Minggu, 25 Juni 2017

MORAL BORJUIS DAN MARXIS



Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono



Pertama-tama, penerbit buku kiri “October Light 1917” mengucapkan selamat Idul Fitri 1438 H, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin kepada semua penganut agama Islam, agama keselamatan (salama) bagi umat manusia yang tertindas, namun, seharusnya, menjadi mimpi buruk bagi kaum penindas.

Dalam kesempatan ini, izinkanlah aku bercerita tentang kegiatanku dalam sehari ini, kegiatan di hari raya Idul Fitri ini. Tidak hanya bercerita tentang itu, dalam kesempatan ini, aku juga akan memberikan sudut pandangku, sebagai seorang Marxis, terhadap makna moral. Makna, yang secara tidak langsung, terkandung, dan dapat ditangkap, di dalam ucapan kata-kata maaf, maaf, dan maaf.

Comrade, di hari yang suci ini, senang sekali rasanya tadi aku bisa mengunjungi tetangga-tetangga dan sanak familiku. Setelah sholat idul fitri, tadi pagi, aku mengunjungi keluarga-keluarga yang ada di kampungku, dari satu rumah ke rumah lainnya. Setelah itu, aku mengunjungi sanak familiku, dari satu sanak famili ke sanak famili lainnya. Dan, terakhir, aku mengunjungi pertemuan keluarga, “trah”. Trah adalah perkumpulan keluarga yang terdiri dari keluarga-keluarga satu keturunan. Untuk mengetahui keluarga-keluarga itu berasal dari satu keturunan caranya dengan mengidentifikasi keluarga-keluarga yang bersangkutan berasal dari satu  keturanan secara vertikal atau tidak? Kalau tidak, berarti tidak masuk ke dalam kategori ini.

Dalam satu hari ini, aku menyaksikan kata-kata maaf dihamburkan secara bertubi-tubi. Tidak hanya itu saja, tidak sedikit juga, diantara mereka, yang saling berpelukan dan mencucurkan air mata. Mereka, saling meminta maaf atas berbagai perbuatan-perbuatan buruk yang pernah mereka lakukan sebelumnya.

Anak-anak yang turut serta dalam kegiatan saling mengunjungi tersebut terlihat sangat ceria karena mendapatkan angpao dari orang dewasa dan orang tua di hari itu. Ada salah seorang anak yang berkata kepada ibunya, “Bu, nanti aku beli petasan lagi, ya. Ini, aku dapat uang Rp20.000 dari Mbah Nenong”.

Ucapan saling memaafkan, dan lontaran pengakuan tentang perbuatan buruk yang pernah dilakukan dimasa lalu sebenarnya mengandung atau menyimpan informasi tentang pemilahan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk.

Penilaian terhadap perbuatan baik dan buruk inilah yang disebut dengan penilaian yang berbasiskan pada moral manusia. Sedangkan, moral itu sendiri memiliki pengertian perbuatan baik atau tidak tercela. Ringkasnya, moral memiliki pengertian ajaran tentang baik dan buruknya perbuatan.

Comrade, kita tahu barisan intelektual organik borjuis, yang notabéne merupakan barisan pembela kepentingan kapitalis, selalu mewacanakan bahwa moral manusia—penilaian baik dan buruknya suatu perbuatan[1]—memiliki sifat yang absolut dan permanen. Absolut artinya, berlaku bagi setiap orang (tanpa memandang siapapun dia!), sedangkan permanen artinya selalu berlaku dalam setiap ruang dan waktu (dimanapun dan kapanpun). Contoh konkretnya begini, “Setiap orang tidak boleh mencuri. Larangan ini adalah larangan bermuatan moral yang harus dipatuhi oleh siapapun, dimana pun kau berada, dan di waktu apa pun. Atau begini, “Kau tidak boleh melakukan perilaku kurang ajar kepada Boss yang telah memberikan pekerjaan dan gaji kepadamu. Ramah dan sopanlah kepada Boss, jika kau ingin dianggap sebagai seorang buruh yang bermoral dan terhindar dari intaian pemecatan (PHK/Pemutusan Hubungan Kerja) dari si Boss.

Tradisi Marxis menolak anggapan kalau moralitas berlaku dan bersifat absolut dan permanen. Bagi tradisi Marxis, moral manusia berlaku dan bersifat relatif. Keberlakuannya, tergantung pada watak kelas yang melahirkannya. Moralitas yang dilahirkan oleh sistem perbudakan, sudah tentu mengabdi pada kepentingan sistem perbudakan, demikian juga dalam sistem feodalisme dan kapitalisme, moral dalam sistem-sistem itu juga dirumuskan demi untuk melayani kepentingan berbagai sistem berwatak menindas seperti itu.

Dalam sistem kapitalisme, sudah tentu, mencuri adalah perbuatan yang dinilai tidak bermoral, yang dianggap akan merugikan hak milik orang yang mengalami pencurian. Betapa tindakan mencuri adalah tindakan yang dianggap sangat tidak bermoral, sampai-sampai, dalam salah satu tradisi religius diberlakukan hukuman potong tangan bagi orang yang terbukti melakukan tindakan pencurian.

Tentunya, kawan-kawan masih ingat, peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu, peristiwa seorang Ibu yang dituntut oleh anak kandungnya sendiri karena dianggap telah mencuri kayu (dengan cara menebang sebatang pohon) di pekarangan rumah anak kandungnya. Ibu itu, didepak masuk ke dalam proses hukum borjuis oleh anak kandungnya sendiri, karena kedapatan mencuri kayu milik anak kandungnya sendiri.

Dalam sistem kapitalisme perilaku seorang anak durhaka tersebut, jelas, diamini, karena dalam sistem kapitalisme orang dilarang mencuri milik orang lain, walau pun, orang lain itu adalah saudara atau orang tua kandungnya sendiri.

Dengan dikenakannya pelanggaran moral terhadap tindakan mencuri, tentu saja, itu akan merembet pada larangan bagi buruh untuk mencuri hasil kerjanya sendiri. Buruh atau kelas pekerja yang mencuri hasil kerjanya sendiri dianggap sebagai orang yang tidak bermoral dan tidak taat hukum. Dan, karena tidak taat hukum, maka si buruh tentunya harus dihukum dengan cara di BAP (berita acara pemeriksaan di kepolisian)-kan, dijebloskan  ke dalam penjara negara borjuis. Pertanyaannya, bagaimana tindakan negara borjuis apabila justru kapitalislah yang mencuri hasil kerja buruh melalui mekanisme penghisapan surplus value? Tentus saja, kawan, tindakan dari kapitalis itu, dalam sistem kapitalisme, tidak dianggap sebagai tindakan tidak bermoral, bahkan negara akan mengeluarkan label halal terhadap perbuatan kapitalis itu. Sah dan halal hukumnya! Inilah maksud dari argumenku di muka, kalau nilai-nilai moral yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat tunduk pada watak kelas yang melahirkannya.

Dalam tradisi Marxis, selain moral berwatak tidak absolut dan permanen, moral manusia juga berwatak evolutif. Artinya, moral manusia mengalami dinamika secara historis mengikuti perkembangan dan terjadinya perubahan stuktur masyarakat. Dengan begitu, moral adalah supra struktur dari kekuatan-kekuatan dan hubungan-hubungan produksi yang melahirkannya.

Tindakan pencurian nilai lebih dari satu pihak terhadap pihak lainnya, melalui mekanisme pencurian nilai lebih (surplus value), adalah sungguh tindakan tidak bermoral. Biadab! Biadab, karena kelas pemilik modal atau alat produksi memakan hasil kerja kelas buruh tanpa merasa bersalah.

Hal tersebut, berbeda halnya dengan konsep dan praktik moral dalam tradisi kapitalis, pencurian nilai lebih ini bukan merupakan suatu tindakan yang tidak bermoral, justru hal ini diamini sebagai sebentuk heroisme dalam dunia usaha. Sebagaimana diketahui bahwa istilah pengusaha yang merupakan istilah sopan dari kapitalis selalu digembar-gemborkan heroismenya dalam mencari rezeki, padahal keberhasilan mereka dalam memperkaya diri tidak terlepas dari peranan kelas buruh yang menciptakan kekayaan bagi mereka itu, para interprenaur itu, para pengusaha itu, para kapitalisme itu.

Dalam tradisi kapitalisme, individualismelah yang diagung-agungkan dan dijadikan fondasi bagi terbangunnya moralitas manusia.

Berlainan dengan tradisi Marxisme. Dalam tradisi Marxisme, kebersamaan, kerjasama, kolektivitas, dan solidaritas adalah fondasi utama bagi terbangunnya moral manusia.

Namun begitu, dalam tradisi Marxis, bukan berarti individualisme manusia ditolak dan dihancurkan. Justru, individualisme diangkat pada derajat yang paling tinggiderajat yang memanusiakan manusia. Bagaimana hal ini dijelaskan? Begini, kawan, jika dalam kapitalisme buruh, baik secara kelompok maupun individual, dipekerjakan untuk menciptakan nilai lebih. Dan, oleh sebab itu, kemudian buruh teralienasi (terasing) dengan pekerjaannya (karena buruh bekerja semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan subsitensinya bukan untuk memproyeksikan kemanusiaannya). Tidak hanya teralienasi dari pekerjaannya sendiri, buruh, melalui pekerjaannya, juga teralienasi dengan sesamanya (karena kerjanya bukan ditujukan untuk kepentingan sesamanya, tetapi untuk kepentingan pengusaha/pemilik modal). Tidak demikian halnya dalam tradisi Marxisme. Dalam tradisi Marxisme, orang bekerja demi untuk memaksimalkan potensi yang ada di dalam dirinya (individualismenya) yang nota bene merupakan manifestasi dari keterhubungannya dengan sesamanya.

Berangkat dari hal tersebutlah, maka, dapatlah dipahami, bahwa moralitas Marxis menggariskan bahwa semua manusia bersaudara dan saling terkoneksi antara satu sama lain, dan karena semua orang bersaudara, maka antarsesama manusia tidak boleh saling mengeksploitasi, membiarkan saudaranya tereskplotiasi, dan memberikan kekuatan pada saudaranya yang sedang tereksploitasi. Dan, hal-hal itu terwujudkan dalam bentuk perlawanan mekanisme penghisapan nilai lebih. Tidak berhenti sampai di situ, kaum komunis juga harus menyebarkan kesadaran kepada kelas buruh dan kelas-kelas terhisap yang lainnya untuk bangkit dan melawan eksploitasi (de el home par elhome). Berangkat dari situlan, maka, tidak berlebihanlah apabila Leon Trotsky, mengatakan, Moralitas tertinggi dari kaum Marxis-komunis adalah MENGGULINGKAN KEBINATANGAN KAPITALISME!

Leon Trotsky dalam sebuah tulisannya di tahun 1923 , What Is Proletarian Culture, and Is It Possible? (Apakah Budaya Proletariat Itu, dan Mungkinkah Ada?), mengatakan bahwa moralitas manusia yang nota bene adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kelas yang sedang berkuasa pada saat itu. Trotsky mengatakan, bahwa bukan berarti moralitas yang dilahirkan oleh suatu kelas dia berlaku secara absolut artinya hanya satu-satunyanya yang berlaku dan dijalankan oleh masyarakat pada masa tertentu. Menurut pandangan Trotsky, dalam suatu sistem masyarakat berkelas terdapat adanya dua bentuk moralitas yang saling bersitegang, yakni moralitas dominan dan moralitas minor. Apa yang dikatakan oleh Trotsky dapatlah diterjemahkan, bahwa hari ini, di dunia para kapitalis ini, tengah terjadi ketegangan antara moralitas kapitalis dan moralitas marxis.

Bagi Trotsky moralitas tertinggi manusia adalah meningkatkan kekuasaan manusia atas alam dan penghapusan, sebagai sebuah hasil, kekuasaan manusia atas manusia (penindasan sosial).[2] Berangkat dari situ, kemudian Trotsky merumuskan pemikirannya bahwa satu-satunya moralitas yang sempurna dan paling puncak adalah mempersiapkan penggulingan sifat kebinatangan kapitalisme dan imperialisme, dan tidak ada (sesuatu) yang lain. Keselamatan revolusi adalah supremasi hukum—dan moralitas, pen.—yang tertinggi.

Apa yang dirumuskan oleh Trotsky tersebut, adalah merupakan keharusan sejarah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, apabila moralitas manusia ingin berkembang lebih baik, lebih memanusiakan manusia.

Pertanyaannya, siapakah yang memiliki tugas sejarah untuk melakukan penumbangan tersebut? Jawabannya, tidak lain adalah kelas pekerja atau buruh dengan bersinergi dengan kaum petani miskin, dan kelas tertindas lainnya.

Secara konkret apa saja bentuk-bentuk dari moralitas Marxis itu? Berikut ini penulis berusaha menunjukkannya kepada pembaca:

1.      Dalam sistem masyarakat Marxis orang harus saling bekerjasama, berbagi dan menumbuhkan rasa solidaritas diantara sesama atau dengan kata lain dapatlah hal ini diringkas dalam bentuk satu kalimat: Kolektivitas. Setiap orang yang mengabaikan prinsip-prinsip kolektivitas itu, dinilai sebagai seorang bajingan yang tidak bermoral, mementingkan diri sendiri, dan berwatak borjuis.
2.   Menghisap/menindas orang lain, dalam bentuk apa pun, adalah tindakan yang tidak bermoral, terutama menghisap hasil kerja orang lain dengan cara mempekerjakan orang lain dan kemudian mencuri hasil pekerjaan orang lain yang dipekerjakannya itu melalui mekanisme surplus value (pencurian nilai lebih). Dan berangkat dari situ, maka untuk menghapuskan tindakan tidak bermoral seperti itu, kepemilikan individu atau pribadi terhadap alat produksi harus dihancurkan.
3.  Dalam sistem masyarakat Marxis setiap orang diberi kesempatan untuk memaksimalkan “individualisme”-nya. Individualisme dalam Masyarakat Marxis ini bukan dalam pengertian individualisme dalam masyarakat borjuis, individualisme yang dimaksud di sini adalah memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk memaksimalkan potensinya yang terproyeksikan dalam dunia kerja. Jika dalam masyarakat borjuis orang teralienasi dengan pekerjaannya sendiri, maka dalam masyarakat Marxis orang justru didorong untuk merealisasikan potensinya (individualisme)-nya agar orang tidak teralienasi dengan pekerjaannya sendiri. Orang yang menyia-nyiakan potensinya dan bermalas-malasan seperti halnya seorang kapitalis, dicap (mendapatkan stigma) sebagai orang yang tidak bermoral.
4.    Orang harus menganggap bahwa orang lain adalah saudara bagi dirinya sendiri, layaknya saudara kandung, oleh sebab itulah orang didorong untuk perduli terhadap sesamanya.

Setelah aku berupaya menjelaskan perspektifku tentang moral manusia, sekarang aku kembali lagi pada suasana hari lebaran, momentum yang hari ini, pada saat aku menulis artikel ini, masih sangat terasa sekali “tarikan”-nya.

Ketika kita meminta maaf kepada orang lain, karena telah melakukan kesalahan di masa lalu, misalnya, kita pernah melontarkan kata-kata yang menyakiti perasaannya dan/atau kita pernah melakukan perbuatan yang membuatnya kecewa, maka ketika itulah kita sebenarnya telah menilai perbuatan itu dari sudut pandang baik dan buruknya atau moralitas manusia.

Sebagaimana telah aku sampaikan di muka, baik dan buruknya perbuatan seseorang tidak berlaku secara obsolut dan permanen. Tergantung, kelas mana yang berkepentingan untuk mempertahankan penilaian itu demi mengamankan eksistensi kelasnya. Buruh yang dipersenjatai untuk melawan kelas kapitalis, tidak mungkin dapat memenangkan kepentingannya apabila dia menolak menumbangkan kelas kapitalis dengan alasan tindakan seperti itu tidak bermoral. Sama seperti halnya, kelas kapitalis yang tidak mungkin dapat mengeksploitasi hasil kerja buruh karena tidak menghancurkan alasan moral bahwa memeras hasil kerja buruh adalah tindakan yang biadab.

Dengan begitu, penilaian baik dan buruk suatu perbuatan, baik di masa lalu maupun masa kini, haruslah ditelakkan pada konteks perjuangan kelas. Ketika tindakan-tindakan yang diangap tidak bermoral dilakukan untuk melikuidasi kelas penindas, anggapan itu harus disingkirkan jauh-jauh dari kesadaran kita. Namun, jika tindakan baik dan buruk itu, diproyeksikan untuk membangun ke-4 moralitas Marxis di atas, tindakan itu harus lah diarahkan untuk mengkonsolidasikan kekuatan membinasakan moralitas borjuis.


[1] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, terbitan Balai Pustaka (Cetakan ke-5 2007. Halaman 754-755), mendefinisikan moral sebagai ajaran tentang baik dan buruk yang diterima secara umum. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut moral juga didefinisikan sebagai bentuk dari isi hati/suara hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam suatu perbuatan.
[2] Leon Trotsky, John Dewey, dan George Novack, Ada Apa Dengan Kita? (Moralitas Marxis Versus Moralitas Liberal), (Judul Asli: Their Morals and Ours: Marxis Vs Liberal Views on Morality), Panopticon, Yogyakarta, 2002. Halaman 170.

1 komentar: