Kamis, 28 Desember 2017

TEORI PERKEMBANGAN TIDAK BERIMBANG DAN TERGABUNGKAN

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono

Menarik untuk mencatat, kalau Kapitalisme Eropa dan Kapitalisme di negara-negara terbelakang memiliki karakter yang berbeda. Perbedaanya terletak di sini. Pertama, industri di negara-negara Eropa lebih maju ketimbang di negara-negara terbelakang. Kedua, demokrasi borjuis di negara eropa lebih berkembang ketimbang di negara-negara dunia ketiga.


Pertanyaannya, mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya bisa kita lacak sampai ke masa hidup Karl Marx ditahun 1800-an. Pada masa itu, Marx mengamati perkembangan kapitalisme di Eropa, seperti Jerman, Inggris, dan Perancis, telah sampai titik kematangannya. Kematangan yang ditandai semakin berkembangnya alat-alat produksi, melimpahnya komoditas yang diproduksi, dan semakin membludaknya proletariat yang dilahirkan.
Kondisi seperti itu, menurut Marx, akan mendorong matangnya revolusi. Dia berspekulasi seperti itu, karena kapitalisme eropa telah mengalami krisis over produksi yang disebabkan oleh sistem ekonomi-politiknya yang berwatak kontradiktif.
Krisis over produksi itu, tidak hanya terjadi satu atau dua kali, kawan-kawan, tetapi berkali-kali.
Kita bisa membayangkan apa dampaknya jika krisis terjadi berkali-kali. Ya. Penindasan dan pemiskinan terjadi secara radikal, sehingga membangkitkan perlawanan dari kelas yang tertindas: proletariat.

Berangkat dari kondisi-kondisi material seperti itu, Karl Marx dan Friedrich Engels, pada waktu itu, sangat optimis revolusi akan meletus di Eropa.
Namun, kenyataan berkata lain, kawan-kawan. Revolusi proletariat tidak meletus.

Sistem ekonomi kapitalisme memiliki resep jitu untuk memberikan solusi terhadap krisis yang dialaminya itu. Solusinya adalah mereka mengekspor modal berlebih mereka ke negara-negara terbelakang. Meminjam istilah yang digunakan Karl Heindrich Marx dan Friedrich Engels (Freddy), demi kepentingan menyelamatkan modal mereka dari krisis, mereka bersarang di mana-mana, mengadakan hubungan di mana-mana, dan menindas di mana-mana.

Sebelum aku memberikan ulasan lebih jauh, mungkin diantara kawan-kawan ada yang bertanya, "berarti teori Marx terbukti palsu, dong?"
Kawan, sebagai seorang Marxis, kita harus meletakkan teori Marx di dalam analisis Materialisme Dialektika, bukan pada kerangka berpikir logika formal yang sangat banyak keterbatasan dan kekurangannya itu. Materialisme Dialektika selalu menempatkan materi, fenomena riil, dan kenyataan sosial sebagai pendorong terjadinya gerak perubahan, ketika realitas sosial berubah, maka teori pun ikut berubah. Marx membangun teorinya berdasarkan kondisi material yang pada saat itu sedang eksis, bukan berdasarkan hasil perenungan di dalam goa, di atas bukit, atau di pucuk menara gading. Kondisi material yang berubah-ubah menggiring Marx untuk terus meng-update teorinya. Dia melakukan itu, demi memberikan rumusan yang tepat bagi kelas buruh untuk menggulingkan kelas "bajingan" kapitalis.

Justru, melalui kekeliruannya itu, Marx dalam studi-studi lanjutannya tiba pada perumuskan "Teori Revolusi Permanen" yang secara aplikatif akan dikembangkan oleh Leon Trotsky.

Baiklah. Agar tidak keluar jauh dari tema, kita kembali pada ulasan pokok "Perkembangan Yang Tidak Berimbang dan Tergabungkan".
Ketika kelas-kelas kapitalis di Eropa mengekspor modalnya ke negara-negara miskin atau terbelakang, itu artinya mereka harus mencangkokkan sistem ekonomi kapitalisme ke sistem ekonomi feodalisme seperti yang terjadi di Rusia, Indonesia, China, dan negara-negara terbelakang lainnya.
Ketika pencangkokan itu terjadi, ya, tentu saja, itu menyebabnya ketidakseragaman berkembangan antara kapitalisme eropa dan negara terbelakang. Dengan kata lain, terjadi perkembangan yang tidak seimbang antara kapitalisme di eropa dan negara dunia ke-3.

Mari, kawan, kita lacak di mana letak dari ketidak seimbangan perkembangan itu.

Diawal tulisanku ini, di atas, aku telah menyinggung kalau negara kapitalisme di Eropa demokrasi borjuisnya sudah jauh lebih maju ketimbang di negara-negara berkembang. Begitu juga, dengan alat-alat produksi atau industri manufakturnya. Nah, di sinilah letak dari ketidaksaimbangannya itu, kawan.
Ketidakseimbangan itu, ya, tentu saja, berkonsekuensi terhadap terjadinya perbedaan strategi dan taktik perjuangan antara kelas buruh di Eropa dan negara-negara terbelakang.

Marx dan Engels menandaskan, apabila perjuangan kelas ingin dimenangkan oleh buruh, maka harus ada syarat material yang menjadi basis kemenangannya, yakni semakin maju dan berkembangnya alat produksi dan demokrasi borjuis.

Kedua syarat itu, tidak ada di negara-negara berkembang. Nah, untuk kepentingan mendorong munculnya syarat-syarat itulah, maka taktik yang dapat dilakukan oleh kelas buruh di negara-nagara terbelakang adalah mendorong meletusnya revolusi demokrasi borjuis, dan dilakukannya perebutan alat-alat produksi. Samua itu, harus dipimpin dan diletakkan di bawah kekuasan kelas buruh yang terorganisasi.

Dengan begitu, tugas-tugas revolusi borjuis demokratik berada di tangan kelas buruh.
Dititik inilah terdapat perbedaan taktik yang tajam antara Menshevisme dan Bolshevismenya enin-Trotsky.
Bolshevismenya Lenin dan Trotsky menandaskan, pelaksanaan tugas-tugas borjuis demokratik harus ada di dalam genggaman buruh.
Berbeda halnya dengan Menshevisme. Menurut golongan kontra revolusioner ini, tugas-tugas borjuis demokratik harus ada di tangan kelas kapitalis. Berangkat dari sinilah, muncul prinsip-prinsip kolaborasi kelas dari kubu Menshevisme.

Pertanyaannya, mengapa tugas-tugas borjuis demokratik harus berada di dalam genggaman tangan buruh, atau, dengan kata lain, harus berada di bawah hegemoni kelas buruh? Jawabanya tidak sederhana, kawan. Berikut ini, aku akan mengulasnya secara bertahap.

Walaupun, perkembangan kapitalisme Eropa dan negara-negara dunia ke-3 memiliki perbedaan yang cukup signifikan, namun ada watak yang "TERGABUNGKAN" antarkapitalisme di seluruh dunia.
Watak dasar dari kapitalisme adalah eksploitatif. Sebagai syarat untuk melakukan akumulasi kapital, kelas kapitalis harus mengubah modal awalnya menjadi surplus atau keuntungan yang berlipat ganda. Bagaimana caranya? Jawabannya, dengan cara merampas hasil kerja buruh. Watak dasar eksploitatif itu, terjadi di mana pun kapitalisme berada, entah di negara-negara Eropa entah di negara-negara miskin. Dengan kata lain, watak itu seragam atau tergabungkan.

Watak dasar kedua, yang tergabungkan, adalah kapitalisme harus memiliki nafsu untuk bersaing apabila dia ingin mempertahankan keberlangsungannya dalam melakukan akumulasi kapital. Wataknya yang kompetitif itu, mengharuskan setiap kelas kapitalis mendorong terus terjadinya pembaharuan mesin-mesin produksi. Terkait dengan yang terakhir ini, Marx dan Engels di dalam pamflet yang mereka tulis pada tahun 1848 "Manifesto Partai Komunis" menulis, "Syarat dari eksistensi kapitalisme adalah pembaharuan secara terus menerus alat-alat produksi yang semakin termesinkan".

Watak dasar yang ketiga, adalah LICIK. Dimanapun itu, apabila kapitalisme terancam oleh rezim lama atau saingannya (sesama kapitalis) mereka tidak segan-segan bergandengan tangan dengan kelas yang dieksploitasinya: proletariat. Namun, apabila ancaman itu sudah bisa diatasi oleh proletar, mereka akan memperlemah posisi prolerat,dan kemudian menghancurkannya.
Watak licik yang tergabungkan tersebut, telah dibuktikan oleh Marx dalam beberapa tulisannya, diantaranya dalam buku "Brumaire ke-18 Louis Bonaparte" dan "Revolusi dan Kontra-Revolusi". Di dalam Brumaire, Marx menunjukkan bahwa pada tahun 1848, pada saat Raja Louis Philipe di Perancis digempur oleh kelas buruh, kelas kapitalis memberikan dukungan penuh terhadap kelas proletar. Gempuran, yang pada gilirannya membuahkan hasil berupa diberikannya hak untuk bekerja bagi kelas buruh, perbaikan kondisi kerja, kenaikan upah, dan lain sebagainya. Namun, pada saat kelas kapitalis sudah merasa dapat mengamankan kepentingan modalnya, segera mereka menghancurkan kelas buruh, dan kemudian mendorong Napoleon Bonaparte terpilih menjadi kaisar untuk memberikan perlindungan terhadap kepentingan modal yang sudah dalam posisi aman itu. Watak licik seperti itu, disingkap pula oleh Marx dalam revolusi borjuis Jerman yang gagal pada tahun 1848, dan dalam revolusi-revolusi borjuis di tempat-tempat lain.
Watak kapitalis yang licik itulah yang kemudian mendorong Marx menyerukan kepada kelas buruh di seluruh dunia, dengan seruan: HARAM HUKUMNYA BERKOLABORASI DENGAN KELAS KAPITALIS.

Seruan dari Marx itulah, yang dipegang teguh oleh Leon Trotsky dalam memenangkan sosialisme di tanah Rusia tahun 1917--1921.
Basis material kelicikan dan seruan Marx tersebut terletak di sini, kawan. Baik secara teoritis maupun secara faktual kepentingan antara kelas kapitalis dan proletar bertentangan. Di satu sisi kelas kapitalis memiliki kepentingan mengakumulasi kapital semaksimal mungkin, bersamaan dengan itu, kelas buruh berkepentingan untuk mendapatkan upah sebesar mungkin sesuai dengan banyaknya curahan kerja untuk memproduksi komoditas.
Kepentingan yang berkontradiksi itulah, yang membuat kelas kapitalis harus bermuka dua ketika berhadapan dengan kelas prolerar. Kalau tidak begitu, kapitalis terancam oleh kepentingan kelas buruh tersebut, terlebih lagi apabila kelas buruh sadar kalau kepentingan tertinggi mereka mengkolektifkan alat-alat produksi, akan semakin bermuka dua kelas penindas ini. Berangkat dari situ, kelicikan kelas kapitalis adalah watak yang bersifat intrinksik, melekat kuat dalam struktur psikologis kelas kapitalis.

Kapitalisme Eropa ketika memenetrasikan modalnya ke negara-negara terbelakang membawa serta watak-watak dasarnya itu. Di Rusia, setelah mereka melakukan akumulasi primitif, mereka mengeksploitasi kemampuan kerja buruh-buruh yang mayoritas diambil dari kaum petani miskin, perempuan, dan anak-anak.

Mereka menekan upah buruh serendah mungkin agar memiliki daya saing yang kuat di pasar-pasar Eropa--karena produk-produk mereka yang murah.
Untuk kepentingan memuluskan akumulasi kapital, kelas kapitalis juga harus merangkul, untuk sementara, rezim feodalisme yang sedang berkuasa, walaupun rezim itu merugikan si kapitalis, karena menghisap keuntungan yang seharusnya masuk ke kantong kapitalis dan mengambat perkembangannya melalui berbagai rintangan. Namun, bagi mereka, ini hanya bersifat sementara, pengorbanan awal yang harus mereka pilih, walau ini adalah pilihan pahit.
Kapitalisme Eropa yang menyebar ke negara-negara terbelakang, yang menurut Trotsky sebagai rantai terlemah dalam sistem kapitalisme, tidak hanya harus berkompromi dengan rezim feodal berikut kebudayaannya yang memuakkan, tetapi juga harus mendorong terjadinya revolusi borjuis demokratik. Di titik ini, mereka memainkan wataknya yang licik. Revolusi model seperti itu, penting sebagai kanal untuk menyisipkan kepentingan kapital mereka sambil meremukkan kolabolatornya: feodalisme.

Bersamaan dengan itu, untuk mewujudkan cita-cita sosialisme, syarat yang harus ada adalah telah dilaksanakannya demokrasi borjuis yang akan mendorong semakin maju dan berkembangnya alat-alat produksi. Karena, dengan semakin berkembangnya alat produksi hal itu akan memungkinkan dapat diproduksinya kebutuhan hidup secara melimpah, sehingga distribusi kebutuhan hidup secara terencana dan merata dalam lanskap perwujudan masyarkat komunis dapat direalisasikan.

Jadi, ada pertemuan kepentingan yang sama antara kelas kapitalis dan proletar, yakni mendorong terjadinya revolusi borjuis demokratik.
Walau ada pertemuan kepenting, tentu saja, dua kelas tersebut memiliki proyek kepentingan ke depan yang saling berbenturan. Di sini, kita bisa melihat berlakunya filsafat Marxis--Materialisme Dialektika--di ranah perjuangan kelas. Di pihak kapitalis, revolusi borjuis bermakna menghancurkan penghalang-penghalang kapital, sedangkan bagi proletar revolusi bermakna sebagai kanal untuk mewujudkan sosialisme dan menghancurkan sistem kapitalisme.
Kapitalisme eropa, yang mencangkokkan sistem ekonomi-politiknya di negara-negara dunia ke-3, menemukan kenyataan petani masih terikat dengan tanah-tanah feodalnya, kuatnya chauvinisme, dan kota-kota belum bersifat modern--masih difungsikan hanya sebagai pusat ketentaraan dan administrasi feodal. Kondisi seperti itu harus dihancurkan, agar tersedia buruh-buruh bebas tidak bertanah dan bebas pula dari tuan feodalnya, terhapusksnnya pajak-pajak feodal yang tersebar-berceceran diberbagai daerah, serta terciptanya pasar-pasar kapitalis agar mumudahkan mereka dalam memproduksi dan mendistribusikan komiditas.

Dengan begitu, reforma agraria, perwujudan nasionalisme, dan pemisahan secara radikal desa dan kota, adalah tugas-tugas borjuis demokratik yang harus dituntaskan.

Dalam sudut pandang Lenin dan Trotsky pelaksanaan tugas-tugas borjuis demokratik tersebut penting dilaksanakan sebagai batu loncatan untuk mewujudkan sosialisme. Oleh karena itu, tugas-tugas itu harus diemban oleh kelas buruh. Trosky, di dalam karyanya "Hasil dan Prospek" menulis, "Kaum buruh harus berkuasa sebelum tuannya (kelas kapitalis)", yang dapat dimaknai kekuasaan kelas buruh/proletar dapat terlaksana apabila tugas-tugas borjuis demokratik, sebagai tahap transisi, berada di bawah hegemoni kelas buruh.
Berangkat dari situ, maka dapatlah dipahami tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh organisasi Marxis (kelas buruh) di negara dunia ke-3 sebagai satu tahapan untuk mewujudkan sosialisme diantaranya: Pelaksanaan reforma agraria, penciptaan demokrasi seluas-luasnya, tuntutan pajak progresif, dan pembebasan kaum perempuan dari belenggu sistem keluarga borjuis.
Tugas-tugas itu, tidak cukup hanya dilaksanakan di satu negara. Harus menyebar ke seluruh dunia, sebagai syarat terciptanya masyarakat komunis secara permanen.

Ya. Itulah, teori tentang "Perkembangan Yang Tidak Berimbang dan Tergabungkan", kawan.
Aku tulis semua itu, di sela-sela waktu luangku, diantara agenda-agendaku: menulis, mengedit, dan menyiapkan materi-materi untuk diskusi-diskusi yang telah teragendakan dalam satu bulan.

Salam juang. Panjang umur perlawanan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar