Sabtu, 01 Juli 2017

ISLAM KOMUNIS

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono
 

Di setiap sisi bulan sabit, bintang Soviet akan menjadi lambang perang agung (Tan Malaka dalam Michael C. William, Halaman: 1)

Kawan-kawan kita yang mengaku dirinya komunis, tetapi masih ingin mengatakan pendapatnya untuk meniadakan agama Islam, mereka itu, saya berani menyatakan, bukan komunis sejati atau mereka belum memahami pendidikan komunis. Sebaliknya, mereka yang mengaku dirinya umat Islam, tetapi menolak komunisme, saya tiada takut untuk mengatakan bahwa mereka belum mengerti yang sebenarnya pendirian agama Islam (Haji Misbach)

Islam Sebagai Agama Pembebasan
Sebelum Muhammad wafat, Islam adalah agama yang revolusioner. Artinya, agama Islam berpihak kepada kaum yang lemah dan tertindas, bukan kepada kaum mustakbirin (orang yang kuat dan sombong). Kerevolusioneran ini, salah satunya, dapat ditemui dalam kitab suci Al-Qur’an surat Al-A’râf (7:137), “kepada kaum yang lemah, kami wariskan tanah yang telah kami berkati di timur dan barat. Dan laksanakanlah janji Tuhanmu yang indah atas bani israil karena kesabarannya. Dan kami hancurkan ciptaan Fir’aun dan kaumnya serta apa yang telah dibangunnya.” Bunyi ayat ini menunjukkan kalau agama Islam tidak memberikan toleransi kepada struktur yang menindas dan menganiaya orang-orang yang lemah. Penganiayaan tidak akan dilakukan kecuali oleh para penindas.[1] Dalam dunia modern, hari ini, si penganiaya itu (Fir’aun) telah berinkarnasi menjadi sistem yang sama menindasnya, yakni sistem kapitalisme. Dan, dengan demikian, dalam konteks agama Islam yang revolusioner, agama ini menempatkan kapitalisme sebagai musuh yang harus mereka perangi. Namun, setelah Nabi Muhammad meninggal dunia, Islam yang bersifat revolusioner itu segera menjadi agama yang konservatif, pasif, dan perpihak pada kepentingan penindas.[2]
 Kekonservatifan dan kepasifan agama Islam itu dalam perkembangannya mendapatkan tantangan dari penganut-penganut agama Islam yang revolusioner, diantaranya Hassan Hanafi, Asghar Ali Engineer, Haji Misbach, dan Tan Malaka. Mereka memunculkan kiri Islam dan Islam komunis sebagai tandingan dari Islam yang konservatif, pasif, dan berpihak kepada penindas. Haji Misbach misalnya, dengan lantang mengatakan, “... orang muslimin yang kaya-kaya mereka banyak yang tidak suka menepati perintah agamanya, dia itu tidak suka membantukan harta bendanya buat menguatkan keislaman kita, begitu pula orang yang pandai-pandai tentang pengetahuan islam mereka tidak suka melebarkan kepandaiannya untuk bangsanya yang masih ada di dalam kegelapan, hanyalah kepandaiannya seolah-olah dibuat diri sendiri. Malahan ada juga yang kepandaiannya buat kudung-menipu atau akalan guna kepemilikan sendiri. Itulah sebabnya bangsa kita muslimin yang masih bodoh-bodoh banyak yang terjerumus dengan tipu dayanya orang yang sengaja menghisap pada kita. Dia itu meninggalkan agama Islam membalik agama lain. Karena anti kita Islam tahu jikalau bumi putra bersatu agama Islam sudah tentu menjadikan kuat. Dan tidak mudah di hisap darahnya. Dari itu anti kita lantas membikin akalan buat menipu daya supaya bumi putra jangan satu agama islam.”[3] 
Menurut Haji Misbach, salahsatu syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang (termasuk juga orang-orang yang beragama Islam) adalah pikiran yang jujur dan suci. Tidak hanya itu saja, seorang muslim juga mempunyai tugas yang sangat penting. Bagi seorang yang bergama Islam, dia harus senantiasa berusaha menyelamatkan dunia dari kesewenang-wenangan, kedzaliman dan kekejian orang-orang yang serakah yang munafik. Dalam istilah Haji Misbach, orang-orang yang serakah dan munafik ini disebut kapitalis.[4]
Asghar Ali Engineer dalam sebuah buku yang ditulisnya mengatakan, ketika Muhammad masih hidup agama Islam merupakan kekuatan revolusioner yang memberikan tantangan kepada saudagar-saudagar kaya (kaum kapitalis). Mereka bertindak sewenang-wenang dengan kekuasaan yang mereka miliki, dengan kapital yang mereka miliki, mereka tidak menghargai fakir miskin, menginjak sisi kemanusian kaum tertindas dengan sangat mengerikan. Muhammad berseru kepada para penindas itu, “mereka mengumpulkan kekayaan dan menimbunnya, mereka mengira kekayaan akan mengekalkannya. Sama sekali tidak! Mereka akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Apakah Huthamah itu? Yaitu api yang dinyalakan oleh Allah.”[5] Menurut Asghar Ali Engineer agama Islam yang diselewengkan setelah wafatnya Muhammad harus dikembalikan ke sifatnya yang revolusioner. Melawan kapitalisme! Menumbangkan kapitalisme!
Sejalan dengan seruan Asghar Ali Engineer, Hassan Hanafi juga menyerukan agar Islam dikembalikan ke sifatnya yang revolusioner. Islam harus diletakkan sebagai agama perlawanan, yang menyerukan untuk melawan penjajahan, keterbelakangan, penegakan kebabasan, keadilan sosial, serta penyatuan umat Islam (Pan-Islamisme).[6]

Sinergisitas Antara Islam dan Komunis
Seperti halnya Haji Misbach dan Asghar Ali Engineer, Tan Malaka melihat ada persamaan antara Islam dan Marxisme. Menurut dia antara Islam dan Marxisme bukanlah dua musuh besar yang patut untuk dipertentangkan, justru mereka saling merasuki antara satu sama lain. Oleh sebab itulah, Tan Malaka lebih jauh mengatakan, apabila antara Islam dan Komunis disatukan hal itu akan menjadi kekuatan yang besar dan maha hebat untuk menghancurkan kapitalisme. Sepanjang hidupnya Tan Malaka berusaha untuk menyatukan antara Pan-Islamisme dan komunisme.
Kaum penganut Islam konservatif, selalu menempelkan cap di jidat ajaran Marxis-Komunis, kalau ajaran ini adalah atheis. Yang mereka rujuk untuk membenarkan tudingan sembrono (Jawa: gegabah) itu adalah materialisme Marx dan perkataan Marx kalau agama adalah candu. Penting untuk diluruskan, materialisme Marx dirumuskan sebagai metode analisis, tidak diposisikan sebagai pengganti Tuhan. Demikian pula ketika Marx mengatakan kalau agama adalah candu, yang dimaksud oleh Marx adalah agama menjadi candu ketika agama bukannya dijadikan sebagai alat pembebasan, tetapi oleh penganutnya dijadikan sebagai alat untuk mempasifkan diri, mengkonservatifkan diri, dan memberikan legitimasi terhadap status quo (sistem kapitalisme), atau dijadikan sebagai alat untuk menghegemoni atau menjinakkan kelas pekerja agar selalu dalam keadaan tidak kritis dan menerima penindasan tanpa perlawanan. Kekonservatifan dan kepasifan agama inilah yang dilawan oleh Tan Malaka. Dengan tegas dia mengatakan, cara beragama seperti itu adalah cara beragama yang diarahkan untuk memelihara logika mistika. Sedangkan logika mistika adalah alat yang paling efektif dari kelas penindas (kapitalis) untuk melumpuhkan nalar kritis dan menjinakkan massa rakyat untuk tidak berlawan.
Menurut Tan Malaka, dinamika agama-agama manusia, semenjak kelahirannya, menunjukkan tingkat-tingkat kecerdasan manusia (dari animisme-dinamisme ke Yahudi lalu ke Kekristen dan terakhir ke Islam). Semakin jauh dinamika agama semakin dia meninggalkan logika mistika, dan ini yang terjadi dalam Islam. Inti dari ajaran Islam, menurut dia, bukan pada kegaibannya, tetapi pada pembebasannya. Kegaiban adalah sarana untuk menguatkan keyakinan umatnya, kalau agama Islam adalah agama pembebasan, agama perlawanan, agama yang berpihak kepada kaum yang lemah dan tertindas.
Tan Malaka menulis, “saya sudah membaca Injil baik dalam bahasa Belanda, Inggris, atau Indonesia. Saya gemar membacanya karena memang banyak ajaran di dalamnya. Moral, susila, pengertian baik dan buruk yang kita peroleh dari cerita Nabi Ibrahim, Musa, Daud, Sulaiman, dan lain-lain. Bermakna tinggi sekali.”[7]
Baik dan buruk itulah, menurut Tan Malaka, yang merupakan inti dari ajaran agama. Kegaiban dalam agama menurutnya adalah cara dari Nabi-nabi itu untuk mendorong umat manusia melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik dan menghancurkan perbuatan-perbuatan buruk. Kenapa kegaiban yang dipakai, bukan pikiran rasional? Jawabannya, karena keterbatasan ilmu pengetahuan yang ada pada saat itu. Seandainya pada waktu itu ilmu pengetahuan sudah berkembang seperti saat ini, kegaiban itu pasti ditanggalkan oleh mereka. Hari ini karena keburukan itu adalah nafas atau nyawa dari kapitalisme, maka sistem ini berposisi sebagai musuh dari agama-agama manusia, terutama agama Islam.
Sebagaimana telah penulis sampaikan di muka, untuk menghancurkan keburukan yang merupakan nafas, nyawa, dan jantung kapitalisme, maka umat Islam harus bersatu (Pan-Islamisme). Persatuan ini penting. Karena melalui tindakan ini, sistem kapitalisme yang merupakan kesatuan yang terorganisir dari kelas penindas dapat ditumbangkan. Tidak berhenti sampai di situ, menurut Tan Malaka, ketika Pan-Islamisme telah terbentuk dan terbangun, maka dia harus disinergikan dengan komunisme. Jika hal itu tidak dilakukan, maka gerakan perlawanan dari umat Islam akan menemui jalan buntu. Alih-alih membebaskan umat islam yang mayoritas terdiri dari orang miskin, tanpa adanya sinergisitas dengan komunisme gerakan itu akan diambil alih oleh umat islam yang kaya dan konservatif dan kemudian membelokkannya ke arah yang berlawanan. Jika hal ini terjadi, maka mayoritas umat Islam yang miskin akan tetap dalam keadaannya yang semula, miskin dan tertindas.
Untuk menyatukan agama Islam dengan komunisme itulah Tan Malaka berusaha agar Pan-Islamisme dapat dijadikan agenda-taktik bagi komunisme internasional (komintern). Dan, hal itu dia lakukan ketika dia hadir pada kongres Komintern, di Petrograd, Moskow, dari tanggal 5 November sampai dengan 7 Desember 1922. Saat itu dia hadir mewakili kaum komunis Jawa (PKI). Pada sidang ke-7 pada tanggal 27 November 1922 dia mendapatkan kesempatan berpidato dalam bahasa Jerman. Berikut ini penulis kutipkan pidato itu:

... Pan-Islamisme adalah sebuah sejarah yang panjang. Pertama saya akan berbicara tentang pengalaman kita di Hindia Belanda dimana kita telah bekerja sama dengan kaum Islamis. Di Jawa kita memiliki sebuah organisasi yang sangat besar dengan banyak petani yang sangat miskin, yaitu Sarekat Islam. Antara tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota, mungkin sebanyak tiga atau empat juta. Itu adalah sebuah gerakan popular yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner.

Hingga tahun 1921 kita berkolaborasi dengan mereka. Partai kita, terdiri dari 13.000 anggota, masuk ke pergerakan popular ini dan melakukan propaganda di dalamnya. Pada tahun 1921 kita berhasil membuat Sarekat Islam mengadopsi program kita. Sarekat Islam juga melakukan agitasi pedesaan mengenai kontrol pabrik-pabrik dan slogan: Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin, semua kekuasaan untuk kaum proletar! Dengan demikian Sarekat Islam melakukan propaganda yang sama seperti Partai Komunis kita, hanya saja terkadang menggunakan nama yang berbeda.

Namun pada tahun 1921 sebuah perpecahan timbul karena kritik yang ceroboh terhadap kepemimpinan Sarekat Islam. Pemerintah melalui agen-agennya di Sarekat Islam mengeksploitasi perpecahan ini, dan juga mengeksploitasi keputusan Kongres Komunis Internasional Kedua: Perjuangan melawan Pan-Islamisme! Apa kata mereka kepada para petani jelata? Mereka bilang: Lihatlah, Komunis tidak hanya menginginkan perpecahan, mereka ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu berlebihan bagi seorang petani muslim. Sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tidak akan! Ini adalah cara seorang Muslim jelata berpikir. Para propagandis dari agen-agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasi ini dengan sangat baik. Jadi kita pecah. [Ketua: Waktu anda telah habis]

Saya datang dari Hindia Belanda, dan menempuh perjalanan selama empat puluh hari .[Tepuk Tangan]

Para anggota Sarekat Islam percaya pada propaganda kita dan tetap bersama kita di perut mereka, untuk menggunakan sebuah ekspresi yang popular, tetapi di hati mereka mereka masih bersama Sarekat Islam, dengan surga mereka. Karena surga adalah sesuatu yang tidak bisa kita berikan kepada mereka. Karena itulah, mereka memboikot pertemuan-peretemuan kita dan kita tidak bisa melanjutkan propaganda kita lagi.

Sejak awal tahun lalu kita telah bekerja untuk membangun kembali hubungan kita dengan Sarekat Islam. Pada kongres kami bulan Desember tahun lalu kita mengatakan bahwa Muslim di Kaukasus dan negara-negara lain, yang bekerjasama dengan Uni Soviet dan berjuang melawan kapitalisme internasional, memahami agama mereka dengan lebih baik, kami juga mengatakan bahwa, jika mereka ingin membuat sebuah propaganda mengenai agama mereka, mereka bisa melakukan ini, meskipun mereka tidak boleh melakukannya di dalam pertemuan-pertemuan tetapi di masjid-masjid.

Kami telah ditanya di pertemuan-pertemuan publik: Apakah Anda Muslim—ya atau tidak? Apakah Anda percaya pada Tuhan—ya atau tidak? Bagaimana kita menjawabnya? Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim [Tepuk Tangan Meriah], karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia! [Tepuk Tangan Meriah] Jadi kami telah mengantarkan sebuah kekalahan pada para pemimpin mereka dengan Al-Qur’an di tangan kita, dan di kongres kami tahun lalu kami telah memaksa para pemimpin mereka, melalui anggota mereka sendiri, untuk bekerjasama dengan kami.

Ketika sebuah pemogokan umum terjadi pada bulan Maret tahun lalu, para pekerja Muslim membutuhkan kami, karena kami memiliki pekerja kereta api di bawah kepemimpinan kami. Para pemimpin Sarekat Islam berkata: Anda ingin bekerjasama dengan kami, jadi Anda harus menolong kami juga. Tentu saja kami mendatangi mereka, dan berkata: Ya, Tuhan Anda maha kuasa, tapi dia telah mengatakan bahwa di dunia ini pekerja kereta api adalah lebih berkuasa! [Tepuk Tangan Meriah] Pekerja kereta api adalah komite eksekutif Tuhan di dunia ini. [Tertawa]

Tapi ini tidak menyelesaikan masalah kita, jika kita pecah lagi dengan mereka kita bisa yakin bahwa para agen pemerintah akan berada di sana lagi dengan argumen Pan-Islamisme mereka. Jadi masalah Pan-Islamisme adalah sebuah masalah yang sangat mendadak.

Tapi sekarang pertama-tama kita harus paham benar apa arti sesungguhnya dari kata Pan-Islamisme. Dulu, ini mempunyai sebuah makna historis dan berarti bahwa Islam harus menaklukkan seluruh dunia, pedang di tangan, dan ini harus dilakukan di bawah kepemimpinan seorang Khalifah [Pemimpin dari Negara Islam – Ed.], dan Sang Khalifah haruslah keturunan Arab. 400 tahun setelah meninggalnya Muhammad, kaum muslim terpisah menjadi tiga Negara besar dan oleh karena itu Perang Suci ini telah kehilangan arti pentingnya bagi semua dunia Islam. Hilang artinya bahwa, atas nama Tuhan, Khalifah dan agama Islam harus menaklukkan dunia, karena Khalifah Spanyol mengatakan, aku adalah benar-benar Khalifah sesungguhnya, aku harus membawa panji [Islam], dan Khalifah Mesir mengatakan hal yang sama, serta Khalifah Baghdad berkata, Aku adalah Khalifah yang sebenarnya, karena aku berasal dari suku Arab Quraish.

Jadi Pan-Islamisme tidak lagi memiliki arti sebenarnya, tapi kini dalam prakteknya memiliki sebuah arti yang benar-benar berbeda. Saat ini, Pan-Islamisme berarti perjuangan untuk pembebasan nasional, karena bagi kaum Muslim Islam adalah segalanya: tidak hanya agama, tetapi juga Negara, ekonomi, makanan, dan segalanya. Dengan demikian Pan-Islamisme saat ini berarti persaudaraan antar sesama Muslim, dan perjuangan kemerdakaan bukan hanya untuk Arab tetapi juga India, Jawa dan semua Muslim yang tertindas. Persaudaraan ini berarti perjuangan kemerdekaan praktis bukan hanya melawan kapitalisme Belanda, tapi juga kapitalisme Inggris, Perancis dan Italia, oleh karena itu melawan kapitalisme secara keseluruhan. Itulah arti Pan-Islamisme saat ini di Indonesia di antara rakyat kolonial yang tertindas, menurut propaganda rahasia mereka—perjuangan melawan semua kekuasaan imperialis di dunia.

Ini adalah sebuah tugas yang baru untuk kita. Seperti halnya kita ingin mendukung perjuangan nasional, kita juga ingin mendukung perjuangan kemerdekaan 250 juta Muslim yang sangat pemberani, yang hidup di bawah kekuasaaan imperialis. Karena itu saya tanya sekali lagi: haruskah kita mendukung Pan-Islamisme, dalam pengertian ini? ...[8]

Untuk meyakinkan komintern kalau kaum komunis harus mengambil taktik bekerjasama dengan Pan-Islamisme, Tan Malaka dalam pidatonya tersebut menandaskan bahwa makna dari Pan-Islamisme saat itu telah mengalami pergeseran. Pada awalnya Pan-Islamisme mengandung arti penaklukan wilayah untuk diletakkan di bawah kekuasaan Islam sebagai bentuk tindakan merealisasikan kepentingan penyebaran agama Islam, namun dalam perkembangannya, pada saat ini, Pan-Islamisme telah berubah menjadi perang terhadap kapitalisme dan imperialisme. Dia juga meyakinkan, kalau kaum komunis tidak mengambil peranan sebagai mitra dari Pan-Islamisme, maka kapitalisme dan imperialisme akan memanfaatkannya untuk kepentingan menghancurkan komunisme, dengan cara menghasut kalau komunisme adalah ajaran yang sesat, karena ideologi ini mengajarkan kepada kaum yang tertindas [kaum tani] untuk menjadi atheis. Hasutan itu tentu saja akan mendapat respon dari sang petani, misalnya seperti ini:, “sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tidak akan!
Menurut Tan Malaka penting untuk menyatukan kekuatan Islam dengan Komunisme. Caranya bagaimana? Jawabannya, mengkomuniskan ajaran-ajaran Islam, dan menyadarkan orang-orang komunis kalau Islam memiliki kepentingan yang sama dengan Marxisme, dan menyadarkan orang-orang Islam kalau Islam yang sejati adalah Islam komunis. Terkait dengan hal ini Haji Misbach, untuk kepentingan menyadarkan orang-orang komunis yang anti-islam dan orang islam yang anti-komunis, pernah berkata seperti ini, “kawan-kawan kita yang mengaku dirinya komunis, tetapi masih ingin mengatakan pendapatnya untuk meniadakan agama Islam, mereka itu, saya berani menyatakan, bukan komunis sejati atau mereka belum memahami pendidikan komunis. Sebaliknya, mereka yang mengaku dirinya umat Islam, tetapi menolak komunisme, saya tiada takut untuk mengatakan bahwa mereka belum mengerti yang sebenarnya pendirian agama Islam.”[9]

Kelas Pekerja: Komite Eksekutif Tuhan di Dunia
Di dalam tulisannya Munir Che Anam mengutip sebuah kalimat dari ayat suci al’quran (Q.S. 53:39), “dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya sendiri.”[10] Kalimat itu merefleksikan kalau kelas pekerja/buruh menduduki posisi yang mulia di dalam agama Islam. Kemulian itu terletak pada “kerja” sebagai dasar hubungan manusia dengan Tuhannya. Jadi, Tuhan hanya akan memberikan upah/rezeki kepada manusia jika manusia mengusahakan sendiri atau bekerja. Jika manusia tidak bekerja tetapi dia mendapatkan rezeki—bukan karena usahanya atau hasil kerjanya sendiri, itu artinya dia telah menyalahi hukum agama Islam. Oleh sebab itulah, Islam wajib untuk memeranginya. Lalu pertanyaannya, siapa yang harus memeranginya? Jawabannya adalah kelas pekerja itu sendiri. Berangkat dari sinilah, relevan kiranya jika Tan Malaka di dalam kongres Komintern itu mengatakan kalau “kelas pekerja adalah komite eksekutif Tuhan di dunia.” Yang artinya, kelas pekerja di satu sisi berposisi sebagai manusia yang merealisasikan perintah Tuhannya, “bekerja jika ingin makan,” dan di sisi lain dia juga diperintahkan oleh Tuhan untuk memerangi orang yang tidak bekerja tetapi mendapatkan rezeki dengan cara merampas hasil kerja orang lain. Si perampas yang dimaksud ini tidak lain adalah kaum kapitalis.


GAJAH MATI MENINGGALKAN GADING
MACAN MATI MENINGGALKAN BELANG
YESUS MATI MENGINGGALKAN INJIL
MUHAMMAD MATI MENINGALKAN ALQUR'AN
TAN MALAKA MATI MENINGGALKAN MADILOG

Kelas pekerja sebagai pihak yang diperintahkan oleh Tuhan untuk menumbangkan sistem kapitalisme dengan cara berperan dalam kepemimpinan gerakan rovulusioner dapat ditemui di dalam ayat suci al-quran (Q.S. 28:5), sebagai berikut: “Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi.”[11] Bunyi ayat suci ini menunjukkan kalau kelas pekerja atau kaum buruh memiliki peran sebagai “komite eksekutif Tuhan di dunia,” yang artinya dia memegang peranan sebagai pelopor dalam gerakan perubahan sosial. Dengan demikian, kepentingan proletariat selain diperjuangkan oleh Marxisme dia juga mendapatkan legitimasi dari ajaran agama [Islam]. Dan itu artinya, antara Islam dan komunis memiliki kepentingan yang sama, mendorong kelas pekerja untuk mengambil alih kekuasaan, dan duduk sebagai kelas yang terorganisir sebagai kelas yang berkuasa. Sekali lagi, islam yang sejati adalah Islam komunis.

Pemisahan Antara Aktivitas Ritual dan Perjuangan Kelas
Ketika berpidato di depan kongres komintern Tan Malaka melontarkan argumen, “... ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang muslim, tetapi ketika saya berada di depan banyak orang saya bukan seorang muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis diantara banyak manusia!” Apa maksud dari perkataan Tan Malaka itu? Berikut ini penulis berusaha untuk memberikan ulasannya.
Yang dilontarkan oleh Tan Malaka itu baru bisa dipahami apabila orang menggunakan metode berpikir yang ditawarkan oleh Tan Malaka di dalam Madilog. Di dalam karya itu dia mengatakan ketika kita berbicara tentang dialektika, maka kita tidak bicara tentang pernyataan dan jawaban “iya” atau “tidak,” tetapi kita berbicara tentang keduanya. Dalam perspektif ini baragama artinya berpikir rasional—di dalam ajaran agama, sebagaimana telah penulis sampaikan, orang dituntut untuk mengusahakan sendiri apa yang menjadi kebutuhannya. Dan, ketika orang membutuhkan perangkat untuk memahami dunia, pada saat itulah dia menggunakan otaknya sebagai perangkat itu. Itu artinya, dia harus mendayagunakan pikiran rasionalnya untuk memahami dunia. Sedangkan dalam perspektif Tan Malaka untuk memahami hal itu yang harus dilakukan adalah memahami yang konkret dengan menggunakan penjelasan yang konkret. Nah, pada saat inilah, agar pikiran dapat menangkap pemahaman dan penjelasan yang konkret tentu saja dia harus memisahkan antara yang konkret dengan yang tidak konkret. Ritual dalam agama adalah sesuatu yang tidak konkret yang sifatnya sangat subyektif. Oleh sebab itulah, dalam perspektif Madilog, beragama untuk diri sendiri harus dipisahkan dengan beragama untuk kepentingan pembebasan. Beragama untuk kepentingan diri sendiri, keterlibatan dan ketenggelaman manusia dalam tindakan-tindakan abstrak dan magis, tidak bisa dicampuradukan dengan tindakan-tindakan di dunia konkret. Jika hal itu dilakukan, maka orang akan mudah tersesat di jalan berlawan. Musuh, yang dalam istilah Tan Malaka iblis diantara orang banyak, akan mudah untuk mematahkan semangat berlawan. Dengan kata lain, orang akan mudah untuk didemoralisasi.
Dengan demikian, ketika Tan Malaka mengatakan kalau “di hadapan Tuhan dia adalah seorang muslim,” itu artinya, dia beragama Islam untuk kepentingannya sendiri—ketundukan kepada Tuhan untuk merengkuh hal-hal yang sifatnya spiritual (tidak konkret). Dan, ketika dia mengatakan “pada saat saya berada di depan orang banyak saya mengatakan saya bukan muslim,” itu artinya, agama Islam yang dianutnya adalah agama pembebasan atau perlawanan yang hanya bisa direalisasikan apabila tidak dikaveling-kaveling aku orang muslim dan kamu bukan, orang ini dan itu adalah muslim dan itu bukan. Bagi Tan Malaka agama yang membebaskan dan berlawan adalah agama yang berprinsip bahwa semua orang beragama (apapun agamanya: entah itu Islam, Kristen, Katholik, Budha, Hindu, Atheis, dan lain sebagainya) adalah kawan, dengan syarat agama-agama itu adalah agama pembebasan bukan agama yang membuat penganutnya memaknainya (entah itu disadari atau tidak) sebagai candu. Akhirnya, dapatlah dipahami, kalau islam yang dianut oleh Tan Malaka adalah Islam Komunis bukan islam konservatif atau reaksioner. Agama, dalam ajaran Madilog Tan Malaka, ketika dihadapkan kepada yang konkret, di satu sisi dua entitas ini saling menegasi, namun di sisi lain mereka saling merangkul.

END NOTE:
 
[1] Abad Badruzaman, Kiri Islam Hassan Hanafi: Menggugat Kemapanan Agama dan Politik, Tiara Wacana, Yogyakarta, 2005. Halaman: 32.
[2] Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000. Halaman: 8.
[3]Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Grafiti, Jakarta, 1997. Halaman: 181.
[4] Nor Hiqmah, H.M. Misbach: Kisah Haji Merah, Komunitas Bambu, Depok, 2008. Halaman 32.
[5] Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan. Halaman: 4.
[6] Abad Badruzaman, Kiri Islam Hassan Hanafi: Menggugat Kemapanan Agama dan Politik. Halaman: 59.
[7] Tan Malaka, Madilog. Halaman: 363-364.
[8] Tan Malaka, Komunisme dan Pan-Islamisme. Halaman: 50-51.
[9] Nor Hiqmah, H.M. Misbach: Kisah Haji Merah. Halaman: 80.
[10] Munir Che Anam, Muhammad SAW & Karl Marx: Tentang Masyarakat Tanpa Kelas, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2008. Halaman: 150.
[11] Munir Che Anam, Muhammad SAW & Karl Marx: Tentang Masyarakat Tanpa Kelas. Halaman: 150-151
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar