Rabu, 20 Juni 2018

KISAH CINTA KARL MARX DAN JENNY VON WESTPHALEN (BAGIAN 1)

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono

Niat untuk menulis naskah ini, "Kisah Cinta Marx dan Jenny", sudah muncul pada tahun 2016, namun penulisan itu selalu tertunda karena berbagai alasan. Namun begitu, dengan tertundanya penulisan naskah ini ada segi positifnya juga, data-data yang aku peroleh semakin lengkap.

Naskah ini, akan memberikan ulasan terhadap kehidupan cinta Marx dan Jenny semenjak mereka baru pertama kali bertemu, bertunangan, menikah, dan kemudian wafat.

Ada pun pisau analisis yang akan digunakan untuk mengulasnya adalah analisis Materialisme Dialektika.


Pertemuan Awal

Keluarga Marx dan Jenny bertempat tinggal di dalam satu wilayah yang sama. Oleh karena itu, kedua keluarga itu, tentu saja, saling bertetangga. Tidak hanya bertetangga, tetapi juga antara ayah Marx, Herschel dan ayah Jenny, Ludwid von Westphalen berteman dan bersahabat. Kedua sahabat itu, selain sering saling mengunjungi, mereka juga sering terlibat dalam diskusi dan berbagi ilmu pengetahuan, sastra, dan seni. Dua keluarga dan sahabat itu, tinggal di suatu daerah yang bernama Trier, Rhineland, Jerman.


Sebelum Marx mengenal ilmu pengetahuan, filsafat, sastra, dan seni di lembaga pendidikan formal, dia telah mendapat pendidikan dari ayah kandungnya sendiri. Tidak hanya ayahnya, ayah Jenny pun sering membagikan pengetahuannya tentang ilmu pengetahuan, sastra, dan seni kepada Karl Marx. Seringkali Marx terlihat berjalan-jalan berdua bersama ayah Jenny di pinggiran hutan di dekat tempat tinggal mereka. Melalui kegiatan jalan-jalan itulah, Freiherr Ludwid von Westphalen menyampaikan ajaran-ajaran seni dan sastra kepada Marx.




Dengan begitu, antusiasme Marx terhadap sastra dan seni dibangkitkan oleh ayahnya sendiri dan tetangga sekaligus sahabat ayahnya. Marx dengan bersemangat menyerap ajaran-ajaran yang disampaikan oleh kedua gurunya itu. Penyerapan Marx terhadap ajaran-ajaran itu dengan baik membuat Ludwig von Westphalen menilai Marx sebagai anak yang berotak brilian, cerdas, dan cepat memahami apa pun yang sedang dipelajarinya. Berangkat dari penilaiannya itulah kemudian Ludwig banyak meminjamkan buku-buku kepada Marx, dan Marx pun dengan lahap dan rakus membaca buku-buku yang dipinjamnya itu.


Tidak hanya Marx yang mendapatkan pelajaran sastra dan seni dari Ludwig von Westphalen, anak perempuan kesayangannya sendiri pun, Jenny von Westphalen, mendapatkannya. Seperti Marx, Jenny pun, berkat ayahnya, memiliki antusiasme terhadap sastra dan seni.


Ludwid von Westphalen, selain memberikan berbagai pelajaran kepada Marx, dia juga memperkenalkan Marx kepada anak perempuan kesayangannya, Jenny von Westphalen. Marx terkesima terhadap kecantikan, kecerdasan, dan ketertarikan Jenny kepada ilmu pengetahuan, humanisme, sastra, dan seni. Perkenalan itu, pada akhirnya, menggiring Marx pada suasana romantis bertabur bunga-bunga cinta.


Pucuk dicinta ulam tiba, Jenny juga tertarik pada laki-laki yang cerdas, memiliki gairah pada ilmu pengetahuan, humanisme, sastra, seni. Dan, satu lagi yang membuat Jenny kagum terhadap Marx, Marx adalah sosok laki-laki yang rakus membaca buku dan memiliki pikiran yang kritis.


Pada usianya yang ke-17 Jenny von Westphalen dinobatkan sebagai Ratu Penari di Trier. Sebagai seorang penari, tentu saja, Jenny sering bertemu dengan penari-penari lainnya, baik penari perempuan maupun laki-laki. Pada suatu hari, Jenny bertemu dengan seorang tentara yang pandai berdansa. Tentara itu, bernama Karl von Pannewitz. Jenny begitu terkesan terhadap kepandaian tentara itu dalam berdansa. Begitu pula sebaliknya, tentara itu terkagum-kagum terhadap kecantikan Jenny. Oleh karena itu, tentara itu pun menyatakan cintanya kepada Jenny, bahkan dia bermaksud menjadikan Jenny sebagai istrinya. Namun, saat Jenny mengajak tentara itu mendiskusikan paragraf-paragraf yang ditulis oleh seorang sastrawan terkenal yang bernama Hamlet, tentara itu bingung, melongo menunjukkan muka bego, dan tidak tahu-menahu apa yang dibicarakan oleh Jenny, dan anjing penjaga modal itu pun sempat bertanya pada Jenny, “Siapa itu, Hamlet?” Sejak saat itu, Jenny menolak cinta dan lamaran tentara itu dengan sopan. Mungkin saat itu, Jenny berpikiran untuk apa berdampingan hidup dengan orang yang “tidak memiliki otak”.[1]


Semenjak Marx diperkenalkan dengan Jenny oleh Ludwig von Westphalen, Marx seringkali berkunjung dan bermain ke kediaman Jenny. Selain dia ingin bertemu dengan Ludwig, sosok guru yang dikaguminya, dia juga ingin bertemu dengan perempuan cantik yang menggetarkan hatinya. Melalui Ludwig, dia semakin mengembangkan minatnya terhadap sastra, seni, dan humanisme yang diinspirasi oleh revolusi Perancis, dan melalui Jenny dia membangun interaksi intelektual dan memupuk cinta romantis yang semakin hari semakin tumbuh tidak terkendali.



Cinta dan Puisi

Saat Marx belajar ilmu hukum kriminal di Universitas Bonn, Marx juga memperdalam kemampuannya dalam bersastra. Kemampuannya itu, selain dituangkannya ke dalam bentuk tulisan, dituangkannya juga dalam bentuk surat cinta yang dikirimkannya kepada kekasihnya, Jenny. Dalam sebuah surat yang ditulis untuk ayahnya, di tahun 1837, saat Marx berumur 19 tahun, Marx berkata, “... tiga jilid pertama puisi yang aku tulis aku kirimkan untuk Jenny ...”[2]

Berikut ini, penulis tunjukkan salah satu puisi yang ditulis oleh Karl Marx untuk kekasih hatinya, Jenny von Westphalen, pada usia Marx yang masih belia tersebut.



UNTUK JENNY



Kata-kata—dusta, bayangan hampa, tidak lebih

Sesakkan hidup dari setiap sudut!

Padamu, letih, dan kematian, haruskah kutuangkan?

Jiwa yang padaku bergelora?

Namun Dewa-Dewa bumi pemcemburu

Mengintai api manusia dengan mesra

Dan selamanya manusia melarat

Menemani cahaya hatinya dalam sunyi

Karena, gelora yang menyentak nyalang



Dalam helaian jiwa cemerlang

Akan mendekap duniamu

Akan meruntuhkan tarian purba

Dunia mekar lalu bersemi dan mati



Pada tahun 1837, untuk membuktikan cinta dan keseriusannya kepada Jenny, dia menemui Ludwig von Westphalen. Dalam pertemuan itu, Marx meminta izin untuk menjadikan Jenny sebagai tunangannya. Permintaan itu, disambut dengan baik oleh Ludwig. Dengan kata lain, izin itu diperoleh Marx dengan mudah, tanpa halangan dari ayah calon mertuanya. Halangan hanya datang dari keluarga Jenny yang masih berpikiran konservatif dan feodal, yang menilai keluarga Marx hanya dari sudut pandang status sosialnya, mereka menilai keluarga Marx tidak sederajat dengan keluarga mereka, keluarga bangsawan Ludwig von Westphalen. Namun, halangan itu, hanyalah krikil kecil yang dengan segera disingkirkan oleh Karl Marx dan Jenny von Westphalen dengan hanya satu jentikan kecil jari manis.





[1] Lihat: Sigit Susanto, “Menyusuri Lorong-Lorong Dunia: Kumpulan Catatan Perjalanan”, Insist Press, Yogyakarta, 2012. Dalam “Makam Marx di London”, Halaman 323—337.


[2] Surat Marx Kepada Ayahnya (1837) dalam Martin Suryajaya, “Teks-Teks Kunci Filsafat Marx”, Resist Book, Yogyakarta, 2016. Halaman: 10.
 Isaiah Berlin, “Biografi Karl Marx”, Jejak, Yogyakarta, 2000. Halaman 31.

BERSAMBUNG ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar