Jumat, 30 Juni 2017

TUJUAN DISKUSI [PENERAPAN METODE MARXIS DALAM BERDISKUSI]



Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono



Diskusi bukan ajang kumpul-kumpul, duduk manis melingkar—atau duduk dalam bentuk formasi apa pun, mendengarkan pihak yang mendominasi pembicaraan ngoceh dengan bahasa-bahasa yang berat dan sulit dipahami, mengajukan pertanyaan kepada si pendominasi, dan membatasi waktu diskusi. Bukan seperti ini diskusi dalam perspektif Marxian. Kalau ini yang terjadi itu bukan diskusi namanya, tetapi ajang mencuci otak si objek penderita (audiens) dan kegiatan yang sangat membosankan. Alih-alih tujuan berdiskusi adalah pencerahan, perilaku seperti itu tidak lebih dari perilaku ajang pamer si pendominasi dalam memamerkan apa yang sudah ada di dalam isi kepalanya. Si pendominasi berbicara dengan dirinya sendiri (karena lontaran dari kalimatnya [baca: pilihan kalimat] yang sulit untuk dipahami, monolog, dan hanya dia sendiri yang memahaminya—dengan harapan objek penderita berdecak kagum kepada dirinya) dan setelah diskusi bubar, tidak ada hasil apa pun karena apa saja yang dicelotehkan dalam diskusi menguap-tanpa bekas di dalam pikiran peserta diskusi, dan kalau dikuak-isi kepala para peserta diskusi akan ditemui tidak ada yang diserap atau nyangkut di dalam isi kepala (neokorteks = pikiran). Kosong melompong seperti kepongpong yang sudah ditinggal minggat penghuninya. Begitu pula yang terjadi pada si pendominasi; jalan di tempat, tidak ada yang diperoleh secuil pun dari diskusi yang telah diselenggarakan. Buang-buang waktu dan energi saja.

Jika orang ingin mengetahui seperti apa diskusi dalam perspektif Marxian, orang bisa mencermati buku-buku dan berbagai tulisan yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Di dalam tulisan-tulisan bapak komunisme ilmiah ini sarat dengan polemik. Polemik yang mereka lakukan tidak lain merupakan penerapan metode dialektika di ranah diskusi. Melalui polemik Marx dan Engels mendorong munculnya sintesa yang lebih baru dari sintesa yang sebelumnya. Namun, ketika sintesa yang lebih baru muncul, bukan berarti sintesa yang sebelumnya dihancurkan dan ditindas hingga tidak berbekas. Tidak seperti itu. Sintesa yang mengandung unsur-unsur pembangun untuk sintesa yang lebih baru akan dirangkul dan dilebur. Sintesa baru inilah, yang kemudian akan di anti-tesiskan dengan pencarian dan pendalaman sintesa berikutnya. Kuantitas akan didorong menjadi kualitas, dan ketika kualitas telah kembali menjadi kuantitas, maka kuantitas didorong menjadi kualitas yang bobotnya lebih tinggi lagi, begitu terus untuk selanjutnya. Dengan metode inilah peradaban manusia didorong semakin maju melampaui batas-batas yang tidak terbayangkan oleh manusia.

Secara lugas, diskusi dalam perspektif Marxian dapat dipahami seperti ini: Dalam diskusi harus ada perdebatan, kontradiksi, pro dan kontra, dimana pihak yang satu tidak menganggap pihak yang lainnya menyerang, begitu pula sebaliknya. Dari perdebatan inilah satu ide dikemukakan (tesis) dan kemudian disambut dengan ide yang berlawanan (anti-tesis). A dinegasikan oleh B. Nah, dalam konteks inilah, tentu saja, pihak-pihak yang bergulat dalam perdebatan tidak dapat dibatasi oleh waktu. Pembatasan waktu terhadap berdebat yang sedang berlangsung itu sama saja menghancurkan esensi dari perdebatan itu sendiri, karena secara esensial pemikiran yang menyeruak dalam perdebatan tidak dapat dibatasi oleh waktu—pikiran selalu berbenturan dan dari perbenturan tersebut kemudian mendorong perkembangan, pemahaman yang mendalam, dan kemunculan sintesis yang lebih baru (A dinegasikan oleh B dan kemudian muncul AB = A yang unik dan B yang unik. Selanjutnya AB dinegasikan oleh DE dan kemudian muncul ABDE = AB yang unik dan DE yang unik. Begitu seterusnya...).

Akhirnya, melalui diskusi yang menyeluruh, perdebatan yang keras dan tajam, yang menjelajahi berbagai issue yang dibahas dalam diskusi-perdebatan, dari berbagai sudut pandang dan menjabarkan seluruh kontradiksi yang tersembunyi, semua peserta diskusi (jadi disini tidak ada pihak yang mendominasi dan didominasi dalam pembicaraan) akan memperoleh pada kesimpulan (sintesis). Yang harus menjadi catatan: kita boleh sampai atau tidak sampai pada kesimpulan tapi, dengan diskusi, kita telah memperdalam pengetahuan dan pemahaman kita dan menempatkannya ke seluruh diskusi dalam bidang pandang yang sama sekali berbeda.

Tidak berhenti sampai di sini. Lagi-lagi orang bisa belajar dari Karl Marx dan Friedrich Engels. Marx dan Engels memiliki kebiasaan mendokumentasikan polemik mereka dengan lawan-lawan diskusi mereka, baik itu dalam bentuk buku atau dalam berbagai bentuk catatan lainnya. Ini yang sangat penting dalam diskusi: mencatat tesis-tesis yang muncul dalam perdebatan dan hasil-hasil dari perdebatan. Melalui berbagai catatan, berbagai tesis dapat dijadikan bahan untuk merancang rumusan teori yang akan diuji (didialektikakan) dalam kehidupan praxis perjuangan kelas. Apakah kebiasaan mencatat diskusi dan hasil diskusi sudah dilakukan oleh kawan-kawan? Jika belum, kiranya hal tersebut sangat penting untuk dipertimbangkan.

NB: Puisi dari Wiji Thukul

Apa Guna?

Apa guna punya ilmu tinggi
Kalau hanya untuk membodohi

Apa guna banyak baca buku
Kalau mulutmu kau sumbat melulu

Dimana-mana buruh dipaksa
Bekerja keras tapi.. tapi dengan upah rendah

Di desa-desa petani dipaksa
Menjual tanah tapi.. tapi dengan harga rendah

Tambahan dariku (Isman):

Apa guna berdiskusi jika tidak ada praxis perjuangan kelas?!
Apa guna mendorong perjuangan kelas jika tidak ada diskusi

Dimana-mana buruh dibodohi
Dimana-mana petani dibekuk kesadaran kritisnya

Saatnya kaum pelopor-Marxis revolusioner bangkit
Bebaskan buruh dan tani dari kesadaran palsu
Memimpin perjuangan kelas
Buruh berkuasa, rakyat sejahtera!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar