Sabtu, 01 Juli 2017

BACA BUKUMU, KAWAN!

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono




Saya membaca karena setiap bacaan yang bagus memberi saya motivasi kuat untuk terus membaca (Fernando Baez)


Untuk Apa Membaca Buku?
Fernando Baez dalam sebuah buku yang ditulisnya menunjukkan kepada pembacanya bahwa ketika orang sedang melihat buku, memegang atau lebih jauh lagi membacanya, pada hakekatnya orang yang bersangkutan sedang melihat, memegang atau membaca memori yang ada atau terkandung di dalam setiap lembaran atau halaman buku. Itu artinya, Fernando Baez tidak memahami buku sebagai bentuk fisiknya saja. Yang lebih esensial dari buku bagi Baez adalah memori yang terkandung di dalamnya. Berangkat dari pemahamannya inilah, kemudian Baez menarik kesimpulan, ketika buku dihancurkan, seketika itulah memori yang terkandung di dalamnya hancur. Nah, dari sinilah orang dapat bermain-main dengan silogisme seperti ini: “Menghancurkan buku artinya menghancurkan memori, menghancurkan memori artinya menghancurkan isi otak manusia.” Silogisme yang bertendensikan horor!
Penghancuran buku tidak hanya dalam bentuknya yang kasat mata saja, misalnya membakar, merobek-robek atau menguburkannya bersama sampah rumah tangga di dalam tanah agar lapuk atau membusuk dan hancur. Orang bisa melakukan penghancuran buku dengan cara tidak membacanya. Logikanya, ketika orang tidak membaca buku, mana mungkin memori yang terkandung di dalam buku menyusup masuk ke dalam pikiran. Bukankah tujuan buku dihancurkan secara fisik agar memori yang terkandung di dalam buku tidak menyusup ke dalam pikiran manusia?
Dengan gemas Fernando Baez di dalam bukunya mengutip syair seorang penyair cantik yang namanya dia lupa, “setiap buku yang dihancurkan adalah paspor menuju neraka.”[1] Lagi-lagi dari sini orang bisa bermain-main dengan logika, “setiap orang yang tidak membaca buku adalah orang yang sedang menghancurkan buku. Dan karena itu, dia sedang melakukan tindakan anarkis terhadap isi otak manusia.” Dan oleh karena itulah, manusiakanlah buku, bukalah buku dan bacalah buku-mu kawan!
Ya, memanusiakan buku artinya membaca buku, tidak menelantarkannya dengan cara tidak membacanya. Ketika kita memanusiakan buku (baca: membaca buku), seketika itulah sebenarnya kita sedang memasukan amunisi ke dalam pikiran kita. Secara harafiah amunisi memiliki arti bahan pegisi senjata api. Sedangkan secara analogi, dalam konteks kegiatan membaca buku, memasukan amunisi ke dalam otak berarti memasukan memori yang terkandung di dalam buku ke dalam pikiran. Lalu, berangkat dari sini, kemudian muncul pertanyaan, untuk apa amunisi itu dimasukan ke dalam pikiran? Dengan kata lain, untuk apa membaca buku? Jawabannya, untuk mengubah diri sendiri dan lebih jauh lagi mengubah dunia. Inti-nya: membaca buku itu penting kalau orang ingin melakukan perubahan. Penting untuk menjadi catatan: “Orang hidup harus selalu berubah, kalau tidak berubah bukan lagi manusia namanya, tapi mayat hidup (zombie).”
Untuk melakukan perubahan, orang harus memahami dulu hal yang akan dirubah. Niat untuk merubah sesuatu tetapi tidak memahami obyek yang akan dirubah adalah satu bentuk kekonyolan yang menggelikan. Untuk mengubah dunia, orang harus memahami dulu dunia. Lalu dengan cara apa kita memahami obyek yang akan dirubah? Cara yang paling efektif adalah dengan cara membaca buku.
Dunia mungkin tidak akan seperti yang kita rasakan seperti saat ini, apabila Karl Marx dan Fredrich Engels tidak menulis buku yang ditujukan untuk mengkritik keras tindakan brutal sistem kapitalisme dan sebagai panduan bagi kaum revolusioner dalam perjuangan kelas. Buku-buku dan pelbagai bahan bacaan yang ditulis oleh Marx dan Engels, tentu saja, memiliki pengaruh dan daya pukul yang hebat ketika buku-buku itu di baca, tidak “dihancurkan” atau didiamkan saja.
Tokoh Pavel (seorang buruh pabrik) dan Ibunda Plegia—dalam novel bergenre realisme sosialis-nya Maxim Gorki—dapat merubah keadaan karena sebelumnya didahului dengan membaca buku. Tidak hanya satu atau dua buku yang dibaca oleh Pavel dan Ibunda Plegia tetapi banyak buku. Dengan membaca buku-buku Marxis Pavel dan Ibunda Plegia paham betul obyek yang akan dirubah dan bagaimana cara merubahnya. Karl Marx dapat menulis teori-teori nya yang kritis karena sebelumnya banyak membaca buku. Tidak hanya membaca buku-buku ekonomi, politik maupun filsafat, buku-buku sastra dan ilmu-ilmu eksakta pun dilahap oleh Marx. Menurut pengakuan Karl Marx sendiri, “aku selalu berada di British Museum (perpustakaan)—untuk membaca buku dan menulis Das Kapital—mulai pukul 9 pagi sampai 8 malam.”[2] Seperti kata sahabat sejatinya, Fredrich Engels, “buku itu menjelma menjadi kitab suci kaum buruh.”[3]
Dengan banyak membaca buku orang berubah kesadarannya. Dia akan memiliki kesadaran (pikiran) kritis bahkan sangat kritis. Dengan kesadaran kritisnya itulah orang diharapkan dapat mengubah dunia. Atau paling tidak mempengaruhinya. Perubahan yang dimaksud di sini, tentu saja, perubahan yang lebih baik ke depan, bukan justru merusaknya.
Yang penting untuk dicatat adalah kegiatan membaca buku bukan hanya kegiatan untuk bersenang-senang. Kegiatan membaca buku harus ada relevansinya dengan tindakan mengubah. Mengubah keadaan yang buruk menjadi lebih baik. Seperti apa keadaan yang lebih baik itu? Jawabannya, di dalam garis Marxisme, yang dimaksud dengan keadaan yang lebih baik tentu saja mengubah keadaan yang menindas menjadi keadaan yang adil dan manusiawi. Tindakan untuk mengubah inilah yang kemudian mengimplikasikan keharusan untuk memihak. Bukan memihak kaum penindas, tetapi memihak buruh, tani, dan kaum miskin kota.

Mencintai Buku Itu Bukan Perkara Mudah
Mencintai buku itu berarti merawatnya dan menjaganya dari kerusakan. Lebih jauh lagi, mencintai buku, yang paling utama dan terutama, adalah membacanya.
Bagaimana cara merawat buku dan menjaga dari kerusakannya? Jawabannya, tidak mencoret-coretnya, melipat, dan menyimpannya di tempat yang aman. Jika hal itu tidak dilakukan, sama saja kita menghancurkan buku secara fisik dengan perlahan-lahan (penghancuran merangkak). Dan dengan hancurnya buku, sebagaimana telah penulis sampaikan di muka, berarti orang sudah menghancurkan memori yang terkandung di dalamnya.
Lalu bagaimana caranya agar orang dapat senang membaca buku? Jawabannya, yang pertama, orang harus memiliki motivasi yang kuat terlebih dahulu untuk membaca buku. Motivasilahn dirimu sendiri dengan segunung pertanyaan ketika kau mendatangi buku. Dan yang kedua, bagi pembaca buku pemula, harus telaten dalam membaca buku, memiliki keteguhan hati yang kuat dan tahan banting. Nah, di sinilah yang membuat mencintai buku itu bukanlah perkara mudah. Untuk masalah ketelatenan dalam membaca buku, Karl Marx dalam kata pengantar yang ditulisnya untuk buku Das Kapital, mengatakan, “setiap permulaan adalah sulit, hal ini berlaku untuk setiap ilmu pengetahun yang terkandung dalam buku (tambahan dan garis tebal dari penulis)...” Marx melanjutkan, “di bidang ilmu tidak ada jalan raya, dan hanya mereka yang tak gentar akan pendakian curam yang melelahkan itu yang mempunyai harapan untuk mencapai puncak-puncak pencerahan.”[4]
Untuk merengkuh (meraih) sesuatu yang orang inginkan, tentu saja, orang tidak bisa dengan begitu saja, secara instan, memperolehnya dengan mudah. Orang harus berusaha keras. Keteguhan dalam hal ini harus dimiliki setiap orang yang berharap dapat mencintai buku. Teguh dalam arti berusaha keras hingga keinginannya itu tercapai. Dan yakinlah, “satu jam penderitaan yang diikuti oleh enam jam kesenangan itu lebih baik, ketimbang satu jam kesenangan yang diikuti oleh enam jam penderitaan.
Lenin ketika memberikan kuliah di Universitas Swerdlov memberikan tip bagaimana caranya membaca dan memahami buku dengan baik. Ujung tombak aktivis revolusioner Marxis yang berhasil menegakkan kekuasaan proletariat bersama Leon Trotsky pada Oktober 1917 di Rusia ini, berkata seperti ini, “... janganlah berharap untuk mendapatkan pengertian yang jelas ketika pertama kali berusaha memahami bacaan yang sulit dan rumit, kawan-kawan harus membuat catatan-catatan mengenai bagian-bagian yang belum kawan-kawan pahami atau yang belum jelas bagi kawan-kawan. Dan pelajarilah itu untuk kedua, ketiga dan keempat kalinya, sehingga yang tadinya belum kawan-kawan pahami dapat dilengkapi dengan penjelasan kemudian, dengan membaca dan kuliah serta ceramah (baca: berbagai diskusi).[5]

BAHAN BACAAN

Fernando Baez, Penghancuran Buku Dari Masa ke Masa, Margin Kiri, Serpong-Tangerang Selatan, 2013.
Isaiah Berlin, Biografi Karl Marx, Jejak, Yogyakarta, 2007.
Karl Marx, Kapital: Sebuah Kritik Ekonomi Politik (Buku Pertama Proses Produksi Kapital), Hasta Mitra, Jakarta, 2004.
Maxim Gorki, Ibunda, Kalyana Mitra, Jakarta, 2000.
W.I. Lenin, Negara, Kuliah Yang Diucapkan di Universitas Swerdlov pada 11 Juli 1919, Jajasan Pembaharuan, Djakarta, 1955.


[1] Fernando Baez, Ibid. Halaman: 8.
[2] Karl Marx dalam Isaiah Berlin, Biografi Karl Marx, Jejak, Yogyakarta, 2007. Halaman: v.
[3] Fredrich Engels dalam Isaiah Berlin, Ibid. Halaman: v.
[4] Karl Marx, Kapital: Sebuah Kritik Ekonomi Politik (Buku Pertama Proses Produksi Kapital), Hasta Mitra, Jakarta, 2004. Halaman: xxv dan xxvi.
[5] W.I. Lenin, Negara, Kuliah Yang Diucapkan di Universitas Swerdlov pada 11 Juli 1919, Jajasan Pembaharuan, Djakarta, 1955. Halaman: 5.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar