Senin, 24 Juli 2017

MODEL MASYARAKAT MENURUT KARL MARX



Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono


Manusia adalah satu bagian yang tidak terpisahkan dari alam. Dengan kata lain, manusia dan alam merupakan satu kesatuan, sebagai suatu totalitas. Namun, walaupun manusia merupakan satu kesatuan dari alam, melalui kesadarannya, manusia mengambil jarak dari alam. Alam menjadi obyek bagi kesadaran manusia. Ringkasnya, di dalamnya manusia dapat dibedakan dari gejala-gejala alam, namun tidak dapat dipisahkan dari alam.

Walaupun antara manusia dan binatang sama-sama membutuhkan alam untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, namun ada perbedaan yang tajam antara manusia dan binatang. Perbedaannya adalah jika binatang dalam memenuhi kebutuhannya hanya mengandalkan insting (naluri), sedangkan manusia mengandalkan kesadarannya.

Karena binatang hanya mengandalkan insting dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, maka itu artinya ketika alam tidak bersahabat dengan binatang atau tidak lagi menyediakan kebutuhan bagi kelangsungan hidupnya, binatang tidak dapat berbuat apa-apa. Harimau misalnya, ketika hewan buruan di hutan nyaris atau hampir habis diburu, tidak mungkin harimau kemudian berpikir untuk menernaknya. Harimau akan terus memburunya hingga habis-tandas. Tidak perduli: “besok mau makan apa?” Hal ini berbeda halnya dengan manusia yang mengandalkan kesadarannya untuk memenuhi kelangsungan hidupnya. Dengan kesadarannya manusia akan berpikir bagaimana caranya menernak hewan buruan agar tidak punah. Dengan kesadarannya manusia selain dapat merengkuh berbagai kebutuhan dari alam, manusia juga memelihara dan melestarikan alam. Ketika manusia memelihara dan melestarikan alam ketika itulah manusia sesungguhnya mengambil jarak positif dengan alam.

Dari mana munculnya kesadaran? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus berjalan memutar terlebih dahulu untuk melihat apa yang diperbuat oleh manusia terhadap pancainderanya.

Sama seperti halnya dengan binatang manusia adalah mahluk berbadan, dan dengan demikian manusia memiliki kemampuan-kemampuan alamiah, seperti berjalan seperti binatang pada umumnya, berlari seperti kijang, melompat seperti kangguru, memanjat seperti primata, dan menggunakan tangannya untuk meraih, menggenggam, memproduksi makanan, dan berbagai kebutuhan lainnya. Sekali lagi, walaupun ada persamaan dengan binatang, secara tajam ada perbedaan antara manusia dan binatang. Dimana letak perbedaannya? Jawabannya adalah jika binatang melalui pancainderanya tidak memiliki kemampuan untuk memodifikasi alam untuk kelangsungan hidupnya, tidak demikian dengan manusia. Melalui pancainderanya manusia memiliki kemampuan untuk mengubah, memodifikasi, menciptakan sesuatu yang baru atau mentransformasikan alam untuk disesuaikan dengan kebutuhan hidupnya. Alam dalam hal ini menjadi obyek manusia dan manusia sendiri itu adalah obyek dari alam. Ada hubungan interaksi antara mansuia dan alam.

Dengan memposisikan alam sebagai obyek, itu artinya manusia menempatkan obyek sebagai sarana untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Dan ketika itu pulalah kesadaran manusia muncul. Inilah jawaban dari pertanyaan, dari mana munculnya kesadaran manusia? Kesadaran manusia muncul ketika manusia memposisikan alam sebagai obyek.

Memposisikan alam sebagai obyek adalah istilah lain dari “kerja”. Melalui kerja manusia dapat menyesuaikan apa yang disediakan oleh alam tidak hanya untuk melayani kelangsungan hidupnya dan memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, tetapi lebih jauh lagi, untuk menciptakan barang produksi untuk melayani kepentingan manusia, baik kebutuhan kepentingan yang bersifat sesaat maupun jangka panjang. Secara ringkas, kerja dapat didefinisikan seperti ini: “kemampuan manusia dalam mengubah obyek untuk disesuaikan dengan kebutuhan hidupnya.” Contoh konkretnya: Jika seorang tukang sedang membuat sebuah kursi berbahan dasar kayu, saat itu si tukang sedang mengubah kayu (alam) menjadi kursi (disesuaikan dengan kebutuhan hidup manusia).

Demikianlah, kesadaran manusia muncul ketika pancaindera manusia memposisikan alam sebagai obyek. Demikian pula halnya dengan cinta dan perasaan-perasaan empati serta moral, kemunculannya tidak dapat dilepaskan dari tindakan manusia menempatkan alam sebagai obyek, dan sebaliknya perasaan-perasaan tersebut ketika mencuat ke permukaan langsung membutuhkan obyek. Artinya, perasaan-perasaan tersebut hanya dapat terealisasi apabila ada obyek yang menjadi sasaran dari perasaan-perasaan itu.

Pada awalnya perasaan-perasaan ini muncul untuk menjalin kerjasama antarkelompok untuk menghadapi kondisi alam yang tidak bersahabat dan mengubah alam secara kolektif demi kelangsungan hidup bersama. Frans de Waal menandaskan bahwa kemenangan evolutif lebih berpihak pada mahluk hidup yang menjalankan hidupnya secara kolektif.

Melalui perasaan-perasaaan itulah manusia dapat saling menjaga dan melindungi dalam kerangka kerja sama untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Cinta dan moral dalam hal ini, pada hakikatnya, adalah kekuatan kolektif untuk mempertahankan dan memelihara kehidupan kolektif bukan milik individu yang narsistik dan egoistik. Jika cinta diarahkan secara egois hanya untuk kepentingan narsistik manusia-individu itu bukan cinta namanya, tetapi tindakan menghancurkan kehidupan. Eric Fromm menegaskan bahwa “ketika aku mencintaimu, itu artinya aku mencintai semua orang, mencintai alam ini, mencintai kehidupan ini. Di dalam dirimu tersimpan rasa kebersamaan sesama umat manusia dan kelestarian alam.”

Dengan menempatkan alam sebagai obyek kerja manusia, cinta, moral dan simpati sebagai alat kolektif untuk mengadapi alam dan ber-EVOLUSI, maka pada tataran ini manusia telah menghasilkan sarana-saran hidup. Dan seketika itulah, menurut Karl Marx, manusia membedakan dirinya dengan binatang atau hewan. Mari kita dengarkan perkataan Marx terkait dengan hal ini:

“Manusia mulai membedakan diri dari hewan segera setelah ia mulai menghasilkan sarana-sarana untuk hidup... Karena manusia meghasilkan sarana-sarana untuk hidupnya, maka ia secara tidak langsung menghasilkan eksistensi materialnya sendiri. Cara manusia menghasilkan sarana-sarana untuk hidupnya tergantung dari sarana-sarana hidup yang tersedia dan yang harus diperbanyak”

Ketika manusia mengelola atau mengolah obyek untuk disesuaikan bagi kelangsungan dan berbagai kebutuhan hidupnya, seketika itulah manusia sesungguhnya sedang berada pada proses produksi.

Dalam proses produksi manusia saling bekerjasama. Manusia bukanlah mahluk individu yang berdiri sendiri, melainkan mahluk sosial. Guna mewujudkan diri manusia membutuhkan orang-orang lain. Pun apabila dia seorang diri belajar di dalam kamarnya, dia berhubungan dengan orang-orang lain dan tergantung dari orang-orang lain. Manusia tentu saja tidak bisa bicara dan menulis kalau dia tidak belajar dari orang-orang lain. Karena itu, aktivitas individu pada hakikatnya adalah aktivitas kolektif atau aktivitas sosial.

Dalam proses produksi tersebut, digunakan tenaga-tenaga produksi. Tenaga-tenaga produksi yang terpenting tantunya adalah manusia itu sendiri dengan kemampuan-kemampuan pancaindera atau fisiknya dan perasaan-perasaannya. Selanjutnya alat-alat pun termasuk tenaga produksi, jadi seluruh skala kemungkinan-kemungkinan teknis, dan akhirnya cara bagaimana sejumlah individu bekerjasama dan “cara ini pun merupakan tenaga produksi.” Sebab, yang disebut terakhir ini dapat meningkatkan produksi.


Tenaga produksi tersebut membawa-serta hubungan-hubungan produksi. Hubungan produksi ini terdiri dari pembagian kerja dan bagaimana barang-barang hasil produksi didistribusikan. David Harvey mengistilahkan hubungan-hubungan produksi ini dengan sirkuit sekunder, sedangkan sirkuit primer ada pada proses produksi yang melibatkan tenaga produksi. Sedangkan istilah suprastruktur dalam istilah Marxis diterjemahkan oleh David Harvey dengan istilah sirkuit tersier: pendidikan (sebagai alat penghegemoni dan pencetak buruh terampil) dan inovasi teknologi (sebagai teknologisasi alat produksi sehingga dapat digunakan sebagai alat menekan ongkos proses produksi di tahap sirkuit primer).

Tenaga-tenaga produksi dan hubungan-hubungan produksi bersama-sama disebut cara produksi, yang merupakan alas bagi struktur-atas (suprastruktur) politik-yuridis dan ideologis. Hubungan-hubungan politik, lebih-lebih negara, merupakan produk basis ekonomi ini. Dengan kata lain, hubungan-hubungan produksi mengekspresikan dirinya dalam bentuk hukum, politik dan hubungan-hubungan kekuasaan. Tidak berhenti sampai di sini, berbagai gagasan yang mendorong kemunculan kesadaran umum pun berasal dari hubungan-hubungan produksi yang melahirkan berbagai kegiatan materiil dan hubungan sosial antarmanusia.

Jadi, manusia sendiri adalah produsen gagasan-gagasan yang diekspresikan dalam ajaran agama, filsafat, doktrin ilmu-ilmu sosial dan berbagai keyakinan. Tetapi, manusia selalu ditentukan oleh perkembangan tenaga-tenaga produksi dan hubungan-hubungan produksi yang sesuai dengan itu. “Kesadaran tidak pernah lain daripada eksistensi yang sadar, dan eksistensi manusia adalah proses hidup yang sebenarnya.” Dalam hal ini kenyataan materiil bukanlah produk dari kesadaran manusia, tapi kesadaran manusialah yang merupakan produk kenyataan materiil yang merupakan ekspresi dari hubungan produksi. “Bukanlah kesadaran manusia yang menentukan hidup, melainkan hiduplah yang menentukan kesadaran.”

Jadi, dari kerja manusia timbullah seluruh tata masyarakat, dan sebaliknya manusia secara fundamental tergantung pada tatanan ini. Ketergantungan itu terungkap dengan lebih dari satu cara. Yang fundamental adalah bahwa cara berproduksi mengakibatkan cara hidup tertentu. Produksi itu bukanlah hanya reproduksi kehidupan fisik dalam arti bahwa orang harus memproduksi makanan agar tidak kehilangan hidupnya. Cara berproduksi juga mengakibatkan sesuatu cara hidup. “Jadi apa sesungguhnya mereka itu adalah sesuai dengan produksi mereka, baik dengan apa yang mereka produksi maupun bagaimana mereka berporudksi. Apa individu-individu itu, adalah tergantung dari isyarat-isyarat materiil produksi mereka.”

Dengan pandangan demikian, maka dapatlah dipahami mengapa Marx menyebut manusia sebagai “keseluruhan hubungan-hubungan sosial.” Tidak ada satupun yang dapat dinamakan sifat abstrak manusia, yang sama bagi setiap orang; manusia ialah sama sekali mahluk sosial. Secara lebih spesifik, ketergantungan itu terungkap dalam kenyataan bahwa manusia hanya dapat bekerja dalam tata masyarakat yang dia jumpai pada waktu dia dilahirkan dari rahim ibunya. Cara bagaimana manusia-manusia konkret memproduksi sarana-sarana hidupnya ditentukan oleh tingkat perkembangan sarana-sarana hidupnya ditentukan oleh tingkat perkembangan tenaga-tenaga produksi. Maka dilahirkanlah di dalam masyarakat yang konkret dan dididik dalam pola-pola perilaku yang diterima di dalam masyarakat itu; kesempatan-kesempatan tertentu diterima oleh mereka, dan memberikan suatu bentuk sosial kepada hidupnya, tetapi dia melakukannya dalam kerangka tertentu.

Dalam pandangan Marx ini, subyek dan obyek, manusia dan alam, manusia dan kenyataan sosial dihubungkan satu sama lain secara dialektis. Manusia-manusia mengubah alam, dan menciptakan kerangka sosial, dan melalui kerangka ini mereka sendiri dibentuk. Yang satu tidak dapat dilepaskan dari yang lainnya. Terdapat suatu keseluruhan, suatu totalitas, dalam kondisi unsur-unsurnya tidak memiliki eksistensi yang berdiri sendiri dan terlepas satu sama lain. Pun unsur-unsur itu hanya dapat dipahami dalam hubungannya satu sama lain dan dalam hubungannya dengan keseluruhannya.

Kalau manusia itu produsen hubungan-hubungan sosial, dengan, serta melalui, hubungan-hubungan sosial ini pun mengembangkan dirinya sendiri, bagaimana mungkin manusia kehilangan kekuasaan atas produknya sendiri itu, atau lebih tegas lagi: bagaimana mungkin produk itu mendapat kekuasaan atas produsennya? Inilah masalah keterasingan.

Keterasingan harus dibedakan dengan obyektifikasi. Obyektifikasi memang sudah ada pada manusia sebagai manusia. Orang harus menyatakan pikiran-pikiran, kehendak-kehendak serta keinginan-keinginannya dengan kata serta gerak kalau ingin dipahami oleh orang-orang lain. Proses eksternalisasi ini mengakibatkan bahwa pikiran-pikiran, kehendak-kehendak, dan keinginan-keinginan itu memperoeh eksistensi obyektif. Tentu saja semuanya ini paling jelas; daya kreasi manusia menghasilkan produk-produk materiil, tetapi adalah keliru jika kita memandang remeh sifat obyektif dari pendapat-pendapat. Pun gagasan-gagasan dapat mempunyai eksistensi obyektif dalam misalnya peraturan-peraturan hukum, kebiasaan, ajaran-ajaran filsafat, dan sebagainya.

Proses obyektifikasi belum tentu mengakibatkan keterasingan. Keterasingan baru terjadi apabila orang-orang menguasai produk, berlawanan dengan kehendak kaum produsen, dan merampas hak produsen atas produk itu. Peristiwa ini dapat terjadi demikian jauhnya sehingga produk itu tidak lagi dikenal sebagai produknya sendiri atau bahkan produk ciptaan manusia. Produk itu menjadi kekuatan asing yang ada di luar manusia dan yang menurut keyakinannya harus ia taati. Maka ia memiliki kesadaran palsu. Pembebasan diri dari kekuatan asing itu, ialah emansipasi yang sesungguhnya, syaratnya atau artinya ialah bahwa kenyataan yang diobyektifikasikan dan yang terasing itu harus dikuasai kembali.

Sebab-musabab keterasingan itu—menurut Marx—terletak pada milik pribadi.Milik pribadi ini tidak selalu ada sebelumnya. Dalam tahap sejarah yang paling awal, yaitu tahap komune primitif, tidak ada hak milik pribadi. Tetapi berkat perkembangan tenaga-tenaga produksi, terutama teknik, secara berangsur-angsur produk dihasilkan melebihi jumlah yang diperlukan untuk memenuhi keperluan. Maka terdapatlah surplus, dan surplus ini memungkinkan bahwa orang-orang tertentu tidak perlu ikut berproduksi, tetapi dapat menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan rohaniah. Pemisalah antara kerja di bidang materiil dan kerja rohaniah merupakan saat yang menentukan dalam proses pembagian kerja. Pembagian kerja sudah ada sejak semula di dalam hubungan seks, yaitu atas dasar sifat-sifat jasmaniah; tetapi dengan dibaginya kerja menjadi kerja rohaniah dan kerja jasmaniah maka menjadi mungkin bahwa “kenikmatan dan kerja, produksi  dan konsumsi jatuh ke tangan individu-individu yang berbeda-beda.

Pembagian kerja yang menyodorkan tugas tertentu kepada setiap orang dalam proses produksi, juga mengakibatkan pembagian produk yang tidak sama. Dengan kata lain, timbulnya hak milik. Masalahnya bukanlah hak milik pribadi berupa barang-barang konsumsi, merupakan hak milik pribadi berupa sarana-sarana produksi, ialah alat-alat, uang. Pendek kata: modal (kapital). Dengan modal ini, orang dapat menyuruh orang lain untuk bekerja untuk dirinya sendiri, dan pemilik modal itu dengan demikian menguasai tenaga kerja orang-orang lain (kelas pekerja/buruh).

Bersamaan dengan timbulnya hak milik pribadi semacam ini timbul pulalah pembagian dalam kelas-kelas. Sejak saat itu terdapat kaum pemilik sarana-sarana produksi dan kaum yang tidak memilikinya. Masing-masing kelas ini memiliki kepentingan-kepentingannya sendiri. Dengan demikian maka timbul pula pemisalahan antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Kaum “berpunya (kaya)” menyatakan kepentingan pribadi mereka sebagi kepentingan umum di hadapan kaum “tidak berpunya (miskin).”

Sudah jelas bahwa keterasingan pertama kali terungkap pada tingkat fundamental, ialah pada tingkat ekonomi kenyataan sosial. Pada tingkat ini, keterasingan terwujud pertama-tama dalam hubungan dengan produk kerja. Sebab, buruh berproduksi tidak langsung untuk memenuhi keperluannya sendiri. Dia berproduksi untuk pasaran: produk ditarik dari penguasaannya, dan dijual di pasaran yang dikuasi oleh hubungan-hubungan tukar-menukar yang ada di luar kekuasaannya. Semakin banyak kelas pekerja berproduksi, semakin miskinlah dia, karena dunia produksi yang asing baginya semakin tumbuh. Buruh tidak saja terasing dari produk kerja, tetapi juga dari proses kerja. Kerja sendiri berubah menjadi tugas, dan tidak lagi merupakan pemenuhan keperluannya akan kerja, tetapi merupakan suatu sarana untuk memenuhi keperluan-keperluan lain. Kerja menjadi begitu tidak menenangkan sehingga dia baru bisa merasa bahagia apabila kerja sudah selesai dan tersisa waktu baginya untuk kesibukan-kesibukan lain. Keadaan ini juga menyentuh hakikat manusia sendiri, karena ia harus mencapai perwujudan diri melalui kerja. Jadi, kalau dia menjadi terasing dari kerja, maka ia dengan demikian juga menjadi terasing dari hakikat dirinya sendiri yang sebenarnya.

Keterasingan ekonomi ini berkaitan dengan bentu-bentuk keterasingan lainnya. Keterasingan politik berarti bahwa kelas pekerja dan kaum miskin harus tunduk kepada kekuasan negara yang tidak lain daripada kekerasan yang diorganisisasi dari suatu kelas untuk menindas kelas-kelas lain. Jadi, di balik negara tersembunyi pula kepentingan-kepentingan ekonomi dari kelas yang dominan. Selanjutnya gagasan-gagasan yang dominan, misalnya mengenai apa yang baik atau buruk, adalah gagasan golongan yang berkuasa. “Gagasan-gagasan yang dominan tidaklah lain daripada pernyataan ideal dari hubungan-hubungan materiil yang dominan.” Siapa pun yang memiliki sarana-saran bagi produksi materril memiliki juga sarana-sarana bagi produksi rohaniah. Pun gagasan-gagasan keagaamaan: gambaran menengenai Tuhan, mengenai suatu kehidupan sesudah meninggal dunia, dan sebagainya juga diabdikan demi kelas yang dominan (kelas kapitalis). Tuhan merestui tatanan yang ada, dan janji-janji mengenai kehidupan setelah kematian menjadi hidup di dunia ini menjadi tertahankan, dan memperlemah kerelaan untuk berjuang di dunia ini demi kebebasan.

Negara, moral, agama timbul dari produksi materiil seperti yang dikemukakan di atas. Tetapi, kaum yang tidak memiliki alat produksi dan kaum miskin tidak lagi mempunyai hak menentukan apapun dalam hal-hal itu. Selain itu perlu dicatat di sini bahwa kelas kapitalis pun tidak mengenali keterasingan itu. Mereka juga “percaya” kepada negara sebagai wakil kepentingan umum, kepada norma-norma yang ada mengenai baik dan buruk, dan kepada nilai realitas dari gagasan-gagasan keagamaan. Menurut Marx sama sekali tidak ada persekongkolan yang sadar dari kelas kapitalis terhadap proletar. Kedua kelas itu memiliki kesadaran palsu karena itdak satu pun memiliki pengertian yang benar mengenai sifat serta jalannya perkembangan sosial. Tetapi, ini saja tidak berarti bahwa kedua kelas itu sama-sama menderita karenanya. Justru sebaliknya.

Keterasingan hanya dapat dilenyapkan apabila sebab-musababnya dihilangkan; jadi hak milik terhadap alat produksi atau sarana-sarana produksi harus dihapuskan. Penghapusan ini tidak dapat dilakukan pada sembarang waktu dalam sejarah, seolah-olah hanya merupakan efek kehendak manusia. Memang manusia menciptakan sejarahnya sendiri, tetapi dalam kerangka keadaan-keadaan yang objektif. Jadi, keadaan objektif harus cocok dulu sebelum tindakan manusia dapat memberi efek. Pun di dalam perkembangan masyarakat, subyek dan obyek berhubungan satu sama lain secara dialektis.

DAFTAR BACAAN

Erich Fromm, “The Art of Loving,” Fresh Book, Jakarta, 2002.
Frans de Waal, “Primat dan Filsuf: Merunut Asal-Usul Kesadaran,” Kanisius, Yogyakarta, 2011.
L. Laeyendecker, “Abad Kesembilan Belas: Sosialisme,” Gramedia, Jakarta, 1991.
Karl Marx dan Frederick Engels, “Manifesto Partai Komunis,” Bintang Nusantara, Yogyakarta, 2014.
Tim Penulis Titian Perdamaian, “Dinamika Konflik dan Kekerasan di Indonesia,” Yayasan Tifa, Jakarta, 2011.

Minggu, 02 Juli 2017

PERJALAAN HIDUP DAN POLITIK HENK SNEEVLIET



Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono


Indonesia yang pada zaman penjajahan Belanda bernama Hindia Belanda adalah sebuah kepulauan yang kaya akan sumber daya alam. Berbagai rempah-rempah, hasil pertanian dan perkebunan, serta hasil pertambangan melimpah di negeri surga ini. Kekayaan itulah, yang membuat banyak negara-negara lain berdatangan dan berkeinginan kuat menjajahnya. Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang tercatat pernah menjajah Indonesia. Dari keempat penjajah itu, Belandalah yang paling lama menjajah Indonesia. Bayangkan, hingga 300 tahun atau tiga abad lebih Belanda menjajah Indonesia.

Dalam rentang waktu yang sangat lama itu, negara kincir angin itu gila-gilaan merampas kekayaan alam dan menindas rakyat Indonesia. Diskriminasi, pemerasan, pemaksaan, perampasan, dan pelecehan merupakan pemandangan umum pada saat itu. Demi kepentingan Belanda, rakyat dipekerjakan dengan upah yang sangat rendah, rakyat dipaksa untuk menanami lahannya sendiri dengan tanaman-tanaman yang laris di pasaran Eropa, kaum perempuan atau istri dan anak-anak bisa dirampas dari suami atau ayahnya sewaktu-waktu oleh orang-orang Belanda pada saat mereka menginginkannya—entah untuk dijadikan budak seks entah untuk dipekerjakan, dan rakyat pun tidak diberi kesempatan mengakses pendidikan. Tindakan yang terakhir itu, ditujukan agar rakyat dapat selalu dengan mudah dikondisikan tidak berdaya karena bodoh.

Melalui perbudakan upah dan tindakan-tindakan nirkemanusiaan tersebut kapital perusahaan-perusahaan Belanda mengalami pertumbuhan. Berbagai barang dagangan yang dipasarkan selalu menarik minat banyak konsumen atau selalu laku. Kondisi seperti itu, mendorong Belanda meningkatkan hasil produksinya dengan cara mengindustrialisasi proses produksi. Dengan kata lain, bahan mentah yang berasal dari alam diolah dengan menggunakan mesin. Melalui proses itu, tidak hanya kapital dari perusahaan-perusahaan swasta Belanda yang menggelembung seperti balon yang ditiup, kas Belanda pun juga ikut menggendut. Penjajah yang berasal dari negeri kincir angin itu, semakin kaya dari waktu kewaktu.

Pengolahan dengan menggunakan mesin atau industrialisasi tidak hanya berdampak semakin meningkatnya kekayaan Belanda, tetapi berdampak pula pada munculnya kebutuhan akan tenaga kerja yang terampil dan murah. Untuk kepentingan pengadaan itu, maka diberikanlah kesempatan bagi orang-orang pribumi untuk mengakses pendidikan. Dan, karena yang dibutuhkan hanyalah tenaga-tenaga terampil yang akan menangani proses produksi melalui manajemen industri bukan orang-orang yang cerdas dan kritis, maka mereka hanya diberikan kesempatan untuk mengakses pendidikan yang berkaitan dengan itu. Mereka tidak diberikan kesempatan untuk mengakses pendidikan yang berbau politik, dan ilmu-ilmu sosial kritis lainnya. Paling banter mereka hanya dipersilakan untuk mengakses pendidikan kedokteran dan keguruan.

Berangkat dari fenomena tersebut, jelas terlihat, kebijakan politik etis yang salah satu programnya adalah memberikan kesempatan bagi orang-orang pribumi mengakses pendidikan (edukasi), tidak diperuntukan mencerdaskan rakyat Indonesia, tetapi semata-mata di-setting untuk melayani kepentingan Belanda. Buktinya, mereka dicegah untuk mengakses pendidikan politik dan imu-ilmu sosial kritis. Pencegahan itu, dilakukan oleh Belanda agar kekuasaannya di Indonesia tidak tergugat. Dengan kata lain, hubungan produksi antara penjajah dan pihak yang terjajah tidak mengalami gangguan. Dengan begitu, diharapkan, di satu sisi Belanda dapat meningkatkan hasil produksinya karena memiliki tenaga-tenaga terampil yang murah, dan di sisi lain bisa terus “menancapkan kukunya” di negara ini.

Harapan itu, pada kenyataannya, hanya berhenti pada harapan semata. Belanda lupa, kalau ragam ilmu pengetahuan, baik eksakta maupun non eksakta, saling terkait atau tidak bisa diceraikan antara satu dan lain. Ketika pribumi diberikan kesempatan untuk mengakses pendidikan mereka ogah atau tidak mau hanya terkungkung dalam ilmu yang sedang dipelajari dan dibidanginya, mereka meretas sekat-sekat antara ilmu eksakta dan non eksakta. Peretasan itulah, yang kemudian mendorong munculnya kaum intelektual pribumi yang memiliki jiwa nasionalisme. Dengan begitu, alih-alih tunduk pada kekuasaan Belanda, mereka menyatukan kesadaran kritis, membentuk organisasi yang berorientasi merongrong kekuasaan Belanda. Pada saat politik etis dilaksanakan oleh Belanda, sejarah mencatat, berbagai organisasi politik yang berorientasi pada pembebasan nasional marak didirikan oleh orang-orang pribumi.

Pada saat organisasi-organisasi politik yang didirikan dan dibangun oleh pribumi membuat resah pemerintah jajahan Belanda, datanglah seorang berkebangsaan Belanda, Hendricus Jesephus Franciscus Marie Sneevliet alias Henk Sneevliet alias Maring alias Malin (selanjutnya disebut Henk Sneevliet). Kedatangan dia dari negeri Belanda bukan untuk menumpas berbagai organisasi itu, tetapi sebaliknya turut serta memperkuatnya. Dari negeri kincir angin itu, dia membawa ide-ide sosialisme-komunis yang kemudian, bersama kawan-kawan sebangsanya, dia suntikkan ke dalam organisasi pembebasan nasional itu dengan tujuan memperhebat perlawanan pirbumi terhadap bangsa yang menjajahnya, bangsa Henk Sneevliet sendiri.

Dengan begitu, fakta sejarah menunjukkan, pahlawan nasional tidak hanya terdiri dari orang-orang pribumi atau asli Indonesia, tetapi juga orang-orang asing, bahkan orang Belanda sendiri, memainkan peranan itu. Henk Sneevliet, salah satunya.

Lahir Dari Seorang Ibu yang Bersuamikan Buruh Miskin
Henk Sneevliet yang lahir pada 13 Mei 1883 adalah anak yang dilahirkan dari seorang Ibu  yang bersuamikan seorang buruh yang miskin. Suami dari ibunya atau Ayah kandungnya adalah seorang buruh di sebuah pabrik cerutu di negeri Belanda.[1] Walau, hidup dalam keadaan miskin, Henk Sneevliet, adik perempuannya, dan Ibunya hidup bahagia. Cinta diantara merekalah yang membuat kebahagiaan itu tercipta.

Pernikahan antara Ayah dan Ibu Sneevliet bukanlah pernikahan yang dilakukan tanpa halangan. Pada saat Ayahnya berkeinginan menikahi Ibunya, keinginan itu ditentang oleh orang tua dari Ibunya atau kakek dan nenek Sneevliet dari pihak Ibunya. Alasan dari penentangan itu adalah karena Ayah Sneevliet adalah seorang yang berasal dari keluarga yang miskin. Dan, Ayah Sneevliet sendiri pun seorang buruh yang miskin. Walau, mendapat halangan, Ayah dan Ibu Sneevliet tetap melangsungkan pernikahan tanpa persetujuan orang tua. Halangan itu, ditabrak, didobrak, dan dihancurkan oleh mereka demi memberikan jalan bagi kekuatan cinta diantara mereka.
Sayang sekali, Henk Sneevliet hanya menikmati kehidupan rumah tangga keluarganya yang harmonis pada waktu yang sangat pendek. Pada usianya yang baru menginjak tiga tahun dia sudah ditinggalkan oleh Ibunya. Ibunya meninggal dunia disebabkan oleh penyakit tuberkulosis yang dideritanya. Sebelum meninggal dunia, Ibunya sempat mengeluh kepada Henk kalau dadanya terasa sangat sakit. Selain itu, Henk juga menyaksikan Ibunya muntah darah sebelum meninggal dunia. Peristiwa itu memukul perasaan Henk, dan membuat Henk menangis.

Dari peristiwa itu, Henk Sneevliet belajar, betapa kemiskinan selain dapat merendahkan martabat manusia, dia juga bisa memisahkan cinta diantara manusia. Karena miskin, kehadiran Ayahnya ditolak dan dihina di dalam keluarga Ibunya yang kaya, dan karena kemiskinan pula Ibunya terserang penyakit tuberkulosis yang pada gilirannya memisahkannya dengan Henk. Berangkat dari situ, Henk memahami bahwa kemiskinan sungguh menistakan manusia.

Apa penyebab dari kemiskinan? Mengapa ada orang miskin dan kaya? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang bersarang di dalam kepala Henk Sneevliet, yang jawabannya ditemukan pada saat dia bergabung dengan organisasi perjuangan buruh berideologi sosialisme-komunis di Belanda.

Bergabung dengan Organisasi Komunis
Setelah Ibu Henk Sneevliet meninggal dunia, Ayahnya harus mengurus kedua anaknya seorang diri, Henk dan adik perempuannya. Oleh sebab itu, Ayahnya mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai buruh. Namun, dikemudian hari, karena desakan ekonomi, dengan terpaksa Henk dan adiknya dititipkan pada nenek atau orang tua Ayahnya. Dan, kemudian Ayahnya mencari kerja.

Setelah ke sana dan ke sini, pontang-panting mencari pekerjaan, akhirnya Ayah Henk mendapat pekerjaan sebagai penjaga penjara. Dari pekerjaannya itu, Ayah Henk mendapatkan penghasilan yang lumayan. Tidak lupa, dia selalu mengirimkan uang kepada Henk dan adiknya pada saat menerima gaji.

Tidak lama kemudian, Ayahnya menikah kembali dengan seorang perempuan. Setelah itu, Ayahnya hanya hidup berdua dengan istri barunya itu, sedangkan Henk dan adiknya memilih untuk tetap tinggal bersama neneknya di ‘s-Hertogenbosch. Walau, kehidupan nenek dan keluarganya sangat miskin, namun Henk dan adiknya tetap ingin selalu bersama dengan neneknya. Kasih sayang dan cinta neneknya ternyata mencegah Henk dan adiknya pergi meninggalkannya.

Henk Sneevliet berkembang dan tumbuh dewasa dari waktu ke waktu di bawah asuhan neneknya. Seperti anak-anak pada umumnya, dia bermain dan menjalani pendidikan di lembaga pendidikan formal. Saat itu, dia tercatat sebagai salah satu murid dari HBS (Hogere Burgerschool). Pada tahun 1900, pada saat usianya menginjak 17 tahun, dia lulus dari HBS.

Lulus dari HBS, Henk Sneevliet tidak lantas berongkang-ongkang kaki, menikmati masa mudanya, hidup bersenang-senang dan bermalas-malasan. Bagi Henk, tidak ada kesempatan untuk bertindak konyol seperti itu. Dia langsung mencari pekerjaan, melamar ke sana dan ke sini, ke pabrik itu dan ini, ke perusahaan ini dan itu. Dari usahanya mencari pekerjaan itu, akhirnya dia pun mendapat pekerjaan, dia diterima sebagai pegawai negeri (di Indonesia bernama PNS—Pegawai Negeri Sipil) di sebuah Perusahaan Kereta Api milik negara.

Pada saat bekerja di perusahaan tersebut, Henk Sneevliet mulai bersentuhan dengan organisasi buruh berhaluan komunis, Socialistisch Democratisch Arbeiders Partij (SDAP). Melalui organisasi itu, Henk mendapatkan pemahaman bahwa akar dari kemiskinan disebabkan oleh dikuasainya alat produksi oleh segelintir orang kaya. Dan, untuk meretas masalah itu, dibutuhkan organisasi yang militan yang akan membawa perubahan sosial yang lebih baik ke depan, perubahan yang dapat mengentaskan manusia dari ketertindasan, ketidakadilan, dan kemiskinan. Lebih jauh, dia memahami bahwa ideologi dan perjuangan komunis adalah juru selamat bagi umat manusia. Tertarik dengan ide-ide dan perjuangan yang dilakukan oleh organisasi itu, Henk pun bergabung dengan organisasi itu.

Selain bekerja dan berorganisasi, Henk melanjutkan sekolahnya di tingkat perguruan tinggi. Dia sadar betul, pendidikan adalah salah satu bagian penting untuk membangkitkan kesadaran berlawan. Dan, melalui pendidikan pula, dia dapat memperkokoh perjuangan politiknya. Bagi Henk, teori dan praksis adalah satu kekuatan yang dapat memberikan dorongan hebat bagi upaya melakukan perubahan sosial. Pada tahun 1904, dia menyelesaikan pendidikan akademiknya itu.

Setelah lulus dari pendidikan tinggi, Henk ditugaskan bekerja di kantor cabang Perusahaan Kereta Api Negara, di Kota Zwolle. Di kota itu dia tidak tidak hanya bekerja, tetapi juga melanjutkan kegiatannya di organisasi komunis (SDAP). Karena kekonsistenan dan kesetiannya di SDAP, pada tahun 1906 dia diangkat menjadi pengurus cabang organisasi Serikat Buruh Kereta Api dan Tram yang bernama Nederlandsche Vereniging van Spoor-en Trampersoneel (NVV) di Zwolle. Tidak berhenti sampai di situ, seabrek tugas yang berkaitan dengan perjuangan komunis dia jalani.

Henk Sneevliet menjadi seorang marxis-komunis yang semakin bersemangat dan radikal semenjak dia menjabat sebagai Ketua SDAP afdeling (cabang) Zwolle pada tahun 1907—1909. Kondisi seperti itulah, yang kemudian membuat dia semakin dikenal di kalangan intelektual komunis. Dan, dari situ pula dia kemudian memiliki akses untuk menjalin hubungan dekat  dengan tokoh-tokoh komunis Internasional, seperti Henriëtte Roland Holst, Rosa Luxemburg, V.I. Lenin, dan Leon Trotsky.

Dari pergaulannya dengan kaum komunis di tingkat internasional tersebut, Henk Sneevliet semakin memperkuat pemahamannya bahwa perjuangan pembebasan kaum buruh dari para penindasnya, kaum kapitalis, tidak bisa dilakukan secara terpisah, antara negara satu dan negara lainnya berjuang sendiri-sendiri atau tidak saling terkoneksi. Dia meyakini seruan dari Karl Marx dan Friedrich Engels melalui buku yang mereka tulis berdua, Manifesto Partai Komunis, bahwa dalam perjuangan pembebasan nasib kaum buruh demi untuk memberikan jalan bagi pembangunan masyarakat yang lebih baik di masa depan harus ada penyatuan kekuatan buruh di seluruh dunia. “Kaum buruh di seluruh dunia, bersatulah..!!” begitu seru Marx dan Engels.

Berangkat dari keyakinannya itu, Henk Sneevliet bersama kawan-kawannya pada tahun 1912 memberikan dukungan kepada buruh/pelaut yang bekerja pada perusahaan Internasional yang sedang melakukan pemogokan di negara Inggris. Dukungan itu, diwujudkan dalam bentuk pengorganisasian aksi solidaritas kaum buruh di kota-kota besar Belanda. Kepiwaiannya dalam mengorganisasi aksi massa ditunjukkan dengan berhasilnya dia membangkitkan rasa solidaritas kaum buruh di negara kelahirannya itu. Terjadi demonstrasi besar-besaran kaum buruh di negara kincir angin itu. Sedemikian gegap-gempita dan besarnya aksi solidaritas itu, sehingga membuat perusahaan-perusahaan dan pemerintah Belanda ketakutan.

Pemerintah Belanda, dan perusahaan kereta api tempat Henk Sneevliet bekerja menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri aksi massa yang diorganisasi oleh Henk dan kawan-kawan seperjuangannya tersebut. Oleh sebab itu, mereka langsung mengecap Henk sebagai orang yang berbahaya. Bahkan, Henk dimasukkan ke dalam daftar hitam Badan Intelijen Belanda.[2] Dan, berdasarkan alasan itu pula Henk didepak atau dipecat dari pekerjaannya di perusahaan kereta api tersebut.

Setelah dipecat dari pekerjaannya, Henk semakin intensif berorganisasi dan mempelajari berbagai bahan bacaan bertemakan Marxisme. Dia membaca Das Kapital yang ditulis oleh Marx, tulisan-tulisan Friedrich Engels, Lenin, dan Leon Trotsky. Selain itu, dia juga sempat membaca tulisan dari Douwes Dekker (Multatuli) Max Havelaar. Sebuah buku, yang mengisahkan tentang nasib rakyat Indonesia di bawah penindasan penjajah Belanda.

Mengunjungi Indonesia
Buku Max Havelaar yang dibaca hingga khatam oleh Henk Sneevliet memberikan gambaran tentang nasib rakyat Indonesia kepadanya. Dan, dari gambaran itu, tergeraklah hati dan pikirannya. Pada saat itu, muncul niat yang kuat untuk berkunjung ke Indonesia dan memberikan kontribusi terhadap perjuangan pembebasan nasional yang pada saat itu sedang dilakukan oleh rakyat Indonesia melalui berbagai bentuk organisasi politik.

Henk Sneevliet tiba di pulau Jawa pada pertengahan bulan Februari tahun 1913. Setibanya di pulau itu, dia tidak langsung mendatangi organisasi-organisasi politik yang sudah ada untuk merealisasi niatnya tersebut. Hal itu, tidak mungkin dilakukan mengingat mata-mata Belanda ada di mana-mana. Selain itu, dia harus menjamin kehidupannya sendiri selama tinggal di Indonesia. Maksudnya, dia harus mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri dan sebagai sumber keuangan untuk mengongkosi perjuangannya tersebut.

Pucuk dicinta ulam tiba, kebetulan pada waktu itu di Indonesia sedang dibutuhkan orang-orang Eropa/Belanda terdidik untuk dipekerjakan di perusahaan media massa yang pada saat itu sedang marak dibangun oleh orang-orang Belanda.[3] Pada mulanya, dia bekerja sebagai staf editorial di Soerabajaasch Handelsblad, koran utama Jawa Timur, yang menjadi corong penting sindikat perusahaan gula.

Tidak lama bekerja di perusahaan koran tersebut, dia bertemu dengan orang yang satu ideologi dengannya, D.M.G. Koch. Sama seperti halnya Henk, Koch juga bekerja pada sebuah perusahaan koran di Semarang. Nama perusahaan itu, Semarang Handelsvereniging. Terjalin hubungan yang akrab diantara mereka. Mereka, sering terlihat sedang terlibat dalam diskusi terkait dengan pembangunan organisasi sosialisme-komunis.

Pada suatu hari, Koch mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan kemudian dia menunjuk Henk untuk mengantikannya. Karena pertimbangan politik, Henk pun meninggalkan pekerjaan lamanya dan datang ke Semarang untuk menggantikan Koch.

Secara politis, bagi Henk Kota Semarang adalah tempat yang cocok untuk dia merealisasikan kepentingan politiknya. Semarang adalah pusat perkembangan kapitalisme, pusat kepentingan komersial orang-orang Eropa dalam membangun pasar di Jawa, dan kota yang liberal dibandingkan dengan kota-kota lain. Boss tempat Henk bekerja tidak mempermasalahkan ideologi komunis yang diyakini oleh Henk, dan si Boos juga mempersilakan Henk untuk aktif dalam organisasi. Si Boss hanya melarang Henk melakukan tindakan-tindakan yang mengarah pada revolusi, diluar itu Henk dipersilakan melakukan apa saja terkait dengan ideologi yang diyakininya itu. Padahal larangan dari Bossnya itulah yang menjadi tunjuan atau merupakan misi utama Henk.

Henk sering melakukan kontak dengan buruh-buruh yang tergabung di dalam Vereeniging van Spoor en Tramwegpersoneel (VSTP)—Serikat Buruh Kereta Api dan Trem—. Melalui kontak itu, dia selalu melakukan diskusi tentang kondisi rakyat Indonesia, bagaimana membangun dan menggerakkan organisasi politik, dan ide-ide Sosialisme-Komunis yang memiliki daya pukul yang efektif dalam menghadapi penjajah. Kehadirannya, dinilai telah memberikan pencerahan terhadap gerakan buruh dan organisasi politik di Indonesia pada saat itu.

Akhirnya, Henk Sneevliet pun bergabung dengan VSTP. Dengan kata lain, dia menjadi salah satu anggota dari organisasi buruh kereta api itu. Padahal, pada saat itu VSTP merupakan salah satu organisasi politik yang moderat. Namun, justru karena itulah tujuan dia bergabung. Dengan dia bergabung, akan lebih memudahkannya dalam menyuntikan ide-ide revolusioner sosialisme-komunis ke dalam organisasi itu. Tindakan revolusioner itu, dibutuhkan untuk memperhebat perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajah Belanda.

Berkat pengalamannya sebagai pemimpin buruh, dan kecerdasannya dalam menulis serta berpidato, dia pun diangkat menjadi ketua VSTP. Pada saat itulah, dia secara sungguh-sungguh membangkitkan VSTP dari komeradannya, dia berhasil melakukan propaganda melalui berbagai tulisan yang diterbitkan oleh majalah bulanan VSTP yang bernama De Volharding.

Dalam berbagai tulisannya tersebut, dia memberikan ulasan dan analisis terhadap masalah nasional (Hindia Belanda), misalnya masalah ketidakadilan yang terkandung di dalam berbagai undang-undang dan peraturan pemerintah jajahan Belanda. Hasil ulasan dan analisisnya itu, menjadi bahan perdebatan politik yang berkaitan dengan masalah monopoli produksi kelas kapitalis.

Semenjak Henk Sneevliet menyumbangkan berbagai tulisannya di majalah tersebut, oplah cetakan terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Sehingga, VSTP menerbitkan majalah bernama si Tetap khusus untuk penerbitan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan sosialisme-komunis. Oplah yang dicetak khusus untuk si Tetap sendiri mencapai hingga 15.000.

Metode Pengorganisasian Buruh dan Tani ala Henk Sneevliet
Henk Sneevliet berpikiran bekerja melalui organisasi VSTP saja belum cukup untuk mendorong ide-ide sosialisme-komunis benar-benar diadopsi dalam perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah, di butuhkan organisasi independen pure  berbasiskan komunis untuk melakukan itu. Oleh sebab itu, dia bersama kawan-kawannya sesama orang Belanda, pada 9 Mei 1914, mendirikan Indische Sociaal Demokratische Vereeniging). Tujuan dari organisasi itu, menjadi gerakan basis massa secara luas untuk pembebasan rakyat Indonesia dari penjajahan Belanda atau imperialisme asing. Dengan begitu, perjuangan Henk Sneevliet sebagai orang Belanda bukan untuk ditujukan untuk kepentingan buruh-buruh di Belanda saja, tetapi ditujukan untuk kepentingan rakyat Indonesia, dan seluruh buruh di dunia. Hal itu, sejalan dengan seruan Marx dan Engels, “Seluruh buruh sedunia, bersatulah..!!”

Melalui organisasi komunis tulen itu, Henk Sneevliet bersama kawan-kawannya mulai membangun organisasi-organisasi serikat buruh. Berkat kerja-kerja pengorganisasian itulah, pada saat itu, serikat-serikat buruh bermunculan laksana jamur yang tumbuh dimusim hujan. Pada tahun 1916, pegawai-pegawai Indonesia dari Jawatan Pegadaian Negeri mendirikan Perserikatan Pegawai Pegadaian Bumiputra (PPPB) yang berpusat di Yogyakarta, kaum buruh Burgerlijke Openbare Werken (BOW—Pekerjaan Umum) mendirikan Vereeniging Inheemse Personeel BOW yang berpusat di Mojokerto, para guru mendirikan Perserikatan Guru Hindia Belanda (PGHB), Perhimpunan Guru Bantu (PGB), dan Perserikatan Guru Ambachtschool. Kaum buruh Jawatan Candu mendirikan Opium Rgiobond van Nederlands-Indië pada tahun 1915, de Opiumregiobond Luar Jawa di Madura pada tahun 1917, dan buruh Doune serta Perhimpunan Buruh Putra Pabean.

Henk Sneevliet dalam melancarkan aksi politiknya tersebut tidak berhenti pada penggarapan di sektor perburuhan, dia juga di sektor pertanian. Di sektor itu, melalui ISDV, dia melakukan pengorganisasian massa rakyat dalam merespon berbagai permasalahan politik aktual, diantaranya menentang politik Indië Weerbar (Persenjatai Indonesia), yakni kebijakan politik penjajah Belanda yang mewajibkan rakyat Indonesia, khususnya kaum tani, membentuk kekuatan milisi untuk mempertahankan tanah jajahan demi kepentingan rezim Belanda di Indonesia—menurut Ruth T. McVey proyek itu dibuat oleh orang-orang Belanda yang khawatir akan gerakan Jepang, Australia, dan Inggris yang mengancam kepentingan kekuasaan Belanda di Indonesia,[4] menuntut penurunan harga beras, menentang cara-cara pemilihan yang tidak demokratis dari dewan-dewan kota dan Volksraad (Dewan Rakyat), menentang politik pembelian padi pemerintah yang merugikan petani, dan menentang pajak-pajak yang sangat memberatkan penghidupan rakyat.[5]

Aksi pengorganisasian buruh dan tani yang dilakukan oleh Henk Sneevliet tersebut, bukan semata-mata kepiwaiannya dalam melakukan itu. Walau, kepiawaian dalam kepemimpinan dibutuhkan dalam gerakan massa rakyat. Namun, yang paling terpenting, yang utama dan terutama, kondisi dari perkembangan kapitalisme itu sendiri di Indonesia. Pada saat itu, gerakan massa rakyat di kalangan kaum buruh dan tani memang memungkinkan untuk itu. Saat itu, mereka secara intensif sedang dieksploitasi oleh imperialisme Belanda. Kondisi seperti itu, menggambarkan hubungan produksi sistem kapitalisme di Indonesia yang menindas, sehingga memudahkan bagi Henk melakukan pengorganisasian. Jadi, pertemuan antara faktor kepemimpinan dan syarat materiil sangat dibutuhkan dalam kegiatan pengorganisasian untuk mengukur berhasil atau tidaknya tindakan-tindakan revolusioner berbasiskan Marxisme-Revolusioner.

Pada saat itu, kondisi kerja buruh dan tani sangat dirasakan begitu mengenaskan, misalnya banyak petani musiman yang terpaksa menjadi kuli kontrak untuk pembuatan rel-rel kereta api, proyek perluasan sarana pelabuhan sebagai pusat ekspor-impor perdagangan, perluasan perkebunan dan industri karet, dan pemasangan jaringan telekomunikasi.

Bersamaan dengan itu, sebagai dampak dari industrialisasi sebagaimana telah penulis sampaikan di muka, lahir pula intelektual-intelektual pribumi—orang asli Indonesia—yang memiliki kesadaran untuk berlawan dengan mengusung panji-panji pembebasan nasional.

Dari kondisi seperti itu, maka lahirkan golongan kelas pekerja di Indonesia pada saat itu. Golongan itulah, yang kemudian tergabung dalam organisasi-organisasi yang pembentukannya melibatkan peranan Henk Sneevliet dan kawan-kawannya dari ISDV.

Gerakan Infiltrasi ke dalam Organisasi Sarekat Islam
Sebelum Henk Sneevliet menyuntikan ideologi komunis ke dalam barisan-barisan serikat buruh, sebagaimana telah penulis tunjukkan di muka, dia sudah membangun organisasi komunis, Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV—Persatuan Sosial Demokrat Hindia). Organisasi itu, dia dirikan bersama kawan-kawannya, diantaranya D.M.G. Koch, Adolf Baars, dan Brandsteder. Dia mendirikan organisasi itu pada tahun 1914 di Semarang. Orang-orang yang tergabung di dalam organisasi itu, semuanya berasal dari orang-orang berkebangsaan Belanda.

Sadar betul jika perjuangan pembebasan itu tidak mungkin dapat dilakukan apabila tidak melibatkan orang-orang pribumi, maka, melalui ISDV, Henk Sneevliet pun berupaya melibatkan intelektual pribumi. Untuk kepentingan itu, ISDV pun menjalin kerja sama dengan Insulinde. Insulinde adalah sebuah partai politik yang menghimpun orang-orang Jawa di dalamnya. Partai itu, memiliki 6000 anggota pada saat itu.[6]

Gerakan Insulinde dibangun pada tahun 1909 dengan orientasi memperjuangkan kesetaraan. Mereka membentuk gerakan itu, karena merasa terbuang ketika komunitas orang-orang Eropa di Indonesia mengalami peningkatan. Mereka merasa peningkatan itu, akan berdampak tersingkirnya mereka dari lingkungan orang-orang Belanda secara ekonomi. Untuk menyelamatkan posisi itu, mereka pun bekerja sama dengan kaum intelektual pribumi (kaum terpelajar) memperjuangkan hak kesetaraan dengan kaum pendatang dari Eropa. Pelopor atau pendiri organisasi itu adalah orang-orang Eurasia yang sebenarnya khawatir akan perkembangan kapitalisme Belanda. Karakter dari perjuangan gerakan itu, mereka warisi dari tradisi Indische Partij yang dibubarkan oleh Belanda pada tahun 1913,[7] karena bersemboyan lepas dari Belanda.

Namun, walaupun kerja sama dapat terjalin dengan baik, Insulinde tidak memiliki basis massa yang luas. Sarekat Islamlah yang memilikinya. Oleh sebab itu, ISDV pun memutuskan untuk beralih bekerja sama secara intensif dengan Sarekat Islam dan mengendurkan hubungan kerja samanya dengan Insulinde.

ISDV melakukan kegiatan propaganda Marxisme di kalangan massa Sarekat Islam yang berjumlah ratusan ribu orang. Massa kaum pekerja dengan cepat terdidik oleh penerapan ajaran Marxisme guna memajukan perjuangannya melawan penindasan pemerintah jajahan Belanda. Sehingga dalam prosesnya, terbentuklah sayap radikal Sarekat Islam yang berpusat di Semarang. Dan pada saat itulah, program-program organisasi Sarekat Islam yang dirancang bersama ISDV menjadi program yang menakutkan bagi para penindas. Di dalam program itu, termuat berbagai tuntutan seperti pembebasan nasional, perjuangan kaum buruh dan tani, anti kapitalisme-imperialis Belanda, dan perjuangan membangun sosialisme-komunis di Indonesia.

Untuk memperkokoh perjuangan ISDV dan Sarekat Islam, ISDV mengeluarkan kebijakan anggota-anggota ISDV dapat merangkap menjadi angota Sarekat Islam.

Henk Sneevliet Diusir dari Indonesia
Pada bulan Oktober tahun 1917 kaum Bolshevik yang memimpin perjuangan kaum buruh di Rusia meraih kemenangannya dalam menumbangkan rezim feodalisme yang sedang berkuasa pada saat itu. Tzar atau kaisar Rusia pada bulan itu berhasil ditumbangkan dan kekuasaannya direbut oleh kaum buruh. Tidak hanya Tzar, kaum kapitalis yang baru berkembang di negara beruang merah itu dilikuidasi oleh kaum buruh. Untuk mengkonsolidasikan kemenangannya itu, kaum Bolshevik yang dipimpin oleh Lenin dan Leon Trotsky bersama kaum buruh membentuk negara sosialis yang bernama Uni Soviet.

Berita tentang kemenangan kaum buruh itu, tersebar keseluruh dunia, dan membuat terguncang kaum kapitalis. Tidak ketinggalan, rakyat Indonesia yang pada saat itu sedang memperjuangkan kemerdekaannya dari penjajahan Belanda juga mendapat kabar tentang itu. Henk Sneevleit, kawan-kawan seperjuangan, dan organisasi-organisasi buruh dan tanilah yang antusias mendengar kabar itu.

Berita tentang kemenangan kaum buruh tersebut, semakin membuat Henk Sneevliet bersemangat mengorganisasi gerakan kaum buruh di Indonesia. Dan untuk mengawali peningkatan kadar perjuangan itu, dia menulis artikel yang berjudul “Zegepraal” (kemenangan) yang kemudian dimuat di koran De Indiër milik Insulinde. Di dalam artikel itu, dia dengan bersemangat mengatakan kalau pemerintah jajahan Belanda nasibnya juga akan sama dengan Tzar di Rusia, tumbang. Dan, itu hanya bisa dilakukan apabila rakyat Indonesia menyatukan kekuatan dengan organisasi-organisasi buruh yang sudah ada. Perlawanan rakyat adalah syarat mutlak untuk meraih kemenenangan itu.

Artikel tersebut, jelas membuat pemerintah Belanda meradang. Segera, pemerintah Belanda memerintahkan kepada aparat bersenjatanya untuk meringkus Henk Sneevliet, dan kemudian dihadapkan ke depan meja hijau (pengadilan).

Namun, ketika dihadapkan ke depan meja hijau, Henk Sneevliet justru melakukan propaganda dan menyerang pemerintah Belanda yang bengis dan eksploitatif terhadap rakyat Indonesia. Pledoi atau pembelaan dari Henk itu, membuat Belanda “mati kutu” atau tidak bisa berbuat apa-apa. Maksudnya, Belanda tidak bisa memenjarakan Henk.

Henk Sneevliet akhirnya dilepaskan oleh Belanda. Namun, pada saat dia dilepaskan dia mendapatkan kontrol yang ketat dari Belanda. Setiap gerak-geraknya selalu mendapatkan pantauan dari intelijen Belanda.

Namun, kontrol tersebut tidak mencegah Henk Sneevliet terus melakukan propaganda kepada rakyat Indonesia untuk melawan belanda, membuat tulisan yang tajam mengkritik Belanda, dan menawarkan metode Marxis sebagai senjata perlawanan kepada rakyat Indoensia. Tidak berhenti sampai di situ, dia juga mengorganisasi kaum buruh untuk mempersiapkan perlawanan terhadap Belanda.

Organisasi Garda Merah yang dibentuk oleh Henk Sneevliet tersebut, pada akhirnya dibubarkan secara paksa oleh Belanda karena dinilai sangat membahayakan kekuasaan Belanda di Indonesia. Selain itu, Belanda juga menangkap Henk dan kemudian di usir dari Indonesia. Pada saat itu, Henk Sneevliet dikenal sebagai orang Belanda pertama yang diusir dari Indonesia. Orang Belanda mengusir orang Belanda.

Setelah Henk Sneevliet diusir dari Indonesia, organisasi komunis yang sudah terbangun di Indonesia diteruskan oleh orang-orang pribumi. ISDV yang keberlanjutannya diambil alih oleh orang-orang Indonesia itu, nanti pada gilirannya menjadi organisasi revolusioner Marxis yang berpihak pada kaum buruh dan tani yang bernama Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berjuang secara militan bersama rakyat Indonesia memerangi penjajah Belanda dan Jepang.

Sepeninggalan Henk Sneevliet, ISDV terus mengembangkan organisasinya di sektor perjuangan kaum tani, misalnya pada tahun 1918 kaum tani membentuk Perhimpunan Kaum Buruh dan Tani (PKBT) yang dipimpin oleh Suharjo, dan pada tahun 1919 organisasi pegawai dan buruh juga mendorong kaum buruh partikelir membangun serikat buruhnya masing-masing. Selain itu, organisasi-organisasi itu memiliki koran atau surat kabar sebagai media propaganda. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Henk Sneevliet, propaganda melalui media massa memiliki daya pukul yang efektif.

Akhir Hidup Henk Sneevliet
Menjelang akhir hidupnya di negara Belanda, Henk Sneevliet tetap memiliki keberanian dalam berjuang. Dia melakukan gerakan bawah tanah melawan pendudukan rezim Fasisme-Adolf Hitler. Selain itu, tidak ada putus-putusnya dia mengorganisasi aksi massa yang dilakukan oleh buruh, baik itu dalam bentuk pemogokan massa, demonstrasi, maupun pendidikan politik kaum buruh dan tani. Pada 13 April 1942, Henk Sneevliet bersama enam kawannya ditangkap dan dibunuh.

Pahlawan nasional Indonesia dan pejuang Marxis di tingkat internasional tersebut meninggalkan seorang istri dan seorang anak perempuan. Istrinya bernama, Sima Zolkovki berasal dari Ukraina—seorang Yahudi yang menjadi aktivis Bolshevik, dan sekaligus seorang buruh yang bekerja di sebuah pabrik di Moskow. Sedangkan anaknya, bernama Sima. Sima lahir di Moskow pada tahun 1923. Dan, baru pada tahun 1998 dia mendapatkan pengakuan secara hukum oleh pemerintah Belanda sebagai anak keturunan Hendricus Jesephus Franciscus Marie Sneevliet alias Henk Sneevliet alias Maring alias Malin.



[1] Ratih Miryanti dalam Kapitalisme Dalam Krisis, Jurnal Bersatu, Jakarta, Edisi April 2009. Halaman: 64.
[2] Ratih Miryanti, Ibid. Halaman: 65.
[3] Ruth T. McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, Komunitas Bambu, Jakarta, 2009. Halaman: 20.
[4] Ruth T. McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, Komunitas Bambu, Jakarta, 2009. Halaman: 25.
[5] Ratih Miryanti, Op.Cit. Halaman: 66-67.
[6] Imam Soedjono, Yang Berlawan: Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI, Resist Book, Yogyakarta, 2006. Halaman: 23-24.
[7] Ruth T. McVey, Op.Cit. Halaman: 26-27.