Kamis, 31 Agustus 2017

AKSI MASSA MEMPERINGATI PERJANJIAN NEW YORK: TAKTIS ATAU DOGMATIS?

Ditulis Oleh: Joseph Adinegoro




Peringatan Perjanjian New York yang dilaksanakan serentak di berbagai kota pada hari Selasa 15 Agustus 2017 lalu secara umum berakhir ricuh. Di Malang terjadi pengepungan oleh Pemuda Pancasila dan kelompok bersorban-gamis, di Jakarta terdapat kekerasan dari aparat sampai melukai beberapa massa aksi, di semarang, di Bandung, dan di beberapa kota-kota lain hanya menyebarkan selebaran, kebanyakan aksi berakhir dengan “diamankannya” para peserta aksi.

Di Yogyakarta, di mana saya turut hadir, aksi dilaksanakan terlambat dari waktu penentuannya. Pada pukul 10 pagi dijadwalkan aksi protes semestinya sudah dimulai, namun justru gerombolan anggota kepolisian dengan perlengkapan persenjataannya, dan ditemani oleh Paksi Katon sebagai pion ‘rakyat jelatanya’ telah lebih dulu berkumpul. Jumlah mereka pun tidak tanggung-tanggung sekitar seratus personel. Tidak lama kemudian mereka melakukan apel pagi dengan ungkapan-ungkapan intimidasi. 

“Gerombolan mereka itu merongrong kesatuan NKRI, gerakan separatis yang ingin memerdekakan diri dari Indonesia. Gerombolan itu sudah disusupi orang-orang (bekas) PRD yang komunis!”

“Separatis, gebuk gebuk gebuk! Komunis, gebuk gebuk gebuk! NKRI harga mati!”

Apel dan seruan intimidatif tersebut bukan hanya digunakan untuk menakuti massa aksi namun jelas sebagai sebuah taktik kontra propaganda murahan dan mudah. Mereka serukan di tengah pelataran terbuka dan cukup mudah didengar orang di sekitarnya.

Tidak lama berselang kelompok aksi kemudian berkoordinasi dan mengarahkan untuk tetap memulai aksi di lapangan parkir ABA Malioboro. “Massa” yang berjumlah hampir 30 orang tersebut berkumpul di pelataran terbuka dengan perlengkapan aksinya yang berupa spanduk-spanduk dan juga keranda mayat, sebagai simbol matinya demokrasi.

“Sing dicekel sing ireng-ireng kuwi waé, sing Jawa benké”, terdengar ucapan dari anggota kepolisian yang bermaksud mengarahkan untuk menangkapi kawan Papua saja (menggunakan ejekan rasis, “hitam-hitam”) dan membiarkan orang Jawa/Indonesia lain yang ikut aksi.

Dengan dikerumuni aparat kepolisian, ormas reaksioner, dan para intel; peserta aksi memulai orasinya mengenai isu Perjanjian New York dan pembebasan Papua Barat yang kemudian disambung dengan melantunkan lagu Internasionale.

Sontak hal tersebut memancing aparat untuk menyudutkan dengan seruan chauvinis-nasionalistisnya, “orang Indonesia itu nyanyinya Indonesia Raya!”

Begitu peserta aksi mulai untuk bergerak salah seorang petugas kepolisian membentak kelompok aksi agar digiring masuk ke dalam truk. Dalihnya adalah untuk menjaga keamanan sipil dan bahkan “keselamatan” peserta aksi. Benar saja, ketika para peserta aksi digiring masuk ke dalam truk, terdapat beberapa orang berpakaian sipil (diduga intel) yang kemudian menendangi beberapa peserta aksi secara spesifik menyasar para peserta Papua yang kemudian merobek sebuah spanduk milik peserta aksi.

Para peserta diangkut truk dan kemudian dibawa ke Polresta Yogyakarta. Seketika itu pula keadaan menjadi sepi, karena yang mengerumuni memang kebanyakan dari kepolisian dan antek-anteknya saja. Walaupun ada satu-dua warga sipil yang kebetulan berada di lokasi kejadian, pesan yang diterima mereka adalah bahwa seruan Papua Merdeka itu sesuatu yang tidak benar, apatah lagi hingga diringkus aparat kepolisian.

Beberapa persoalan mulai bermunculan di benak; apa itu aksi massa, apa kegunaan dan tujuan aksi massa? Namun bukan hal ini yang menjadi fokus di sini, melainkan bagaimana bisa aksi dijadikan taktik, terutamanya, di Yogyakarta yang keadaan materialnya atau kesadaran masyarakatnya mengenai isu berkaitan masih rendah.

Apabila kita melihat ke belakang, paling tidak ada beberapa kejadian aksi massa yang tercetus dan mampu menelurkan kemenangan baik itu berupa tuntutan maupun sebagai titik tanpa kembali.

Di Indonesia, yang paling berpengaruh dewasa ini tidak lain adalah aksi 98 yang berhasil meruntuhkan orba dengan titik tanpa kembalinya ada pada momen Sidang Istimewa. Aksi tersebut tidak timbul begitu saja, faktor pembangun utama ada pada krismon itu sendiri, yang membantu mempolarisasi rakyat antara kutub yang gerah akan orba melawan pendukung orba, yang jelas ada pada tatanan para elit. Turunnya para mahasiswa sebagai pencetus gerakan yang lebih luas, adalah buah perspektif muda-mudi yang dekat dengan perubahan setelah mereka menemukan dirinya dalam pertentangan antara masyarakat lama dan baru. Ditambah dengan adanya propaganda yang intens oleh PRD sebagai kepimpinan atau otak gerakan yang (sayangnya hanya) menyuarakan penumbangan orba sebagai langkah reformasi.

Masih cukup segar di ingatan kita juga, pada tahun lalu setelah terpilihnya Trump, aksi massa tumpah dengan penolakan terhadap Trump menjadi sentimen utamanya. Tingginya mobilisasi massa tanpa adanya pengorganisiran sebelumnya ini juga tidak terlepas dari naiknya kesadaran massa setelah krisis 2009 yang menelan Lehman Brothers dan disusul gerakan-gerakan massa seperti Occupy Wall Street dan kemudian antusiasme pada Bernie Sanders maupun Occupy Democrat. Aksi massa menolak Trump ini menolong massa rakyat menemukan alternatif solusi serta memajukan kesadarannya. Ribuan lebih orang berbondong-bondong bergabung dalam organisasi-organisasi seperti Democratic Socialist of America (DSA), Socialist Alternative, Redneck Revolt serta kelompok-kelompok kolektif sosialis lainnya sebagai dampaknya.

Baru-baru ini kita juga sempat saksikan, walaupun efeknya belum menasional, yaitu okupasi DPRD Banyumas dengan isu menyelamatkan Gunung Slamet. Aksi ini cukup mendapat dukungan lokal karena memang bersifat kampanye komunitas, kesadaran masyarakatnya untuk menjauhkan Slamet dari penggundulan sewenang-wenang oleh kapitalis tidak dapat dimungkiri.

Aksi-aksi seperti ini tidak bekerja secara mekanis.Tidak semestinya dengan turun aksi kesadaran rakyat akan meningkat.Tidak semestinya dengan aksi mengalami represi, solidaritas rakyat akan datang menemani. Tidak semestinya dengan melakukan aksi maka hasilnya adalah menguatnya gerakan kiri. Salah satu kegunaan aksi memang sebagai alat penanda eksistensi, namun dengan lemahnya narasi dan jangkauan ke dalam basis-basis rakyat tertindas terutamanya kelas pekerja, aksi jadi seakan kehilangan arahnya. Tidak dinafikan dengan melakukan aksi terbuka peluang untuk meraih sorotan media dan publikasi, tetapi pesan utama dan tuntutan akan mudah dikooptasi mengikut kehendak borjuasi.

Skala aksi memang menentukan, namun di sini kita bisa kesampingkan sebagai faktor sekunder. Sedangkan kesadaran masyarakat lah yang sepatutnya digaris-bawahi di sini. Ketiga contoh tadi memiliki kesadaran masyarakat yang lebih maju, mampu melihat sesuatu yang berjalan tidak sebagaimana mestinya dan menuntut adanya perubahan. Aksi digunakan untuk mempertegas gagasan serta menjadi magnet bagi lapisan-lapisan yang mulai tersadarkan.

Basis “massa” atau jumlah mahasiswa yang dimobilisasi sebagai faktor sekunder perlu dipertimbangkan, apakah sesuai untuk turun aksi atau masih perlu kerja-kerja yang memperkuat gagasan di tengah masyarakat. Energi yang dapat dialihkan untuk membuat kampanye dan diskusi propaganda justru kerap tersedot oleh seruan aksi semata, bahkan mungkin dari sisi material juga cukup banyak tersedot. Gerakan perlu kita sayangi dan kita perkuat. Bukan dengan melulu menabrakkan diri dengan rezim dan aparatnya. Gerakan perlu melakukan pembenahan serta memperkuat perspektif dan taktik di dalam secara berkala, ibaratnya seperti meng-upgrade mesin, memberikan alternatif yang jelas tujuannya serta menghindarkan demoralisasi jajaran anggota.

Kalau kita andaikan gagasan menggugat Perjanjian New York sebagai sebuah benih, namun kita memaksa menanam pada kesadaran masyarakat yang kaku bagai batu cadas maka benih tersebut akan mudah tersapu oleh guyuran hujan kontra-propaganda pemerintah dan reaksioner. Lain halnya apabila kita melakukan kerja-kerja penggemburan tanah dan pemupukan yaitu mencairkan kesadaran masyarakat dengan berbagai diskusi serta kampanye yang intens dan berkesinambungan, proses penanaman dengan menggunakan aksi lebih mudah mengakar dan bahkan kontra-propaganda pemerintah dapat digunakan untuk semakin menguatkan kesadaran masyarakat dan menyingkap pertentangan kelas yang ada.

Bahkan kalau kita melihat jauh ke kanan, HTI tidak kenal lelah menaburkan kampanye gagasannya setiap jumat, yang “untuk tidak dibaca pada saat khatib sedang khutbah”. Sebuah cara yang baik dan intens dalam menghegemoni dan memberi narasi dalam membentuk perspektif pembacanya, sebelum menuju titik tertentu untuk dikonversikan sebagai aksi.

Kawan-kawan gerakan bukanlah anak kemarin sore yang belum pernah melakukan protes, aksi maupun kerja-kerja pengorganisiran lainnya. Namun ketika tiba pada keputusan untuk melakukan aksi menggugat perjanjian New York ini, sudahkah melihat situasi lokal, kesadaran masyarakat dan kapasitas aksinya? Atau sekadar mengikut arahan birokrat partai? Taktis atau dogmatis?

Minggu, 06 Agustus 2017

MEMAHAMI ARTI CINTA BERSAMA ERICH FROMM



Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono


Erich Fromm, seorang psikoanalisis neo-Marxis dari mazhab frankfrut-Jerman, di dalam buku yang ditulisnya, “Escape From Freedom atau Lari dari Kebebasan”, mengatakan kalau sebagian dari kita sesungguhnya tengah terperangkap dalam pasungan zaman modern. Tidak hanya itu saja, pengkritik Sigmund Freud dan perekonstruksi pemikiran Marx itu, mengatakan bahwa sebagian dari kita, dinilai secara eksistensialis, tengah tidak mampu menjawab problem keteralienasian atau keadaan terasing. Dia juga mengatakan, sebagian orang telah gagal mengatasi keterasingannya, hingga pada gilirannya dia lari dari kebebasan yang diberikan oleh alam kepadanya.

Kebohongan, kemunafikan, dan segala bentuk kedurjanaan sebenarnya—menguntit apa yang didalilkan oleh Fromm—merupakan bentuk dari usaha manusia mengatasi eksistensinya yang terasing!

Sebenar hanya satu yang dapat dilakukan manusia untuk mengatasi keterasingannya tersebut yaitu dengan cara: Merawat pohon CINTA!

Tapi tunggu dulu, kita jangan terburu-buru mendefinisikan cinta secara naif. Cinta tidak dapat didefinisikan secara linear yang memandang kalau cinta itu hanya berorientasi pada hubungan antara perempuan dan laki-laki yang bersifat melankolis. Salah besar jika kita mendefinisikan cinta seperti itu, kawan!

Cinta itu seperti seni”, begitu kata Erich Fromm. Cinta harus dirawat dan diperjuangkan. Sama seperti halnya kita mencintai seni musik, jika kita mencintai musik kita akan merawat kemampuan kita dalam bermusik, dengan cara melatih titinada, dan berbagai keterampilan lain dalam bermusik. Tidak hanya itu, perawatan itu harus bersifat continue, berkesinambungan, terus-menerus, atau tidak bersifat sementara atau “hangat-hangat tai ayam”.

Semakin seni terus dirawat dan dipelihara, seni akan semakin menampakkan keindahannya. Keindahan yang muncul dari si pencinta seni yang memang benar-benar merawat seni. Sama seperti halnya dengan cinta, jika dia dirawat terus menerus dia akan semakin menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara manusia satu dengan manusia lainnya.

Cinta adalah dua di dalam satu, artinya antara kita satu sama lain dituntut untuk saling mengembangkan dan menghargai keunikan antara kita dan dengan hal itulah kita menjadi satu dan merontokan dinding pembatas diantara kita. Kita berbeda agama, tetapi satu, kita berbeda bahasa, tetapi satu, kita berbeda status sosial tetapi satu, dan kita berbeda jenis kelamin, tetapi satu.

Perbedaan harus ada dalam cinta, karena hal itu akan melatih kita untuk berempati dan mengembangkan kasih sayang antara satu sama lain.

Hal yang harus diingat dalam cinta adalah unsurnya. Cinta memiliki unsur-unsur sebagai berikut ini:
1. Pengertian
2. Tanggung Jawab
3. Perhatian; dan
4. Pemahaman

Pengertian maksudnya kita dituntut untuk menghidupi eksistensi pihak lain dengan ikhlas atau tanpa pamrih. Hal itu, kita lakukan karena kita manusia yang tidak mungkin hidup sendiri tanpa adanya manusia lain. Kebersamaan mensyaratkan adanya pengertian untuk memenuhi kebutuhan antarsesama. Misalnya orang butuh kedamaian, ya, berilah kedamaian dengan cara tidak berperang, memfitnah, mengadu domba, permusuhan, menjilat, dan lain sebagainya.

Tanggung jawab, artinya kita mampu untuk merespon sisi-sisi kemanusiaan ketika kita melihat penderitaan orang lain. Kawan, hidup yang bermakna adalah ketika dihati kita ada kepedulian terhadap sesama.

Perhatian, artinya kita selalu berempati terhadap apa yang dialami atau diderita oleh orang lain.

Dan yang terakhir adalah pemahaman. Kita dalam menapaki jalan kehidupan ini seharusnya paham betul apa yang dibutuhkan secara essensial terhadap kebutuhan psikis kita sendiri dan psikis orang lain. Salah satu cara kita untuk memahami orang lain tentunya dengan cara melebur dalam kehidupan mereka, menyatu, berjuang dan mengkoordinasikan kekuatan kita untuk melawan segala bentuk penyelewengan nilai-nilai kemanusiaan, eksploitasi (de elhome par elhome) dan berbagai bentuk penindasan.


Senin, 24 Juli 2017

MODEL MASYARAKAT MENURUT KARL MARX



Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono


Manusia adalah satu bagian yang tidak terpisahkan dari alam. Dengan kata lain, manusia dan alam merupakan satu kesatuan, sebagai suatu totalitas. Namun, walaupun manusia merupakan satu kesatuan dari alam, melalui kesadarannya, manusia mengambil jarak dari alam. Alam menjadi obyek bagi kesadaran manusia. Ringkasnya, di dalamnya manusia dapat dibedakan dari gejala-gejala alam, namun tidak dapat dipisahkan dari alam.

Walaupun antara manusia dan binatang sama-sama membutuhkan alam untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, namun ada perbedaan yang tajam antara manusia dan binatang. Perbedaannya adalah jika binatang dalam memenuhi kebutuhannya hanya mengandalkan insting (naluri), sedangkan manusia mengandalkan kesadarannya.

Karena binatang hanya mengandalkan insting dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, maka itu artinya ketika alam tidak bersahabat dengan binatang atau tidak lagi menyediakan kebutuhan bagi kelangsungan hidupnya, binatang tidak dapat berbuat apa-apa. Harimau misalnya, ketika hewan buruan di hutan nyaris atau hampir habis diburu, tidak mungkin harimau kemudian berpikir untuk menernaknya. Harimau akan terus memburunya hingga habis-tandas. Tidak perduli: “besok mau makan apa?” Hal ini berbeda halnya dengan manusia yang mengandalkan kesadarannya untuk memenuhi kelangsungan hidupnya. Dengan kesadarannya manusia akan berpikir bagaimana caranya menernak hewan buruan agar tidak punah. Dengan kesadarannya manusia selain dapat merengkuh berbagai kebutuhan dari alam, manusia juga memelihara dan melestarikan alam. Ketika manusia memelihara dan melestarikan alam ketika itulah manusia sesungguhnya mengambil jarak positif dengan alam.

Dari mana munculnya kesadaran? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus berjalan memutar terlebih dahulu untuk melihat apa yang diperbuat oleh manusia terhadap pancainderanya.

Sama seperti halnya dengan binatang manusia adalah mahluk berbadan, dan dengan demikian manusia memiliki kemampuan-kemampuan alamiah, seperti berjalan seperti binatang pada umumnya, berlari seperti kijang, melompat seperti kangguru, memanjat seperti primata, dan menggunakan tangannya untuk meraih, menggenggam, memproduksi makanan, dan berbagai kebutuhan lainnya. Sekali lagi, walaupun ada persamaan dengan binatang, secara tajam ada perbedaan antara manusia dan binatang. Dimana letak perbedaannya? Jawabannya adalah jika binatang melalui pancainderanya tidak memiliki kemampuan untuk memodifikasi alam untuk kelangsungan hidupnya, tidak demikian dengan manusia. Melalui pancainderanya manusia memiliki kemampuan untuk mengubah, memodifikasi, menciptakan sesuatu yang baru atau mentransformasikan alam untuk disesuaikan dengan kebutuhan hidupnya. Alam dalam hal ini menjadi obyek manusia dan manusia sendiri itu adalah obyek dari alam. Ada hubungan interaksi antara mansuia dan alam.

Dengan memposisikan alam sebagai obyek, itu artinya manusia menempatkan obyek sebagai sarana untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Dan ketika itu pulalah kesadaran manusia muncul. Inilah jawaban dari pertanyaan, dari mana munculnya kesadaran manusia? Kesadaran manusia muncul ketika manusia memposisikan alam sebagai obyek.

Memposisikan alam sebagai obyek adalah istilah lain dari “kerja”. Melalui kerja manusia dapat menyesuaikan apa yang disediakan oleh alam tidak hanya untuk melayani kelangsungan hidupnya dan memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, tetapi lebih jauh lagi, untuk menciptakan barang produksi untuk melayani kepentingan manusia, baik kebutuhan kepentingan yang bersifat sesaat maupun jangka panjang. Secara ringkas, kerja dapat didefinisikan seperti ini: “kemampuan manusia dalam mengubah obyek untuk disesuaikan dengan kebutuhan hidupnya.” Contoh konkretnya: Jika seorang tukang sedang membuat sebuah kursi berbahan dasar kayu, saat itu si tukang sedang mengubah kayu (alam) menjadi kursi (disesuaikan dengan kebutuhan hidup manusia).

Demikianlah, kesadaran manusia muncul ketika pancaindera manusia memposisikan alam sebagai obyek. Demikian pula halnya dengan cinta dan perasaan-perasaan empati serta moral, kemunculannya tidak dapat dilepaskan dari tindakan manusia menempatkan alam sebagai obyek, dan sebaliknya perasaan-perasaan tersebut ketika mencuat ke permukaan langsung membutuhkan obyek. Artinya, perasaan-perasaan tersebut hanya dapat terealisasi apabila ada obyek yang menjadi sasaran dari perasaan-perasaan itu.

Pada awalnya perasaan-perasaan ini muncul untuk menjalin kerjasama antarkelompok untuk menghadapi kondisi alam yang tidak bersahabat dan mengubah alam secara kolektif demi kelangsungan hidup bersama. Frans de Waal menandaskan bahwa kemenangan evolutif lebih berpihak pada mahluk hidup yang menjalankan hidupnya secara kolektif.

Melalui perasaan-perasaaan itulah manusia dapat saling menjaga dan melindungi dalam kerangka kerja sama untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Cinta dan moral dalam hal ini, pada hakikatnya, adalah kekuatan kolektif untuk mempertahankan dan memelihara kehidupan kolektif bukan milik individu yang narsistik dan egoistik. Jika cinta diarahkan secara egois hanya untuk kepentingan narsistik manusia-individu itu bukan cinta namanya, tetapi tindakan menghancurkan kehidupan. Eric Fromm menegaskan bahwa “ketika aku mencintaimu, itu artinya aku mencintai semua orang, mencintai alam ini, mencintai kehidupan ini. Di dalam dirimu tersimpan rasa kebersamaan sesama umat manusia dan kelestarian alam.”

Dengan menempatkan alam sebagai obyek kerja manusia, cinta, moral dan simpati sebagai alat kolektif untuk mengadapi alam dan ber-EVOLUSI, maka pada tataran ini manusia telah menghasilkan sarana-saran hidup. Dan seketika itulah, menurut Karl Marx, manusia membedakan dirinya dengan binatang atau hewan. Mari kita dengarkan perkataan Marx terkait dengan hal ini:

“Manusia mulai membedakan diri dari hewan segera setelah ia mulai menghasilkan sarana-sarana untuk hidup... Karena manusia meghasilkan sarana-sarana untuk hidupnya, maka ia secara tidak langsung menghasilkan eksistensi materialnya sendiri. Cara manusia menghasilkan sarana-sarana untuk hidupnya tergantung dari sarana-sarana hidup yang tersedia dan yang harus diperbanyak”

Ketika manusia mengelola atau mengolah obyek untuk disesuaikan bagi kelangsungan dan berbagai kebutuhan hidupnya, seketika itulah manusia sesungguhnya sedang berada pada proses produksi.

Dalam proses produksi manusia saling bekerjasama. Manusia bukanlah mahluk individu yang berdiri sendiri, melainkan mahluk sosial. Guna mewujudkan diri manusia membutuhkan orang-orang lain. Pun apabila dia seorang diri belajar di dalam kamarnya, dia berhubungan dengan orang-orang lain dan tergantung dari orang-orang lain. Manusia tentu saja tidak bisa bicara dan menulis kalau dia tidak belajar dari orang-orang lain. Karena itu, aktivitas individu pada hakikatnya adalah aktivitas kolektif atau aktivitas sosial.

Dalam proses produksi tersebut, digunakan tenaga-tenaga produksi. Tenaga-tenaga produksi yang terpenting tantunya adalah manusia itu sendiri dengan kemampuan-kemampuan pancaindera atau fisiknya dan perasaan-perasaannya. Selanjutnya alat-alat pun termasuk tenaga produksi, jadi seluruh skala kemungkinan-kemungkinan teknis, dan akhirnya cara bagaimana sejumlah individu bekerjasama dan “cara ini pun merupakan tenaga produksi.” Sebab, yang disebut terakhir ini dapat meningkatkan produksi.


Tenaga produksi tersebut membawa-serta hubungan-hubungan produksi. Hubungan produksi ini terdiri dari pembagian kerja dan bagaimana barang-barang hasil produksi didistribusikan. David Harvey mengistilahkan hubungan-hubungan produksi ini dengan sirkuit sekunder, sedangkan sirkuit primer ada pada proses produksi yang melibatkan tenaga produksi. Sedangkan istilah suprastruktur dalam istilah Marxis diterjemahkan oleh David Harvey dengan istilah sirkuit tersier: pendidikan (sebagai alat penghegemoni dan pencetak buruh terampil) dan inovasi teknologi (sebagai teknologisasi alat produksi sehingga dapat digunakan sebagai alat menekan ongkos proses produksi di tahap sirkuit primer).

Tenaga-tenaga produksi dan hubungan-hubungan produksi bersama-sama disebut cara produksi, yang merupakan alas bagi struktur-atas (suprastruktur) politik-yuridis dan ideologis. Hubungan-hubungan politik, lebih-lebih negara, merupakan produk basis ekonomi ini. Dengan kata lain, hubungan-hubungan produksi mengekspresikan dirinya dalam bentuk hukum, politik dan hubungan-hubungan kekuasaan. Tidak berhenti sampai di sini, berbagai gagasan yang mendorong kemunculan kesadaran umum pun berasal dari hubungan-hubungan produksi yang melahirkan berbagai kegiatan materiil dan hubungan sosial antarmanusia.

Jadi, manusia sendiri adalah produsen gagasan-gagasan yang diekspresikan dalam ajaran agama, filsafat, doktrin ilmu-ilmu sosial dan berbagai keyakinan. Tetapi, manusia selalu ditentukan oleh perkembangan tenaga-tenaga produksi dan hubungan-hubungan produksi yang sesuai dengan itu. “Kesadaran tidak pernah lain daripada eksistensi yang sadar, dan eksistensi manusia adalah proses hidup yang sebenarnya.” Dalam hal ini kenyataan materiil bukanlah produk dari kesadaran manusia, tapi kesadaran manusialah yang merupakan produk kenyataan materiil yang merupakan ekspresi dari hubungan produksi. “Bukanlah kesadaran manusia yang menentukan hidup, melainkan hiduplah yang menentukan kesadaran.”

Jadi, dari kerja manusia timbullah seluruh tata masyarakat, dan sebaliknya manusia secara fundamental tergantung pada tatanan ini. Ketergantungan itu terungkap dengan lebih dari satu cara. Yang fundamental adalah bahwa cara berproduksi mengakibatkan cara hidup tertentu. Produksi itu bukanlah hanya reproduksi kehidupan fisik dalam arti bahwa orang harus memproduksi makanan agar tidak kehilangan hidupnya. Cara berproduksi juga mengakibatkan sesuatu cara hidup. “Jadi apa sesungguhnya mereka itu adalah sesuai dengan produksi mereka, baik dengan apa yang mereka produksi maupun bagaimana mereka berporudksi. Apa individu-individu itu, adalah tergantung dari isyarat-isyarat materiil produksi mereka.”

Dengan pandangan demikian, maka dapatlah dipahami mengapa Marx menyebut manusia sebagai “keseluruhan hubungan-hubungan sosial.” Tidak ada satupun yang dapat dinamakan sifat abstrak manusia, yang sama bagi setiap orang; manusia ialah sama sekali mahluk sosial. Secara lebih spesifik, ketergantungan itu terungkap dalam kenyataan bahwa manusia hanya dapat bekerja dalam tata masyarakat yang dia jumpai pada waktu dia dilahirkan dari rahim ibunya. Cara bagaimana manusia-manusia konkret memproduksi sarana-sarana hidupnya ditentukan oleh tingkat perkembangan sarana-sarana hidupnya ditentukan oleh tingkat perkembangan tenaga-tenaga produksi. Maka dilahirkanlah di dalam masyarakat yang konkret dan dididik dalam pola-pola perilaku yang diterima di dalam masyarakat itu; kesempatan-kesempatan tertentu diterima oleh mereka, dan memberikan suatu bentuk sosial kepada hidupnya, tetapi dia melakukannya dalam kerangka tertentu.

Dalam pandangan Marx ini, subyek dan obyek, manusia dan alam, manusia dan kenyataan sosial dihubungkan satu sama lain secara dialektis. Manusia-manusia mengubah alam, dan menciptakan kerangka sosial, dan melalui kerangka ini mereka sendiri dibentuk. Yang satu tidak dapat dilepaskan dari yang lainnya. Terdapat suatu keseluruhan, suatu totalitas, dalam kondisi unsur-unsurnya tidak memiliki eksistensi yang berdiri sendiri dan terlepas satu sama lain. Pun unsur-unsur itu hanya dapat dipahami dalam hubungannya satu sama lain dan dalam hubungannya dengan keseluruhannya.

Kalau manusia itu produsen hubungan-hubungan sosial, dengan, serta melalui, hubungan-hubungan sosial ini pun mengembangkan dirinya sendiri, bagaimana mungkin manusia kehilangan kekuasaan atas produknya sendiri itu, atau lebih tegas lagi: bagaimana mungkin produk itu mendapat kekuasaan atas produsennya? Inilah masalah keterasingan.

Keterasingan harus dibedakan dengan obyektifikasi. Obyektifikasi memang sudah ada pada manusia sebagai manusia. Orang harus menyatakan pikiran-pikiran, kehendak-kehendak serta keinginan-keinginannya dengan kata serta gerak kalau ingin dipahami oleh orang-orang lain. Proses eksternalisasi ini mengakibatkan bahwa pikiran-pikiran, kehendak-kehendak, dan keinginan-keinginan itu memperoeh eksistensi obyektif. Tentu saja semuanya ini paling jelas; daya kreasi manusia menghasilkan produk-produk materiil, tetapi adalah keliru jika kita memandang remeh sifat obyektif dari pendapat-pendapat. Pun gagasan-gagasan dapat mempunyai eksistensi obyektif dalam misalnya peraturan-peraturan hukum, kebiasaan, ajaran-ajaran filsafat, dan sebagainya.

Proses obyektifikasi belum tentu mengakibatkan keterasingan. Keterasingan baru terjadi apabila orang-orang menguasai produk, berlawanan dengan kehendak kaum produsen, dan merampas hak produsen atas produk itu. Peristiwa ini dapat terjadi demikian jauhnya sehingga produk itu tidak lagi dikenal sebagai produknya sendiri atau bahkan produk ciptaan manusia. Produk itu menjadi kekuatan asing yang ada di luar manusia dan yang menurut keyakinannya harus ia taati. Maka ia memiliki kesadaran palsu. Pembebasan diri dari kekuatan asing itu, ialah emansipasi yang sesungguhnya, syaratnya atau artinya ialah bahwa kenyataan yang diobyektifikasikan dan yang terasing itu harus dikuasai kembali.

Sebab-musabab keterasingan itu—menurut Marx—terletak pada milik pribadi.Milik pribadi ini tidak selalu ada sebelumnya. Dalam tahap sejarah yang paling awal, yaitu tahap komune primitif, tidak ada hak milik pribadi. Tetapi berkat perkembangan tenaga-tenaga produksi, terutama teknik, secara berangsur-angsur produk dihasilkan melebihi jumlah yang diperlukan untuk memenuhi keperluan. Maka terdapatlah surplus, dan surplus ini memungkinkan bahwa orang-orang tertentu tidak perlu ikut berproduksi, tetapi dapat menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan rohaniah. Pemisalah antara kerja di bidang materiil dan kerja rohaniah merupakan saat yang menentukan dalam proses pembagian kerja. Pembagian kerja sudah ada sejak semula di dalam hubungan seks, yaitu atas dasar sifat-sifat jasmaniah; tetapi dengan dibaginya kerja menjadi kerja rohaniah dan kerja jasmaniah maka menjadi mungkin bahwa “kenikmatan dan kerja, produksi  dan konsumsi jatuh ke tangan individu-individu yang berbeda-beda.

Pembagian kerja yang menyodorkan tugas tertentu kepada setiap orang dalam proses produksi, juga mengakibatkan pembagian produk yang tidak sama. Dengan kata lain, timbulnya hak milik. Masalahnya bukanlah hak milik pribadi berupa barang-barang konsumsi, merupakan hak milik pribadi berupa sarana-sarana produksi, ialah alat-alat, uang. Pendek kata: modal (kapital). Dengan modal ini, orang dapat menyuruh orang lain untuk bekerja untuk dirinya sendiri, dan pemilik modal itu dengan demikian menguasai tenaga kerja orang-orang lain (kelas pekerja/buruh).

Bersamaan dengan timbulnya hak milik pribadi semacam ini timbul pulalah pembagian dalam kelas-kelas. Sejak saat itu terdapat kaum pemilik sarana-sarana produksi dan kaum yang tidak memilikinya. Masing-masing kelas ini memiliki kepentingan-kepentingannya sendiri. Dengan demikian maka timbul pula pemisalahan antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Kaum “berpunya (kaya)” menyatakan kepentingan pribadi mereka sebagi kepentingan umum di hadapan kaum “tidak berpunya (miskin).”

Sudah jelas bahwa keterasingan pertama kali terungkap pada tingkat fundamental, ialah pada tingkat ekonomi kenyataan sosial. Pada tingkat ini, keterasingan terwujud pertama-tama dalam hubungan dengan produk kerja. Sebab, buruh berproduksi tidak langsung untuk memenuhi keperluannya sendiri. Dia berproduksi untuk pasaran: produk ditarik dari penguasaannya, dan dijual di pasaran yang dikuasi oleh hubungan-hubungan tukar-menukar yang ada di luar kekuasaannya. Semakin banyak kelas pekerja berproduksi, semakin miskinlah dia, karena dunia produksi yang asing baginya semakin tumbuh. Buruh tidak saja terasing dari produk kerja, tetapi juga dari proses kerja. Kerja sendiri berubah menjadi tugas, dan tidak lagi merupakan pemenuhan keperluannya akan kerja, tetapi merupakan suatu sarana untuk memenuhi keperluan-keperluan lain. Kerja menjadi begitu tidak menenangkan sehingga dia baru bisa merasa bahagia apabila kerja sudah selesai dan tersisa waktu baginya untuk kesibukan-kesibukan lain. Keadaan ini juga menyentuh hakikat manusia sendiri, karena ia harus mencapai perwujudan diri melalui kerja. Jadi, kalau dia menjadi terasing dari kerja, maka ia dengan demikian juga menjadi terasing dari hakikat dirinya sendiri yang sebenarnya.

Keterasingan ekonomi ini berkaitan dengan bentu-bentuk keterasingan lainnya. Keterasingan politik berarti bahwa kelas pekerja dan kaum miskin harus tunduk kepada kekuasan negara yang tidak lain daripada kekerasan yang diorganisisasi dari suatu kelas untuk menindas kelas-kelas lain. Jadi, di balik negara tersembunyi pula kepentingan-kepentingan ekonomi dari kelas yang dominan. Selanjutnya gagasan-gagasan yang dominan, misalnya mengenai apa yang baik atau buruk, adalah gagasan golongan yang berkuasa. “Gagasan-gagasan yang dominan tidaklah lain daripada pernyataan ideal dari hubungan-hubungan materiil yang dominan.” Siapa pun yang memiliki sarana-saran bagi produksi materril memiliki juga sarana-sarana bagi produksi rohaniah. Pun gagasan-gagasan keagaamaan: gambaran menengenai Tuhan, mengenai suatu kehidupan sesudah meninggal dunia, dan sebagainya juga diabdikan demi kelas yang dominan (kelas kapitalis). Tuhan merestui tatanan yang ada, dan janji-janji mengenai kehidupan setelah kematian menjadi hidup di dunia ini menjadi tertahankan, dan memperlemah kerelaan untuk berjuang di dunia ini demi kebebasan.

Negara, moral, agama timbul dari produksi materiil seperti yang dikemukakan di atas. Tetapi, kaum yang tidak memiliki alat produksi dan kaum miskin tidak lagi mempunyai hak menentukan apapun dalam hal-hal itu. Selain itu perlu dicatat di sini bahwa kelas kapitalis pun tidak mengenali keterasingan itu. Mereka juga “percaya” kepada negara sebagai wakil kepentingan umum, kepada norma-norma yang ada mengenai baik dan buruk, dan kepada nilai realitas dari gagasan-gagasan keagamaan. Menurut Marx sama sekali tidak ada persekongkolan yang sadar dari kelas kapitalis terhadap proletar. Kedua kelas itu memiliki kesadaran palsu karena itdak satu pun memiliki pengertian yang benar mengenai sifat serta jalannya perkembangan sosial. Tetapi, ini saja tidak berarti bahwa kedua kelas itu sama-sama menderita karenanya. Justru sebaliknya.

Keterasingan hanya dapat dilenyapkan apabila sebab-musababnya dihilangkan; jadi hak milik terhadap alat produksi atau sarana-sarana produksi harus dihapuskan. Penghapusan ini tidak dapat dilakukan pada sembarang waktu dalam sejarah, seolah-olah hanya merupakan efek kehendak manusia. Memang manusia menciptakan sejarahnya sendiri, tetapi dalam kerangka keadaan-keadaan yang objektif. Jadi, keadaan objektif harus cocok dulu sebelum tindakan manusia dapat memberi efek. Pun di dalam perkembangan masyarakat, subyek dan obyek berhubungan satu sama lain secara dialektis.

DAFTAR BACAAN

Erich Fromm, “The Art of Loving,” Fresh Book, Jakarta, 2002.
Frans de Waal, “Primat dan Filsuf: Merunut Asal-Usul Kesadaran,” Kanisius, Yogyakarta, 2011.
L. Laeyendecker, “Abad Kesembilan Belas: Sosialisme,” Gramedia, Jakarta, 1991.
Karl Marx dan Frederick Engels, “Manifesto Partai Komunis,” Bintang Nusantara, Yogyakarta, 2014.
Tim Penulis Titian Perdamaian, “Dinamika Konflik dan Kekerasan di Indonesia,” Yayasan Tifa, Jakarta, 2011.