Minggu, 06 Agustus 2017

MEMAHAMI ARTI CINTA BERSAMA ERICH FROMM



Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono


Erich Fromm, seorang psikoanalisis neo-Marxis dari mazhab frankfrut-Jerman, di dalam buku yang ditulisnya, “Escape From Freedom atau Lari dari Kebebasan”, mengatakan kalau sebagian dari kita sesungguhnya tengah terperangkap dalam pasungan zaman modern. Tidak hanya itu saja, pengkritik Sigmund Freud dan perekonstruksi pemikiran Marx itu, mengatakan bahwa sebagian dari kita, dinilai secara eksistensialis, tengah tidak mampu menjawab problem keteralienasian atau keadaan terasing. Dia juga mengatakan, sebagian orang telah gagal mengatasi keterasingannya, hingga pada gilirannya dia lari dari kebebasan yang diberikan oleh alam kepadanya.

Kebohongan, kemunafikan, dan segala bentuk kedurjanaan sebenarnya—menguntit apa yang didalilkan oleh Fromm—merupakan bentuk dari usaha manusia mengatasi eksistensinya yang terasing!

Sebenar hanya satu yang dapat dilakukan manusia untuk mengatasi keterasingannya tersebut yaitu dengan cara: Merawat pohon CINTA!

Tapi tunggu dulu, kita jangan terburu-buru mendefinisikan cinta secara naif. Cinta tidak dapat didefinisikan secara linear yang memandang kalau cinta itu hanya berorientasi pada hubungan antara perempuan dan laki-laki yang bersifat melankolis. Salah besar jika kita mendefinisikan cinta seperti itu, kawan!

Cinta itu seperti seni”, begitu kata Erich Fromm. Cinta harus dirawat dan diperjuangkan. Sama seperti halnya kita mencintai seni musik, jika kita mencintai musik kita akan merawat kemampuan kita dalam bermusik, dengan cara melatih titinada, dan berbagai keterampilan lain dalam bermusik. Tidak hanya itu, perawatan itu harus bersifat continue, berkesinambungan, terus-menerus, atau tidak bersifat sementara atau “hangat-hangat tai ayam”.

Semakin seni terus dirawat dan dipelihara, seni akan semakin menampakkan keindahannya. Keindahan yang muncul dari si pencinta seni yang memang benar-benar merawat seni. Sama seperti halnya dengan cinta, jika dia dirawat terus menerus dia akan semakin menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara manusia satu dengan manusia lainnya.

Cinta adalah dua di dalam satu, artinya antara kita satu sama lain dituntut untuk saling mengembangkan dan menghargai keunikan antara kita dan dengan hal itulah kita menjadi satu dan merontokan dinding pembatas diantara kita. Kita berbeda agama, tetapi satu, kita berbeda bahasa, tetapi satu, kita berbeda status sosial tetapi satu, dan kita berbeda jenis kelamin, tetapi satu.

Perbedaan harus ada dalam cinta, karena hal itu akan melatih kita untuk berempati dan mengembangkan kasih sayang antara satu sama lain.

Hal yang harus diingat dalam cinta adalah unsurnya. Cinta memiliki unsur-unsur sebagai berikut ini:
1. Pengertian
2. Tanggung Jawab
3. Perhatian; dan
4. Pemahaman

Pengertian maksudnya kita dituntut untuk menghidupi eksistensi pihak lain dengan ikhlas atau tanpa pamrih. Hal itu, kita lakukan karena kita manusia yang tidak mungkin hidup sendiri tanpa adanya manusia lain. Kebersamaan mensyaratkan adanya pengertian untuk memenuhi kebutuhan antarsesama. Misalnya orang butuh kedamaian, ya, berilah kedamaian dengan cara tidak berperang, memfitnah, mengadu domba, permusuhan, menjilat, dan lain sebagainya.

Tanggung jawab, artinya kita mampu untuk merespon sisi-sisi kemanusiaan ketika kita melihat penderitaan orang lain. Kawan, hidup yang bermakna adalah ketika dihati kita ada kepedulian terhadap sesama.

Perhatian, artinya kita selalu berempati terhadap apa yang dialami atau diderita oleh orang lain.

Dan yang terakhir adalah pemahaman. Kita dalam menapaki jalan kehidupan ini seharusnya paham betul apa yang dibutuhkan secara essensial terhadap kebutuhan psikis kita sendiri dan psikis orang lain. Salah satu cara kita untuk memahami orang lain tentunya dengan cara melebur dalam kehidupan mereka, menyatu, berjuang dan mengkoordinasikan kekuatan kita untuk melawan segala bentuk penyelewengan nilai-nilai kemanusiaan, eksploitasi (de elhome par elhome) dan berbagai bentuk penindasan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar