Sabtu, 23 Juni 2018

KISAH CINTA KARL MARX DAN JENNY VON WESTPHALEN (BAGIAN 2)

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono

Setelah bertunangan dengan Jenny, Marx semakin bersemangat mempertajam nalar kritisnya. Pasalnya, semakin Marx memperdalam ilmunya semakin tersingkaplah kesenjangan-kesenjangan antara humanisme dan kondisi masyarakat secara riil-konkret. Dalam humanisme Marx diajari tentang anti-penindasan dan pembebasan manusia, namun dalam kenyataannya jauh panggang dari api, sisi kemanusiaan manusia diremukkan sedemikian rupa. Itu, yang pertama. Kedua, Jenny memberikan dukungan maksimal terhadap Marx untuk semakin memperdalam ilmu dan pengamatannya terhadap kondisi riil-konkret tersebut.

Marx dan Jenny menjalin hubungan cinta tidak seperti anak-anak muda zaman now, si cowok mengirimi atau menghujani puji-pujian norak kepada si cewek, si cewek bersolek sedemikian rupa hingga menyerupai badut, jalan-jalan ke mall, hura-hura, pamer, konsumtif, dan lain sebagainya. Marx dan Jenny menjalin hubungan cinta dengan cara saling meminjami buku, saling mengirimi puisi, berdiskusi, dan melakukan pengamatan sosial bersama. Bagi mereka, semua aktivitas itu adalah aktivitas yang begitu romantis. Cinta bagi mereka adalah aktivitas saling membangun kesadaran kritis antarsatu sama lain.

Apabila Marx dan Jenny sedang menikmati pemandangan alam di tempat tinggal mereka dengan berjalan-jalan di pinggir hutan, Marx akan segera memetik bunga yang dilihatnya dan kemudian menyelipkannya ke rambut Jenny. Dan, setelah itu mereka berdiskusi tentang filosofi bunga dan cinta. Ya, keromantisan selalu mereka hubungkan dengan telaah atau kajian intelek.

Marx pernah menulis kepada Jenny, "Cinta adalah Jenny, Jenny adalah cinta yang indah". Tulisan Marx itu, tidak ditujukan untuk menggombal, tetapi untuk mengekspresikan, sebagaimana yang pernah ditulis oleh Marx sendiri, kalau "Cinta hanya dapat ditukar dengan Cinta". Cinta dalam sudut pandang Marx adalah kondisi yang bebas dari alienasi (keterasingan). Ketika manusia sedang mengamalkan cinta, ketika itulah manusia seharusnya memaknainya sebagai aktivitas saling memberi dan menerima dalam arti satu pihak mendorong pihak yang dicintainya secara timbal balik tumbuh dan berkembang ke arah diri yang produktif. Maksudnya, dengan melalui cinta antara satu pihak dan pihak lainnya saling membebaskan dari alienasi.



Cinta yang ditunjukkan oleh Marx dan Jenny tidak berhenti sampai di situ. Bagi mereka, pembebasan dari alienasi tidak hanya dilakukan diantara mereka ber-2, tetapi juga harus di arahkan ke pembebasan umat manusia. Tekad mereka untuk membebaskan umat manusia dari kondisi yang tidak manusiawi inilah yang kemudian mendorong mereka untuk mengembangkan analisis kritis.

Marx dalam buku yang ditulisnya, "Brumaire ke-18 Louis Bonaparte", mengatakan, "Manusia dapat menciptakan sejarahnya sendiri, namun dia terikat dengan kondisi sosial yang mengepung keberadaannya". Berangkat dari situ, hubungan cinta antara Marx dan Jenny saat itu dapat dimaknai sebagai upaya dari mereka untuk menciptakan sejarah cinta mereka sendiri, sejarah membebaskan alienasi diri sendiri dan umat manusia. Bagaimana cara membebaskannya? Nah, disinilah letak dari terjadinya interaksi dialektik antara Marx-Jenny dan kondisi sosial yang mengepung mereka. Karena Marx muda saat itu dapat memahami adanya kesenjangan melalui ilmu dan sastra yang dipelajarinya entah dari Ayahnya sendiri, entah dari Ayah Jenny, entah dari kekasih hatinya, entah dari buku-buku yang dipelajarinya, entah dari lembaga pendidikan formal, entah dari berita-berita di koran yang memberitakan kondisi manusia yang tidak dimanusiakan, Marx mencari-cari cara pembebasan itu melalui berilmu, bersastra, dan berfilsafat. Pencarian Marx ini, didukung 100% oleh Jenny.

Marx baru menemukan bagaimana caranya membebaskan umat manusia dan membebaskan cinta itu sendiri dari keterasingan secara praxis ketika dia sudah bergaul dengan kaum buruh di Perancis.

Ketika Karl Marx masih di Berlin, sebelum dia menikah dengan Jenny, atau baru bertunangan dengan Jenny, pembebasan itu baru dia temukan dengan cara mengkritisi ilmu-ilmu dan filsafat Jerman. Penemuan yang selalu dia diskusikan dengan pacarnya tercinta, Jenny Von Westphalen.

BERSAMBUNG ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar