Sabtu, 23 Juni 2018

KISAH CINTA KARL MARX DAN JENNY VON WESTPHALEN (BAGIAN 2)

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono

Setelah bertunangan dengan Jenny, Marx semakin bersemangat mempertajam nalar kritisnya. Pasalnya, semakin Marx memperdalam ilmunya semakin tersingkaplah kesenjangan-kesenjangan antara humanisme dan kondisi masyarakat secara riil-konkret. Dalam humanisme Marx diajari tentang anti-penindasan dan pembebasan manusia, namun dalam kenyataannya jauh panggang dari api, sisi kemanusiaan manusia diremukkan sedemikian rupa. Itu, yang pertama. Kedua, Jenny memberikan dukungan maksimal terhadap Marx untuk semakin memperdalam ilmu dan pengamatannya terhadap kondisi riil-konkret tersebut.

Marx dan Jenny menjalin hubungan cinta tidak seperti anak-anak muda zaman now, si cowok mengirimi atau menghujani puji-pujian norak kepada si cewek, si cewek bersolek sedemikian rupa hingga menyerupai badut, jalan-jalan ke mall, hura-hura, pamer, konsumtif, dan lain sebagainya. Marx dan Jenny menjalin hubungan cinta dengan cara saling meminjami buku, saling mengirimi puisi, berdiskusi, dan melakukan pengamatan sosial bersama. Bagi mereka, semua aktivitas itu adalah aktivitas yang begitu romantis. Cinta bagi mereka adalah aktivitas saling membangun kesadaran kritis antarsatu sama lain.

Apabila Marx dan Jenny sedang menikmati pemandangan alam di tempat tinggal mereka dengan berjalan-jalan di pinggir hutan, Marx akan segera memetik bunga yang dilihatnya dan kemudian menyelipkannya ke rambut Jenny. Dan, setelah itu mereka berdiskusi tentang filosofi bunga dan cinta. Ya, keromantisan selalu mereka hubungkan dengan telaah atau kajian intelek.

Marx pernah menulis kepada Jenny, "Cinta adalah Jenny, Jenny adalah cinta yang indah". Tulisan Marx itu, tidak ditujukan untuk menggombal, tetapi untuk mengekspresikan, sebagaimana yang pernah ditulis oleh Marx sendiri, kalau "Cinta hanya dapat ditukar dengan Cinta". Cinta dalam sudut pandang Marx adalah kondisi yang bebas dari alienasi (keterasingan). Ketika manusia sedang mengamalkan cinta, ketika itulah manusia seharusnya memaknainya sebagai aktivitas saling memberi dan menerima dalam arti satu pihak mendorong pihak yang dicintainya secara timbal balik tumbuh dan berkembang ke arah diri yang produktif. Maksudnya, dengan melalui cinta antara satu pihak dan pihak lainnya saling membebaskan dari alienasi.



Cinta yang ditunjukkan oleh Marx dan Jenny tidak berhenti sampai di situ. Bagi mereka, pembebasan dari alienasi tidak hanya dilakukan diantara mereka ber-2, tetapi juga harus di arahkan ke pembebasan umat manusia. Tekad mereka untuk membebaskan umat manusia dari kondisi yang tidak manusiawi inilah yang kemudian mendorong mereka untuk mengembangkan analisis kritis.

Marx dalam buku yang ditulisnya, "Brumaire ke-18 Louis Bonaparte", mengatakan, "Manusia dapat menciptakan sejarahnya sendiri, namun dia terikat dengan kondisi sosial yang mengepung keberadaannya". Berangkat dari situ, hubungan cinta antara Marx dan Jenny saat itu dapat dimaknai sebagai upaya dari mereka untuk menciptakan sejarah cinta mereka sendiri, sejarah membebaskan alienasi diri sendiri dan umat manusia. Bagaimana cara membebaskannya? Nah, disinilah letak dari terjadinya interaksi dialektik antara Marx-Jenny dan kondisi sosial yang mengepung mereka. Karena Marx muda saat itu dapat memahami adanya kesenjangan melalui ilmu dan sastra yang dipelajarinya entah dari Ayahnya sendiri, entah dari Ayah Jenny, entah dari kekasih hatinya, entah dari buku-buku yang dipelajarinya, entah dari lembaga pendidikan formal, entah dari berita-berita di koran yang memberitakan kondisi manusia yang tidak dimanusiakan, Marx mencari-cari cara pembebasan itu melalui berilmu, bersastra, dan berfilsafat. Pencarian Marx ini, didukung 100% oleh Jenny.

Marx baru menemukan bagaimana caranya membebaskan umat manusia dan membebaskan cinta itu sendiri dari keterasingan secara praxis ketika dia sudah bergaul dengan kaum buruh di Perancis.

Ketika Karl Marx masih di Berlin, sebelum dia menikah dengan Jenny, atau baru bertunangan dengan Jenny, pembebasan itu baru dia temukan dengan cara mengkritisi ilmu-ilmu dan filsafat Jerman. Penemuan yang selalu dia diskusikan dengan pacarnya tercinta, Jenny Von Westphalen.

BERSAMBUNG ...

Rabu, 20 Juni 2018

KISAH CINTA KARL MARX DAN JENNY VON WESTPHALEN (BAGIAN 1)

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono

Niat untuk menulis naskah ini, "Kisah Cinta Marx dan Jenny", sudah muncul pada tahun 2016, namun penulisan itu selalu tertunda karena berbagai alasan. Namun begitu, dengan tertundanya penulisan naskah ini ada segi positifnya juga, data-data yang aku peroleh semakin lengkap.

Naskah ini, akan memberikan ulasan terhadap kehidupan cinta Marx dan Jenny semenjak mereka baru pertama kali bertemu, bertunangan, menikah, dan kemudian wafat.

Ada pun pisau analisis yang akan digunakan untuk mengulasnya adalah analisis Materialisme Dialektika.


Pertemuan Awal

Keluarga Marx dan Jenny bertempat tinggal di dalam satu wilayah yang sama. Oleh karena itu, kedua keluarga itu, tentu saja, saling bertetangga. Tidak hanya bertetangga, tetapi juga antara ayah Marx, Herschel dan ayah Jenny, Ludwid von Westphalen berteman dan bersahabat. Kedua sahabat itu, selain sering saling mengunjungi, mereka juga sering terlibat dalam diskusi dan berbagi ilmu pengetahuan, sastra, dan seni. Dua keluarga dan sahabat itu, tinggal di suatu daerah yang bernama Trier, Rhineland, Jerman.


Sebelum Marx mengenal ilmu pengetahuan, filsafat, sastra, dan seni di lembaga pendidikan formal, dia telah mendapat pendidikan dari ayah kandungnya sendiri. Tidak hanya ayahnya, ayah Jenny pun sering membagikan pengetahuannya tentang ilmu pengetahuan, sastra, dan seni kepada Karl Marx. Seringkali Marx terlihat berjalan-jalan berdua bersama ayah Jenny di pinggiran hutan di dekat tempat tinggal mereka. Melalui kegiatan jalan-jalan itulah, Freiherr Ludwid von Westphalen menyampaikan ajaran-ajaran seni dan sastra kepada Marx.




Dengan begitu, antusiasme Marx terhadap sastra dan seni dibangkitkan oleh ayahnya sendiri dan tetangga sekaligus sahabat ayahnya. Marx dengan bersemangat menyerap ajaran-ajaran yang disampaikan oleh kedua gurunya itu. Penyerapan Marx terhadap ajaran-ajaran itu dengan baik membuat Ludwig von Westphalen menilai Marx sebagai anak yang berotak brilian, cerdas, dan cepat memahami apa pun yang sedang dipelajarinya. Berangkat dari penilaiannya itulah kemudian Ludwig banyak meminjamkan buku-buku kepada Marx, dan Marx pun dengan lahap dan rakus membaca buku-buku yang dipinjamnya itu.


Tidak hanya Marx yang mendapatkan pelajaran sastra dan seni dari Ludwig von Westphalen, anak perempuan kesayangannya sendiri pun, Jenny von Westphalen, mendapatkannya. Seperti Marx, Jenny pun, berkat ayahnya, memiliki antusiasme terhadap sastra dan seni.


Ludwid von Westphalen, selain memberikan berbagai pelajaran kepada Marx, dia juga memperkenalkan Marx kepada anak perempuan kesayangannya, Jenny von Westphalen. Marx terkesima terhadap kecantikan, kecerdasan, dan ketertarikan Jenny kepada ilmu pengetahuan, humanisme, sastra, dan seni. Perkenalan itu, pada akhirnya, menggiring Marx pada suasana romantis bertabur bunga-bunga cinta.


Pucuk dicinta ulam tiba, Jenny juga tertarik pada laki-laki yang cerdas, memiliki gairah pada ilmu pengetahuan, humanisme, sastra, seni. Dan, satu lagi yang membuat Jenny kagum terhadap Marx, Marx adalah sosok laki-laki yang rakus membaca buku dan memiliki pikiran yang kritis.


Pada usianya yang ke-17 Jenny von Westphalen dinobatkan sebagai Ratu Penari di Trier. Sebagai seorang penari, tentu saja, Jenny sering bertemu dengan penari-penari lainnya, baik penari perempuan maupun laki-laki. Pada suatu hari, Jenny bertemu dengan seorang tentara yang pandai berdansa. Tentara itu, bernama Karl von Pannewitz. Jenny begitu terkesan terhadap kepandaian tentara itu dalam berdansa. Begitu pula sebaliknya, tentara itu terkagum-kagum terhadap kecantikan Jenny. Oleh karena itu, tentara itu pun menyatakan cintanya kepada Jenny, bahkan dia bermaksud menjadikan Jenny sebagai istrinya. Namun, saat Jenny mengajak tentara itu mendiskusikan paragraf-paragraf yang ditulis oleh seorang sastrawan terkenal yang bernama Hamlet, tentara itu bingung, melongo menunjukkan muka bego, dan tidak tahu-menahu apa yang dibicarakan oleh Jenny, dan anjing penjaga modal itu pun sempat bertanya pada Jenny, “Siapa itu, Hamlet?” Sejak saat itu, Jenny menolak cinta dan lamaran tentara itu dengan sopan. Mungkin saat itu, Jenny berpikiran untuk apa berdampingan hidup dengan orang yang “tidak memiliki otak”.[1]


Semenjak Marx diperkenalkan dengan Jenny oleh Ludwig von Westphalen, Marx seringkali berkunjung dan bermain ke kediaman Jenny. Selain dia ingin bertemu dengan Ludwig, sosok guru yang dikaguminya, dia juga ingin bertemu dengan perempuan cantik yang menggetarkan hatinya. Melalui Ludwig, dia semakin mengembangkan minatnya terhadap sastra, seni, dan humanisme yang diinspirasi oleh revolusi Perancis, dan melalui Jenny dia membangun interaksi intelektual dan memupuk cinta romantis yang semakin hari semakin tumbuh tidak terkendali.



Cinta dan Puisi

Saat Marx belajar ilmu hukum kriminal di Universitas Bonn, Marx juga memperdalam kemampuannya dalam bersastra. Kemampuannya itu, selain dituangkannya ke dalam bentuk tulisan, dituangkannya juga dalam bentuk surat cinta yang dikirimkannya kepada kekasihnya, Jenny. Dalam sebuah surat yang ditulis untuk ayahnya, di tahun 1837, saat Marx berumur 19 tahun, Marx berkata, “... tiga jilid pertama puisi yang aku tulis aku kirimkan untuk Jenny ...”[2]

Berikut ini, penulis tunjukkan salah satu puisi yang ditulis oleh Karl Marx untuk kekasih hatinya, Jenny von Westphalen, pada usia Marx yang masih belia tersebut.



UNTUK JENNY



Kata-kata—dusta, bayangan hampa, tidak lebih

Sesakkan hidup dari setiap sudut!

Padamu, letih, dan kematian, haruskah kutuangkan?

Jiwa yang padaku bergelora?

Namun Dewa-Dewa bumi pemcemburu

Mengintai api manusia dengan mesra

Dan selamanya manusia melarat

Menemani cahaya hatinya dalam sunyi

Karena, gelora yang menyentak nyalang



Dalam helaian jiwa cemerlang

Akan mendekap duniamu

Akan meruntuhkan tarian purba

Dunia mekar lalu bersemi dan mati



Pada tahun 1837, untuk membuktikan cinta dan keseriusannya kepada Jenny, dia menemui Ludwig von Westphalen. Dalam pertemuan itu, Marx meminta izin untuk menjadikan Jenny sebagai tunangannya. Permintaan itu, disambut dengan baik oleh Ludwig. Dengan kata lain, izin itu diperoleh Marx dengan mudah, tanpa halangan dari ayah calon mertuanya. Halangan hanya datang dari keluarga Jenny yang masih berpikiran konservatif dan feodal, yang menilai keluarga Marx hanya dari sudut pandang status sosialnya, mereka menilai keluarga Marx tidak sederajat dengan keluarga mereka, keluarga bangsawan Ludwig von Westphalen. Namun, halangan itu, hanyalah krikil kecil yang dengan segera disingkirkan oleh Karl Marx dan Jenny von Westphalen dengan hanya satu jentikan kecil jari manis.





[1] Lihat: Sigit Susanto, “Menyusuri Lorong-Lorong Dunia: Kumpulan Catatan Perjalanan”, Insist Press, Yogyakarta, 2012. Dalam “Makam Marx di London”, Halaman 323—337.


[2] Surat Marx Kepada Ayahnya (1837) dalam Martin Suryajaya, “Teks-Teks Kunci Filsafat Marx”, Resist Book, Yogyakarta, 2016. Halaman: 10.
 Isaiah Berlin, “Biografi Karl Marx”, Jejak, Yogyakarta, 2000. Halaman 31.

BERSAMBUNG ...

Kamis, 28 Desember 2017

TEORI PERKEMBANGAN TIDAK BERIMBANG DAN TERGABUNGKAN

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono

Menarik untuk mencatat, kalau Kapitalisme Eropa dan Kapitalisme di negara-negara terbelakang memiliki karakter yang berbeda. Perbedaanya terletak di sini. Pertama, industri di negara-negara Eropa lebih maju ketimbang di negara-negara terbelakang. Kedua, demokrasi borjuis di negara eropa lebih berkembang ketimbang di negara-negara dunia ketiga.


Pertanyaannya, mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya bisa kita lacak sampai ke masa hidup Karl Marx ditahun 1800-an. Pada masa itu, Marx mengamati perkembangan kapitalisme di Eropa, seperti Jerman, Inggris, dan Perancis, telah sampai titik kematangannya. Kematangan yang ditandai semakin berkembangnya alat-alat produksi, melimpahnya komoditas yang diproduksi, dan semakin membludaknya proletariat yang dilahirkan.
Kondisi seperti itu, menurut Marx, akan mendorong matangnya revolusi. Dia berspekulasi seperti itu, karena kapitalisme eropa telah mengalami krisis over produksi yang disebabkan oleh sistem ekonomi-politiknya yang berwatak kontradiktif.
Krisis over produksi itu, tidak hanya terjadi satu atau dua kali, kawan-kawan, tetapi berkali-kali.
Kita bisa membayangkan apa dampaknya jika krisis terjadi berkali-kali. Ya. Penindasan dan pemiskinan terjadi secara radikal, sehingga membangkitkan perlawanan dari kelas yang tertindas: proletariat.

Berangkat dari kondisi-kondisi material seperti itu, Karl Marx dan Friedrich Engels, pada waktu itu, sangat optimis revolusi akan meletus di Eropa.
Namun, kenyataan berkata lain, kawan-kawan. Revolusi proletariat tidak meletus.

Sistem ekonomi kapitalisme memiliki resep jitu untuk memberikan solusi terhadap krisis yang dialaminya itu. Solusinya adalah mereka mengekspor modal berlebih mereka ke negara-negara terbelakang. Meminjam istilah yang digunakan Karl Heindrich Marx dan Friedrich Engels (Freddy), demi kepentingan menyelamatkan modal mereka dari krisis, mereka bersarang di mana-mana, mengadakan hubungan di mana-mana, dan menindas di mana-mana.

Sebelum aku memberikan ulasan lebih jauh, mungkin diantara kawan-kawan ada yang bertanya, "berarti teori Marx terbukti palsu, dong?"
Kawan, sebagai seorang Marxis, kita harus meletakkan teori Marx di dalam analisis Materialisme Dialektika, bukan pada kerangka berpikir logika formal yang sangat banyak keterbatasan dan kekurangannya itu. Materialisme Dialektika selalu menempatkan materi, fenomena riil, dan kenyataan sosial sebagai pendorong terjadinya gerak perubahan, ketika realitas sosial berubah, maka teori pun ikut berubah. Marx membangun teorinya berdasarkan kondisi material yang pada saat itu sedang eksis, bukan berdasarkan hasil perenungan di dalam goa, di atas bukit, atau di pucuk menara gading. Kondisi material yang berubah-ubah menggiring Marx untuk terus meng-update teorinya. Dia melakukan itu, demi memberikan rumusan yang tepat bagi kelas buruh untuk menggulingkan kelas "bajingan" kapitalis.

Justru, melalui kekeliruannya itu, Marx dalam studi-studi lanjutannya tiba pada perumuskan "Teori Revolusi Permanen" yang secara aplikatif akan dikembangkan oleh Leon Trotsky.

Baiklah. Agar tidak keluar jauh dari tema, kita kembali pada ulasan pokok "Perkembangan Yang Tidak Berimbang dan Tergabungkan".
Ketika kelas-kelas kapitalis di Eropa mengekspor modalnya ke negara-negara miskin atau terbelakang, itu artinya mereka harus mencangkokkan sistem ekonomi kapitalisme ke sistem ekonomi feodalisme seperti yang terjadi di Rusia, Indonesia, China, dan negara-negara terbelakang lainnya.
Ketika pencangkokan itu terjadi, ya, tentu saja, itu menyebabnya ketidakseragaman berkembangan antara kapitalisme eropa dan negara terbelakang. Dengan kata lain, terjadi perkembangan yang tidak seimbang antara kapitalisme di eropa dan negara dunia ke-3.

Mari, kawan, kita lacak di mana letak dari ketidak seimbangan perkembangan itu.

Diawal tulisanku ini, di atas, aku telah menyinggung kalau negara kapitalisme di Eropa demokrasi borjuisnya sudah jauh lebih maju ketimbang di negara-negara berkembang. Begitu juga, dengan alat-alat produksi atau industri manufakturnya. Nah, di sinilah letak dari ketidaksaimbangannya itu, kawan.
Ketidakseimbangan itu, ya, tentu saja, berkonsekuensi terhadap terjadinya perbedaan strategi dan taktik perjuangan antara kelas buruh di Eropa dan negara-negara terbelakang.

Marx dan Engels menandaskan, apabila perjuangan kelas ingin dimenangkan oleh buruh, maka harus ada syarat material yang menjadi basis kemenangannya, yakni semakin maju dan berkembangnya alat produksi dan demokrasi borjuis.

Kedua syarat itu, tidak ada di negara-negara berkembang. Nah, untuk kepentingan mendorong munculnya syarat-syarat itulah, maka taktik yang dapat dilakukan oleh kelas buruh di negara-nagara terbelakang adalah mendorong meletusnya revolusi demokrasi borjuis, dan dilakukannya perebutan alat-alat produksi. Samua itu, harus dipimpin dan diletakkan di bawah kekuasan kelas buruh yang terorganisasi.

Dengan begitu, tugas-tugas revolusi borjuis demokratik berada di tangan kelas buruh.
Dititik inilah terdapat perbedaan taktik yang tajam antara Menshevisme dan Bolshevismenya enin-Trotsky.
Bolshevismenya Lenin dan Trotsky menandaskan, pelaksanaan tugas-tugas borjuis demokratik harus ada di dalam genggaman buruh.
Berbeda halnya dengan Menshevisme. Menurut golongan kontra revolusioner ini, tugas-tugas borjuis demokratik harus ada di tangan kelas kapitalis. Berangkat dari sinilah, muncul prinsip-prinsip kolaborasi kelas dari kubu Menshevisme.

Pertanyaannya, mengapa tugas-tugas borjuis demokratik harus berada di dalam genggaman tangan buruh, atau, dengan kata lain, harus berada di bawah hegemoni kelas buruh? Jawabanya tidak sederhana, kawan. Berikut ini, aku akan mengulasnya secara bertahap.

Walaupun, perkembangan kapitalisme Eropa dan negara-negara dunia ke-3 memiliki perbedaan yang cukup signifikan, namun ada watak yang "TERGABUNGKAN" antarkapitalisme di seluruh dunia.
Watak dasar dari kapitalisme adalah eksploitatif. Sebagai syarat untuk melakukan akumulasi kapital, kelas kapitalis harus mengubah modal awalnya menjadi surplus atau keuntungan yang berlipat ganda. Bagaimana caranya? Jawabannya, dengan cara merampas hasil kerja buruh. Watak dasar eksploitatif itu, terjadi di mana pun kapitalisme berada, entah di negara-negara Eropa entah di negara-negara miskin. Dengan kata lain, watak itu seragam atau tergabungkan.

Watak dasar kedua, yang tergabungkan, adalah kapitalisme harus memiliki nafsu untuk bersaing apabila dia ingin mempertahankan keberlangsungannya dalam melakukan akumulasi kapital. Wataknya yang kompetitif itu, mengharuskan setiap kelas kapitalis mendorong terus terjadinya pembaharuan mesin-mesin produksi. Terkait dengan yang terakhir ini, Marx dan Engels di dalam pamflet yang mereka tulis pada tahun 1848 "Manifesto Partai Komunis" menulis, "Syarat dari eksistensi kapitalisme adalah pembaharuan secara terus menerus alat-alat produksi yang semakin termesinkan".

Watak dasar yang ketiga, adalah LICIK. Dimanapun itu, apabila kapitalisme terancam oleh rezim lama atau saingannya (sesama kapitalis) mereka tidak segan-segan bergandengan tangan dengan kelas yang dieksploitasinya: proletariat. Namun, apabila ancaman itu sudah bisa diatasi oleh proletar, mereka akan memperlemah posisi prolerat,dan kemudian menghancurkannya.
Watak licik yang tergabungkan tersebut, telah dibuktikan oleh Marx dalam beberapa tulisannya, diantaranya dalam buku "Brumaire ke-18 Louis Bonaparte" dan "Revolusi dan Kontra-Revolusi". Di dalam Brumaire, Marx menunjukkan bahwa pada tahun 1848, pada saat Raja Louis Philipe di Perancis digempur oleh kelas buruh, kelas kapitalis memberikan dukungan penuh terhadap kelas proletar. Gempuran, yang pada gilirannya membuahkan hasil berupa diberikannya hak untuk bekerja bagi kelas buruh, perbaikan kondisi kerja, kenaikan upah, dan lain sebagainya. Namun, pada saat kelas kapitalis sudah merasa dapat mengamankan kepentingan modalnya, segera mereka menghancurkan kelas buruh, dan kemudian mendorong Napoleon Bonaparte terpilih menjadi kaisar untuk memberikan perlindungan terhadap kepentingan modal yang sudah dalam posisi aman itu. Watak licik seperti itu, disingkap pula oleh Marx dalam revolusi borjuis Jerman yang gagal pada tahun 1848, dan dalam revolusi-revolusi borjuis di tempat-tempat lain.
Watak kapitalis yang licik itulah yang kemudian mendorong Marx menyerukan kepada kelas buruh di seluruh dunia, dengan seruan: HARAM HUKUMNYA BERKOLABORASI DENGAN KELAS KAPITALIS.

Seruan dari Marx itulah, yang dipegang teguh oleh Leon Trotsky dalam memenangkan sosialisme di tanah Rusia tahun 1917--1921.
Basis material kelicikan dan seruan Marx tersebut terletak di sini, kawan. Baik secara teoritis maupun secara faktual kepentingan antara kelas kapitalis dan proletar bertentangan. Di satu sisi kelas kapitalis memiliki kepentingan mengakumulasi kapital semaksimal mungkin, bersamaan dengan itu, kelas buruh berkepentingan untuk mendapatkan upah sebesar mungkin sesuai dengan banyaknya curahan kerja untuk memproduksi komoditas.
Kepentingan yang berkontradiksi itulah, yang membuat kelas kapitalis harus bermuka dua ketika berhadapan dengan kelas prolerar. Kalau tidak begitu, kapitalis terancam oleh kepentingan kelas buruh tersebut, terlebih lagi apabila kelas buruh sadar kalau kepentingan tertinggi mereka mengkolektifkan alat-alat produksi, akan semakin bermuka dua kelas penindas ini. Berangkat dari situ, kelicikan kelas kapitalis adalah watak yang bersifat intrinksik, melekat kuat dalam struktur psikologis kelas kapitalis.

Kapitalisme Eropa ketika memenetrasikan modalnya ke negara-negara terbelakang membawa serta watak-watak dasarnya itu. Di Rusia, setelah mereka melakukan akumulasi primitif, mereka mengeksploitasi kemampuan kerja buruh-buruh yang mayoritas diambil dari kaum petani miskin, perempuan, dan anak-anak.

Mereka menekan upah buruh serendah mungkin agar memiliki daya saing yang kuat di pasar-pasar Eropa--karena produk-produk mereka yang murah.
Untuk kepentingan memuluskan akumulasi kapital, kelas kapitalis juga harus merangkul, untuk sementara, rezim feodalisme yang sedang berkuasa, walaupun rezim itu merugikan si kapitalis, karena menghisap keuntungan yang seharusnya masuk ke kantong kapitalis dan mengambat perkembangannya melalui berbagai rintangan. Namun, bagi mereka, ini hanya bersifat sementara, pengorbanan awal yang harus mereka pilih, walau ini adalah pilihan pahit.
Kapitalisme Eropa yang menyebar ke negara-negara terbelakang, yang menurut Trotsky sebagai rantai terlemah dalam sistem kapitalisme, tidak hanya harus berkompromi dengan rezim feodal berikut kebudayaannya yang memuakkan, tetapi juga harus mendorong terjadinya revolusi borjuis demokratik. Di titik ini, mereka memainkan wataknya yang licik. Revolusi model seperti itu, penting sebagai kanal untuk menyisipkan kepentingan kapital mereka sambil meremukkan kolabolatornya: feodalisme.

Bersamaan dengan itu, untuk mewujudkan cita-cita sosialisme, syarat yang harus ada adalah telah dilaksanakannya demokrasi borjuis yang akan mendorong semakin maju dan berkembangnya alat-alat produksi. Karena, dengan semakin berkembangnya alat produksi hal itu akan memungkinkan dapat diproduksinya kebutuhan hidup secara melimpah, sehingga distribusi kebutuhan hidup secara terencana dan merata dalam lanskap perwujudan masyarkat komunis dapat direalisasikan.

Jadi, ada pertemuan kepentingan yang sama antara kelas kapitalis dan proletar, yakni mendorong terjadinya revolusi borjuis demokratik.
Walau ada pertemuan kepenting, tentu saja, dua kelas tersebut memiliki proyek kepentingan ke depan yang saling berbenturan. Di sini, kita bisa melihat berlakunya filsafat Marxis--Materialisme Dialektika--di ranah perjuangan kelas. Di pihak kapitalis, revolusi borjuis bermakna menghancurkan penghalang-penghalang kapital, sedangkan bagi proletar revolusi bermakna sebagai kanal untuk mewujudkan sosialisme dan menghancurkan sistem kapitalisme.
Kapitalisme eropa, yang mencangkokkan sistem ekonomi-politiknya di negara-negara dunia ke-3, menemukan kenyataan petani masih terikat dengan tanah-tanah feodalnya, kuatnya chauvinisme, dan kota-kota belum bersifat modern--masih difungsikan hanya sebagai pusat ketentaraan dan administrasi feodal. Kondisi seperti itu harus dihancurkan, agar tersedia buruh-buruh bebas tidak bertanah dan bebas pula dari tuan feodalnya, terhapusksnnya pajak-pajak feodal yang tersebar-berceceran diberbagai daerah, serta terciptanya pasar-pasar kapitalis agar mumudahkan mereka dalam memproduksi dan mendistribusikan komiditas.

Dengan begitu, reforma agraria, perwujudan nasionalisme, dan pemisahan secara radikal desa dan kota, adalah tugas-tugas borjuis demokratik yang harus dituntaskan.

Dalam sudut pandang Lenin dan Trotsky pelaksanaan tugas-tugas borjuis demokratik tersebut penting dilaksanakan sebagai batu loncatan untuk mewujudkan sosialisme. Oleh karena itu, tugas-tugas itu harus diemban oleh kelas buruh. Trosky, di dalam karyanya "Hasil dan Prospek" menulis, "Kaum buruh harus berkuasa sebelum tuannya (kelas kapitalis)", yang dapat dimaknai kekuasaan kelas buruh/proletar dapat terlaksana apabila tugas-tugas borjuis demokratik, sebagai tahap transisi, berada di bawah hegemoni kelas buruh.
Berangkat dari situ, maka dapatlah dipahami tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh organisasi Marxis (kelas buruh) di negara dunia ke-3 sebagai satu tahapan untuk mewujudkan sosialisme diantaranya: Pelaksanaan reforma agraria, penciptaan demokrasi seluas-luasnya, tuntutan pajak progresif, dan pembebasan kaum perempuan dari belenggu sistem keluarga borjuis.
Tugas-tugas itu, tidak cukup hanya dilaksanakan di satu negara. Harus menyebar ke seluruh dunia, sebagai syarat terciptanya masyarakat komunis secara permanen.

Ya. Itulah, teori tentang "Perkembangan Yang Tidak Berimbang dan Tergabungkan", kawan.
Aku tulis semua itu, di sela-sela waktu luangku, diantara agenda-agendaku: menulis, mengedit, dan menyiapkan materi-materi untuk diskusi-diskusi yang telah teragendakan dalam satu bulan.

Salam juang. Panjang umur perlawanan!

Kamis, 31 Agustus 2017

AKSI MASSA MEMPERINGATI PERJANJIAN NEW YORK: TAKTIS ATAU DOGMATIS?

Ditulis Oleh: Joseph Adinegoro




Peringatan Perjanjian New York yang dilaksanakan serentak di berbagai kota pada hari Selasa 15 Agustus 2017 lalu secara umum berakhir ricuh. Di Malang terjadi pengepungan oleh Pemuda Pancasila dan kelompok bersorban-gamis, di Jakarta terdapat kekerasan dari aparat sampai melukai beberapa massa aksi, di semarang, di Bandung, dan di beberapa kota-kota lain hanya menyebarkan selebaran, kebanyakan aksi berakhir dengan “diamankannya” para peserta aksi.

Di Yogyakarta, di mana saya turut hadir, aksi dilaksanakan terlambat dari waktu penentuannya. Pada pukul 10 pagi dijadwalkan aksi protes semestinya sudah dimulai, namun justru gerombolan anggota kepolisian dengan perlengkapan persenjataannya, dan ditemani oleh Paksi Katon sebagai pion ‘rakyat jelatanya’ telah lebih dulu berkumpul. Jumlah mereka pun tidak tanggung-tanggung sekitar seratus personel. Tidak lama kemudian mereka melakukan apel pagi dengan ungkapan-ungkapan intimidasi. 

“Gerombolan mereka itu merongrong kesatuan NKRI, gerakan separatis yang ingin memerdekakan diri dari Indonesia. Gerombolan itu sudah disusupi orang-orang (bekas) PRD yang komunis!”

“Separatis, gebuk gebuk gebuk! Komunis, gebuk gebuk gebuk! NKRI harga mati!”

Apel dan seruan intimidatif tersebut bukan hanya digunakan untuk menakuti massa aksi namun jelas sebagai sebuah taktik kontra propaganda murahan dan mudah. Mereka serukan di tengah pelataran terbuka dan cukup mudah didengar orang di sekitarnya.

Tidak lama berselang kelompok aksi kemudian berkoordinasi dan mengarahkan untuk tetap memulai aksi di lapangan parkir ABA Malioboro. “Massa” yang berjumlah hampir 30 orang tersebut berkumpul di pelataran terbuka dengan perlengkapan aksinya yang berupa spanduk-spanduk dan juga keranda mayat, sebagai simbol matinya demokrasi.

“Sing dicekel sing ireng-ireng kuwi waé, sing Jawa benké”, terdengar ucapan dari anggota kepolisian yang bermaksud mengarahkan untuk menangkapi kawan Papua saja (menggunakan ejekan rasis, “hitam-hitam”) dan membiarkan orang Jawa/Indonesia lain yang ikut aksi.

Dengan dikerumuni aparat kepolisian, ormas reaksioner, dan para intel; peserta aksi memulai orasinya mengenai isu Perjanjian New York dan pembebasan Papua Barat yang kemudian disambung dengan melantunkan lagu Internasionale.

Sontak hal tersebut memancing aparat untuk menyudutkan dengan seruan chauvinis-nasionalistisnya, “orang Indonesia itu nyanyinya Indonesia Raya!”

Begitu peserta aksi mulai untuk bergerak salah seorang petugas kepolisian membentak kelompok aksi agar digiring masuk ke dalam truk. Dalihnya adalah untuk menjaga keamanan sipil dan bahkan “keselamatan” peserta aksi. Benar saja, ketika para peserta aksi digiring masuk ke dalam truk, terdapat beberapa orang berpakaian sipil (diduga intel) yang kemudian menendangi beberapa peserta aksi secara spesifik menyasar para peserta Papua yang kemudian merobek sebuah spanduk milik peserta aksi.

Para peserta diangkut truk dan kemudian dibawa ke Polresta Yogyakarta. Seketika itu pula keadaan menjadi sepi, karena yang mengerumuni memang kebanyakan dari kepolisian dan antek-anteknya saja. Walaupun ada satu-dua warga sipil yang kebetulan berada di lokasi kejadian, pesan yang diterima mereka adalah bahwa seruan Papua Merdeka itu sesuatu yang tidak benar, apatah lagi hingga diringkus aparat kepolisian.

Beberapa persoalan mulai bermunculan di benak; apa itu aksi massa, apa kegunaan dan tujuan aksi massa? Namun bukan hal ini yang menjadi fokus di sini, melainkan bagaimana bisa aksi dijadikan taktik, terutamanya, di Yogyakarta yang keadaan materialnya atau kesadaran masyarakatnya mengenai isu berkaitan masih rendah.

Apabila kita melihat ke belakang, paling tidak ada beberapa kejadian aksi massa yang tercetus dan mampu menelurkan kemenangan baik itu berupa tuntutan maupun sebagai titik tanpa kembali.

Di Indonesia, yang paling berpengaruh dewasa ini tidak lain adalah aksi 98 yang berhasil meruntuhkan orba dengan titik tanpa kembalinya ada pada momen Sidang Istimewa. Aksi tersebut tidak timbul begitu saja, faktor pembangun utama ada pada krismon itu sendiri, yang membantu mempolarisasi rakyat antara kutub yang gerah akan orba melawan pendukung orba, yang jelas ada pada tatanan para elit. Turunnya para mahasiswa sebagai pencetus gerakan yang lebih luas, adalah buah perspektif muda-mudi yang dekat dengan perubahan setelah mereka menemukan dirinya dalam pertentangan antara masyarakat lama dan baru. Ditambah dengan adanya propaganda yang intens oleh PRD sebagai kepimpinan atau otak gerakan yang (sayangnya hanya) menyuarakan penumbangan orba sebagai langkah reformasi.

Masih cukup segar di ingatan kita juga, pada tahun lalu setelah terpilihnya Trump, aksi massa tumpah dengan penolakan terhadap Trump menjadi sentimen utamanya. Tingginya mobilisasi massa tanpa adanya pengorganisiran sebelumnya ini juga tidak terlepas dari naiknya kesadaran massa setelah krisis 2009 yang menelan Lehman Brothers dan disusul gerakan-gerakan massa seperti Occupy Wall Street dan kemudian antusiasme pada Bernie Sanders maupun Occupy Democrat. Aksi massa menolak Trump ini menolong massa rakyat menemukan alternatif solusi serta memajukan kesadarannya. Ribuan lebih orang berbondong-bondong bergabung dalam organisasi-organisasi seperti Democratic Socialist of America (DSA), Socialist Alternative, Redneck Revolt serta kelompok-kelompok kolektif sosialis lainnya sebagai dampaknya.

Baru-baru ini kita juga sempat saksikan, walaupun efeknya belum menasional, yaitu okupasi DPRD Banyumas dengan isu menyelamatkan Gunung Slamet. Aksi ini cukup mendapat dukungan lokal karena memang bersifat kampanye komunitas, kesadaran masyarakatnya untuk menjauhkan Slamet dari penggundulan sewenang-wenang oleh kapitalis tidak dapat dimungkiri.

Aksi-aksi seperti ini tidak bekerja secara mekanis.Tidak semestinya dengan turun aksi kesadaran rakyat akan meningkat.Tidak semestinya dengan aksi mengalami represi, solidaritas rakyat akan datang menemani. Tidak semestinya dengan melakukan aksi maka hasilnya adalah menguatnya gerakan kiri. Salah satu kegunaan aksi memang sebagai alat penanda eksistensi, namun dengan lemahnya narasi dan jangkauan ke dalam basis-basis rakyat tertindas terutamanya kelas pekerja, aksi jadi seakan kehilangan arahnya. Tidak dinafikan dengan melakukan aksi terbuka peluang untuk meraih sorotan media dan publikasi, tetapi pesan utama dan tuntutan akan mudah dikooptasi mengikut kehendak borjuasi.

Skala aksi memang menentukan, namun di sini kita bisa kesampingkan sebagai faktor sekunder. Sedangkan kesadaran masyarakat lah yang sepatutnya digaris-bawahi di sini. Ketiga contoh tadi memiliki kesadaran masyarakat yang lebih maju, mampu melihat sesuatu yang berjalan tidak sebagaimana mestinya dan menuntut adanya perubahan. Aksi digunakan untuk mempertegas gagasan serta menjadi magnet bagi lapisan-lapisan yang mulai tersadarkan.

Basis “massa” atau jumlah mahasiswa yang dimobilisasi sebagai faktor sekunder perlu dipertimbangkan, apakah sesuai untuk turun aksi atau masih perlu kerja-kerja yang memperkuat gagasan di tengah masyarakat. Energi yang dapat dialihkan untuk membuat kampanye dan diskusi propaganda justru kerap tersedot oleh seruan aksi semata, bahkan mungkin dari sisi material juga cukup banyak tersedot. Gerakan perlu kita sayangi dan kita perkuat. Bukan dengan melulu menabrakkan diri dengan rezim dan aparatnya. Gerakan perlu melakukan pembenahan serta memperkuat perspektif dan taktik di dalam secara berkala, ibaratnya seperti meng-upgrade mesin, memberikan alternatif yang jelas tujuannya serta menghindarkan demoralisasi jajaran anggota.

Kalau kita andaikan gagasan menggugat Perjanjian New York sebagai sebuah benih, namun kita memaksa menanam pada kesadaran masyarakat yang kaku bagai batu cadas maka benih tersebut akan mudah tersapu oleh guyuran hujan kontra-propaganda pemerintah dan reaksioner. Lain halnya apabila kita melakukan kerja-kerja penggemburan tanah dan pemupukan yaitu mencairkan kesadaran masyarakat dengan berbagai diskusi serta kampanye yang intens dan berkesinambungan, proses penanaman dengan menggunakan aksi lebih mudah mengakar dan bahkan kontra-propaganda pemerintah dapat digunakan untuk semakin menguatkan kesadaran masyarakat dan menyingkap pertentangan kelas yang ada.

Bahkan kalau kita melihat jauh ke kanan, HTI tidak kenal lelah menaburkan kampanye gagasannya setiap jumat, yang “untuk tidak dibaca pada saat khatib sedang khutbah”. Sebuah cara yang baik dan intens dalam menghegemoni dan memberi narasi dalam membentuk perspektif pembacanya, sebelum menuju titik tertentu untuk dikonversikan sebagai aksi.

Kawan-kawan gerakan bukanlah anak kemarin sore yang belum pernah melakukan protes, aksi maupun kerja-kerja pengorganisiran lainnya. Namun ketika tiba pada keputusan untuk melakukan aksi menggugat perjanjian New York ini, sudahkah melihat situasi lokal, kesadaran masyarakat dan kapasitas aksinya? Atau sekadar mengikut arahan birokrat partai? Taktis atau dogmatis?