Sabtu, 24 Juni 2017

KONSEP MANUSIA MENURUT LEON TROTSKY

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono





Pada hakekatnya manusia adalah materi hidup yang independen. Dengan kata lain, manusia memiliki kemerdekaan dan kemandirian untuk menentukan dan membentuk sejarahnya sendiri. Namun, tidak berhenti sampai di sini; ketika manusia menentukan dan membentuk sejarahnya sendiri dia dibatasi oleh kondisi-kondisi sosial.
Rumusan konsep manusia yang penulis tunjukan tersebut adalah pantulan dari konsep manusia menurut Karl Marx. Marx sendiri dalam sebuah tulisannya, mangatakan:

“Manusia membuat sejarahnya sendiri,tetapi mereka tidak membuatnya tepat seperti yang mereka sukai; mereka tidak membuatnya dalam situasi-situasi yang dipilih oleh mereka sendiri, melainkan dalam situasi-situasi yang langsung mereka hadapi, ditentukan dan ditransmisikan dari masa lalu.”[1]

Jadi, ketika manusia mengada dalam proses membentuk dirinya atau sejarahnya sendiri, seketika itulah sesungguhnya manusia tengah memasuki proses kombinasi-dialektis antara kemerdekaan-kemandirian dan kondisi sosial (an sich![2]). Hal ini adalah ketentuan yang harus dialami oleh manusia. Tidak bisa tidak. Kombinasi ini tercermin dari adanya aksi dan interaksi, pengaruh dan mempengaruhi, saling merangsang dan merespon. Nah, ketika manusia melakukan aksi atau tindakan dan memberikan respon terhadap rangsangan yang datang dari luar, seketika itulah sesungguhnya manusia pada hakekatnya menunjukkan kemerdekaan dan kemandiriannya. Kemerdekaan dan kemandirian, yang menurut Marx, dibatasi oleh situasi-situasi yang tidak dipilih secara mandiri oleh manusia.
Rumusan Marx terhadap konsep manusia ini sebenarnya merupakan penerapan dari hukum materialisme-dialektika. Salah satu elemen dari hukum ini adalah, bahwa berbagai bentuk materi dalam perkembangannya akan saling mempengaruhi, saling menegasi, dan saling mengembangkan untuk memunculkan materi yang baru, materi yang juga akan mengalami perkembangan lebih lanjut, yang tunduk pada hukum yang melahirkannya itu. Demikian pula halnya yang dialami oleh manusia. Manusia dalam perkembangannya mengarah pada hubungan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kondisi sosialnya, menegasi dan dinegasi. Hal ini dilakukan oleh manusia untuk memunculkan kualitas hidup yang lebih baik.
Sebagai seorang Marxis—pengikut ajaran Karl Marx dan Engels, Lev Davidovich Bronstein (nama asli dari Leon Trotsky), dalam merumuskan konsep manusia tidak keluar dari rumusan yang dibuat oleh Karl Marx. Dalam sebuah tulisannya Trotsky mengatakan, bahwa “...manusia adalah produk dari kondisi-kondisi sosial.”[3] Itu artinya, Trotsky mengakui, kemerdekaan dan kemandirian atau keindependenan manusia dibatasi oleh kondisi sosialnya.
Karena manusia merupakan produk dari kondisi sosial, maka berangkat dari sini Leon Trotsky menolak dengan tegas asumsi yang mengatakan bahwa manusia dapat diciptakan sebagai materi hidup yang baru (fresh) tanpa ada pengaruh atau kontribusi dari kondisi sosialnya. Penolakan Trotsky ini dirumuskan dalam bentuk kata-kata sebagai berikut:

“Sering ditekankan kalau tugas pencerahan komunis adalah pendidikan manusia baru (huruf tebal ditambahkan oleh penulis). Kata-kata ini agak terlalu umum, terlalu menyedihkan (huruf tebal ditambahkan oleh penulis) ... pandangan utopian dan humantitarian-psikologis adalah bahwa manusia baru haruslah dibentuk terlebih dahulu, dan lalu dia kemudian menciptakan kondisi-kondisi baru. Kita tidak boleh mempercayai ini (huruf tebal ditambahkan oleh penulis).”[4]

Tulisan dari Trotsky tersebut menunjukkan ketidakpercayaannya terhadap penciptaan manusia baru tanpa proses kombinasi-dialektis. Bagi Trotsky, tidak ada yang namanya manusia baru. Manusia dalam proses pembentukannya tidak dapat melepaskan dirinya dari masa lalu, dari peradaban yang telah dibentuk oleh manusia lainnya. Dalam bahasa Marx, manusia tidak mungkin melepaskan diri dari transmisi masa lalu.
Trotsky menunjukkan, Karl Marx dan Frederick Engels sendiri pun, adalah intelektual komunis yang tidak dapat melepaskan dirinya dari pengaruh kondisi budaya borjuis ketika mereka merumuskan berbagai teori yang berorientasi pada menegasikan kondisi budaya borjuis yang “mengepung” mereka itu. Lebih jauh lagi, Trotsky menunjukkan, justru karena adanya budaya borjuis itulah yang kemudian memunculkan adanya perlawanan dari Marx dan Engels. Secara tajam dapatlah dikatakan, tanpa adanya budaya borjuis tidak mungkin muncul perlawanan terhadap budaya borjuis.
Berikut ini penulis kutipkan tulisan Trotsky yang menunjukkan hal tersebut:

“Marx dan Engels muncul dari kondisi budaya borjuis kecil dan, tentu saja, dibesarkan dalam budayanya dan bukan dalam budaya proletar. Jika saja tidak ada kelas pekerja (kaum proletar) dengan aksi, perjuangan, penderitaan, dan pemberontakannya tentu saja tidak terdapat komunisme ilmiah, karena tidak akan ada kebutuhan sejarah untuknya. Tetapi teori ini  dibentuk penuh dalam dasar budaya borjuis, baik politis maupun ilmiah, meskipun teori tersebut mendeklarasikan perlawanannya untuk mengakhiri budaya tersebut. Di bawah kontradiksi-kontradiksi kapitalistik, pemikiran dari demokrasi borjuis yang universal tersebut, dari wakil-wakilnya yang paling berani, jujur, serta melihat ke depan, mencuat ke atas sebagai penolakan yang hebat, yang dilengkapi dengan seluruh senjata-senjata kritis yang berasal dari ilmu pengetahuan borjuis. Seperti itulah asal-usul Marxisme.”[5]

Berangkat dari rumusan konsep manusia, dari Leon Trotsky, yang membatasi kemerdekaan dan kemandirian manusia dengan kondisi-kondisi sosial tersebut, orang dapat menyodorkan pertanyaan kepada Trotsky, sebagai berikut: “Karena manusia dalam menjalani hidupnya tidak bisa dilepaskan dari kondisi-kondisi sosial, apakah dengan demikian itu artinya manusia terikat kaki dan tangannya oleh kondisi sosial? Dan, jika iya, bukankah kemerdekaan dan kemandirian manusia hanyalah omong kosong belaka?”
Pertanyaan tersebut dijawab oleh Trotsky sebagai berikut:

“... antara manusia dan kondisi-kondisi sosial itu ada hubungan yang kompleks yang saling bekerja secara mutual dan aktif ...”[6]

Adanya hubungan yang bersifat timbal-balik (mutual) atau saling mempengaruhi dalam interaksi antara manusia dan kondisi-kondisi sosialnya, yang ditunjukkan oleh Trotsky itu, orang seharusnya dapat menarik garis pemahaman, bahwa tidak mungkin manusia terikat kaki dan tangannya apabila manusia memiliki sifat yang aktif dalam mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kondisi sosialnya. Dengan kata lain yang lebih tegas, keaktifan yang bersifat timbal-balik itulah yang menunjukkan kalau manusia tidak terikat kaki dan tangannya. Manusia baru bisa dikatakan terikat kaki dan tangannya apabila manusia tidak aktif atau pasif ketika dipengaruhi oleh kondisi sosialnya.
Materialisme-dialektika menolak teori tabula rasa dari intelektual borjuis, yang mengatakan, bahwa manusia pada hakekatnya putih-bersih (pasif). Berangkat dari teori tabula rasa yang absurd inilah kemudian, lebih jauh intelektual borjuis menjelaskan, bahwa ketika manusia membentuk dan membangun dirinya, seketika itulah pada hakekatnya manusia tidak mandiri, karena dalam proses pembentukan dan pembangunan tersebut manusia semata-mata hanya menjadi “juru bicara-pasif” dari kondisi lingkungannya atau sosialnya. Dengan kata lain, manusia pasif dalam menerima pengaruh dari lingkungannya.
Materialisme-dialektika, sebagaimana telah penulis tunjukkan di muka, menempatkan manusia sebagai materi hidup yang aktif. Walau pun manusia tidak dapat dilepaskan dari kondisi-kondisi sosialnya, justru kondisi-kondisi sosial yang melingkupi proses kehidupan manusia itulah materi yang membuat manusia tidak terikat kaki-tangannya.
Berikut ini penulis tunjukkan contoh konkret hubungan timbal-balik antara manusia dan kondisi sosial, yang menunjukkan kebebasan dan kemandirian manusia, sebagai berikut ini:
Hubungan buruh-majikan dalam sistem ekonomi kapitalisme adalah pantulan dari hubungan antara manusia (buruh-majikan) dan kondisi sosial (sistem ekonomi kapitalisme). Dalam hubungan ini manusia yang bernama majikan adalah pihak yang mendapat sisi manisnya, karena melalui sistem ini majikan dapat memeras hasil kerja buruh, dan dari sini kemudian dia melakukan akumulasi kapital (penumpukan keuntungan—kekayaan). Sedangkan buruh adalah manusia yang mendapatkan sisi yang pahit, karena harus bekerja bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk majikan yang mempekerjakannya.
Kondisi atau hubungan sosial yang seperti itu jelas merugikan buruh. Kondisi sosial yang menindas kaum proletar inilah yang kemudian mendorong kaum proletar melakukan tindakan aktif dalam bentuk perlawanan. Dalam aksi perlawanan inilah sesungguhnya kaum proletar sedang berinteraksi secara timbal-balik dengan kondisi sosial, berusaha mempengaruhi kondisi sosial agar terjadi perubahan yang lebih baik. Demikian juga halnya dengan kaum kapitalis, dalam hubungan ini, dia berusaha untuk aktif mempertahankan kondisi sosial yang sedang berjalan, agar kapitalis dapat selalu berada pada sisi yang manis dalam sistem ini. Bentrokan dua kepentingan antar dua jenis manusia (buruh-majikan) inilah, yang menunjukkan dinamika hubungan manusia dan kondisi sosial. Dalam bahasa materialisme-dialektika materi-materi hidup selalu bergerak, saling menegasi (bentrok)—mempengaruhi, untuk memunculkan kualitas (kondisi sosial) yang berbeda dari sebelumnya.
Kaum proletar bukanlah manusia yang pasif—manusia yang terjatuh dalam dosa tabula rasa yang tidak dapat ditolak—tetapi manusia yang merdeka dan mandiri dalam mempengaruhi kondisi sosialnya.  Dengan demikian, ada hubungan timbal balik yang terpantul dalam kondisi ini. Demikian juga dengan kaum borjuis atau kapitalis. Kapitalis bukanlah manusia yang pasif-pasrah terhadap aksi dari kaum proletariat yang menginginkan perubahan, dengan berbagai strategi dan taktik yang licik kapitalis akan selalu berusaha untuk mempertahankan kondisi sosial yang menindas kaum proletar.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini penulis tunjukan skema hubungan timbal balik antara manusia dan kondisi sosial: 


Skema tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Manusia adalah produk (ciptaan) dari kondisi sosial—sejarah/transmisi masa lalu. Namun, manusia juga merupakan agen perubahan. Manusia memiliki kemampuan untuk melakukan aksi untuk mendorong terjadinya perubahan kondisi sosial. Dari sini kemudian antara kondisi sosial yang lama dan yang baru berinteraksi-bentrok-saling melebur yang kemudian akan memunculkan hubungan sosial yang baru. Kemunculannya ini bisa bersifat negatif, namun dapat pula bersifat positif. Negatif, jika perubahan sosial itu semakin mengukuhkan keberadaan sang penindas. Positif, jika perubahan sosial itu menguntungkan pihak yang sebelumnya tertindas.
Dengan demikian, konsep manusia, menurut Leon Trotsky, di satu sisi adalah produk dari kondisi sosialnya, namun di sisi lain manusia adalah negasi dari kondisi sosialnya. Penegasian terhadap kondisi sosialnya inilah, yang dalam bentuk konkretnya mewujud dalam bentuk perjuangan kelas. “Jika manusia adalah sebagai produk dari kondisi sosialnya,” begitu kata Trotsky, “maka kaum revolusioner adalah sebuah produk dari kondisi sejarah tertentu.”[7] Kondisi sejarah tertentu, yang dimaksud oleh Trotsky adalah dalam arti tahapan kondisi dalam konteks perjuangan kelas.


[1] Karl Marx, “Brumaire XVIII Lous Bonaparte,” Penerjemah: Oey Hay Djoen, Hasta Mitra,  Jakarta, 2006. Halaman: 15.
[2] An Sich: Itu saja. Tidak ada yang lain. Muncul dengan sendirinya—independen, di luar rancangan, perencanaa, dan di luar kesadaran manusia.
[3] Leon Trotsky, “Tugas-Tugas Pendidikan Komunis (Versi Pendek—1922),” Penerjemah: Ted Sprague, www.marxist.org.
[4] Leon Trotsky, “Tugas-Tugas Pendidikan Komunis (Versi Pendek—1922),” Ibid.
[5] Leon Trotsky, “Apakah Budaya Proletar Itu, dan Mungkinkah Ada?” Penerjemah: Dewey Setiawan, www.marxis.org.
[6] Leon Trotsky, “Tugas-Tugas Pendidikan Komunis (Versi Pendek—1922),” Op.Cit.
[7] Leon Trotsky, “Tugas-Tugas Pendidikan Komunis (Versi Pendek—1922),” Op.cit.

Kamis, 22 Juni 2017

SELAYANG PANDANG TENTANG PEMIKIRAN MARX



Ditulis Oleh: Anthony Brewer



Pengantar
Fakta kehidupan Karl Marx cukup dapat diringkas. Dia lahir pada tahun 1818 di Rheineland yang sedang digabung ke kerajaan Prusia. Pada tahun 1836, dia masuk ke Universitas Berlin, dan pada tahun 1841 dia mendapat gelar doktornya dengan disertasi mengenai filsafat kuno. Dua tahun kemudian dia menjadi editor dua majalah. Pertama, Rheinische Zeitung di Rheineland dan kedua, Deutsche Franzosiche Jahrbucker, terbitan Paris yang ditujukan kepada pembaca Jerman. Kedua-duanya ditutup oleh penguasa Prusia karena dianggap melanggar hukum. Marx lalu mundur ke Brussel sebagai buangan. Pada tahun 1848 yang revolusioner dia sanggup kembali ke Jerman. Lalu, dia menjadi editor sebuah majalah baru, Neu Rheinische Zeitung. Tetapi, kemudian dia dibuang kembali. Kali ini dia dibuang ke London.
Sisa hidupnya, 1849—1883, dia habiskan sebagai orang buangan di Inggris. Tidak pernah lagi dia mendapatkan pekerjaan tetap. Dia lalu hidup dari warisan, pemberian orang, dan pendapatan tidak tetap dari penulisan jurnalis bebas. Pada masa terpanjang periode itu dia hidup dirundung kemiskinan dan penyakit. Tetapi, sampai pada akhir hayatnya, pengaruh politiknya sangatlah kuat dan tidak bisa ditolak. Kehidupannya yang kelabu di pengasingan adalah yang paling menarik bagi masa kini. Seluruhnya karena ide dan pikiran-pikiran yang dihasilkannya.
Sampai pertengahan tahun 1840-an, pandangan Marx dibentuk dan berubah cepat sekali, begitu dia dapat menyerap berbagai ide dan pemikiran dari berbagai sumber. Dalam tahun 1843—1844 dia menjadi seorang sosialis dan mulai bekerja sama dan bersahabat seumur hidup dengan Friedrich Engels dalam mempelajari ekonomi.
Dalam kerja samanya dengan Engels, dia sampai pada suatu pemikiran “Materialisme Sejarah”—Historical Materialism—yang dia pegang teguh sampai akhir hayatnya. Masyarakat, katanya, berkembang melalui suatu pertumbuhan yang bertingkat-tingkat. Masing-masing tingkat mempunyai struktur ekonomi yang berbeda-beda. Tingkatan paling akhir adalah kapitalisme. Dia harus digulung melalui badai revolusi yang dipimpin oleh kelas pekerja. Teorinya yang tidak lapuk dimakan waktu mengenai sejarah dan program politiknya yang praktis dikaitkan dengan analisisnya mengenai kapitalisme. Yang di dalamya dihasilkan dua hal, pertama meningkatnya krisis-krisis ekonomi dan kedua, menajamnya polarisasi kelas, sehingga menyusun suatu tingkat baru revolusi yang akan datang.
Ketika Marx dipaksa ke pengasingan sesudah tahun 1848, Marx menjadi mapan untuk menyelesaikan karyanya. Das Kapital adalah hasil akhirnya.

Dari Hegel ke Materialisme Sejarah Hegel
Ketika Marx masih mahasiswa, kehidupan intelektual Jerman dikuasai oleh filsafat Hegel. Pada mulanya Marx menolak, tetapi kemudian dia menjadi Hegelian bergairah. Walupun kemudian lagi dia menolak banyak pikiran Hegel, namun seluruh jalan pikirannya, secara fundamental sekali, telah dibentuk oleh Hegel.
Menurut Hegel, sejarah bukanlah sembarang deretan peristiwa, tetapi suatu proses yang dapat dimengerti, dikuasai oleh hukum-hukum objektif, yang hanya terpahami dengan memandang sejarah sebagai suatu keseluruhan. Dia bukanlah sebuah kisah kemajuan uniform (seragam) satu arah, tetapi suatu proses yang dialektis. Setiap tingkat perkembangannya dikarakterisasi oleh adanya pertentangan antara kekuatan yang baku lawan. Dia hanya rukun kembali dalam suatu sintesa yang lebih tinggi di tingkat selanjutnya, namun demi menghimpun pertentangan-pertentangan baru. Dalam garis besarnya, Marx memegang pandangan ini sepanjang hidupnya. Yang dia tolak dari Hegel adalah idealismenya. Idealisme dalam arti teknis filsafat adalah pandangan yang menganggap bahwa pikiran atau ide-ide adalah primer dan benda-benda fisikal sekunder. Manurut Hegel, sejarah, pertama-tama, adalah cerita tentang perkembangan akal atau roh. Setiap periode dan setiap negeri memiliki perangkat ide-ide sendiri yang berbeda. Dan perkembangan dialektis dari ide-ide itu adalah motor sejarah.
Tulisan-tulisan Hegel sangatlah kabur dan dapat ditafsirkan dalam banyak cara. Filsafat Jerman dalam masa 1830-an dan 1840-an dibelah oleh perbedaan pendapat antarberbagai aliran kaum Hegelian.Hegel sendiri ketika itu sudah meninggal dunia, sehingga tidak ikut dalam perdebatan itu. Kaum konservatif menyatakan bahwa negara Prusia merupakan bentuk tertinggi dari akal. Negara Prusia adalah suatu titik kulminasi sejarah. Pandangan yang agak bersifat parokial (terbatas, sempit, picik) ini dimengerti secara populer di kalangan birokrasi.
Karl Marx, bergabung sementara dengan alirah Hegelian Muda, sebuah gerakan oposisi yang menekankan perubahan terus-menerus dan menggerakkan pembangkangan terhadap agama yang sudah mapan. Gaya mereka, seperti digambarkan Isaiah Berlin, “Persenyawaan sok ilmiah dengan keangkuhan”, penuh paradoks dari hal-hal yang tidak jelas ujung pangkalnya dan sok prasasti yang dibungkus dengan prosa aliteratir (sajak awal yang dibacakan untuk mendapatkan kesedapan bunyi) dari permainan kata. karya-karya Marx dini sekali ditulis dalam gaya demikian dan sangat membosankan. Marx tidak pernah benar-benar mencampakkan pengaruh itu, sebagai mana akan terlihat pada beberapa bagian dari Das Kapital.

Sosialisme
Karl Marx juga dipengaruhi tulisan kaum sosialis di awal tahun 1840-an. Pada masa itu, istilah sosialis dan komunis tidak memiliki arti yang jelas. Kini sosialisme berarti di atas segalanya, bertentangan dengan kapitalisme. Dan konsep tentang kapitalisme sebagai suatu bentuk masyarakat tidak ada, sampai Marx menemukannya. Penulis-penulis di zaman Marx menolak masyarakat yang ada ketika itu, atas dasar moral dan mengemukakan suatu rancangan masyarakat yang lebih baik sebagai gantinya. Beberapa usul dari mereka tidak tersangkal sangat menjengkelkan, walaupun bukan ini yang jadi pokok kiritik Marx. Dia menolak teori-teoir sosialis yang ada pada masa itu dan menganggapnya sebagai utopi. Ketika itu, Marx telah berpandangan bahwa sejarah dikuasai oleh hukum-hukum yang objektif, yang tidak dapat diubah hanya dengan mengatakan benda-benda itu seharusnya menjadi lain. Terlebih lagi dengan air, dia tidak dapat mendaki dengan hanya mengatakan dia harus mendaki. Walaupun Marx membenci kapitalisme, dia menganggap penghinaan terhadapnya sebagai tidak kena. Lebih baik menggantinya dengan memperlihatkan bahwa suatu revolusi sosialis adalah suatu keharusan yang logis yang datang dari perkembangan kapitalisme itu sendiri. Organisasi masyarakat yang akan datang ditentukan oleh perkembangan kapitalisme itu sendiri. Organisasi masyarakat yang akan datang ditentukan oleh rakyat itu sendiri, begitu mereka masuki era itu, hal mana tidak dapat diramalkan secara rinci kini.
Untaian berharga lainnya dari pemikiran Marx datang dari ekonomi politik (masa itu dinamakan economics). Perkembangan dari ilmu ekonomi Marx akan diulas lebih rinci nanti dalam tulisan ini. Cukuplah untuk mencatat di sini, bahwa Marx adalah pemula dari ilmu ekonomi pada tahun 1844—1845 dengan mengambil banyak analisis ekonomi penulis lainnya. Pikiran yang esensial yang diperolehnya dari literatur adalah konsepsi tentang suatu ekonomi yang sistemnya melekat padanya dan dikuasai oleh hukum-hukum objektifnya. Dalam pandangan baru temuan Marx itu, proses perkembangan ekonomi menggantikan “jiwa” atau “akal” Hegel sebagai motor sejarah.

Materialisme Sejarah (Historical Materialism)
Semua pengaruh yang diterima Marx menggabung ke dalam suatu bingkai teori selama tahun-tahun 1848 dan 1845. Marx dan Engels bekerja sama erat sekali pada masa itu. Kenyataan bahwa mereka menarik ide-ide dari berbagai sumber, tidaklah mengurangi penting atau orisinilitasnya pencapaian mereka. Semua pemikir besar membangun karya mereka atas dasar karya para pendahulunya.
Marx, pada tahun 1844, telah sampai pada suatu ide sentralnya, ketika menulis sejumlah catatan atau naskah-naskah kasar yang dikenal sebagai “Manuskrip Ekonomi dan Filsafat” atau Manuskrip Paris. Di situlah, untuk pertama kalinya dia memusatkan sesuatu yang kemudian menjadi tema pokok Das Kapital, yaitu hubungan antara kapital dan upah kerja atau kerja upahan, hubungan antara kapitalis dan pekerja. Si kapitalis memiliki alat-alat produksi (peralatan dan bahan) atau uang untuk membeli. Para pekerja tidak memiliki apa-apa dan tidak dapat hidup tanpa bekerja, para pekerja itu tidak mempunyai hak atas produk atau hasil kerjanya. Produk itu, sepenuhny milik sang kapitalis yang mempekerjakannya. Dengan begitu para pekerja itu tetap miskin dan tergantung, sedangkan si kapitalis menjadi semakin kaya dan terus menerus semakin kaya.
Hubungan antara kapital dan kerja adalah struktural, tidak personal atau pun perorangan. Para pekerja itu, bukanlah ditindas oleh kapitalis, tetapi oleh kapital yang justru dihasilkan oleh kerja. Tetapi, perilakunya itu adalah sebagai sekutu yang menindas para pekerja yang telah menghasilkannya. Dalam istilah Marx yang dipakainya pada tahun 1844 itu, kerja yang dirampok atau diasingkan (alienatie atau estranged).
Di tingkat ini perkrembangan pemikiran Marx sangatlah kuat mempengeruhi Ludwig Feuerbach, seorang filosof materialis dan pengkritik Hegel. Marx, secara khusus mempergunakan ide Feuerbach tentang esensi manusia atau jenis mahluk, Produksi manusia secara alamiah adalah perbuatan kreatif. Dan, menempatkan takluk kepada hukum-hukum kapital yang impersonal—tidak menyangkut orang berarti menghancurkan hubungan alamiah antara produsen dan produk. Seberapa jauh konsepsi ini bertahan dalam karya-karyanya yang kemudian menjadi berbeda, namun ide-ide dari tahun 1844 tetap dapat dibaca di dalamnya bagi mereka yang mau.
Tahun berikutnya, 1845, Marx dan Engels bekerja sama untuk sebuah manuskrip yang juga tidak terbit semasa hidup mereka “Ideologi Jerman”—The German Ideology. Karya itulah, yang untuk pertama kalinya menampilkan “materialisme sejarah”. Dia dianggap sebagai penanda berakhirnya periode pertama dari evolusi intelektual Marx. Sebuah periode dimana ide dan pikiran-pikirannya berubah cepat. Sejak tahun 1845 itu, dia bekerja untuk mengembangkan kerangka dasar yang telah diletakkannya dalam Ideologi Jerman. Buku itu, sulit dibaca, karena argumentasi positifnya berpalung (berlekuk) dengan serangan yang tidak berkesudahan terhadap penulis-penulis lain. Kata pengantar untuk sumbangan pada kritik atas konomi politik—A Contrubutin to the Critique of Political Economy—adalah pernyataan singkat yang lebih baik dari materialisme sejarah.
Di dalam ideologi Jerman Marx memulai dengan fakta-fakta nyata yang sederhana. Untuk hidup, mahluk manusia harus memproduksi alat-alat penyambung hidupnya (makanan dan lain sebagainya). Untuk melakukannya, mereka harus bekerja sama di dalam suatu pembagian kerja (di sini terlihat betapa konsep tentang esensi manusia tidak dilibatkan). Setiap tingkat perkembangan produksi itu sendiri adalah hasil perkembangan sejarah dan hasil pencapaian generasi manusia sebelumnya. Perkembangan produksi mengharuskan keterlibatan bentuk-bentuk kerja sama, pembagian kerja dan karenanya juga organisasi kemasyarakatan.
Masyarakat berubah melalui serentetan tingkat yang ditandai dengan berbagai bentuk kepemilikan. Pemilikan komunal masyarakat kuno di dasarkan pada peranan budak. Pemilikan feodal (tanah) atas pemerasan hamba—serfs. Dan, pemilikan perorangan borjuis (kapitalis) atas eksploitasinya terhadap proletariat dari pekerja upahan yang tidak mempunyai milik apa-apa. Setiap tingkat bentuk produksi merupakan, lebih tinggi dari yang dulu. Dan, setiap tingkat menyediakan syarat bagi yang akan datang. Perkembangan kaptialis menciptakan pemiskinan proletariat yang meluas dan meningkat. Oleh sebab itu, pada waktunya akan menggulingkan kapitalisme. Komunisme adalah produk sejarah yang tidak terhindarkan.
Peristiwa dan kejadian pada tahun 1848 merupakan titik yang menentukan dalam kehidupan Marx. Pada mulanya di Perancis, tetapi kemudian demontrasi-demontrasi rakyat serta pemberontakan menjalari seluruh Eropa. Di dalam wilayah Prusia bangkit tuntutan rakyat bagi suatu konstitusi baru yang akan membatasi kekuasaan sewenang-wenang otokrasi, Untuk waktu itu, ini adalah suatu tuntutan yang revolusioner. Sebuah kongres lalu diadakan di Frankfurt guna menyusun suatu konstitusi baru. Dan peristiwa ini tidak begitu revolusioner, dalam arti adanya suatu perubahan yang mendadak dan menentukan, sebagai ganti penciptaan suatu huru-hara politik dimana rezim lama sempoyongan dan yang baru membuat kesempatannya.
Manifesto Komunis untuk Liga Komunis ditulis dekat sebelum pecahnya revolusi. Dan, dalam tahun 1848, Marx dapat kembali ke Jerman, dimana dia menasehatkan penahanan diri—moderation. Nasehatnya itu, didasarkan bahwa Jerman haruslah lebih dulu melewati suatu tingkat yang sama dengan revolusi 1789, sebelum syarat-syarat matang untuk suatu revolusi komunis. Keadaan berbalik, kekuatan radikal Jerman terpecah. Dan, angkatan bersenjata yang tetap setia pada otokrasi dan Pemerintahan Prusia, pada akhirnya mampu memeang kontrol atas keadaan. Marx dibuang kembali. Kali ini ke London.

Ekonomi Politik Klasik
Produksi terpenting karya tulis Marx selama di pembuangan adalah Das Kapital. Untuk menempatkan Das Kapital dalam konteks teori-teori ekonomi masa itu, khusus di dalam apa yang dinamakan Marx sebagai ekonomi politik klasik diperlukan pemahaman terhadap karya-karya Adam Smith, David Ricardo, dan ahli ekonomi lainnya seperti ahli ekonomi Inggris di akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Marx dalam membangun karyanya sering merujuk pada karya mereka.


Nilai Lebih
Ekonomi politik klasik, keberadaannya merupakan oposisi terhadap teori-teori yang beraliran merkantilistik abad ke-17 dan 18. Kaum merkantilistik pada pokoknya mengutamakan perdagangan luar negeri yang dianggap Marx sebagai hal sekunder. Sebagai pedagang, mereka berpikir tipikal kapitalis yang keuntungan datang dari membeli murah dan menjual mahal. Yang selangkah lebih maju dari pandangan kaum Fisiokrat Perancis abad ke-18. Mereka ini menekankan pentingnya produksi ketimbang perdagangan. Tetapi, mereka menganggap pertanian hanya yang benar-benar produktif. Marx mempelajari teori dan karya kaum merkantilis dan fisiokrat itu dan sewaktu-waktu merujuk pada mereka.
Suatu tema pokok dalam ekonomi klasik (di dalamnya terdapat karya kaum fisiokrat), adalah pembahasan tentang laba dan sewa dalam pengertian surplus yang datang dari produksi. Ide dasarnya dapat dilihat dalam suatu ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang, misalnya jagung. Jagung lalu menjadi sebagai bahan makanan dan juga masukan bagi produksi (seperti bibit). Manakala jagung cukup diproduksi untuk mengganti bibit dan untuk memberi makan para produsennya, maka setiap kelebihan adalah surplus, yang menggelantungkan diri pada mereka (tentara, pegawai, pendeta, dan lain sebagainya).
Pertanyaan yang menarik di sini adalah, bagaimana surplus bisa jatuh ke tangan kelas penguasa? Eksistensi surplus yang fisikal itu, sudah tentu tidak dipersoalkan lagi. karena surplus itu dapat dinikmati para produsen sendiri, Adam Smith, David Ricardo, dan Karl Marx semuanya memberikan jawaban yang sama terhadap pertanyaan itu. Di dalam suatu masyarakat kapitalis, surplusnya direbut oleh para pemilik kekayaan, karena mereka cukup kaya untuk membeli alat-alat produksi yang diperlukan (tanah, bibit jagung, dalam contohnya yang sederhana) sedangkan para pekerja tidak dapat berproduksi dengan kemampuannya sendiri dan karena itu harus menerima upah apa saja yang mereka dapatkan. Persaingan untuk mendapatkan pekerjaan membuat upah tetap saja pada batas minimum. Adam Smith dan David Ricarco menganggap hal itu sebagai alamiah dan abadi. Tetapi, Karl Marx menganggapnya sebagai yang sifatnya sementara, dapat mengalami perubahan dalam proses dialektis perkembangan masyarakat.
Persoalan selanjutnya haruslah dipertimbangkan. Di dalam sistem kapitalis, berbagai barang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tertentu. Setiap perusahaan mengeluarkan uang untuk membeli alat dan bahan produksi, membayar upah dan menutup pengeluarannya dengan menjual produknya. Seseorang dapat saja berbicara tentang surplus fisikal untuk keseluruhan sistem, tetapi tidak untuk satu-satu perusahaan. Laba perusahaan tertentu bergantung pada biaya yang dia keluarkan dan harga yang dia peroleh. Harga barang dapat berubah dari minggu ke minggu atau hari ke hari. Oleh sebab itu, para ahli ekonomi klasik mengembangkan suatu konsep harga normal atau alamiah, atau nilai dari suatu barang. Surplus yang dihasilkan di atas nilai yang diserap oleh biaya-biaya, termasuk upah. Suatu teori nilai lebih memiliki dua unsur: suatu teori nilai dan penjelasan bagaimana surplus itu di sadap dari para pekerja dan dipindahkan kepada para pemilik kekayaan.

Adam Smith
Adam Smith, penulis buku “The Wealth of Nations” (1776) pada umumnya diakui sebagai pendiri ekonomi politik klasik. Dia memberi tekanan khusus pada pembagian kerja sebagai penyebab peningkatan produktivitas dan kesejarhteraan. Pembagian kerja memungkinkan setiap produsen berspesialisasi dan melakukan pekerjaan-pekerjaan khusus yang lebih efisien. Tetapi, dibatasi oleh luasnya pasar, karena pasar kecil tidak menyediakan ruang bagi spesialisasi. Begitu kekayaan dan populasi mengalami pertumbuhan, cara transportasi berkembang maju, dan pasar juga berkembang luas, kesemuanya lalu memungkinkan pembagian kerja lebih terperinci, Dan dengan begitu penghasilan kekayaan semakin besar. Pertumbuhan ekonomi adalah proses akumulasi dimana setiap langkah dari perluasan pasar menyediakan basis untuk pertumbuhan selanjutnya. Marx menemukan ide tentang proses perkembangan ekonomi terus-menerus dari Smith dan menjadikannya landasan bagi analisisnya tentang kapitalisme.
Harga alamiah setiap produk, menurut Adam Smith, adalah sedemikian rupa sehingga dia menutup pengeluaran-pengeluaran untuk upah dan sewa serta menghasilkan laba pada rate pasar yang berjalan. Dia mempunyai analisis pasar yang luar biasa baiknya. Tenaga-tenaga pasar cenderung membawa harga ke garis harga yang alamiah. Manakala harga pasar tinggi, laba akan tinggi. Para produsen akan ditarik ke wialyah bisnis. Suplai dengan demikian juga akan mekar, sedangkan harga ditarik kembali. Sebegitu jauh dan baiknya, maka Marx telah mengambil banyak dari analisis itu.
Perlakuan Adam Smith terhadap penentuan upah, laba, dan sewa lebih banyak dipersoalkan. Nilai, katanya, ditentukan dengan menambahkan upah, laba dan sewa. Pada waktu yang bersamaan, katanya pula, upah, laba, dan sewa tergantung pada jumlah keseluruhan nilai yang telah dihasilkan. Dan, nilai akan ditemukan dengan membagi mereka. Argumentasinya memutar. Teori Adam Smith tentang laba bagaimanapun sangatlah lemah. Katanya, laba ditentukan oleh atau melalui “kompetisi”, tetapi dia tidak menyediakan analisis yang koheren bagaimana itu terjadi.

David Ricardo
David Ricardo, seorang pedagang surat-surat berharga dan anggota parlemen Inggris adalah seorang tokoh lainnya dari dunia ekonomi politik klasik. Karyanya “Principles of Political Economy and Taxation” (Prinsip-Prinsip Ekonomi Politik dan Pajak) adalah suatu upaya untuk memilah-milah kerangka dasar pemikiran Adam Smith dari kekalutan.
Nilai komoditi, menurut David Ricardo, ditentukan oleh seberapa banyak tenaga kerja diperlukan untuk menghasilkannya (dengan beberapa pengecualian sebagaimana nanti akan ditunjukan dalam buku ini). Suatu perubahan upah, tidak akan merubah nilainya. Tetapi, merubah sebagian dari nilai yang dihasilkan dan yang akan menunjang upah sebagai lawan laba. Jika upah naik, maka laba menurun. Namun, jumlahnya tetap sama. Nilai dari hasil—output—dapat diukur secara bebas dengan cara bagaimana dia dibagi-bagi.
Sesudah mengetahui prisnisp ini, kesukaran masih sama. Pengembalian dari uang yang ditanam, mestilah sama untuk bermacam-maca industri. Sebab, jika tidak, kapital akan mengalir kepada yang lebih menguntungkan seperti juga keterangan Smith. Di manapun jumlah besar kapital ditanam, dia mempunyai sangkut paut dengan para pekerja yang dipekerjakan, semakin tinggi pula pembagian laba. Oleh sebab itu, diperlukan harga yang lebih tinggi supaya dia menghasilkan pengembalian kapital yang layak. Harga-harga, karenanya tidak dapat seimbang dengan permintaan tenaga kerja. Ricardo mengakhiri keterangannya dengan alasan bahwa nilai, sebagian besarnya ditentukan oleh tenaga kerja dan bersandar kembali pada posisi dan pandangan Adam Smith.
Marx mengkritik Ricardo atas kegagalannya dalam hal ini dan memberikan pemecahannya sendiri, dengan melibatkan sikapnya terhadap nilai dan harga alamiah (harga produksi dalam istilah Marx) sebagai hal-hal yang sangat berbeda. Nilai ditentukan oleh kerja yang terkandung di dalam produksi, sebagai suatu definisi. Upah dan laba ditentukan oleh atau dengan membagi nilai yang diproduksi seluruh ekonomi. Dan, harga produksi ditentukan dengan menambahkan laba dan upah untuk setiap barang secara terpisah, demikian menurut Adam Smith. Sedangkan sirkulasi dia hindari (walaupun pemecahan yang diajukan Marx menimbulkan masalah sendiri).
Masalah sewa tetap tinggal sebagai hal yang harus dijelaskan.Menurut Ricardo, sewa itu timbul karena berbagai bidang tanah dengan bermacam taraf kesuburan. Harga produk pertanian haruslah cukup tinggi, agar tanah yang paling buruk dapat menghasilkan laba bagi petani di dalam rate (tarif dasar) yang berlaku. Karena, jika tanah tidak menguntungkan, dia tidak akan ditanamai. Dan, tanah yang lebih baik yang akan menentukan sewa, karena petani akan bersaing untuk mengggunakannya. Sedang si pemilik tanah dapat meminta sewa yang demikian. Marx mengambil oper teori ini, mengembangkannya dan mengolahnya secara tersendiri sampai pada bagian-bagian akhir Das Kapital, walaupun dia menganggapnya sebagai masalah kedua.
Karl Marx menganggap Adam Smith dan David Ricardo sebagai perwakilan terbaik dari dunia ekonomi politik. Sesudah Ricardo, para ahli ekonomi jika tidak menyalin ide-idenya, mereka hanya cenderung untuk menekankan pentingnya suplai dan permintaan sebagai penentuan harga. Mereka tidak menceritakan kisah-kisah yang masuk akal mengenai pasar-pasar tertentu, tetapi meninggalkannya tanpa analisis yang koheren tentang upah, laba, dan sewa bagi keseluruhan sistem. Marx menamakan mereka itu sebagai para ekonom vulgar dan memperlakukan mereka sakpenak udele dewe (bahasa jawa yang artinya: semaunya). Sebenarnya, adalah mungkin untuk memberikan perhitungan yang koheren bagi keseluruhan sistem ekonomi dalam pengertian suplai dan permintaan, seperti yang telah diperlihatkan Walras pada tahun 1870-an. Tetapi, ketika itu kesehatan Karl Marx sedang memburuk, dia jatuh sakit, dan tidak sempat membaca karya-karya Walras. Marx, mungkin saja, tidak setuju seandainya di membacanya.

Uang
Demi kelengkapan, diperlukan suatu pembicaraan singkat mengenai eknomi keuangan yang berkembang dalam isolasi relatif dari teori-teori nilai dan nilai lebih. Uang di zaman Karl Marx, didasarkan pada emas (paling sedikit di Inggris dan pusat-pusat kapitalis besar lainnya). Uang kertas telah beredar dan dapat ditukarkan dengan emas. Dan, emas itu bergantung pada para pekerja yang diperlukan untuk menghasilkan emas itu (Disaring dari tambang emas). Jadi, sama dengan komoditas lain. Dalam hal ini, Marx berbeda dengan teori-teori sebelumnya, “teori kuantitas uang” yang mengaitkan nilai uang pada kuantitasnya dalam sirkulasi. Menurut teori itu, kuantitas yang menentukan nilainya. Menurut Marx, dia berjalan terbalik. Nilai uang yang justru menentukan kuantitasnya dalam sirkulasi.
Perdebatan mengenai keuangan di pertengahan abad ke-19 terpusat pada dampak dikeluarkannya uang kertas. Uag kertas itu, bukannya tidak ditukarkan, atau tidak dapat ditukarkan kini, tetapi berjanji akan membayar. Janji itu, diberikan bank perorangan yang dikeluarkannya dan dapat pula ditebus dengan emas (dalam bentuk emas). “The Currency School”, adalah aliran yang lebih menyukai adanya pembatasan pengeluaran uang kertas, karena pengeluaran yang terlalu banyak akan membawa kenaikan harga yang akan diikuti krisis keuangan. “The Banking School”, aliran yang tidak melihat adanya bahaya demikian. Dasar mereka adalah setiap kelebihan pengeluaran uang kertas akan kembali kepada bank yang mengaluarkannya untuk disimpan atau ditukar dengan emas. Dalam hal ini Marx menyokong “The Banking School”. Dia berpendapat bahwa krisis finansial adalah simptom dari masalah yang lebih funtademental yang tidak ada sangkut pautnya dengan kelebihan pengeluaran uang kertas.

Pembuatan Kapital (The Making of Capital)
Pada tahun 1840, Marx sudah sampai pada suatu pandangan yang tersendiri terhadap kapitalisme sebagai suatu jenis ekonomi yang jelas, dengan suatu jangka hidup terbatas, Pada taraf ini dia mengambil teori ekonomi lain-lain orang yang sudah jadi, menafsirkannya kembali dan menempatkan teori-teori itu ke dalam sistem yang memiliki bentuknya sendiri. Bagian-bagian ekonomii tulisannya Ecomoic and Philosophie Manuscripts—Manuskrip Ekonomi dan Filsafat—1844, pada pokokoknya terdiri dari kutipan-kutipan dari karya Adam Smith dan ahli-ahli ekonomi lainnya.
Wage Labour and Capital—kerja upah dan kapital—terbit tahun 1849, didasarkan pada kuliah-kuliah yang diberikan pada tahun 1846—1847 yang pada pokoknya masih bersifat Smith dalam struktur  keseluruhannya, walaupun Marx bersifat selektif. “Kerja upahan dan kapital” kadang-kadang terasa sebagai pemula untuk memehami Das Kapital, walaupun sesungguhnya dia menampilkan suatu teori yang agak berbeda. Dia harus di baca dengan kehati-hatian yang khusus, karena Engels lah yang telah mengolahnya sesudah Marx meninggal demi memberikan kemiripan pada kematangan karya Marx. The Poverty of Philosophy (1847), sungguh banyak mengutip Ricardo dan juga dari kalangan “sosialis Ricardian”, sebuah kelompok penulis radikal Inggris.
Pada tahun 1850-an di London—pembuangan Marx kembali lagi ke ilmu ekonomi. Pertanda penting dari pemikiran Marx masa ini adalah naskah yang telah ditulis pada tahun 1857—1858, yang diterbitkan tahun 1933, lama setelah dia meninggal, dengan Grundrisse (foundations). Naskah ini tidak diterbitkan karena sulit dibaca. Isinya melompat dari satu subjek ke subjek lainnya tanpa perencanaan dalam Das Kapital. Di pertengahan tahun 1850-an, kita melihat sudah matangya ilmu ekonomi Marx. Pentingnya Grundrisse bagi pembaca modern tidak terletak pada ilmu ekonomi Marx, yang secara lebih baik dikemukan dalam Das Kapital, tetapi di dalam keterangan filsafat yang terjalin di dalam Grundrisse, yang jelas lebih banyak ke Hegeliannya daripada di dalam Das Kapital. Grundrisse juga merupakan sebuah jembatan atara Das Kapital dan karya-karya filsafat Marx yang dini.
Kewajiban Karl Marx selanjutnya menemukan jalan untuk mengemukakan teori yang baru, dalam hal mana dia mengalami kesulitan. Ketika dia memluai dengan “A Contribution to the Critique of Political Economy”, diterbitkan pada tahun 1859, sebuah karya yang ternyta tidak lebih dari cicilan pertama. Kekecewaan muncul dari kalangan sahabat-sahabatnya, karena karya itu hanya berurusan dengan hal pertukaran dan uang dan tidak bicara apa-apa tentang hubungan kapital dengan tenaga kerja. Kepada Engels, Marx menulis gambaranya mengenai Das Kapital yang memerlukan 6 jilid, yang mencakup hal-hal tertentu kapital, kerja upahan, pemilikan tanah, negara, perdagnagan internasional, dan pasar dunia. Yang pertama, tentulah hal kapital yang berkembang mejadi tiga jilid (ditambah tiga jilid lagi mengenai teori nilai lebih) yang tidak pernah selesai, sedangkan sisanya bahkan tidak pernah dimulai.


Kapital
Sebagian besar penuisan Das Kapital dikerjakan pada pertengahan tahun 1860-an. Marx menulis rancangan naskah untuk ketiga jilid bersama dengan jilid ke empat mengenai sejarah dan pemikiran dan ide-ide ekonomi (cukup banyak dan luas untuk mememnuhi tiga jilid. ternyata ketika naskah akhirnya diterbitkan dengan Theories of Surplus Value—Teori-Teori Nilai Lebih). Caranya dia menulis, memulai dengan beberapa naskah kasaran tentang setiap topik, kebanyakan ekstrak dari penulis-penulis lain dan sumber-sumber fakta, laporan parlemen dan sebangsanya. Dalam rancangan selanjutnya, dia menyusun kembali bahan-bahan, membuangi banyak kutipan, kecuali darimana dia mendapatkan bukti-bukti faktual atau ilustrasi untuk bagian-bagian terpenting. Di dalam bagian-bagian yang tidak selesai dari jilid satu, dua, dan tiga, Marx mengikuti naskah-naskah rancangany a terdahulu dan tetap tinggal begitu dalam versi yang diterbitkan. Dalam jilid satu, Marx membuat pernyataan terima kasih atas sumbangan para pendahulunya dengan mengutip pernyataannya terdahulu, bahwa dia dapat menemukan setiap ide yang penting (catatan ini dapat membingungkan pembaca yang tidak awas akan maksudnya).
Marx juga memberikan waktu panjang untuk mengolah struktur Das Kapital dan hasilnya tidak seperti Grundrisse. Setiap konsep diantar, dijelaskan, dan ditegaskan. Tatanan seperti itu, bagaimana pun mempunyai kekurangan. Sebagaimana ditulis Marx dalam “kata penutup” pada jilid satu edisi Jerman, “Metode penyampaian tentu bebeda dari penelitian. Yang terakhir, haruslah menyusun bahan secara rinci ... Hanya setelah pekerjaan ini selesai, semua gerak yang sesungguhnya dapat digambarkan secara memadai. Jika ini dikerjakan dengan baik ... barulah dapat ditampilkan ha lyang seperti kita alami sebelumnya, yaitu suatu konstruksi a priori yang murni”.
Masalah yang dihadapi Marx dalam pengembangan dan penyampaian analisanya tentang kapitalisme, bertolak dari kerasnya permintaan teori sejarahnya. Dalam arti istilah itu, kepitalisme adalah suatu bentuk produksi yang dibatasi oleh suatu struktur dasar yang spesifik, mengenai hubungan-hubungan produksi yang melibatkan dua kelas, pemeras dan yang diperas. Dan, kapitalisme adalah suatu bentuk produksi yang terakhir. Semua sosok penting masyarakat dibentuk oleh sistem produksi yang dominan (tidak seluruhnya ditentukan). Dan, setiap bentuk-bentuk itu punya hukum-hukum yang melekat padanya. Dia memelihara atau mereproduksi struktur dasar dari sistem sampai pada suatu tingkat kapitalisme ke bingkainya, Marx harus mengindentifikasi struktur itu. Teori ini dalam perkembangannya harus berpindah dari yang abstrak ke yang konkret, dari konsep kapitalisme abstrak ke kapitalisme yang sungguh berlaku pada masyarakat tertentu.
Metode penyelidikan atau proses penelitian tidak bisa mengikuti pola seperti itu. Konsep-konsep abstrak tidak dengan sendirinya berlaku. Dia hanya dapat dijui dengan melihat apakah dia diperuntukkan bagi pelukisan gerak aktual yang sebenarnya. Dan tidak melompat begitu saja dari kepala para teoritisi saja? Dia dikembangkan melalui proses yang menyakitkan, melalui uji coba pembenaran, telaahan, menyadap, dan mengkiritk teori-teori yang ada. Dan, melalui saling pengaruh antara teori dan bukti.
Metode presentasi akhirnya meniadakan catatan-catatan hasil pergulatan lama dari metode penyeldikan. Presentasi berpindah dari yang abstrak ke yang konkret, dari konsep-konsep dasar ke teori-teori yang sudah diurai. Konsep-konsep yang terlihat hidup dengan dirinya sendiri, membentangkan implikasi-implikasinya selangkah demi selangkah. Dan, terlihat dia seakan dihadapan kita ada suatu konstruksi apriori murni, sebuah produk dari pemikiran abstrak. Memang ada saja bahaya untuk terjerembab ke lembah idealisme Hegel, ke lembah kenyataan yang dikuasai pemikiran. Marx, sudah tentu dengan sendirinya menghindari perangkap itu. Dia hanya berharap agar gerak yang aktual terlukis secukupnya. Pembaca modern Das Kapital lebih mungkin menjalani kesalahan sebaliknya, menolak teori sebagai perangkat yang sewenang-wenang. Diperlukan kesabaran mengikuti Marx sampai pada titik dimana teori-teorinya sudah cukup berkembang untuk diterapkan pada dunia masalah nyata.
Ada dua aspek dari susunan presentasi Marx yang memerlukan ulasan. Pertama, dia memberikan tekanan pada hubungan khusus produksi kapitalis, kapitalisme (produksi oleh pekerja upahan yang dikerjakan oleh kapital), merupakan suatu bentuk khusus dari produksi komoditas (untuk dijual) yang pada dirinya sendiri adalah satu bentuk masyarakat manusia. Marx membedakan dengan sangat teliti konsep-konsep masyarakat yang diterapkan pada semua bentuk masyarakat dengan konsep yang diterapkan bagi masyarakat yang memproduksi komiditas dan kapitalisme. Susunan-susunan itu mempunyai akibat-akibat penting bagi cara itu di konsepsi dan dikemukakan. Nilai, misalnya, dirumuskan dalam Bab I. Dia memainkan peranan fundamental bagi analisis keseluruhan. Dia tidak dapat dikaitkan dengan harga pasar sampai pembentukan harga pasar di dalam sistem kapitalis dibahas. Dan, itu tidak sampai jilid tiga. Kedua metode presentasi Marx logis. Tidak historikal. Karateristik dasar kapitalisme tidak atau belum dibahas sampai jilid satu. Sedangkan penggulingan di masa datang hanya disinggung sambil lalu. Das Kapital adalah telaah tentang bentuk produksi kapitalis, bukan ikhtisar dari pandangan-pandangan Marx.
Jilid satu Das Kapital diselesaikan dan terbit pada tahun 1867. Kesehatan Marx tahun itu memburuk. Waktunya di sita oleh masalah-masalah politik yang mendesaknya. Dan, tidak banyak kemajuan yang dia buat untuk jilid dua dan tiga. Ketika Marx meninggal dunia pada tahun 1883, Engels ditinggali tumpukan naskah yang tidak terbaca, dari tahun 1860-an. Jilid dua dihimpun dari bagian rancangan naskah dan diterbitkan pada tahun 1885. Dalam hal mana pekerjaan editing patut dihargai. Tetapi, Engels juga menua pada saat itu, Dia dihadapkan dengan jilid ke-3 sebagai naskah yang sangat berat karena naskah itu belum diselesaikan oleh Karl Marx. Akhirnya, pada tahun 1884 buku itu terbit, Tiga puluh tahun sesudah dia ditulis.

Latar Belakang Ekonomi
Das Kapital, pada pokoknya adalah karya teori, maksudnya dasar untuk manganlisis masyarakat ekonomi kapitalis mana saja dan kapan saja. Marx sudah tentu mengambil contoh-contoh dari zamannya. Dan asumsi-asumsi yang cocok dengan masanya memainkan peranan penting dalam bagian-bagian teoritis karya Marx itu. Secara khusus Marx menganggap sebagai kebenaran bahwa perusahaan kapitalis perorangan dan relatif kecil, tidak atau sedikit saja dapat mengontrol harga-harga produk mereka. Atau bahkan tidak sama sekali. Mereka harus menjualnya di pasar. Sebuah sistem yang sangat luas, produsen-produsen yang monopolistik haruslah dianalisis dengan cara yang berbeda. Marx memang telah meramalkan timbulnya perusahaan-perusahaan besar. Tetapi, tugas untuk membangun teori untuk itu, ditinggalkan untuk penerus-penerusnya. Teori moneter Marx juga banyak berakar pada abad ke-19. Bagi Marx uang didasarkan pada emas.
Das Kapital akan sangat mudah dipahami jika pembacanya ingat pada hal-hal yang membedakan ekonomi Marx dan ekonomi zaman kita ini. Banyak contoh Marx datang dari Inggris. Sebagaimana dijelaskannya kepada para pembaca jermannya, Inggris adalah tanah “klasik” kapitalisme. Bangsa kapitalis pertama dari zaman itu, paling maju dan paling baik terdokumentasi (seperti banyak orang Jerman, Marx sudah terbiasa mengatakan “England” ketika dia menyebut “Britain” dan banyak juga contohnya yang berasal dari Scotland).
Produksi kapitalis dibentuk oleh dipekerjakannya pekerja upahan yang mengerjakan bahan-bahan dan peralatan yang disediakan sang kapitalis. Bentuk organisasi seperti itu, dominan di Inggris dan pertengahan abad ke-19. Tetapi, sekarang dimana-mana dia eksis. Bahkan, Amerika Serikat Utara adalah negara yang dominan petani kecilnya. Di Inggris, sebagian besar penghasilan dihasilkan oleh pekerja perorangan yang berkerja sendiri—self employed. Mereka bekerja sama dengan orang yang bekerja di rumahnya sendiri-sendiri atas lebih kuat—out work, tergantung kepada seberapa kuatnya para saudagar menyediakan bahan dan membeli produk mereka. Industri seperti tekstil pabrik yang dominan menggunakan uap, adalah pengecualian. Apabila Marx memperkenalkan ‘industri modern’ maka dia melukiskannya sebagai sesuatu yang baru dan luar biasa.
Inggris adalah negeri kapitalis paling maju dan kaya, tetapi dari ukuran modern dia tergolong miskin. Sedikit saja terdapat bahan untuk melakukan perbandingan yang eksak dengan kondisi-kondisi modern. Tanpa mempersoalkan bahwa jam kerja di Inggris sangat panjang dan sangat menyedihkan rendahnya. Marx merujuknya dengan bukti-buki yang dikutipnya dari sana-sini. Perdagangannya kecil dalam ukuran modern. Perusahaan-perusahaan biasanya dikontrol oleh perorangan (keluarga atau patnership) yang melakukannya langsung berhadapan dengan buruh-buruh di lantai-lantai pabrik. Para kapitalis perorangan itu tidak atau sedikit sekali memiliki kontrol terhadap pasar mereka. Oleh sebab itu, mereka menjual saja produk mereka pada harga pasar yang berlaku, atau tidak sama sekali. Memang benar-benar sukar untuk menerangkan mengapa persaingan tidak sama sekali meniadakan laba. Teori nilai lebih Marx dirancang untuk menjawab masalah itu. Sejumlah kapitalis besar, terutama kereta api diorganisasi, sebagai suatu korporasi join—stock company dengan andil-andilnya dapat dipindah tangan disertai manajemen yang profesional. Mereka memang menunjukkan sesuatu yang bakal datang, walaupun Marx mengharapkan rubuhnya kapitalisme memotong garis perkembangan ini.
Pertanian masih merupakan industri terbesar di Inggris, dan dia unik bagi dunia abad ke-19. Pertanian yang diorganisasi dengan garis-garis kapitalis, dengan para pemilik tanah pemungut sewa, para pekerja upahan yang mengerjakan pertanian, sedangkan para kapitalis pertanian berada diantara kedua golongan tersebut. Menurut Marx, terciptanya pertanian kapitalis, telah melemparkan para petani ke kedudukan penting dalam pertumbuhan industri kapitalis.
Sistem keuangan baik di Inggris maupun di sebagian besar dunia lainnya, di dasarkan pada emas. Bank-bank milik perseorangan mengeluarkan uang kertas, hanya dengan janji akan membayar jumlah yang tertera pada uang kertas. Bank Inggris masih mencatatnya “saya berjanji akan membayar kepada pemegang ... jumlah yang diminta ...” Dengan bubuhan tanda tangan kasir kepala. Tetapi, dia sekarang merupakan kata-kata kosong. Tetapi, di zaman Marx, tidak. Bank Inggris kemudian dimiliki oleh perorangan dan tampil sebagai pusat sistem keuangan. Karena usianya yang tua sebagai bank pemerintah. Uang kertasnya beredar di seluruh negeri dan dapat ditukar dengan emas. Marx sering menggambarkan jumlah uang dengan istilah mata uang Inggris di zaman itu Pounsterling dibagi dalam 20 shilling dan inipun dibagi dalam 12 pence, dan lain sebagainya.
Transaksi antarperusahaan kapitalis sebagian besarnya dilakukan melalui “bill of change” (rekening), suatu sistem yang sampai sekarang kurang lebih digunakan. Apabila Marx berbicara mengenai “sistem kredit” hal seperti itulah yang dimaksudkan. Apabila A menjual barang kepada B, si A dapat memberi kredit kepada si B dengan menuliskan rekening, suatu permintaan pembayaran di masa yang datang yang sudah ditentukan, yang diterima si B dengan tanda-tandanya. Dari pada menunggu uangnya (cair), A dapat memberikan rekening itu kepada seseorang yang memiliki uang (sehingga rekening tagihan itu dapat beredar sampai pada tingkat menempatai kedudukan uang) atau orang dapat menjualnya ke Bank dengan mengambil open rekening, berarti Bank meminjamkan uangnya sampai rekening itu di bayar dan akan memotong bunga dari padanya. Inilah yang dinamakan discount (potongan) atas rekening. Banyak perusahaan mengatur agar rekeneingnya dibayar oleh bank kondon. Dalam keadaan demikian dan rekening demikian berakhir di bank tersebut. Selanjutnya rekeneing-rekening demikian dapat ditunda pebayarannya. Inilah keterangannya mengapa Marx sering mengatakna bahwa sistem kredit adalah suatu cara untuk ekonomisasi uang. Semenjak itu, rekening boleh dikatakan sudah digeser oleh penggunaan cek dengan mentransfer deposito-deposito, sebuah sistem yang hampir tidak pernah disinggung Marx. Para ahli ekonomi modern memberlakukan deposito bank sebagai bentuk uang, hal yang tidak pernah dilakukan Marx.
Marx memperlakukan perkembangan kapitalisme Inggris sebagai sesuatu yang sudah dewasa. Marx yang tumbuh di Trier, yang masa itu adalah kota pedalaman yang boleh dikatakan tidak dijajah kapitalisme industri. Satu dari masalah ekonomi yang dia tulis masa itu adalah masalah hak petani untuk mencari dan mengumpulkan kayu bakar di hutan-hutan. Di Prusia pada tahun 1836, hampir sepertiga pelanggaran hukum terjadi mengenai perburuhan di hutan-hutan. Bagi Marx, perkembangan kapitalisme dini, bukanlah masalah sejarah murni. Memang di Eropa Barat masa itu, secara keseluruhan, perkembangan kapitalismenya tidak semaju di Inggris. Produk pabrik kurang meluas. Peranan pedagang lebih besar dan petnai pertanian lebih dominan, tetapi bagi Marx. jelas (walau tidak banyak teman seangkatanya) Inggris yang kapitalis telah menunjukkan jalan yang ditempuh seluruh Eropa.
Bagian dunia lainnya bahkan lebih jauh dari model kapitalisme murni yang terdapat dalam Das Kapital. Perbudakan di Amerika Serikat, perhambaan petani Rusia, berlanjut sampai 1860-an, ketika Das Kapital ditulis. Di India dan Tiongkok bahkan bentuk produksi lain yang berlaku, yang oleh Marx dinamakan “bentuk Asia” (penelitian selanjutnya bahkan menyangsikan gambaran Marx tentang masyarakat Asia). Masyarakat Afrika tidak dikenal di Eropa di zaman Marx. Marx bahkan dengan yakin mengatakan bahwa seluruh dunia berubah pertama-tama oleh kapitalisme, kemudian oleh sosialisme, merupakan lompatan pemikiran yang luar biasa dari yang dapat dibayangkan di zaman Karl Marx masih hidup.