Sabtu, 24 Juni 2017

KONSEP MANUSIA MENURUT LEON TROTSKY

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono





Pada hakekatnya manusia adalah materi hidup yang independen. Dengan kata lain, manusia memiliki kemerdekaan dan kemandirian untuk menentukan dan membentuk sejarahnya sendiri. Namun, tidak berhenti sampai di sini; ketika manusia menentukan dan membentuk sejarahnya sendiri dia dibatasi oleh kondisi-kondisi sosial.
Rumusan konsep manusia yang penulis tunjukan tersebut adalah pantulan dari konsep manusia menurut Karl Marx. Marx sendiri dalam sebuah tulisannya, mangatakan:

“Manusia membuat sejarahnya sendiri,tetapi mereka tidak membuatnya tepat seperti yang mereka sukai; mereka tidak membuatnya dalam situasi-situasi yang dipilih oleh mereka sendiri, melainkan dalam situasi-situasi yang langsung mereka hadapi, ditentukan dan ditransmisikan dari masa lalu.”[1]

Jadi, ketika manusia mengada dalam proses membentuk dirinya atau sejarahnya sendiri, seketika itulah sesungguhnya manusia tengah memasuki proses kombinasi-dialektis antara kemerdekaan-kemandirian dan kondisi sosial (an sich![2]). Hal ini adalah ketentuan yang harus dialami oleh manusia. Tidak bisa tidak. Kombinasi ini tercermin dari adanya aksi dan interaksi, pengaruh dan mempengaruhi, saling merangsang dan merespon. Nah, ketika manusia melakukan aksi atau tindakan dan memberikan respon terhadap rangsangan yang datang dari luar, seketika itulah sesungguhnya manusia pada hakekatnya menunjukkan kemerdekaan dan kemandiriannya. Kemerdekaan dan kemandirian, yang menurut Marx, dibatasi oleh situasi-situasi yang tidak dipilih secara mandiri oleh manusia.
Rumusan Marx terhadap konsep manusia ini sebenarnya merupakan penerapan dari hukum materialisme-dialektika. Salah satu elemen dari hukum ini adalah, bahwa berbagai bentuk materi dalam perkembangannya akan saling mempengaruhi, saling menegasi, dan saling mengembangkan untuk memunculkan materi yang baru, materi yang juga akan mengalami perkembangan lebih lanjut, yang tunduk pada hukum yang melahirkannya itu. Demikian pula halnya yang dialami oleh manusia. Manusia dalam perkembangannya mengarah pada hubungan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kondisi sosialnya, menegasi dan dinegasi. Hal ini dilakukan oleh manusia untuk memunculkan kualitas hidup yang lebih baik.
Sebagai seorang Marxis—pengikut ajaran Karl Marx dan Engels, Lev Davidovich Bronstein (nama asli dari Leon Trotsky), dalam merumuskan konsep manusia tidak keluar dari rumusan yang dibuat oleh Karl Marx. Dalam sebuah tulisannya Trotsky mengatakan, bahwa “...manusia adalah produk dari kondisi-kondisi sosial.”[3] Itu artinya, Trotsky mengakui, kemerdekaan dan kemandirian atau keindependenan manusia dibatasi oleh kondisi sosialnya.
Karena manusia merupakan produk dari kondisi sosial, maka berangkat dari sini Leon Trotsky menolak dengan tegas asumsi yang mengatakan bahwa manusia dapat diciptakan sebagai materi hidup yang baru (fresh) tanpa ada pengaruh atau kontribusi dari kondisi sosialnya. Penolakan Trotsky ini dirumuskan dalam bentuk kata-kata sebagai berikut:

“Sering ditekankan kalau tugas pencerahan komunis adalah pendidikan manusia baru (huruf tebal ditambahkan oleh penulis). Kata-kata ini agak terlalu umum, terlalu menyedihkan (huruf tebal ditambahkan oleh penulis) ... pandangan utopian dan humantitarian-psikologis adalah bahwa manusia baru haruslah dibentuk terlebih dahulu, dan lalu dia kemudian menciptakan kondisi-kondisi baru. Kita tidak boleh mempercayai ini (huruf tebal ditambahkan oleh penulis).”[4]

Tulisan dari Trotsky tersebut menunjukkan ketidakpercayaannya terhadap penciptaan manusia baru tanpa proses kombinasi-dialektis. Bagi Trotsky, tidak ada yang namanya manusia baru. Manusia dalam proses pembentukannya tidak dapat melepaskan dirinya dari masa lalu, dari peradaban yang telah dibentuk oleh manusia lainnya. Dalam bahasa Marx, manusia tidak mungkin melepaskan diri dari transmisi masa lalu.
Trotsky menunjukkan, Karl Marx dan Frederick Engels sendiri pun, adalah intelektual komunis yang tidak dapat melepaskan dirinya dari pengaruh kondisi budaya borjuis ketika mereka merumuskan berbagai teori yang berorientasi pada menegasikan kondisi budaya borjuis yang “mengepung” mereka itu. Lebih jauh lagi, Trotsky menunjukkan, justru karena adanya budaya borjuis itulah yang kemudian memunculkan adanya perlawanan dari Marx dan Engels. Secara tajam dapatlah dikatakan, tanpa adanya budaya borjuis tidak mungkin muncul perlawanan terhadap budaya borjuis.
Berikut ini penulis kutipkan tulisan Trotsky yang menunjukkan hal tersebut:

“Marx dan Engels muncul dari kondisi budaya borjuis kecil dan, tentu saja, dibesarkan dalam budayanya dan bukan dalam budaya proletar. Jika saja tidak ada kelas pekerja (kaum proletar) dengan aksi, perjuangan, penderitaan, dan pemberontakannya tentu saja tidak terdapat komunisme ilmiah, karena tidak akan ada kebutuhan sejarah untuknya. Tetapi teori ini  dibentuk penuh dalam dasar budaya borjuis, baik politis maupun ilmiah, meskipun teori tersebut mendeklarasikan perlawanannya untuk mengakhiri budaya tersebut. Di bawah kontradiksi-kontradiksi kapitalistik, pemikiran dari demokrasi borjuis yang universal tersebut, dari wakil-wakilnya yang paling berani, jujur, serta melihat ke depan, mencuat ke atas sebagai penolakan yang hebat, yang dilengkapi dengan seluruh senjata-senjata kritis yang berasal dari ilmu pengetahuan borjuis. Seperti itulah asal-usul Marxisme.”[5]

Berangkat dari rumusan konsep manusia, dari Leon Trotsky, yang membatasi kemerdekaan dan kemandirian manusia dengan kondisi-kondisi sosial tersebut, orang dapat menyodorkan pertanyaan kepada Trotsky, sebagai berikut: “Karena manusia dalam menjalani hidupnya tidak bisa dilepaskan dari kondisi-kondisi sosial, apakah dengan demikian itu artinya manusia terikat kaki dan tangannya oleh kondisi sosial? Dan, jika iya, bukankah kemerdekaan dan kemandirian manusia hanyalah omong kosong belaka?”
Pertanyaan tersebut dijawab oleh Trotsky sebagai berikut:

“... antara manusia dan kondisi-kondisi sosial itu ada hubungan yang kompleks yang saling bekerja secara mutual dan aktif ...”[6]

Adanya hubungan yang bersifat timbal-balik (mutual) atau saling mempengaruhi dalam interaksi antara manusia dan kondisi-kondisi sosialnya, yang ditunjukkan oleh Trotsky itu, orang seharusnya dapat menarik garis pemahaman, bahwa tidak mungkin manusia terikat kaki dan tangannya apabila manusia memiliki sifat yang aktif dalam mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kondisi sosialnya. Dengan kata lain yang lebih tegas, keaktifan yang bersifat timbal-balik itulah yang menunjukkan kalau manusia tidak terikat kaki dan tangannya. Manusia baru bisa dikatakan terikat kaki dan tangannya apabila manusia tidak aktif atau pasif ketika dipengaruhi oleh kondisi sosialnya.
Materialisme-dialektika menolak teori tabula rasa dari intelektual borjuis, yang mengatakan, bahwa manusia pada hakekatnya putih-bersih (pasif). Berangkat dari teori tabula rasa yang absurd inilah kemudian, lebih jauh intelektual borjuis menjelaskan, bahwa ketika manusia membentuk dan membangun dirinya, seketika itulah pada hakekatnya manusia tidak mandiri, karena dalam proses pembentukan dan pembangunan tersebut manusia semata-mata hanya menjadi “juru bicara-pasif” dari kondisi lingkungannya atau sosialnya. Dengan kata lain, manusia pasif dalam menerima pengaruh dari lingkungannya.
Materialisme-dialektika, sebagaimana telah penulis tunjukkan di muka, menempatkan manusia sebagai materi hidup yang aktif. Walau pun manusia tidak dapat dilepaskan dari kondisi-kondisi sosialnya, justru kondisi-kondisi sosial yang melingkupi proses kehidupan manusia itulah materi yang membuat manusia tidak terikat kaki-tangannya.
Berikut ini penulis tunjukkan contoh konkret hubungan timbal-balik antara manusia dan kondisi sosial, yang menunjukkan kebebasan dan kemandirian manusia, sebagai berikut ini:
Hubungan buruh-majikan dalam sistem ekonomi kapitalisme adalah pantulan dari hubungan antara manusia (buruh-majikan) dan kondisi sosial (sistem ekonomi kapitalisme). Dalam hubungan ini manusia yang bernama majikan adalah pihak yang mendapat sisi manisnya, karena melalui sistem ini majikan dapat memeras hasil kerja buruh, dan dari sini kemudian dia melakukan akumulasi kapital (penumpukan keuntungan—kekayaan). Sedangkan buruh adalah manusia yang mendapatkan sisi yang pahit, karena harus bekerja bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk majikan yang mempekerjakannya.
Kondisi atau hubungan sosial yang seperti itu jelas merugikan buruh. Kondisi sosial yang menindas kaum proletar inilah yang kemudian mendorong kaum proletar melakukan tindakan aktif dalam bentuk perlawanan. Dalam aksi perlawanan inilah sesungguhnya kaum proletar sedang berinteraksi secara timbal-balik dengan kondisi sosial, berusaha mempengaruhi kondisi sosial agar terjadi perubahan yang lebih baik. Demikian juga halnya dengan kaum kapitalis, dalam hubungan ini, dia berusaha untuk aktif mempertahankan kondisi sosial yang sedang berjalan, agar kapitalis dapat selalu berada pada sisi yang manis dalam sistem ini. Bentrokan dua kepentingan antar dua jenis manusia (buruh-majikan) inilah, yang menunjukkan dinamika hubungan manusia dan kondisi sosial. Dalam bahasa materialisme-dialektika materi-materi hidup selalu bergerak, saling menegasi (bentrok)—mempengaruhi, untuk memunculkan kualitas (kondisi sosial) yang berbeda dari sebelumnya.
Kaum proletar bukanlah manusia yang pasif—manusia yang terjatuh dalam dosa tabula rasa yang tidak dapat ditolak—tetapi manusia yang merdeka dan mandiri dalam mempengaruhi kondisi sosialnya.  Dengan demikian, ada hubungan timbal balik yang terpantul dalam kondisi ini. Demikian juga dengan kaum borjuis atau kapitalis. Kapitalis bukanlah manusia yang pasif-pasrah terhadap aksi dari kaum proletariat yang menginginkan perubahan, dengan berbagai strategi dan taktik yang licik kapitalis akan selalu berusaha untuk mempertahankan kondisi sosial yang menindas kaum proletar.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini penulis tunjukan skema hubungan timbal balik antara manusia dan kondisi sosial: 


Skema tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Manusia adalah produk (ciptaan) dari kondisi sosial—sejarah/transmisi masa lalu. Namun, manusia juga merupakan agen perubahan. Manusia memiliki kemampuan untuk melakukan aksi untuk mendorong terjadinya perubahan kondisi sosial. Dari sini kemudian antara kondisi sosial yang lama dan yang baru berinteraksi-bentrok-saling melebur yang kemudian akan memunculkan hubungan sosial yang baru. Kemunculannya ini bisa bersifat negatif, namun dapat pula bersifat positif. Negatif, jika perubahan sosial itu semakin mengukuhkan keberadaan sang penindas. Positif, jika perubahan sosial itu menguntungkan pihak yang sebelumnya tertindas.
Dengan demikian, konsep manusia, menurut Leon Trotsky, di satu sisi adalah produk dari kondisi sosialnya, namun di sisi lain manusia adalah negasi dari kondisi sosialnya. Penegasian terhadap kondisi sosialnya inilah, yang dalam bentuk konkretnya mewujud dalam bentuk perjuangan kelas. “Jika manusia adalah sebagai produk dari kondisi sosialnya,” begitu kata Trotsky, “maka kaum revolusioner adalah sebuah produk dari kondisi sejarah tertentu.”[7] Kondisi sejarah tertentu, yang dimaksud oleh Trotsky adalah dalam arti tahapan kondisi dalam konteks perjuangan kelas.


[1] Karl Marx, “Brumaire XVIII Lous Bonaparte,” Penerjemah: Oey Hay Djoen, Hasta Mitra,  Jakarta, 2006. Halaman: 15.
[2] An Sich: Itu saja. Tidak ada yang lain. Muncul dengan sendirinya—independen, di luar rancangan, perencanaa, dan di luar kesadaran manusia.
[3] Leon Trotsky, “Tugas-Tugas Pendidikan Komunis (Versi Pendek—1922),” Penerjemah: Ted Sprague, www.marxist.org.
[4] Leon Trotsky, “Tugas-Tugas Pendidikan Komunis (Versi Pendek—1922),” Ibid.
[5] Leon Trotsky, “Apakah Budaya Proletar Itu, dan Mungkinkah Ada?” Penerjemah: Dewey Setiawan, www.marxis.org.
[6] Leon Trotsky, “Tugas-Tugas Pendidikan Komunis (Versi Pendek—1922),” Op.Cit.
[7] Leon Trotsky, “Tugas-Tugas Pendidikan Komunis (Versi Pendek—1922),” Op.cit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar