemblung atau koplak.

Sayang sekali kawan, ketika kita berurusan dengan perubahan yang kompleks dan pergerakan yang njelimet-rumit seperti spiral, kita tidak bisa menggunakan Logika Formal sebagai pisau analisis. Justru, kita yang akan menjadi gila, gemblung, atau koplak jika kita memaksakannya. Yang kita butuhkan adalah pisau analisis yang lebih canggih, yakni Materialisme Dialektika.

Hukum materialisme dialektika mengajarkan kepada kita bahwa pergerakan dapat terjadi di dalam satu materi. Dengan kata lain, di dalam satu tubuh materi dapat terjadi gerak. Misalnya, walaupun kawan-kawan saat ini sedang berdiam diri, membaca tulisanku ini, di dalam tubuh kawan-kawan itu materi-materi yang ada di dalam pikiran sedang bergerak. Tanpa adanya pergerakan itu, tidak mungkin kawan-kawan dapat membaca apa yang aku tulis ini. Ya, tubuh kawan-kawan terlihat diam, tetapi di dalam tubuh itu, ada pergerakan pikiran. Sama seperti halnya, dalam kehidupan masyarakat. Di dalam suatu lingkungan masyarakat, kondisi sosial tertentu, masyarakat di dalamnya walaupun tampak jalan di tempat, selaras dengan aturan-aturan yang ada, namun sebenarnya mereka aktif bergerak.

Tidak hanya bergerak, kawan. Gerakan itu, terjadi secara dialektis. Maksudnya, gerakan itu mensyaratkan adanya kontradiksi, negasi, dan lompatan dari kuantitas ke kualitas. Mungkin, penjelasan ini masih terasa abstrak, dan membingungkan bagi orang awam. Berikut ini, aku berupaya untuk mengkonkretkannya.

Gerak yang bersifat kontradiktif maksudnya adalah gerakan yang mengandaikan adanya pertentangan antara satu materi dengan materi lainnya. Misalnya, si A memiliki pendapat kalau buruh yang baik itu adalah buruh yang bekerja dengan rajin dan mematuhi aturan pabrik. Pendapat dari A tersebut, ditentang oleh B. B berpendapat tidak seperti itu.Menurut B, buruh yang rajin dan patuh pada aturan justru akan diekspoitasi oleh majikannya. B melanjutkan, buruh boleh-boleh saja rajin dan patuh pada peraturan apabila dia tidak ditindas dan aturan yang dibuat tidak merugikan buruh. Maksudnya tidak dirugikan adalah hasil kerja buruh tidak dicuri oleh majikannya.

Gerak atau interaksi antar argumen yang bersifat kontradiktif tersebut, jika diperhatikan mengandung unsur hukum materialisme dialektika yang ke-2, yakni negasi (saling menegasi). Negasi artinya menerima yang positif dan melempar atau menyingkirkan yang negatif. Ringkasnya, negasi itu artinya menyortir atau memilah. Dari argumen tersebut, B membenarkan kalau buruh yang baik adalah berperilaku rajin dan patuh pada aturan, tapi. Ada tapinya, nih! Tapi, buruh tidak dalam kondisi tereksploitasi dan aturannya pun tidak merugikan buruh. Di satu sisi B menerima argumen A, namun di sisi lain, B menyingkirkan argumen A. Tindakan dari B itulah, yang disebut dengan tindakan menegasi atau menyortir.

Catatan: penyortiran, dalam materialisme dialektika, tidak terjadi satu arah, tetapi dua arah, dalam jalinan saling menegasi atau bersifat interaktif.

Melalui bekerjannya dua hukum meterialisme dialektika tersebutlah, setiap materi, setiap benda, setiap manusia, dan setiap masyarakat akan mengalami perubahan. Panta Rhei, kata Filsuf Yunani Kuno, Heraclitos: semuanya mengalir! Semuanya berubah! Hal yang pada awalnya dianggap tidak benar menjadi benar, hal yang pada mulanya dianggap biasa-biasa saja menjadi luar biasa, dan hal yang tadinya dianggap tidak mungkin menjadi mungkin.

Dengan menggunakan hukum-hukum materialisme dialektika itu, kita kembali pada ulasan awal, mengapa Marx dan Engels atau siapa pun orangnya walaupun hidup di lingkungan atau budaya borjuis dapat berubah menjadi kaum revolusioner? Jawabannya adalah sebagai berikut.

Di dalam tubuh atau sistem kemasyarakatan terdapat dua golongan masyarakat yang saling bertentangan. Masyarakat yang satu menginginkan adanya kondisi yang konservatif karena menguntungkan kepentingan kelasnya. Namun, di lain sisi, ada segolongan masyarakat yang menilai kekonservatifan itu merugikan dan menindas mereka, dan oleh karena itulah kondisi seperti itu harus dibonngkar dan dihancurkan. Pertentangan inilah yang menjadi kunci terjadinya gerak perubahan dalam sistem kemasyrakatan.

Dalam sistem kapitalisme, pertentangan antara kepentingan kelas kapitalis dan buruh adalah kunci dari perubahah tersebut. Kelas kapitalis yang memiliki kepentingan mengakumulasi kapital dengan cara menghisap hasil kerja buruh melahirkan penentangan atau penolakan dari kaum buruh. Perang kelas akan menjadi materi penentu terjadinya perubahan.

Di dalam perang kelas tersebut, buruh yang sadar, baik secara spontan maupun terorganisasi, akan melakukan berbagai bentuk aksi massa maupun tindakan-tindakan yang terstruktur, sistematis, dan terorganisasi.

Jika saja tidak ada kelas pekerja atau buruh atau proletar dengan aksi, perjuangan, penderitaan, dan pemberontakannya, tentu saja, tidak akan terdapat kaum intelektual yang merumuskan teorinya tentang penindasan dan bagaimana cara melawannya. Kaum intelektual yang muncul dari tubuh atau sistem kapitalisme itu sendiri, mencuat ke permukaan, melakukan pembelaan terhadap kaum yang tertindas karena terjadinya kontradiksi di dalam sistem kapitalisme itu sendiri. Karl Marx dan Engels berada pada posisi ini. Dan, oleh karena itu pula, komunisme ilmiah yang dirumuskan oleh kedua nabi proletar itu ada karena adanya kontradiksi di dalam tubuh kapialisme.

Tanpa adanya pertentangan kelas, maka tidak akan ada Marx dan Engels yang revolusioner, dan itu artinya tidak akan pula ada komunisme ilmiah. Karena, tidak ada kebutuhan sejarah (materialisme historis) atasnya.

Ya. Teori komunisme ilmiah dibentuk di dalam dasar budaya borjuis, walaupun teori tersebut mendeklarasikan perlawanan terhadap budaya borjuis itu sendiri. Kontradiksi di dalam tubuhnya sendiri!

Di bawah kontradiksi-kontradiksi kapitalistik, pemikiran demokrasi borjuis yang universal, dari wakil-wakilnya yang paling berani, jujur, serta penolakannnya yang hebat, yang dilengkapi oleh seluruh senjata-senjata kritis yang berasal dari ilmu pengetahuan borjuis seperti itulah asal-muasal Marxisme.

Kesimpulannya: Keberadaan manusia memang ditentukan oleh kondisi sosialnya. Namun, walau pun begitu, manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan sejarahnya sendiri. Di satu sisi manusia didikte, namun di lain sisi manusia memiliki kemandirian.

Nah, manusia yang tunduk pada dikte inilah, manusia-manusia penjaga (watch dog) kepentingan kekuasaan yang sedang eksis pada masanya. Kekuasan yang menindas!

Dalam hidup hanya ada dua pilihan, menjadi bagian dari masalah atau bagian dari solusi. Hanya kita yang bisa menentukan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar